Monday, 21 March 2016

Membuat Tulisan Ilmiah

Membuat Tulisan Ilmiah - Suatu faktor yang sangat mengasyikan serta bahkan membanggakan, belakangan ini terjadi di UIN Malang, fenomena munculnya penerbitan buku-buku yang ditulis oleh para dosen. Dalam waktu setengah tahun saja, dari Januari hingga Juni 2008 tak tidak lebih dari 50 judul buku telah terbit. Buku itu diterbitkan sendiri oleh UIN Malang Press, serta bahkan lebih mengasyikan lagi, lembaga penerbitan ini juga telah masuk sebagai anak buah IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia).

Kegiatan menulis buku bagi dosen sebetulnya merupakan sebagai sebuah keniscayaan. Sebab, kegiatan mereka sehari-hari tak sempat lepas dari kehadiran buku. Mereka tak akan mungkin memberi kuliah tanpa ada buku pegangan. Bisa saja seorang dosen tatkala memberi kuliah, tidak hanya berpegang pada tulisannya sendiri juga mengacu pada buku-buku literatur goresan pena orang lain. Memang itu seharusnya, supaya isi kuliahnya mempunyai cakupan serta perspektif yang luas. Akan tetapi, setidak-tidaknya supaya dosen yang bersangkutan dikenal mempunyai otoritas ilmu yang memadai, seharusnya ia memakai lebih tak sedikit buku yang ditulisnya sendiri. Jika seorang dosen belum mempunyai buku yang ditulisnya sendiri, jadi tatkala memberi kuliah di depan kelas, ia baru sebatas dapat berkata terhadap mahasiswanya : "menurut kata orang", serta belum berani berkata "menurut pendapat alias temuan saya". Sementara, bolehlah sebagai seorang dosen baru, yang sebab belum mempunyai pengalaman, tetap memakai buku-buku yang ditulis oleh seniornya, melainkan tak demikian seharusnya bagi dosen yang telah senior. Mereka wajib mempunyai buku karangan sendiri, baik berupa buku teks alias yang akan terjadi penelitian.

Pekerjaan tulis menulis sesungguhnya bukanlah faktor yang sulit, apalagi bagi seorang dosen. Tugas dosen sehari-hari rutin saja terkait dengan tulis menulis. Sebelum memberi kuliah, mestinya mereka wajib menulis bahan-bahan yang akan diberikan terhadap mahasiswanya. Demikian pula kegiatan penelitian yang wajib dilakukan, wajib diakhiri dengan membikin laporan, yang wajib dirupakan dalam bentuk tulisan. Selain itu, tak terkecuali tugas pokok lainnya yaitu kegiatan pengorbanan pada masyarakat, juga laporannya wajib ditulis. Oleh sebab itu memperhatikan tipe tugas-tugas dosen semacam ini, rasanya tak mungkin apabila dosen tak mempunyai karya tulis. Belum lagi, kenaikan jabatan akademik bagi setiap dosen, rutin dipersyaratkan adanya buku-buku karya ilmiah, yang akan terjadi penelitian serta pengorbanan masyarakat yang telah ditunaikan. Maka, terasa ganjil apabila tersedia seorang dosen yang telah mempunyai jabatan akademik tinggi, melainkan belum mempunyai karya ilmiah. Hal yang layak dipertanyakan serta wajib dijawab oleh yang bersangkutan ialah darimana ia memperoleh jabatan akademik itu sementara ia tak mempunyai karya-karya ilmiah yang cukup.

Jika kita perhatikan besarnya jumlah perguruan tinggi di tanah air ini, dikaitkan dengan jumlah buku-buku yang terbit serta beredar di pasaran, nyatanya tetap tergambar semacam langit serta bumi. Artinya tetap terjadi kesenjangan yang sedemikian jauh. Besarnya jumlah perguruan tinggi belum diikuti oleh sbesarnya jumlah buku-buku yang terbit yang akan terjadi karya para dosen perguruan tinggi yang bersangkutan. Saya sempat memperoleh info dari seorang yang mempunyai jabatan di sebuah departemen yang bertanggung jawab soal penerbitan, bahwa ada sebuah perguruan tinggi besar serta ternama, mempunyai tak tidak lebih dari 1500 dosen tetap, melainkan nyatanya pada setiap tahunnya hanya sukses menerbitkan buku rata-rata antara 4 hingga 5 judul. Informasi itu terasa aneh, jadi mengajak impian untuk membuktikannya. Caranya mudah, yaitu berangkat ke beberapa toko buku. Kita perhatikan berapa buku yang ditulis oleh orang-orang yang sehari-hari bekerja di perguruan tinggi sebagai dosen. Saya yakin, akan terbukti bahwa terbukti produktivitas buku dari kalangan dosen tetap sangat terbatas, kecuali beberapa perguruan tinggi tertentu saja yang telah mempunyai tradisi menulis di kalangan para dosennya.

Memperhatikan kenyataan, tetap rendahnya produktivitas karya tulis di lingkungan perguruan tinggi, saya sempat berseloroh dalam sebuah peluang berdiskusi dengan kawan terkait dengan fenomena itu, dengan berkata bahwa di Indonesia ini, apabila membandingkan antara besarnya jumlah perguruan tinggi dengan banyaknya buku yang terbit pada setiap tahunnya, bagai terlalu tak sedikit pohon melainkan minus buah. Perguruan tinggi semestinya semacam pohon yang tumbuh subur serta rindang jadi setiap ekspresi dominan menghasilkan buah yang banyak. Perumpamaan itu nyatanya tak tepat. Sebab, sedemikian tak sedikit perguruan tinggi sebagai pohonnya, akan melainkan buahnya, yakni berupa karya-karya ilmia alias yang akan terjadi penelitian tetap minim. Ini berarti, pohon yang sedemikian tak sedikit itu, tetap butuh dipertanyakan tipe serta kualitasnya. Yaitu, kenapa pohon yang tak sedikit itu tak menghasilkan buah. Gambaran perguruan tinggi semacam ini, pasti mempunyai sesuatu yang salah. Misalnya, jangan-jangan belum disadari bahwa tugas perguruan tinggi bukan saja mendampingi mahasiswa menjadi sarjana, melainkan dalam prose situ wajib ada giatan pengembangan pemikiran, kajian mendalam serta penelitian. Hasilnya kemudian dirupakan dalam bentuk karya ilmiah yang diterbitkan dalam bentuk buku. Oleh sebab itu apabila perguruan tinggi tak menerbitkan buku-buku yang akan terjadi karya dosennya dapat disebut sebagai perguruan tinggi yang belum dengan cara maksimal melakukan tugas pokoknya yang strategis, jadi perumpamaan menjadi bagai pohon tak lebih buah sebagai faktor yang tepat.

Memahami faktor ini, jadi munculnya beberapa goresan pena dalam bentuk buku di  kampus UIN Malang, wajib diapresiasi serta disambut gembira oleh semua pihak, supaya lembaga pendidikan tinggi Islam ini menjadi bagai pohon yang kaya buah. Pohon itu tumbuh subur serta rindang, cantik dipandang serta menyenangkan tak sedikit orang sebab buahnya sukses dirasakan oleh kalangan luas. Buah yang dimaksudkan itu merupakan buku-buku serta yang akan terjadi penelitian tersebut. Jika kampus ini tak sukses berbagi karya ilmiah, berupa buku serta yang akan terjadi penelitian, jadi sama halnya dengan pohon rindang yang tak berbuah. Sehingga keberadaannya hanya sebatas sebagai kawasan teduh bagi orang-orang yang terkena panas matahari. Oleh sebab itu, kita bersyukur serta gembira atas preatsi itu. Para penulis buku, baik buku teks maupun yang akan terjadi penelitian inilah sesungguhnya yang telah menawarkan sumbangan nyata bagi keindahan wajah kampus Islam, UIN Malang ini.

Oleh : Imam Suprayogo

No comments:

Post a Comment