Monday, 7 March 2016

Sebuah Refleksi : Makna Kepenuhan Dalam Hidup

Sebuah Refleksi : Makna Kepenuhan Dalam Hidup - Saya sedang mengarsipkan koleksi goresan pena saya yang terserak di berbagai blog berbeda, tidak hanya di Kompasiana. Ada yang sebagian ialah back up dari goresan pena saya di Kompasiana, serta goresan pena lainnya. Saya ingin memilah-milah sesuai kategori serta genre yang sama.

Di Kompasiana postingan saya tak fokus pada bidang alias topik tertentu. Kadang saya menulis postingan fitur, edukatif, persoalan sosial, politik, gaya hidup, kepenulisan serta literatur, kuliner, bahkan humor ringan. January 2016 pekerjaan yang seharusnya telah saya bereskan tahun lalu. Sekarang telah menginjak bulan ke-tiga tahun 2016. Beberapa blog pribadi yang semula sempat saya rombak, akhirnya kembali terbengkalai. Bukan suatu pengalaman inspiratif yang layak dibagikan di sini.

Memang bukan itu inti goresan pena kali ini. Yang jelas, menunda melakukan pengkinian (update) blog rutin dikarenakan oleh persoalan yang sama, bahwa saya lupa password serta alamat persis blog sendiri. Keren, kan? Minggu lalu saya dihubungi seorang klien (panggil saja Pak Amir), yang naskahnya saya terjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Itu proyek kecil-kecilan yang saya selesaikan akhir Januari yang lalu. Naskahnya tak banyak, hanya enam bab saja – masing-masing bab berisi kurang lebih 5-10 halaman.

Saat pekerjaan selesai, saya sampaikan terhadap Pak Amir bahwa naskah aslinya yang versi bahasa Indonesia seharusnya disunting lebih dahulu sebelum diterjemahkan ke bahasa lain. Banyak detil catatan yang saya sampaikan kepadanya. Tampaknya catatan tersebut tak terlalu mendapat perhatian dari yang bersangkutan. Bagi saya ini suatu pengalaman berharga menghadapi klien semacam itu. Minggu lalu, klien ini meminta saya menyunting naskahnya yang berbahasa Indonesia, lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris. Klien mengakui bahwa naskahnya telah diperlihatkan terhadap teman-temannya, serta mendapat umpan balik bila tulisannya susah dipahami. Saya mendapat jalan untuk mengingatkan kembali masukan saya kepadanya. Kali ini Pak Amir menyerahkan sepenuhnya kebebasan penyuntingan terhadap saya. Tentu ini suatu tanggung jawab, tetapi sekaligus kepercayaan yang menantang profesionalisme tinggi.

Lalu komunikasi menjadi terus lancar serta terbuka. Sampai bagian ini, diskusi saya batasi pada proses penyuntingan lebih dahulu. Itu saja saya antisipasi bakal memerlukan komunikasi yang bolak-balik, demi yang akan terjadi pekerjaan sesuai andalan kedua belah pihak, dengan mempertimbangkan tujuan mutlak naskah, yaitu untuk diterbitkan serta berterima bagi pembaca. Pak Amir seorang pensiunan dosen. Secara tak eksklusif saya tertantang serta terinpirasi oleh keuletan serta produktivitasnya menulis. Beberapa bukunya yang telah terbit mencakup beragam tema, antara lain bidang kesehatan serta manajemen.

Olah raga serta menulis itu hobinya. Usianya mungkin di atas 70 tahun. Mendengarkan kejujurannya mengenai kelemahan proses penulisan, saya tergerak untuk menengok berkas goresan pena lama. Tanpa sengaja saya malah menemukan postingan yang saya tulis sebab terinspirasi oleh suatu blog teman yang sekarang telah meninggal dunia sebab kanker. Sebelum ini, saya sempat mencari blognya serta tak dapat mengaksesnya. Entah bagaimana, saat ini saya dapat membuka serta menyimak kembali tulisan-tulisan teman yang sangat menyentuh serta menggugah semangat hidup. Saya simak artikelnya yang nyatanya menjadi tulisannya yang terakhir, hanya satu bulan sebelum kepergiannya untuk selamanya.

Mengharukan itu bila goresan pena teman tersebut mendapat tak sedikit komentar, sementara sebagian dari pemberi komentar tak tahu bila yang bersangkutan telah meninggal. Mungkin inilah yang namanya ironi kehidupan, seorang pembaca blog teman tersebut menyebutkan tersentuh oleh kisah serta penderitaan pasien kanker, serta bertanya penuh harap bila teman saya yang dapat dikatakan sedang “sekarat” itu dapat memperlihatkan rujukan alamat milis alias forum mengenai tipe kanker tertentu. Antara geli serta sedih, saya mengira bila pembaca ini terbukti agak “berbeda”. Mengapa dirinya sendiri tak mencari rujukan dari orang yang sehat, mengingat penulis blog tersebut justru sedang mengisahkan sulitnya mendapat jadwal operasi serta kemoterapi di saat-saat sakitnya sedang memuncak.

Sebagian besar pembaca terbukti tidak hanya membesarkan hati pasien yang notabene penulis blog, juga memberi berbagai saran alias rujukan bermacam-macam pilihan berobat. Lalu apa hubungannya Pak Amir dengan kisah pasien kanker ini? Mereka ialah orang-orang yang tanpa mereka sadari menginspirasi saya. Mereka memakai waktu yang ada dengan cara produktif serta berguna untuk dibagikan terhadap orang lain. Mereka orang-orang yang cerdas serta suka membagi ilmu, gigih, berkomitmen, penuh integritas, serta rutin berusaha bersyukur. Itu yang saya tangkap dari tulisan-tulisan mereka. Ini mengingatkan saya pada suatu kutipan oleh H. Jackson Brown, Jr., “The best preparation for tomorrow is doing your best today,” – bahwa kita persiapkan hari esok dengan melakukan faktor sebaik-baiknya hari ini.

Oleh : Indria Salim

No comments:

Post a Comment