Thursday, 10 March 2016
Mahasiswa Muslim, Peran dan Tanggung Jawab
Mahasiswa Muslim, Peran dan Tanggung Jawab - Dalam nasib ini, nyatanya kita rutin dihadapkan oleh beberapa pilihan. Saat ini kita telah mengambil opsi itu, yaitu telah memilih perguruan perguruan tinggi Islam sebagai wahana menempa diri supaya nanti menjadi sarjana, cendekawan, ilmuwan, ulama', alias apalah namanya. Kita juga telah menyandang bukti diri yang melekat pada diri kita merupakan kata "muslim". Dengan opsi itu, kita telah mengangkat nama besar dan mulia, yaitu Islam. Pilihan terhadap Lembaga Pendidikan Tinggi Islam tersebut tentu, telah didasari oleh beberapa pertimbangan yang kuat dan mendalam, dan dikala ini telah yakin seyakin-yakinnya bahwa lembaga pendidikan tinggi Islam --UIN Malang ini, kita percaya akan sukses mendampingi ke arah tercapainya impian tersebut.
Pertanyaan yang dikala ini butuh kita ajukan dan kemudian kita jawab bersama merupakan bagaimana supaya kita semua sanggup melakukan optimalisasi peran dan tanggung jawab sebagai mahasiswa muslim. Pertanyaan ini lumayan menantang untuk segera dijawaban dengan cara tepat. Sebab, jawaban yang benar dan cocok akan menjadi sumber kekuatan pendorong dan penggerak dan sekaligus sebagai pengarah seluruh langkah dan gerak yang akan kita tempuh selagi menjadi tahap dari warga perguruan tinggi Islam ini.
Rumusan mengenai angan-angan yang akan kita raih ke depan dengan cara terang juga penting terkait dengan tuntutan efisiensi dan efektifitas kerja. Sebagai salah satu ciri tutorial kerja modern, yang dilakukan oleh orang-orang di perguruan tinggi, bahwa kerja wajib berdasarkan pada perencanaan yang disusun dengan cara obyektif, rasional, penuh pertimbangan dan sejalan dengan visi dan misi yang telah dirumuskan oleh Universitas. Perbincangan ini, paling tidak, diinginkan bisa memberi jalan ke arah pandangan yang terang untuk menonton ke depan yang menantang itu.
Citra Diri Mahasiswa Muslim
Penyandang bukti diri mahasiswa sesungguhnya telah lumayan berat. Ia diidentifiaksi sebagai seseorang yang belajar di perguruan tinggi. Sebagai seorang mahasiswa, jadi pikiran-pikirannya wajib rasional, obyektif, terbuka, mempunyai keleluasaan berpikir dan keberanian yang tinggi. Atas dasar asumsi bahwa ia mempunyai ciri-ciri itu, jadi mahasiswa disebut sanggup melakukan peran-peran sebagai agent of change, agent of modernization, dan agent of development. Itulah beberapa ciri yang seharusnya disandang oleh seorang mahasiswa. Walaupun dalam kenyataannya ciri-ciri itu, tidak juga sepenuhnya sukses disandang oleh mahasiswa seluruhnya. Akan namun yang butuh disadari bahwa standard itu , tidak saja dijadikan pegangan oleh orang-orang internal kampus melainkan juga oleh kalangan masyarakat di luar kampus tatkala mereka menonton sosok mahasiswa.
Citra mulia bagi mahasiswa itu akan disempurnakan lagi --setidak-tidaknya oleh kalangan umat Islam, tatkala dibelakang kata mahasiswa tersebut tersedia kata muslim. Citra itu bukan yang akan terjadi rumusan mahasiswa yang bersangkutan, melainkan dibuat oleh orang di luar. Kita boleh berkelit membikin rumusan sendiri, namun mau tidak mau, alias suka alias tidak, masyarakat akan membangun citra semacam itu.
Sekalipun baru sebatas ukuran normatif, pada umumnya masyarakat muslim percaya dengan apa saja yang beridentitas Islam, tergolong pada bukti diri mahasiswa itu. Mahasiswa Muslim diidentifikasi sebagai kelompok yang mempunyai adab lebih baik, rutin berpegang pada aliran Islam, tekun beribadah, terjauh dari perilaku tidak terpuji, peduli pada orang alias pihak-pihak yang tertindas, dan alias menderita. Penilaian positif semacam itu akan berbalik seratus delapan puluh derajat, menjadi sangat negatif apabila mereka mendengar permasalahan mengenai perilaku mahasiswa muslim yang tidak sesuai dengan andalan itu. Penilaian negatif itu muncul, oleh sebab mungkin, adanya kesadaran bahwa tidak seorangpun mestinya bisa diberi toleransi mengganggu nilai-nilai Islam yang wajib dijunjung tinggi. Mahasiswa muslim diinginkan merepresentasikan nilai-nilai Islam dalam pentas kehidupan ini.
Harapan masyarakat pada mahasiswa muslim semacam disebutkan itu dilatarbelakangi oleh padangan mereka mengenai nilai-nilai yang tersadar dari beberapa sumber selagi ini, bahwa mahasiswa muslim mempunyai visi, misi, dan tradisi yang tidak sama dari mahasiswa lainnya. Mahasiswa muslim setiap aktivitasnya dituntun aliran agamanya (dorongan transendental), mempunyai akidah yang kokoh. Selebihnya, bahwa mahasiswa muslim bukan sekedar berperan sebagai kolektor sks, transkrip, dan ijazah, supaya segera dipakai untuk memperoleh lapangan pekerjaan dengan gaji yang tinggi. Bukan itu. Mahasiswa muslim diinginkan mempunyai idialisme, komitmen dan integritas yang tinggi terhadap agama dan kemanusiaan.
Lebih terang lagi bahwa mahasiswa muslim diinginkan sanggup menempa diri supaya bisa menyandang bukti diri sebagai ulin nuha, ulil abshor, dan ulil al-baab dan bersedia berjuang (jihad) di jalan Allah untuk membenahi nilai kehidupan. Sebagai penyandang bukti diri yang sangat mulia itu, mahasiswa muslim wajib sukses membangun karakter alias langsung utuh. Kekayaan berupa ilmu dan profesional dipandang tidak lumayan memadai. Kekayaan itu wajib disempurnakan dengan kelebihan lain, yaitu spiritual dan akhlak. Kekayaan ilmu dan profesional tanpa ditopang oleh adab dan kedalaman spiritual hanya akan melahirkan langsung tamak, individualis, materialis yang justru merusak kehidupan bersama.
Mahasiswa dan Masalah Sosial
Kehidupan sosial tidak sempat sepi dari problem. Sebab kehidupan itu tidak sempat statis, rutin bersifat dinamis. Masyarakat rutin melakukan proses-proses sosial. Mereka dalam berinteraksi rutin belahirkan aktivitas yang asosiatif dan sekaligus disasosiatif. Dalam berinteraksi, masyarakat melakukan integrasi, akomodasi, kooperasi, kompetisi, konflik, asimilasi, dan lain-lain. Problem-problem sosial lahir dari proses-proses sosial itu.
Terkait dengan faktor di atas pertanyaan yang butuh dijawab adalah, bagaimana mahasiswa muslim seharusnya dalam menghadapi duduk perkara sosial itu. Mahasiswa yang dipandang belum mempunyai kepentingan langsung jadi dipandang lebih obyektif, diinginkan sanggup melakukan social control terhadap proses-proses sosial itu. Hanya dalam melakukan peran-perannya itu mahasiswa muslim dituntut lebih santun, obyektif, berpihak terhadap kebenaran, dan bukan pada kepentingan langsung sesaat. Berbekalkan kelebihannya itu, mahasiswa wajib menjadi kekuatan penggerak dan bukan sebatas sebagai alat yang digerakkan. Sebagai generasi yang kaya ide, kreatif objektif, rasional dan inovatif, tidak sebayaknya mereka sebatas menjadi alat orang lain. Semua langkah-langkahnya wajib berasal dari kepentingan dan kekuatan logika dan nuraninya.
Atas dasar tuntutan semacam itu, mahasiswa muslim tidak boleh tertinggal oleh informasi. Ia wajib menempatkan diri semacam suatu parabola. Setiap dikala ia wajib memasang seluruh inderanya untuk meringkus beberapa info yang berkembang. Media massa, baik berupa elektronik maupun cetak sebisa-bisa diikuti. Tidak selayaknya, seorang mahasiswa, apalagi mahasiswa muslim beridentitas kuper, gatek dan telmi yang diakibatkan oleh keterbatasan informasi. Jika info bisa diikuti dengan cara baik, dan ditambah dengan kegiatan dialog, diskusi, alias kegiatan ilmiah lainnya bisa dilakukan, jadi mahasiswa akan sanggup melakukan peran-peran sosialnya itu.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment