Wednesday, 16 March 2016

Membangun Kebersamaan Untuk Papua

Membangun Kebersamaan Untuk Papua - Saat ini, Papua menjadi sorotan beberapa pihak. Minimnya kesejahteraan orang orisinil Papua, buruknya pelayanan publik di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, perumahan, listrik dan air bersih, menjadikan Papua sebagai wilayah termiskin di Indonesia. Papua juga tetap dililit persoalan politik, pelanggaran hak asasi insan dan eksploitasi sumber daya alam yang tak terkendali. Dalam situasi semacam ini, orang orisinil Papua dan penduduk Papua tetap diperhadapkan pula dengan keanekaragaman agama, budaya, adat-istiadat dan suku yang tak jarang menjadi jurang pemisah.

Pulau Papua dihuni oleh penduduk dari beberapa agama dan budaya. Keanekaragaman agama dan budaya, seyogianya adalah hidayah sang Pencipta yang patut dipelihara dan dilestarikan. Suasana keakraban lintas agama dan adat di Papua tampak berlangsung harmonis. Di level pemerintah ada wadah, Forum Kerukunan Umat Beragama dan Forum Komunikasi Para Pemimpin Agama. Komunitas suku mempunyai paguyubun. Bahkan di dalam keluarga-keluarga mempunyai keanekaragaman agama dan adat dampak perkawinan campur.

Agama dan adat menjadi sumber wangsit untuk merajut keberagaman manusia. Keduanya mempunyai caranya sendiri merangkul insan untuk saling mendapatkan dan menghormati satu terhadap yang lain. Agama sebagai wadah persekutuan kaum beriman terhadap sang Pencipta mengajarkan umat insan untuk saling menghormati. Misalnya, agama Islam mempunyai peredaran yang indah: “rahmatan lil alamin”.

Demikian halnya, kekristenan mengajarkan umat insan untuk saling mengasihi tanpa syarat. Kesempurnaan kasih itu telah ditunjukkan oleh Yesus dalam momen wafat-Nya di Kalvari. Budha dan Hindu dan peredaran kepercayaan pun mengajarkan faktor serupa terhadap para penganutnya. Budaya-budaya di melanesia, terutama di Papua mengajarkan bahwa insan wajib menjalin suasana harmonis dengan sesama, leluhur, alam dan Pencipta agar kelimpahan dan kepenuhan nasib dapat tercapai. Nilai nasib baik yang tak dapat diabaikan yakni sikap saling membagi dengan sesama. Orang Papua tak dapat nasib untuk dia sendiri. Mereka nasib bersama dalam komunitasnya dan saling berbagi.

Demikian halnya, setiap pendatang yang berdiam di tanah Papua pun mempunyai adat yang mengajarkan nilai-nilai nasib baik, menghormati sesama dan bersedia menolong sesama, tanpa memandang latar belakang agama dan budaya. Budaya yang dimiliki menawarkan bahwa martabat dan kualitas nasib insan berada di atas segala-galanya dan patut dihormati, tanpa syarat. Ironinya, dewasa ini Papua dilanda krisis penghormatan terhadap martabat manusia. Papua juga mengalami krisis nilai-nilai nasib baik. Akibatnya orang orisinil Papua dan segenap penduduk

Papua mengalami penderitaan tak berkesudahan. Papua dilanda penyakit HIV/AIDS. Ribuan insan terjangkit virus mematikan ini. Berbagai upaya pencegahan dilakukan, melainkan virus ini tetap merebak dan mengancam jiwa manusia. Minuman keras tetap beredar luas. Miras telah menyebabkan kematian beruntun dan memunculkan kekacauan. Pudarnya nilai-nilai agama dan adat juga ditunjukkan dengan minimnya para guru dan tenaga medis untuk tinggal di kampung-kampung dan melayani masyarakat. Akibatnya, masyarakat di kampung tetap mengalami keterbelakangan. Anak-anak tak dapat bersekolah dan segenap warga tak dapat berobat tatkala sakit. Situasi ini menawarkan bahwa dikala nilai-nilai nasib baik, yang diajarkan oleh agama dan adat diabaikan, jadi insan menuai penderitaan.

Kebodohan dan kematian tak dapat dihilangkan, justru makin bertambah subur Kurangnya penghayatan terhadap nilai-nilai nasib baik, yang termaktub dalam agama dan budaya, mengakibatkan proses pembangunan dan pelayanan publik di Papua berlangsung tak lebih maksimal. Korupsi tetap tumbuh subur di Papua. Ada kesenjangan mendalam antara para pejabat publik yang nasib mewah dengan orang Papua yang nasib miskin dan menderita. Paradoksal tampak jelas, tatkala agama dan adat disandingkan dengan perilaku nasib para pejabat, yang memakai jabatan publik untuk kepentingan diri sendiri.

Untuk menata kembali Papua, yang telah tercabik,  diperlukan kerjasa sama segenap komponen masyarakat. Kerja sama lintas agama dan adat  diperlukan untuk menanggulangi situasi nasib orang Papua yang tetap menderita sebab minimnya pelayanan pendidikan, kesehatan, ekonomi dan lain sebagainya. `Keanekaragaman agama dan adat menjadi wangsit untuk mengawali gerakan bersama menata Papua menuju masyarakat multireligius dan multikultural yang mengedepan nilai-nilai nasib baik untuk kesejahteraan bersama.

Papua akan menjadi lebih baik, apabila segenap komponen masyarakat bertekad nasib sesuai peredaran agama dan budayanya. Agama dan adat telah mengajarkan setiap insan untuk saling mengasihi tanpa pamrih dan syarat. Ketika insan mengamalkannya, jadi kepenuhan nasib akan diraih. Sebaliknya, apabila insan lebih mementingkan dia dan kelompok agama dan sukunya, jadi penderitaan tak akan berakhir. Keanekaragaman agama dan adat adalah hidayah sang Pencipta. Manusia butuh memanfaatkan keanekaragaman itu untuk kesejahteraan nasib bersama. Papua dapat menjadi laboratorium keberagaman apabila dapat memanfaatkan segala potensi yang ada untuk mendukung upaya penghormatan terhadap martabat insan yang beranekaragaman. Semua ini, wajib dimulai dari komunitas-komunitas masyarakat adat, komunitas-komunitas agama dan segenap lingkungan masyarakat.

Oleh : Petrus Pit Supardi

No comments:

Post a Comment