Friday, 11 March 2016

Interaksi Peserta Didik dengan Media Sosial Harus Diawasi


Interaksi Peserta Didik dengan Media Sosial Harus Diawasi - Seiring dengan perkembangan tekhnologi komunikasi serta informasi, khusunya media umum (medsos) yang begitu cepat, telah menunjukkan kemudahan bagi masyarakat untuk memperoleh serta mempunyai info dengan cara global, tanpa wajib terhambat oleh ruang serta waktu. Dengan begitu, keberadaan medsos wajib diakui telah mengubah konsep kita mengenai ruang serta waktu. Meskipun telah menunjukkan kemudahan bagi insan untuk mengakses informasi. Akan tetapi, disatu sisi, medsos juga menampakan wajah kembarnya. Jika dianologikan semacam sebilah mata pisau. Medsos apabila dimanfaatkan dengan benar, jadi akan menunjukkan faktor yang sangat bermanfaat.

Namun sebaliknya, medsos juga dapat menjerumuskan setiap orang pada celah gelap. Akhir-akhir ini, dimedsos tanpa kita sadari nyatanya tak hanya sebatas menjadi alat komunikasi yang menampilkan info dengan cara umum. Namun sering juga kita menemukan info yang sifatnya sangat pribadi, yang seharusnya tak menjadi konsumsi publik serta info yang tak edukatif. Misalnya semacam seksualitas, kekerasan serta prilaku me nyimpang lainnya. Salah satu contohnya, baru-baru ini, cityzen digegerakan oleh salah satu siswa sekolah dasar (SD) yang mengunggah gambar diatas ranjang bersama pacarnya.

Selain itu, kebanyakan anak-anak telah menjadi korban kekerasan seksual yang bermula dari perkenalan lewat medsos. Selain itu kita juga menonton terjadi degaradasi moral yang sangat tajam, khususnya dikalangan remaja. Nilai-nilai kearifan lokal dengan cara perlahan melainkan sempurna mulai terkikis dengan masuknya adat luar yang belum sempurna baik untuk diri generasi bangsa. Misalnya kita tak sedikit menemukan pada kalangan anak belia yang sikap serta perilakunya lebih menggandrungi adat populer. Beberapa masalah diatas, sempurna tak dapat kita lihat sebagai sebuah faktor yang biasa serta normal dari akibat perkembangan teknologi info itu sendiri.

Namun faktor itu wajib dilihat lebih jauh, apabila dibiarkan semakin menerus tanpa ada upaya untuk mengantisipasinya. jadi kita hanya menungggu waktu untuk menonton kehancuran generasi bangsa ini. Pemerintah wajib sadar Pada dasarnya pemerintah dari jauh-jauh hari telah menyadari faktor tersebut, akan tetapi hingga sejauh ini, kita belum menonton upaya serius untuk mengantisipasi akibat negatif medsos, khusunya dikalangan remaja yang sangat rentan terpengaruh dengan info negatif yang disajikan medsos. Misalnya di NTB, beberapa waktu lalu, gubernur NTB menunjukkan himbauan kepada istitusi pendidikan untuk tegas melarang pelajar mengangkat handpone ke lingkungan sekolah. Bahkan kepala dinas pendidikan, pemuda serta olahraga (dikpora) NTB lebih tegas supaya sekolah menunjukkan sangsi tegas bagi siswa yang tetap mengangkat handpone. Akan tetapi menurut, Direktur Lembaga Riset Kebudayaan serta Arus Komunikasi (Literasi) NTB, Ahmad Sirulhaq dalam penelitiannya berkata bahwa pelarang kepada siswa untuk mengangkat handphone ke lingkungan sekolah tak menunjukkan pengaruh yang signifikan untuk meminimalisir akibat media. Akan tetapi yang terpenting dilakukan kini merupakan memeberikan pemhaman pada siswa mengenai media itu sendiri, jadi mereka dapat dengan bijaksana memanfaatkan media.

Konsep bijaksana bermedian menurut Sirulhaq, bukan untuk menjauhkan siswa dari media itu sendiri. Tetapi bagaiman mengedukasi siswa supaya mereka dapat memanfaatkan media sesuai dengan kebutuhan, mengingat dimedia itu sendiri juga tak sedikit menampilkan info yang tak penting untuk keadaan psikologi siswa. Upaya untuk mengedukasi siswa dalam bijaksana bermedia sempurna memperlukan keterlibatan tak sedikit pihak, tak saja pemerintah serta pihak institusi pendidikan sendiri. Tetapi juga peran orang tua serta masyarakat dalam faktor ini sangat dibutuhkan. Salah satu yang upaya yang dapat dilakukan oleh keluarga serta guru merupakan mengawasi anak-anak dalam beriteraksi dengan media, tanpa menjauhkannya dari media itu sendiri. Karena bagaimanapun tak dapat dipungkiri, dimedia itu sendiri tak sedikit faktor positif yang dapat dimanfatakan.

Upaya pengamatan kepada anak dalam berinteraksi denga media yang dimaksudkan oleh penulis merupakan dengan menunjukkan pemahaman dengan cara terbuka beberapa akibat negatif serta positif didalam media umum itu sendiri. Salah satu contohnya merupakan dalam faktor pendidikan seksual. Pihak sekolah maupun keluarga wajib berani terbuka untuk mendiskusikan masalah seksualitas, dengan anak. selagi ini pembicaraan dengan tema seksual tetap dianggap tabu oleh sebagian besar orang tua serta guru. Sehingga tak heran apabila anak akhirnya mencari tahu lewat media.

Dengan begitu, jadi saya yakin bahwa anak akan lebih hati-hati dalam membuka info yang sifatnya akan merugikan dirinya, sebab sebelumnya kta telah memebrikannya pemahana bahwa bagaimana akibat yang akan ditimbukan apabila akan terjerumus dalam celah gelap itu. semoga dengan itu kita harapkan, tunas-tunas andalan masa depan bangsa ini dapat tumbuh dengan sempurna.

Oleh : Qoimatun Nisa’

No comments:

Post a Comment