Mengatur dan Memimpin Lembaga Pendidikan Islam - Tatkala seseorang berposisi sebagai manager lembaga pendidikan Islam, telah barang pasti di benaknya tergambar bahwa tugas yang wajib diemban ialah memajukan lembaganya, dengan tutorial menggerakkan seluruh potensi yang ada, guna mencapai tujuan yang diinginkan. Cita-citanya, dikala itu, ialah saya wajib sukses serta tak boleh gagal. Hanya dalam kenyataannya, tak semua orang sanggup meraih keberhasilan itu. Pada umumnya, para manager lembaga pendidikan Islam telah memahami bahwa lingkup tugas-tugas managerial ialah menyusun perencanaan, mengorganisasi semua kegiatan serta potensi yang ada, menyusun anggaran, mengarahkan, mengontrol serta mengevaluasi. Selain itu, mereka juga memahami bahwa tahap dari tugas ceo lembaga pendidikan Islam ialah merumuskan visi, misi dengan cara jelas. Akan tetapi, lagi-lagi, yang akan terjadi yang diperoleh tampak variatif, sebagian berhasil, sedang sebagian lainnya tak lebih sukses serta bahkan ada yang rutin mengalami kegagalan.
Memanage orang pada kenyataannya tak rutin mudah. Hal itu dikarenakan oleh sebab setiap insan mempunyai kharakteristik, watak, prilaku, kebutuhan serta impian yang berbeda-beda. Sifat serta cirri-ciri yang berbeda-beda itulah yang menyebabkan mereka tak sedemikian mudah diajak mencapai satu tujuan yang sama. Perbedaan yang bersifat individual maupun kelompok diakibatkan oleh perbedaan latar-belakang sejarah hidup, tingkat ekonomi, budaya, idiologi, latar-belakang pendidikan serta mungkin pembawaan semenjak lahir. Tetapi anehnya, sekalipun begitu, kadangkala juga ditemukan fenomena sebaliknya, bahwa memimpin serta mengatur orang ialah kegiatan yang amat mudah. Sebab, nyatanya masing-masing orang, tanpa intervensi pihak luar, telah mempunyai performa menata diri sendiri. Dalam kaitan mencari upaya strategis memanage serta memimpin orang butuh dicari prinsip-prinsip dasar semacam apa yang bisa dijadikan kekuatan penggerak organisasi lembaga pendidikan Islam ini. Uraian berikut ialah yang akan terjadi renungan serta yang akan terjadi pengawasan saksama, kapan seseorang mudah digerakkan serta diarahkan pada tujuan-tujuan organisasi, tergolong pada lembaga pendidikan Islam.
Sebagai kunci mutlak yang wajib ditumbuh-kembangkan pada semua lapisan organisasi ialah rasa cinta pada lembaga, yakni lembaga pendidikan Islam. Cinta alias dalam bahasa lainnya ialah integritas tinggi, ialah kunci keberhasilan. Berbagai fenomena kehidupan, nyatanya cinta/kasih sayang menjadi sumber kekuatan kehidupan, keberhasilan serta bahkan juga kejayaan. Seseorang lahir, tumbuh serta berkembang tepat oleh sebab adanya cinta serta kasih sayang. Tumbuh-tumbuhan, binatang serta bahkan alam ini menjadi tumbuh serta berkembang oleh sebab karunia Allah atas sifat-Nya mulia yaitu Maha Pengasih serta Maha Penyayang. Begitu pula insan menjadi nasib serta bahagianya oleh sebab cinta-Nya terhadap makhluk yang dimuliakan ini. Sebaliknya, alam serta lingkungan nasib menjadi rusak, insan saling bermusuhan alias perang, saling membunuh satu sama lain, oleh sebab di sana tak ada cinta. Cinta ialah adalah fenomena hati, melainkan nyatanya juga bisa ditumbuh-kembangkan serta bahkan bisa diukur lewat prilaku yang tampak. Orang yang telah mencintai sesuatu biasanya tak saja akan memperlakukan sesuatu itu dengan cara baik, melainkan serta bahkan akan bersedia berkorban demi cinta yang diberikannya. Membangun cinta bisa dimulai dari proses mengenali (ta^aruf) yang akan menghasilkan pemahaman. Pemahaman yang mendalam akan melahirkan suasana penghormatan (tadhomun) alias menghargai serta selanjutnya akan tumbuh suasana mencintai. Islam sesungguhnya membangun tradisi ta^aruf yang sedemikian kukuh lewat beberapa aktivitas spiritual maupun social. Pertanyaannya adalah, adakah kesediaan para pemimpin serta manager lembaga pendidikan Islam membagi-bagikan cita serta kasih sayangnya dengan cara menyeluruh serta mendalam tergolong menumbuh-kembangkannya terhadap semua komponen yang ada (para dosen, guru serta karyawan) lewat tradisi yang diajarkan Islam melewati bebagai kegiatan spiritual serta social itu.
Sikap mental yang wajib dibuat selanjutnya ialah keikhlasan. Memanage lembaga pendidikan Islam wajib didudukkan dalam konteks beribadah terhadap Allah dengan cara penuh serta mendalam. Konsep ini dalam bahasa Islam ialah lillah. Suasana batin yang mengarahkan kegiatannya hanya semata-mata didasari oleh niat untuk memenuhi kebutuhan eksklusif alias kelompok dalam beberapa bentuknya tak akan mendampingi yang bersangkutan mempunyai integritas yang tinggi. Jiwa nrimo yang tumbuh serta berkembang dari seorang ceo lembaga pendidikan Islam, akan melahirkan suasana ruhhul jihad. Jika suasana ini sanggup ditumbuh-kembangkan, lembaga pendidikan telah mempunyai kekuatan yang kukuh yang diharapkan olehnya.
Selanjutnya ialah adanya kesadaran serta bertanggung-jawab ialah sikap mental yang wajib dibuat dengan cara bersama. Setiap muslim wajib membangun keyakinan bahwa semua amal tindakan wajib bisa dipertanggung-jawabkan, baik dalam jangka singkat maupun jangka panjang. Pertanggung-jawaban jangka singkat diberikan pada setiap saat, sedangkan tanggung-jawab jangka panjang diberikan terhadap Allah swt., di akherat nanti. Seorang muslim serta mukmin wajib meyakini adanya hari alias waktu di mana semua perjalanan nasib seseorang dimintai pertanggung-jawaban. Kesadaran yang mendalam mengenai konsep ini semestinya sanggup membangun sifat kejujuran yang seharusnya disandang oleh ceo serta seluruh unsur yang terlibat dalam kepemimpinan lembaga pendidikan Islam.
Prinsip penting lainnya ialah bahwa seorang manager wajib mempertegas keyakinannya bahwa Allah ialah dzat yang wajib rutin menjadi sentral perhatian baik dalam pengorbanan (ibadah) maupun dalam memperoleh pertolongan. Keyakinan semacam ini menumbuhkan sikap mental yang menjadikan dia tak terbelit oleh kekuatan apapun bentuknya serta dari manapun datangnya. Mereka akan berpendapat bahwa tak ada makhluk apapun yang bisa mengkooptasi serta menghegemonik. Mereka akan mempunyai pikiran serta kemauan leluasa dalam mengangkat lembaganya pada tujuan yang diinginkan. Lebih dari itu, keyakinan semacam ini akan sanggup memposisikan lembaga pendidikan yang dikembangkan tak lebih sekedar sebagai instrument untuk mencapai ridho Allah semata. Kemajuan lembaga pendidikan Islam bukan dipahami sebagai tujuan, melainkan sekedar sebagai instrumen untuk meraih tujuan akhir yang akan dituju dalam hidupnya.

No comments:
Post a Comment