Sunday, 13 March 2016

Berbuat Salah, Apakah Bisa Menghasilkan Pengetahuan?

Berbuat Salah, Apakah Bisa Menghasilkan Pengetahuan? -  Salah serta lupa, dua faktor yang telah menjadi tahap dari tabiat insan dengan cara turun menurun. Yaa semenjak zaman nenek moyang kita ada di dunia ini. Itulah kelemahan kita dibalik kesempurnaan fisik serta nalar yang telah diciptakanNya, serta menjadikan kita tergolong makhluk paling tepat diatas tumbuhan, hewan, bahkan alam semesta sekalipun.

Tentu, saya telah membahasnya pada postingan ini, dimana dengan sifat salah yang ada pada diri kita, kita terhindar dari kesombongan. Kesombongan itu mampu berupa merasa diri paling benar maupun paling pintar jadi orang lain salah maupun bodoh. Padahal, diatas itu semua, hanya Tuhan yang mempunyai segalanya, tergolong kebenaran serta kepintaran. Hanya Dia yang pantas membanggakan diriNya!

Okelah. Memang, salah itu dipandang sebagai sesuatu yang buruk. Ups, gak selamanya itu ya. Kesalahan-kesalahan yang kita perbuat, apabila direnungkan, berpikir kritis serta diambil pelajaran maupun kesimpulan dari permasalahan, justru melahirkan pengetahuan-pengetahuan baru yang sangat bermanfaat, contohnya semacam pada permasalahan saya di atas.

Dalam dunia sains, penelitian artinya ujung tombak mutlak untuk melahirkan penemuan baru. Tapi, terkadang, tanpa direncana pun—banyak kejadian sehari-hari yang berawal dari kesalahan kita yang justru bermanfaat di kemudian hari. Tidak hanya di dunia sains, ada temuan-temuan baru di bidang kuliner, misal, itu semua diawali dengan momen yang tak disengaja! Tahu Post-it?

Kertas perekat “ajaib” yang saat ini tak sedikit dipakai di kalangan pelajar serta dijadikan sebagai peralatan ATK ini berawal dikala Dr Silver ditugaskan untuk membikin lem super yang sangat kuat, melainkan gagal sebab lem tersebut “unik” serta akhirnya tak lagi digunakan. Hingga sebuah ketika, rekannya, Athur Fry, yang penasaran dengan lem tersebut mencoba merekatkan kertas nyanyiannya yang mudah terlepas dengan lem super itu, tetapi nyatanya lem tersebut tak merusak kertas. Akhirnya, dari kejadian itu, lahirlah inspirasi untuk membikin Post-it yang saat ini telah tak sedikit dipakai di seluruh dunia.

Begitu juga dengan makanan ringan yang saat ini telah terkenal diseluruh dunia itu, Chocochip. Sang penemu, Ruth Grave dikala itu hendak membikin kudapan manis cokelat. Sayang sekali, cokelat batangannya habis jadi dicampurlah adonan tersebut dengan coklat bar. Ketika adonan dipanggang, anehnya coklat bar tersebut tak meleleh serta tetap utuh semacam waktu dicampurkan. Hal inilah yang artinya cikal bakal lahirnya kudapan manis Chocochip yang mudah ditemukan di beberapa belahan dunia.

Tetaplah Berpikir Kritis!

Kita, manusia, pada dasarnya diciptakan untuk rutin berpikir serta mencari tahu apa yang terjadi di dunia ini. Bahkan, nalar yang dianugerahkan Tuhan terhadap kita mampu menuntun kita untuk menciptakan hal-hal baru baik sesuatu yang sederhana, maupun yang paling rumit serta hebat sekalipun, teknologi misalnya. Sampai sekarang pun, manusia-manusia masa saat ini semakin berpikir jauh ke depan untuk menciptakan penemuan-penemuan baru, bahkan menyempurnakan penemuan yang telah ada sebelumnya.

Terlebih lagi dalam dunia tulis-menulis. Kemampuan imajinasi yang hanya ada pada benak kita, mampu menciptakan jutaan karya fiksi di dunia yang menakjubkan untuk dibaca! Luaaar biasa! Apalagi apabila pengalaman tersebut ditarik kesimpulannya untuk menjadi bahan tulisan. Tulisan-tulisan tersebut mampu menjadi kualitas tambah, bermanfaat bagi pembaca. Sayang sekali, generasi belia kita tak sedikit tetap belum mempunyai performa berpikir kritis yang baik. Sistem pendidikan di sekolah tak sedikit menunjukkan ilmu bagi siswa dalam bentuk ceramah maupun presentasi, selesai. Jarang sekali ada tugas yang perlu pemikiran kritis, kecuali yang sempat bergabung di kelompok penelitian. Pantas saja, tak sedikit anak sekolah yang melakukan aksi contek-menyontek di sekolah dikala ujian tiba. Ini bukan hanya persoalan ketidakjujuran lho ya. Ditambah lagi, jumlah jurnal ilmiah yang dipublikasikan Indonesia tetap rendah dibanding negara-negara lain, apalagi negara maju yang berpikirnya jauh lebih baik dibanding kita.

Sekali lagi, keduanya mampu ditimbulkan, generasi belia tak sedikit yang malas berpikir serta terlalu mempercayakan kepraktisan! “Jangan semakin menerus melakukan kesalahan, ambilah pelajaran”. Inilah kalimat bijaksana yang tak jarang kita dengar maupun dibaca. Namun, dalam praktiknya, apakah kita tak jarang melakukannya? Hanya orang bijaklah yang melakukan itu untuk mengarungi hidup, bahkan justru diharapkan oleh kita, khususnya pelajar, untuk rutin berpikir kritis! Mengapa? dalam mengambil pelajaran hidup, pastinya melibatkan pemikiran serta renungan yang paling dalam. Artinya, kita dituntut supaya rutin berpikir! Jika kita melakukan kesalahan, serta kita berpikir mengenai kesalahan itu, otak kita akan mengambil keputusan yang berlawanan untuk kebaikan. Misalnya begini, kita baru saja melakukan kekacauan dalam pekerjaan kita. Lalu kita berpikir, apa penyebabnya. Ooh nyatanya begini, kecerobohan!

Makanya diambil kesimpulan: kita tak boleh melakukan kecerobohan serta wajib mengerjakan sesuatu dengan cermat. Begitu pula dengan berpikir dalam menyelidiki sesuatu. Intinya, seusai bertanya atas problema yang terjadi, mencari jawaban serta ditemukan korelasi terhadap kedua hal, tariklah kesimpulan, khususnya penyelesaian dari persoalan tersebut. Jadilah gagasan-gagasan baru. Tentu,  diharapkan pengetahuan yang lumayan untuk mampu berpikir menemukan hal-hal baru. Inilah tutorial berpikir yang sederhana, melainkan memperlukan latihan semakin menerus.

Tidak wajib dikala melakukan kesalahan itu, kok. Cara berpikir serupa sangat diharapkan dikala kita, khususnya para pelajar serta mahasiswa nih, menyelidiki permasalahan pada kehidupan serta lingkungan sekitar, dikala melakukan penelitian, riset ilmiah, maupun menulis. Niscaya, tulisan-tulisan, serta jurnal ilmiah akan terlahir aktual serta penuh inovasi-inovasi baru. Bukan tak mungkin, negara kita nanti berkembang menjadi menjadi negara yang maju!

Oleh :Nahariyha Dewi Widie

No comments:

Post a Comment