Saya teringat dikala tetap anak-anak, dan tinggal di desa mengenai bagaimana menyiapkan pemimpin umat ke depan. Beberapa tokoh desa setempat, pikirannya tak sebatas ngurus diri mereka sendiri, namun tak sedikit dicurahkan untuk berpartisipasi membangun masyarakat. Mereka membangun masjid, madrasah, dan sentra-sentra pelayanan masyarakat yang memerlukan. Hidup di desa rutin diwarnai oleh kebersamaan dan rutin ada nuansa berjuang untuk masyarakat, lewat tempat ibadah dan juga lembaga pendidikan.
Kehidupan ekononomi di pedesaan dikala itu belum semudah sekarang. Pada saat-saat tertentu masyarakat desa mengalami kesulitan memperoleh bahan makanan. Biasanya apabila terjadi kemarau panjang, para petani desa tak dapat menanam padi alias lainnya, jadi akan disusul oleh masa paceklik yang amat berat. Di masa semacam itu, masyarakat mengkonsumsi apa adanya, semacam ketela pohon, ubi-ubian dan sejenisnya yang dapat didapat. Akan tetapi, masyarakatnya mempunyai solidaritas yang tinggi. Di masa-masa semacam itu, suasana saling menolong, memberi alias meminjami berlangsung baik. Sehingga, tak ada orang yang menderita gizi buruk, apalagi hingga mati kelaparan.
Masyarakat juga telah merasa alangkah pentingnya pendidikan. Oleh alasannya merupakan itu, sekalipun tak ada bantuan dari pemerintah ---baik pemerintah kawasan maupun pemerintah pusat, masyarakat dengan dipimpin oleh para tokohnya, bergotong royong membangun sekolah, madrasah dan juga tempat ibadah berupa musholla alias masjid. Saya ingat tak ada suasana menantikan bantuan turun dari pemerintah. Jika terbukti dirasa telah dianggap butuh di sebuah wilayah dibuat sekolah, madrasah alias tempat ibadah, jadi para tokoh mereka menggerakkan masyarakat untuk membangunnya. Gotong royong membangun fasilitas sosial itu dilakukan oleh semua. Yang merasa kaya menyumbang uang alias bahan bangunan, sedangkan yang tak punya, mereka menyumbangkan tenaganya. Di antara mereka rasanya tak ada yang berebut dan juga tak ada yang menghindar. Berebut menjadi tokoh alias pemimpin juga tak sempat saya lihat. Seorang tokoh alias pemimpin di desa itu dengan cara alamiah diangkat dan alias dijadikan.
Yang saya tetap terlihat dan amat susah saya lupakan merupakan percakapan soal kader masa depan untuk membangun dan memimpin desa. Masyarakat dikala itu telah mencicipi alangkah penting dan strategisnya posisi pemimpin. Pemimpin alias tokoh dipandang sebagai sosok yang berharga mahal. Mereka berpendapat bahwa tak semua orang dapat menjadi pemimpin alias tokoh. Orang-orang opsi itu wajib mempunyai kelebihan di antara mereka yang dipimpin. Menurut asumsi masyarakat, yang saya tangkap dari beberapa perbincangan, pemimpin alias tokoh wajib mempunyai kelebihan, baik dari sisi ilmu, ketrampilan, kepribadian dan juga lainnya. Pemimpin wajib mempunyai ide, impian dan pengetahuan dan ketangkasan menyampaikannya lepada masyarakat. Karena itu, pemimpin wajib dapat berpidato, berkhutbah di masjid dan juga faktor lain yang diperlukan oleh masyarakat, tergolong memimpin doa.
Atas dasar pandangan bahwa alangkah pentingnya kader pemimpin itu, jadi para orang tua, tokoh dan pemimpin desa menyebut nama-nama anak belia tertentu yang diinginkan menjadi kader pemimpin masa depan. Bahkan anak belia yang dimaksudkan itu sering dengan cara terbuka disebut sebagai kader. Anak-anak belia andalan desa kemudian bersemangat untuk berangkat keluar desa, belajar apakah ke pondok pesantren alias meneruskan pendidikan formal ke kota. Sudah barang tentu, semenjak itu anak-anak belia yang keluar desa untuk menuntut ilmu telah tumbuh kesadaran bahwa mereka merupakan kader masa depan, yang akan diserahi tugas mengelola sekolah, madrasah alias juga tempat ibadah yang telah dibuat oleh masyarakat. Saya yakin, anak-anak belia dengan kesadarannya bahwa amereka merupakan kader masa depan, jadi tatkala belajar di tempat mereka masing-masing, mempunyai semangat dan jiwa sebagai seorang kader itu. Mereka pasti saja tak akan tega mengecewakan masyarakatnya nanti tatkala telah kembali ke desanya. Mereka yang telah disebut sebagai kader, merasa wajib memperoleh bekal sebanyak-banyaknya.
Para kader ini, apabila sebuah dikala pulang kampung juga memperoleh penghargaan dari para tokoh alias pemimpin desa. Mereka diberi peluang untuk tampil dalam kegiatan, umpama menjadi khotib Jum'at, pembicara dalam peringatan hari besar Islam dan lain-lain. Masyarakat, sekalipun desain para kader tersebut belum memuaskan, bergembira alasannya merupakan betapapun merupakan kader pemimpin mereka di masa depan. Dan akhirnya dengan para kader inilah jadi lembaga pendidikan semacam sekolah, madrasah, dan tempat ibadah yang dibuat menjadi terus maju, alasannya merupakan ditangani oleh kader-kader yang telah menimba ilmu di tempat-tempat yang dipercaya.
Sayang rupanya percakapan mengenai kader masa depan, terus lama terus tak terdengar lagi. Jika ada anak belia meninggalkan desanya untuk menuntut ilmu ke kota, jadi semangat anak belia tersebut telah tak sebagaimana dahulu, ingin menjadi kader pemimpin masa depan. Mereka berangkat ke kota menempuh pendidikan yang lebih tinggi, sebatas dimotivasi supaya nanti memperoleh ilmu dan ijazah dan seusai itu dapat memperoleh pekerjaan dan mendatangkan penghasilan yang tinggi. Pandangan para tokoh dan pemimpin desa mengenai perlunya kader yang dapat memimpin desa masa depan, terus surut dan bahkan menghilang. Jika demikian halnya, jadi sesungguhnya desa tak saja kehilangan kader, namun yang justru lebih disayangkan lagi merupakan telah kehilangan kesadaran masa depan yang seharusnya dipersiapkan semenjak sekarang. Oleh alasannya merupakan posisi kader dan pemimpin sedemikian strategisnya, jadi tutorial berpikir masa depan orang dulu, butuh dihidupkan kembali.
Oleh : Imam Suprayogo

No comments:
Post a Comment