Showing posts with label Agama. Show all posts
Showing posts with label Agama. Show all posts

Tuesday, 17 May 2016

Menjadi Da'i Harus Bijaksana

Menjadi Da'i Harus Bijaksana - Saya sempat berdakwah kecil-kecilan di kalangan orang kampung yg seumur hidup belum sempat sholat dengan cara tertib, sekalipun jika ditanya mereka mengaku beragama islam. kampung yg saya ceritakan ini, dulu yaitu basis aktivitas wanita tuna susila dan wts. kegiatan perzinaan ini telah sekian lama berjalan di kampung itu. maksiat layaknya ini, di manapun tak sempat berjalan sendiri, selalu beiring kelindan dgn aktivitas dosa yang lain.
maksud saya, tak hanya aktifitas perzinaan di kampung itu, pun disempurnakan aktivitas tidak sehat lainnya layaknya kebiasaan judi, minum khomar, serta sebangsanya. berbekal semangat dakwah yg saya peroleh sejak lingkungan keluarga dahulu sewaktu kecil, serta latar belakang pendidikan yg saya dapatkan, saya tak tahan jika membiarkan aktivitas yg saya anggap menyimpang jauh sejak nilai-nilai agama langkah yg saya lakukan untk aktivitas dakwah yaitu merintis pendirikan masjid. kebetulan, apabila mulai mengembangkan aktivitas dakwah ini, adanya kebijakan pemerintah memindahkan wts liar ke lokalisasi khas yg jauh sejak kampung ini. tapi layaknya dikemukakan di muka, sekalipun wts telah tak ada, aktivitas yg menyertainya, layaknya kebiasaan judi, minum minuman keras, serta pun kondisi buta agama, masih tetap berlanjut.
tekat saya, saya musti mengubah kondisi masyarakat jadi lebih baik, dlm arti sekalipun pelan serta bertahap, adanya perbedaan makna kehidupan agama di kampung ini ada gejala menarik dlm kehidupan masyarakat ini. ternyata, sekalipun seseorang itu mempunyai kegemaran berbuat tercela, tokh dia pun tahu bahwasanya apa yg ia lakukan yaitu dosa. menariknya, mereka tak ingin anak-anaknya mengerjakan perihal yg sama. mereka ingin supaya apa yg ia lakukan tak ditiru oleh anak-anak mereka. mereka ingin supaya anaknya kelak jadi buah hati bagus. lantaran itu, tawaran saya mendirikan masjid serta mengajak ngaji anak-anak mereka direspon dgn positif. mereka sadar bahwasanya apa yg mereka lakukan sesunguhnya tak selayaknya di lakukan oleh siapapun masuk dirinya serta pun oleh anak-anak mereka. mereka pun tak membenci aktivitas dakwah, asalkan tak menyinggung perasaan serta pun tak menganggu aktivitas mereka. mereka pun mengerti bahwasanya dakwah agama sebenarnya bagus.
hanya, mereka pun menuntut supaya da’i pun konsisten, berarti seiring sejalan apa yg ia ucapkan dgn yg dilakukan panitia pembangunan masjid , yg pun orang-orang muallaf tersebut, tiap-tiap minggu saya ajak berkumpul untk rapat, dgn ambil wadah dengan cara gantian sejak kediaman ke kediaman panitia. aktivitas itu tak hanya untk mempererat silaturrahiem, pun dimaksudkan untk mengevaluasi kegiatan, bagus menyangkut pengumpulan dana maupun pelaksanaan pembangunan. sengaja pelaksanaan pembangunan ditangani sendiri oleh orang kampung. untuk mereka yg kerja penuh digaji sebagaiamana tukang batu pd umumnya, dapat tapi untuk yg kerja akhir minggu dianggap bekerja bakti, tak dibayar. semangat bekerja mereka luar biasa. masjid ini dianggap punya serta sekalian kebanggaan mereka. kampung ini, baru kali kesatu ini dapat mempunyai masjid. pada akhirnya tak hingga setengah thn masjid tsb selesai dibangun.

mmg apabila itu, untk menghimpun dana tak terlampau rumit. banyaknya orang yg langsung membantu, khususnya orang luar kampung ini, tatkala dimintai sumbangan. mungkin, kampung ini populer sbg aneh, karena semula populer sbg kawasan hitam, tiba-tiba membangun masjid setelah masjid selesai, sehingga langsung diresmikan penggunaannya bersama-sama. apabila itu, supaya kegembiraannya lebih sempurna, masyarakat dicarikan sumbangan kain sarung, kopyah serta baju taqwa untk dibagikan ke semua aktifis pembangunan masjid. seragam ini penting untk membangun bukti diri baru sbg kampung santri. saya ingat, disepakati peresmian di lakukan lepas 1 muharam.
peresmian tak hanya diadakan syukuran seperti makan bersama, ceramah serta memulai sholat maghrib berjama’ah. seluruh acara ini disepakati melewati rapat warga se kampung. hampir semua, kecuali satu dua, masih tetap belajaran sholat. malah masih tetap banyaknya yg belum hafal bacaan sholat, bahkan juga membaca al fatekhah sekalipun. tapi saya pastikan bahwasanya sekalipun bacaan sholat belum sempurna tak mengapa, hafal surat al fatekhah telah baik.

serta bila juga belum hafal, separo pun tak mengapa, bahkan juga jika separo belum hafal membaca bismillah tak mengapa. tawaran saya ini disambut bagus serta ternyata menggembirakan, paling tak mereka tak merasakan terbebani hal aneh, dua hari pra diresmikan,seorang anggota jama’ah pembangunan masjid datang ke rumah, dgn bahasa halus, sopan serta hati-hati, minta ijin supaya diperkenankan, sehari pra peresmian masjid, layaknya biasa memasak daging babi. dia menyebutkan bahwasanya permintaan ini yaitu untk memenuhi kemauan anaknya. dia berdalih, tokh sholatnya masih tetap hari kamis sore. dia minta ijin makan daging babi untk kali  terakhir, yakni hari rabu, sehari pra peresmian masjid. menghadapi permintaan itu, saya dengan cara spontan menjawab, boleh, serta silahkan.
asalkan hari kamis pagi musti mandi kramas---mandi besar, sore mengikuti sholat berjama’ah di masjid serta mulai hari itu pun aktivitas memakan daging babi musti stagnan. dia sepakat, serta rupanya dari itu sekeluarga mulai belajar sholat serta doa-doa lainnya, sampai pada akhirnya keluarga itu jadi santri, aktif berjama’ah di masjid baru ketika berikan respon permintaan ijin orang mau masak daging babi itu, saya tak memanfaatkan panduan fiqh. untuk saya, mereka itu janganlah hingga tersinggung perasaannya.
mereka musti mempunyai kepercayaan serta menyenangi saya sbg orang yg dengan cara tulus mengajak ke jalan islam. saya yakin jika permintaan itu ditolak, terlebih saya tunjukkan kemarahan saya, dia dapat langsung meninggalkan serta bahkan juga dapat memusuhi aktivitas ibadah yg baru saja saya rintis. inilah saya katakan “bijak”  rupanya musti ditempuh, melebihi sejak sebatas memegangi fiqh serta bahkan juga prinsip-prinsip yg lainnya. telah barang tentu, toleransi layaknya ini tak dapat saya memberi misalnya, jika yg meminta yaitu orang yg bukanlah muallaf, terlebih mahasiswa perguruan tinggi islam.

Oleh : Imam Suprayogo.

Monday, 2 May 2016

Sikap Orang NU kepada PKI

Sikap Orang NU kepada PKI -Tahun 1951/1952 waktu masih tetap di sd, saya menyaksikan di meja bekerja ayah saya sebuah foto perihal seorang laki-laki yg ditutup matanya berdiri di depan beberapa orang yg mengarahkan senjata ke arah lelaki it,saya bertanya kepada ayah saya, siapa lelaki itu? beliau menjawab lelaki itu yaitu orang yg dihukum mati lantaran terlibat pemberontakan pki di madiun pd 1948. anggota pki membunuh banyaknya kiai serta santri
penjelasan ayah saya itu sangat saya yakini, segera menempel di otak serta bertahan hingga kini, walau adanya banyaknya tulisan serta buku yg coba membantah bahwasanya pki memberontak pd 1948. keyakinan itu pun dimiliki puluhan juta warga nu, umat islam, serta pemeluk agama lain

beberapa thn menjelang 1965, mereka yg berkeyakinan layaknya itu melihat serta mendengar bahwasanya anggota pki serta organisasi di bawahnya sudah memprovokasi umat islam, menyerang anggota pii yg sedang shalat subuh di kanigoro, kediri, membunuh anggota ansor di banyuwangi. perang kata-kata berlangsung antara koran pki serta koran lain, antara sastrawan pro-pki serta sastrawan anti-pki
sikap gus dur

kami sekeluarga, kecuali gus dur yg terletak di mesir, mendengar dgn saksama pengumuman dewan revolusi. dgn latar belakang layaknya di atas, reaksi spontan kita waktu itu: ini pastinya perbuatan pki. ibu saya ikut menandatangani tuntutan pembubaran pki, mewakili pp muslimat nu, 4 oktober 1965
saat itu belum banyaknya yg milik telepon terlebih telepon seluler, menjadi informasi bergerak lambat. kita mulai mendengar ada eksekusi terhadap mereka yg diduga sbg anggota pki serta organisasi di bawahnya sekeliling seminggu sesudah berlangsung. tentu kita tidak sepakat. waktu peringatan hari lahir ke-40 nu, adanya sejumlah anggota banser jawa timur yg menginap di kediaman ibu saya. saya serta adik saya, umar, mengobrol serta bertanya mengapa kawan-kawan anggota banser mengeksekusi mereka yg dianggap anggota pki serta organisasi di bawahnya?

menurut mereka, suasananya layaknya perang: membunuh dan dibunuh. pd 2005 saya bersua seorang anggota banser yg mengeksekusi banyaknya orang yg diduga anggota pki atas instruksi anggota tni tingkat kecamatan. dia mengatakan, bila dia menolak, dia dapat dituduh sbg anggota pki. pendapat beberapa anggota banser itu yaitu suara hati nurani warga nu terhadap pki 50 thn lalu
gus dur meninggalkan indonesia menuju kairo pd akhir 1963 serta kembali pd pertengahan 1971. menjadi gus dur tak alami dan merasa kondisi permusuhan dgn pki serta organisasi di bawahnya. gus dur pun milik akses terhadap informasi perihal gerakan 30 september (g30s) yg bertentangan dgn informasi yg beredar di indonesia. sangat mungkin gus dur sempat berjumpa serta berdialog dgn warga pki yg tak dapat kembali ke indonesia serta tinggal di beberapa negara eropa
wajar bila perbedaan itu bikin gus dur milik pandangan serta sikap tidak sama terhadap pki serta warganya dibandingkan warga serta tokoh nu yg alami gesekan dgn warga pki. sbg orang yg milik keberanian luar biasa, gus dur tak skeptis untk meminta maaf kepada keluarga korban 1965. gus dur pun berani melontarkan inspirasi untk mencabut tap mpr no xxv/1966. gus dur tak menghitung untung-rugi karena meluncurkan pernyataan di atas
saat itu saya menilainya umumnya orang menentang inspirasi itu. saya bikin tulisan di koran menanggapi inspirasi pencabutan tap mpr oleh gus dur itu. menurut saya, tak seluruh substansi tap mpr tsb akan dibatalkan. namun, perlakuan diskriminatif terhadap keluarga korban musti dihentikan. saya yakin masih tetap jauh lebih banyaknya rakyat yg menolak pki diizinkan berdiri lagi
pada september 2012, sebuah majalah berita nasional meluncurkan edisi khas yg mengungkap beberapa cerita perihal aksi kekerasan terhadap mereka yg diduga sbg anggota pki pd akhir 1965. warga serta tokoh nu tentu merasakan terpojokkan oleh penuturan majalah tersebut, yg lalu memicu terbitnya buku benturan nu serta pki, 1948-1965. buku itu mengungkap latar belakang serta penyebab warga serta aktivis nu di beberapa kota terpaksa mengerjakan eksekusi terhadap anggota pki serta organisasi di bawahnya lantaran keadaannya mmg mendorong ke arah perihal itu
terbitnya edisi khas majalah berita nasional tsb serta beredarnya film-film yg tak lolos sensor (the act of killing serta the look of silence) mau tidak mau bikin kondisi panas serta menumbuhkan rasa saling curiga. itu tak dapat dihindarkan. bahkan, beragam sms termasuk ke ponsel saya berikan informasi bahwasanya cc pki telah berdiri serta mengadakan rapat di beberapa kota. saya tak milik kemampuan untk mengetahui apakah informasi itu benar dan tidak
rekonsiliasi

pada awal 2000-an mulai munculah gerakan mendorong terjadinya islah dan rekonsiliasi. anak-anak muda nu, khususnya yg tergabung dlm syarikat, mengerjakan beragam aktivitas untk memulai mewujudkan rekonsiliasi itu
banyak buah hati pelaku kekerasan terhadap korban 1965 merasakan ikut bersalah serta kemudian mengerjakan hal yg positif terhadap keluarga korban. putra-putri tokoh yg dahulu bermusuhan dengan cara politik berkumpul dlm satu organisasi bernama lembaga silaturahmi buah hati bangsa (fsab). mereka antara lainnya putra/putri jenderal a yani, jenderal sutoyo, jenderal supardjo, dn aidit, serta kartosuwiryo
upaya rekonsiliasi berikan harapan kepada beberapa korban apabila panitia seleksi calon anggota komisi validitas serta rekonsiliasi (kkr) nasional telah menyerahkan nama calon anggota kepada presiden susilo bambang yudhoyono yg membutuhkan saat lama sekali untk pilih beberapa anggota kkr. di tengah era menantikan itu, mahkamah konstitusi membatalkan uu kkr pd awal desember 2006. hingga hari ini belum adanya tanda-tanda dapat munculah uu kkr pengganti uu yg dibatalkan itu walau telah delapan thn berlalu
dalam pidato kenegaraan, presiden joko widodo menyatakan dengan cara tersirat rencana membentuk tim untk mengerjakan rekonsiliasi terkait pelanggaran ham berat era lalu, masuk peristiwa 1965. rekonsiliasi ini kabarnya dapat disertai pengungkapan validitas. informasi ini menimbulkan reaksi tidak sama di dlm beragam kelompok, adanya yg senang serta adanya yg tidak
komnas ham pd juli 2012 mengeluarkan laporan perihal kejahatan terhadap kemanusiaan yg berlangsung dengan cara sistematis serta meluas pd 1965-1966. laporan ini disusun berdasarkan hasil penyelidikan yg di lakukan di empat wilayah (maumere, maluku, sumatera selatan, serta sumatera utara) serta pengumpulan kesaksian sejak 349 saksi serta korban. menurut uu no 26/1926 perihal pengadilan ham juncto pasal 7 statuta roma, kejahatan-kejahatan ini didefinisikan sbg kejahatan terhadap kemanusiaan
mengingat di indonesia tak dapat di lakukan sistem hukum terhadap mereka yg diduga mengerjakan pelanggaran ham berat pd 1965/1966, beberapa orang milik prakarsa untk menyelenggarakan international people tribunal (ipt 1965) terhadap mereka yg diduga sbg pelaku. ipt itu dapat di lakukan di den haag sejak oktober 2015 hingga oktober 2016. ipt dapat mendakwa pihak negara (terutama militer) yg diduga kuat jadi pelaku dlm peristiwa itu
sikap warga nu kini

bagaimana sikap warga nu terhadap peristiwa yg telah berlangsung 50 thn kemudian itu? mendapati sejumlah kelompok. pertama, antirekonsiliasi, yg saya duga jumlahnya kecil. mereka beranggapan tni serta kelompok sipil sudah mengerjakan upaya sesuai dlm menyelamatkan nkri. kkr serta rencana rekonsiliasi pemerintah dianggap tidak butuh lantaran warga pki mmg pantas menerima perlakuan layaknya yg berlangsung. sikap ini pun dimiliki kelompok di luar nu
kedua, kelompok yg sepakat upaya rekonsiliasi, yg beranggapan warga pki serta warga nu sama-sama menjadi korban. menurut mereka, negara dapat meminta maaf kepada korban bukanlah kepada pki. rekonsiliasi yg telah berjalan butuh ditingkatkan dgn berlandaskan ketulusan serta kejujuran dan menghilangkan prasangka
ketiga, mereka yg dengan cara sadar mengakui keterlibatan warga nu serta militer dlm pelanggaran ham berat itu. kelompok ini sepakat jika diadakan sistem hukum untk membuka apa yg sesungguhnya berlangsung. mereka sepakat tap mprs no xxv/1966 dicabut, kaidah komunis boleh disebarkan. mereka meyakini bahwasanya pki tak dapat laku walau di beri hak untk didirikan lagi
kelompok belakangan ini sangat terpengaruh oleh pemikiran gus dur waktu meminta maaf serta mengusulkan pencabutan tap mprs no xxv/1966. mereka sama layaknya gus dur, tak alami kondisi waktu pki sedang ”berperang” dgn tni serta partai-partai, lawan masuk nu. ke depan, total mereka yg tak alami konflik dgn pki dapat semakin banyaknya serta mungkin waktu itu sistem hukum dapat di lakukan walau pun pihak yg musti bertanggung jawab telah tak adanya.



Oleh : Sholahuddin Wahid

*dengan perubahan seperlunya*

Tuesday, 12 April 2016

Menjadikan Pesantren Sebagai Wadah Pendidikan Kritis

Menjadikan Pesantren Sebagai Wadah Pendidikan Kritis - pesantren adalah sebuah institusi pendidikan (wahid, 1978), seperti lembaga pendidikan nasional pd umumnya. hanya, pesantren tak berpusat pd pemerintah. eksistensinya bergantung kepada pengelola yg berdiri dengan cara independen, dan beberapa kiai (ustaz) yg dibantu sejumlah keluarga yg lain, tapi adakalanya pun dibantu murid (santri) senior karena adalah institusi pendidikan, unsur-unsur penting layaknya belajar mengajar, tanya jawab, penilaian belajar (ujian), serta lainnya sebagainya, berlangsung pula di pesantren. sepanjang ini, kritik yg menghunjam oleh beberapa pakar serta praktisi pendidikan cuma dialamatkan pd contoh pendidikan nasional.

padahal, menurut saya, amat penting pun mengkritik pola pelajaran di pesantren—-sebagaimana sekolah umum—-untuk melahirkan generasi bangsa yg diimpikan masyarakat apalagi, terakhir ini, pesantren dituding sbg ‘sarang teroris’ oleh mereka yg berang atas tindakan teror yg mengatasnamakan agama. lihatlah beberapa pelaku teror bom yg berlangsung di sejumlah wadah di tanah air sebagian memperlihatkan ada keterlibatan beberapa santri, dan setidaktidaknya mereka yg sempat belajar di pesantren para pelaku selalu berdalih atas doktrin agama islam yg diajarkan guru-guru mereka. lantaran itu, terlepas diakui dan tidaknya validitas tersebut, sejatinya seluruh pihak, khususnya kaum agamawan mesti mengintrospeksi diri pd pola pelajaran yg diampu di pesantren dalam merespons gosip tersebut, banyaknya pihak lantas mengkritik pengelola pesantren supaya membenahi serta mengevaluasi kurikulum yg dijadikan panduan. jika juga mmg adanya indikasi bahwasanya beberapa pelaku teror itu melakukan tindakan atas nama doktrin agama, yg sempat mereka pelajari di pesantren, hemat saya, kesalahan tak cuma pd persoalan kurikulum, tapi metode pembelajarannyalah yg tak tepat.

metode pembelajaran
hasil penelitian zamakhsyari dhofir (1982) perihal proses pelajaran di pesantren menarik untk diketengahkan di sini. menurutnya, proses pelajaran pesantren pd kebanyakan memanfaatkan tips tradisional, yg biasa disebut bandongan dan sorogan. bandonganatau sorogan yaitu metode pelajaran keagamaan yg di lakukan kiai dan/atau santri senior dgn membaca dan menyimak kitab tertentu yg diikuti beberapa santri dlm total yg sangat banyak sepintas tidak adanya persoalan dgn metode ini. sbg sebuah metode pelajaran supaya santri dapat membaca `kitab gundul’ (teks arab yg tidak berharakat), tips ini amat efisien. namun, pd tingkat pengetahuan perihal isi kitab, santri tidak gampang memahaminya. ini berlangsung lantaran sistem pelajaran yg terjadi cenderung berjalan monoton, indoktrinasi, teacher-centred, text-book, serta top-down santri tak di beri berpeluang bertanya oleh kiai. terkadang, santri cuma diminta membaca teks saja tanpa dibarengi dgn mengerti makna yg terkandung di dlm teks tsb. praktik pendidikan di pesantren dgn demikian, disadari dan tidak, meminjam istilah paolu freire, nyata-nyata sudah menerapkan `model bank’.

ini pun berlaku pd seluruh pelajaran lainnya yg lazimnya membahas tema-tema tertentu di dlm pesantren pendidikan sejatinya diisi acts of cognition (freire, 1991). contoh pendidikan ini mengandaikan ada sikap dialogis antara seorang santri serta kiai. santri tak lagi diperlakukan sbg objek seperti gelas kosong yg mesti berisi air sejumlah mungkin. santri milik hak untk `memprotes’, membantah jika ia tidak sependapat dgn apa yg diutarakan kiai serta berkata `cukup’ kalau air yg berisi rupanya meluap singkatnya, iklim pelajaran sejatinya menganut sebuah jargon: `kiai menerangkan, santri tidak sungkan mengacungkan jari’—jika mmg adanya yg butuh dipertanyakan–sebagai tanda jalinan dialogis jalan dialog—dalam pen didikan berbasis agama (islam)—dapat membebaskan manusia sejak kepasifan serta pun membebaskan sejak penguasaan terhadap manusia lainnya. obrolan yaitu keniscayaan dlm pro ses humanisasi, karena dgn begitu manusia jadi lebih bermakna, dihargai, serta sederajat (shofan, 2004)

meleburkan subjek-objek
karena itu, kelak, sistem penyadaran ini telah semestinya di lakukan dengan cara masif kepada seluruh elemen terkait di pesantren. saya mengasumsikan santri yg dari awal belajar agama—dalam teori fenomenologi—sebagai seorang `pemula’. lantaran sikapnya yg pemula itu, dlm benaknya tentu banyaknya memendam kegelisahan seperti pertanyaanpertanyaan kritis. namun, lantaran kerap x terbentur doktrin agama ataupun doktrin yg bersumber segera sejak kiai, santri juga dgn amat terpaksa `bertekuk lutut’ serta `bungkam’ menuruti apa kata doktrin jadi, pd batas-batas tertentu—tanpa mengurangi rasa hormat serta takzim kepada kiai—hubungan santri serta kiai dlm sistem pelajaran dengan cara ideal sejatinya sama-sama melakukan tindakan sbg subjek, bukanlah subjek-objek. dgn posisi ini, kiai tak lagi menggurui, tetapi larut dlm kondisi saling belajar serta melengkapi satu ama lain dengan kata lain, tidak adanya lagi objek da lam hubung an belajar mengajar antara santri serta kiai. objek yg semula ditimpakan keda santri kini berubah haluan pd realitas serta teks itu sendiri. dgn demikian terciptalah kondisi dialogis yg memiliki sifat intersubjek di dlm mengerti suatu objek bersama (freire, 1984) dengan mendekonstruski jalinan santri serta kiai dlm sistem pelajaran itu, dengan cara nyata dapat mengantarkan nilai-nilai kemanusiaan yg bertitik tolak pd fitrah manusia sbg ciptaan tuhan yg tidak sempat dibeda-bedakan, kecuali lantaran ketakwaannya semata—-sebagaimana dilansir alquran surah al-hujarat ayat 13. bukankah kiai pun manusia biasa, yg boleh jadi, santri akan melampaui tingkat ibadahnya, meski dlm wilayahwilayah tertentu?

karena itu, seluruh treatmentyang adanya dlm praktik pendidikan seharusnya selalu memperhatikan hakikat manusia sbg makhluk tuhan dgn fitrah yg dimiliki sbg makhluk individu yg khusus serta sbg makhluk sosial yg hidup dlm realitas sosial yg beragam. artinya, pemahaman yg utuh perihal sifat manusia wajib di lakukan pra sistem pendidikan dilaksanakan. sebab, pendidikan pd hakikatnya adalah sistem memanusiakan manusia (humanizing human being). ‘pendidikan yaitu sistem pembebasan serta sistem membangkitkan kesadaran kritis untuk tiap-tiap insan,’kata freire jadi, nantinya, perbaikan proses pesantren dlm koridor al-muhafadhah ‘ala al-qadim alshalih, wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah (menjaga tradisi lama, serta mendapat tradisi baru) adalah keniscayaan yg butuh di lakukan tepat perkembangan zaman. modernitas serta globalisasi dgn semua aspek positif serta negatifnya tak untk dihindari, tapi sebaliknya malah butuh disikapi dengan cara bijaksana serta arif kita butuh mengapresiasi banyaknya pesantren yg kini telah makin maju lantaran sudah mengadopsi pendidikan modern. beberapa santri akan menikmati akses informasi lebih lapang serta leluasa. sebuah anekdot mengatakan: ‘jika dulu santri cuma dengan cara terus-menerus membaca kitab kuning serta alquran, kini pun dapat membaca koran’. 

penggunaan komputer, fasilitas internet, serta penyediaan laboratorium misalnya, waktu ini sudah jadi tren baru di pesantrenpesantren terkemuka para santri diajari bagaimana menggunakan serta mengakses informasi supaya selalu ‘siap’ menghadapi tantangan zaman yg kian modern dengan demikian, pola pelajaran yg bagus di pesantren tsb dapat memengaruhi kualitas beberapa alumnusnya di lalu hari. sebab, di indonesia, banyaknya tokoh penting yg hingga waktu ini populer lapang masyarakat sempat mengenyam pendidikan pesantren. di pesantren, santri pun telah dari awal dibekali dgn kearifan serta nilai-nilai kehidupan, layaknya keberanian mengemukakan pendapat, toleransi, moderatisme, serta lainlain itu sebabnya, apabila di kalangan pemuka agama berlangsung perbedaan pandangan dan pendapat tentang suatu persoalan, misalnya, yg paling aktual perihal penentuan awal mula ramadan antara yg memanfaatkan metode hisab serta rukyat, kaum santri serta diikuti masyarakat umum menganggapnya perihal lumrah. perbedaan dlm perihal apa juga adalah kewajaran dan dlm bahasa agama disebut sunatullah nabi muhammad saw bahkan juga beranggapan perbedaan di kalangan umatnya sbg rahmat. lantaran itu, tidaklah bagus jika mendapati sikap seorang pemuka agama dan siapa juga itu yg mempermasalahkan perbedaan pendapat di kalangan masyarakat, masuk urusan agama

Oleh : Ali Usman

Monday, 28 March 2016

Cara Seorang Kyai Mendidik Para Santri

Cara Seorang Kyai Mendidik Para Santri - akhir-akhir ini perdebatan perihal pendidikan sedemikian banyaknya di lakukan di tengah masyarakat. mereka mendiskusikan perihal butuh tidaknya ujian negara, anggaran pendidikan yg belum mencukupi, peminat termasuk perguruan tinggi swasta makin menurun, kualitas pendidikan rendah, sampai persoalan bagaimana mengembalikan ruh pendidikan yg dirasa makin lenyap. diskusi yang lain berbicara, pendidikan telah terseret jauh ke alam kapitalis. pendidikan yg seharus-nya dijalankan atas dasar kesadaran membangun manusia berkualitas di era depan, rupanya dlm praktek pendidikan diwarnai oleh kondisi transaksional, persis sama yg berlangsung di pasar. adalah kondisi jual beli, transaksi berlangsung manakala adanya kesepakatan harga.

berbagai masalah  itu menjadikan pendidikan seolah-olah terjerembab pd beragam persoalan yg tak sempat henti. akibatnya, beberapa pelaku pendidikan tak pernah berpikir perihal peningkatan kualitas hasil pendidikan, mengaitkan antara pendidikan dgn tuntutan kebutuhan nyata ke depan, terlebih berpikir mencari langkah-langkah strategis maupun bentuk-bentuk pendidikan yg lebih berkualitas. malah yg mereka pikirkan yaitu bagaimana mencari tambahan anggaran pendidikan, seleksi masuk, pelaksanaan ujian akhir, wisuda beberapa lulusan serta sejenisnya. dunia pendidikan jadi terasa ruwet, berkualitas rendah serta rumit dicarikan pemecahannya.

sesungguhnya mencari jalan keluar sejak persoalan pendidikan, tidaklah terlampau rumit. bangsa ini telah kaya pengalaman penyelenggaraan pendidikan. pondok pesantren yg dikelola oleh beberapa kyai, yg jumlahnya sedemikian banyaknya serta merata di tanah air ini yaitu adalah pengalaman berharga yg butuh ditengok. beberapa pemuka agama ini dgn anggaran murah, sederhana, terjangkau oleh siapapun dapat melangsungkan pendidikan. hasilnya, banyaknya dilihat, tak segelintir tokoh di beragam bidang serta di beragam level, sudah menduduki posisi-posisi penting kepemimpinan masyarakat. salah satu saja sejak apa yg lakukan kyai yg rupanya hasilnya baik yaitu pendekatan yg di lakukan dlm mendidik beberapa santrinya.

kyai dlm mendidik beberapa santri, selalu memposisikan diri layaknya orang tua santri sendiri. mereka bertempat tinggal di lingkungan pesantren. tak sempat adanya kyai yg membangun pesantren di luar lingkungan wadah tinggalnya. sehingga, disebut pesantren manakala di sana adanya kediaman kyai, masjid serta wadah tinggal beberapa santri. struktur bangunan pesantren layaknya itu menjadikan kyai amat dekat dgn beberapa santrinya. beberapa santri tak saja belajar sejak kitab-kitab yg jadi acuan pendidikan pesantren yg bersangkutan, melainkan pun belajar dengan cara segera sejak kehidupan keluarga kyai. beberapa santri belajar bagaimana kyai memposisikan dirinya di hadapan isteri serta anak-anaknya, bagaimana kyai berteman di tengah masyarakat, deskripsi perihal visi serta cita-cita kyai, pandangan hidup serta hal-hal kehidupan penting lainnya, seluruh itu dengan cara segera dapat dipelajari oleh beberapa santrinya.

kyai dlm mengajar kepada beberapa santri di lakukan dengan cara segera serta utuh, adalah dgn memberi pengertian, pemahaman serta sekalian praktek dlm kehidupan. jika contohnya kyai mengajarkan perihal sholat berjamaah, sehingga tatkala dikumandangkan adzan, kyai langsung menuju ke masjid untk memimpin sholat berjamaah. kyai sambil menyaksikan apakah shof jamaah sudah rapi, sekalian menyaksikan apakah beberapa santri sudah ikut seluruh dlm berjamaah. jika kyai mengajarkan perihal zakat, sehingga pengasuh pesantren tsb pun meluncurkan zakat sejak hasil usahanya serta membagikan kepada yg berhak. dgn praktek layaknya itu, kyai dengan cara segera memberi penjelasan sekalian ketauladanan. begitu juga, apabila kyai mengajarkan perihal hikmah sholat malam, sehingga kyai selalu membangunkan beberapa santrinya mengerjakan ibadah itu bersama-sama. pendidikan di pesantren yg di lakukan oleh beberapa kyai tak sebatas melewati penjelasan lisan, melatih berdiskusi, berdebat melainkan pun menjalankan apa yg diajarkannya. kyai berpandangan jika santri sebatas di beri penjelasan serta disarankan untk berdiskusi, sehingga beberapa santri cuma dapat pandai berbicara serta berdiskusi. dlm kehidupan ini, menurut pandangan kyai, pandai berbicara serta berdiskusi itu penting, dapat tapi pembicaraan itu musti ditindak-lanjuti dgn amal dan perbuatan. agama islam yaitu agama yg menganjurkan serta menuntun umatnya supaya beramal sholeh, serta bukanlah sebatas berbicara.

sekalipun dlm tingkat sederhana, dulu beberapa santri di pesantren pun dijari bertani di kebun kyai. di pesantren pun dibangun koperasi, kemudian disebut koperasi pesantren adanya di mana-mana. lembaga ekonomi ini pengelolaannya diserahkan kepada beberapa santri, sampai santri mengenal bagaimana mengelola lembaga ekonomi. jika diundang memberi pengajian di tengah masyarakat, kyai selalu mengikut-sertakan beberapa santri senior, mendampinginya. lantaran itu, jika kami mengundang kyai, sehingga musti bersiap-siap memperoleh beberapa tamu tambahan yakni beberapa sopir serta sekalian santri yg menyertainya. seluruh yg di lakukan kyai itu tak lepas sejak pendidikan yg dikembangkannya. kedekatan kyai dgn beberapa santri menjadikan kyai amat mengenali beberapa santrinya. sekalipun tak di lakukan ujian umum -di lingkungan pemerintah populer ujian negara, beberapa kyai mengetahui mana santri yg cerdas serta maju, begitu pun sebaliknya, santri yg lambat serta selalu tertinggal. yg lebih menarik lagi, kyai dlm mendidik santri tak merasakan mencukupi sebatas aktivitas dhahir, mengajar kitab serta mempraktekkan, melainkan selalu melengkapinya dgn doa, memohon kepada allah. melewati sholat malam, kyai bermunajad, memohon supaya santrinya dikaruniai ilmu serta hidayah.

masih terkait dgn pendidikan pesantren, saya sempat diundang menghadiri upacara haflah akhirus sanah di sebuah pesantren desa. pd acara serimonial itu, hadir semua wali santri serta mengundang kyai sejak sejumlah pesantren dan tokoh masyarakat lainnya. dlm acara itu, tak hanya berisi dgn sambutan serta pengajian umum, pun diadakan semacam pameran unjuk kebolehan santri. beberapa santri yg sudah dinyatakan lulus dipersilahkan naik ke panggung dengan cara bersama-sama. perihal yg amat menarik serta berani, beberapa kyai undangan dipersilahkan mengajukan pertanyaan kepada beberapa santri yg sudah dinyatakan lulus, terkait dgn isi kitab yg sudah dipelajari. sejumlah kyai mengajukan pertanyaan, serta rupanya dijawab dengan cara mantap oleh santri. tentu ketangkasan serta ketepatan jawaban mengundang simpatik serta kekaguman semua undangan. saat serta type pertanyaan ternyata tak dibatasi. contoh ujian terbuka, bebas serta berani ini cuma sempat saya temukan di pesantren, serta belum sempat di wadah lain, masuk di perguruan tinggi.

pendidikan yg diselenggarakan oleh beberapa kyai mmg sederhana. kyai tak sempat mengait-ngaitkan antara penyelenggaraan pendidikannya dgn besarnya biaya. kapan serta dgn anggaran berapapun pendidikan, menurut kyai dapat dijalankan. adanya dana mencukupi pendidikan dapat dijalankan, sebaliknya tak adanya dana juga pendidikan tak boleh stagnan. pendidikan yg dijalankan oleh beberapa kyai layaknya ini telah terjadi lama. hasilnya, tak segelintir tamatan pesantren berani hidup di tengah masyarakat serta bahkan juga sukses mengerjakan peran-peran kepemimpinan strategis di beragam level. tak segelintir tokoh nasional yg berlatar belakang pendidikan pesantren. mereka yaitu hasil didikan beberapa kyai. oleh lantaran itu, berbicara perihal pendidikan di indonesia ini, rasanya tak lengkap jika masih tetap mengabaikan pendidikan yg dijalankan oleh beberapa kyai. bahkan juga tatkala bangsa ini sedang berpikir untk mengembangkan pendidikan, sehingga harta benda seperti konsep pendidikan pesantren, patut ditengok. cuma sayangnya, lantaran arus modernisasi yg begitu keras, tak segelintir kyai yg terpengaruh terhadap pendidikan modern serta meninggalkan pendekatan lama. memang, tak adanya salahnya mengikuti transformasi serta kemajuan zaman, tapi semestinya tak musti yg lama yg masih tetap lebih bagus ditinggalkan. uin malang sepanjang ini ikhtiar menggali beragam pendekatan sejak manapun asalnya, bagus sejak yg lama maupun yg baru sbg upaya untk mencapai yg terbaik serta sempurna.

Oleh : Imam Suprayogo
(dengan perubahan seperlunya)

Sunday, 27 March 2016

Hilangnya Rasa Keadilan, Kemanusiaan dan Adab

Hilangnya Rasa Keadilan, Kemanusiaan dan Adab - Pancasila ialah ideologi dasar bagi negara Indonesia. Nama ini terdiri dari dua kata dari Sanskerta: panca berarti lima serta sila berarti prinsip alias asas. Pancasila ialah rumusan serta pedoman kehidupan berbangsa serta bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia. Akan tetapi, hingga kini belum terkesan terperinci adanya upaya untuk mewujudkan sila-sila pancasila dengan cara sunguh-sungguh.

Tidak ada yang dengan sepenuh hati melaksanakan kelima sila ini dengan cara konkret. Jangankan melaksanakan dengan sungguh-sungguh, asa untuk membicarakannya saja terkesan telah tidak ada lagi. Hanya mentok dari bangku sekolah, kampus, serta arena diskusi mahasiswa yang akhirnya hanya menguap semacam asap kopi serta rokok mereka. Para mahasiswa yang dari jaman Orla-hingga jaman medio tahun 2000an sangat aktif turun jalan serta menyuarakan bunyi hati masyarakat kecil mulai terbungkam lisan mereka, padahal mereka memiliki label yang sangat mulia “Agent of Change”, mulai terdiam serta hanya menikmati label mereka sebagai mahasiswa.

Nasib si jelata pun mulai terlantar lantaran kelakuan mahasiswa kini serta para anak buah dewan terhormat yang mulai tidak peduli lagi. Usaha pelemahannya terjadi masif di beberapa daerah serta dilakukan oleh beberapa kelompok masyarakat, serta parahnya lagi tidak sedikit dilakukan oleh para pejabat pemerintahan yang mulia. Jangankan pelemahannya, perjuangan pengkhianatan sila-sila pancasila telah terjadi serta celakanya dilakukan oleh komplotan penguasa negara ini.

Sejarah telah menyatatnnya, tidak sedikit peristiwa-peristiwa pengkhianatan ideologi dasar negara Indonesia terjadi dilakukan oleh para pejabat pemerintahan. Kemanusiaan yang adil serta beradab yang tertera pada sila kedua pancasila telah terkikis makna serta tujuannya. Dalam sejarah bangsa Indonesia, rakyat Indonesia sempat dibantai oleh penguasa negeri ini sendiri, apabila meminjam perkataannya Pram, “Orde baru dibuat atas luka genosida yang memakan ratusan ribu bahkan hingga satu setengah juta penduduknya.”

Ini terperinci tidak sesuai dengan isi sila kedua pancasila, kualitas kemanusiaan, keadilan, serta keberadaban telah terkikis musnah. Bangsa Indonesia serta pancasila telah terkhianati, serta pengkhianatan ini tidak terjadi pada masa itu. Pengkianatan ini terjadi seiring tumbuhnya negara ini hingga berusia 71 tahun. Dari momen yang terjadi di masa orba yang dikenal dengan istilah Gestapu, kematian Mursinah, terbunuhnya aktivis HAM Munir, dibantainya petani di Mesuji, nenek nyolong coklat yang dipenjara, hingga momen driver Lamborghini yang nabrak penjual susu beserta pembelinya hanya dipenjara 5 bulan. Itulah sedikit momen yang melukai hati pancasila terutama sila kedua serta pastinya tetap tidak sedikit momen yang belum tertulis disini.

Oleh : Akhmad Yusuf A.

Wednesday, 23 March 2016

Cara Hidup Sehat untuk Mencegah Sakit

Cara Hidup Sehat untuk Mencegah Sakit - Jika Anda tidak ingin sakit, cegahlah dengan nasib sehat. Jika tidak ingin sakau, jadi jangan sentuh narkoba. Jika tidak ingin jatuh, jadi jangan bermain di kawasan tinggi. Semua contoh diatas merupakan bentuk pencegahan. Artinya, segala sesuatu yang sifatnya kurang baik itu sebetulnya mampu dicegah. Jika badan telah merasa meriang, tidak segera diantisipasi dengan istirahat yang cukup, membenahi pola makan, serta menjaga kebugaran, jadi penyakit tentu akan menghampiri.

Ya. apabila tidak ingin, jadi cegahlah. Contoh lain yang patut dicegah adalah, perilaku kekerasan. Saat ini tidak sedikit sekali motif yang melandasi perilaku kekerasan. Ada yang bermotif ekonomi. Hanya ingin memperoleh uang, alias memperoleh barang yang diinginkan, seseorang mampu sesuka hatinya memukul orang lain.

Bahkan merampok alias membunuh. Ada juga dilandasi sebab dendam alias cemburu. Karena pacarnya jalan barang dengan orang lain, si pasar mampu dipukuli alias bahkan dibunuh. Ada juga sebab hal keyakinan. Hanya kerena tidak sama keyakinan, ormas keagamaan mampu melakukan kekerasan. Nah..praktek yang satu ini, tetap tidak jarang kita jumpai. Bahkan, tidak susah untuk menemui perilaku seperti ini di Jakarta. Atas nama ibadah, mereka mampu menutup jalan semaunya. Akibatnya kemacetan parah tidak terbendung. Kalau yang ini tetap mampu ditoleransi.

Ada juga sebab tidak sama agama, pribadi di cap sebagai kafir. Dan kalau telah kafir, jadi wajib diperangi, dipukul, dihakimi alias tindakan tidak terpuji lainnya. Hal-hal seperti ini lah yang harusnya dicegah. Jangan sampai, hanya sebab masalah sepele, diantara kita saling mencaci. Al Quran mengajarkan supaya saling mengganggu antar sesama. Al Quran juga melarang tindakan keji.

Anjuran ini mampu dilihat dalam QS An Nahl ayat 90 disebutkan, “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku 'adil serta berbuat kebajikan, memberi bantuan terhadap kerabat, serta Dia melarang (melakukan) tindakan keji, kemungkaran serta permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu supaya kamu mampu mengambil pelajaran.” Nah...semoga yang mengaku muslim, serta tetap melakukan tindakan tidak terpuji, mampu pribadi sadar seusai menyimak ayat diatas. Ingat, agama justru mengusulkan kita saling mengetahui antar sesama? Dengan saling mengenal, kita tidak mementingkan perbedaan. Yang dipentingkan adalah, dengan mengetahui akan menjalin tali silaturahmi.

Dan menjalin tali silaturahmi itu juga dianjurkan oleh Rasulullah. Kembalilah ke Al Quran untuk melakukan pencegahan. Pahamilah Al Quran dengan cara utuh, jangan sepotong-potong. Jika tidak dengan cara utuh, berpotensi memunculkan kesalahpahaman. Jika telah salah memahami, yang ada merupakan merasa dia paling benar sendiri. Tidak mau mendengar masukan orang lain. Lihat saja kelompok ormas keagamaan. Di segi lain memakai atribut keagamaan, gemar melakukan takbir, tapi gemar juga memukul. Lihat saja para pelaku teror, suka mengaji tapi juga rajin merakit bom. Mari kita cegah perilaku tidak baik itu masuk ke pikiran kita. Berlakulah adil semenjak dalam pikiran.

Dengan memiliki pikiran yang adil, jadi perilakunya pun diinginkan juga akan adil. Kalau keadilan yang muncul, jadi kesejahteraan mampu dirasakan oleh semua orang. Seperti yang tertuang dalam nilai-nilai Pancasila. Jika kita sepakat ingin mencicipi keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, jadi cegahlah segala tindakan yang tidak adil. Cegahlah tindakan kekerasan atas nama apapun di kurang lebih kita. Jika tidak ingin, jadi cegahlah.

Oleh : Ratih Puspa

Tuesday, 15 March 2016

Menyiapkan Seorang Kader Untuk Memimpin Umat

Saya teringat dikala tetap anak-anak, dan tinggal di desa mengenai bagaimana menyiapkan pemimpin umat ke depan. Beberapa tokoh desa setempat, pikirannya tak sebatas ngurus diri mereka sendiri, namun tak sedikit dicurahkan untuk berpartisipasi membangun masyarakat. Mereka membangun masjid, madrasah, dan sentra-sentra pelayanan masyarakat yang memerlukan. Hidup di desa rutin diwarnai oleh kebersamaan dan rutin ada nuansa berjuang untuk masyarakat, lewat tempat ibadah dan juga lembaga pendidikan.

Kehidupan ekononomi di pedesaan dikala itu belum semudah sekarang. Pada saat-saat tertentu masyarakat desa mengalami kesulitan memperoleh bahan makanan. Biasanya apabila terjadi kemarau panjang, para petani desa tak dapat menanam padi alias lainnya, jadi akan disusul oleh masa paceklik yang amat berat. Di masa semacam itu, masyarakat mengkonsumsi apa adanya, semacam ketela pohon, ubi-ubian dan sejenisnya yang dapat didapat. Akan tetapi, masyarakatnya mempunyai solidaritas yang tinggi. Di masa-masa semacam itu, suasana saling menolong, memberi alias meminjami berlangsung baik. Sehingga, tak ada orang yang menderita gizi buruk, apalagi hingga mati kelaparan.

Masyarakat juga telah merasa alangkah pentingnya pendidikan. Oleh alasannya merupakan itu, sekalipun tak ada bantuan dari pemerintah ---baik pemerintah kawasan maupun pemerintah pusat, masyarakat dengan dipimpin oleh para tokohnya, bergotong royong membangun sekolah, madrasah dan juga tempat ibadah berupa musholla alias masjid. Saya ingat tak ada suasana menantikan bantuan turun dari pemerintah. Jika terbukti dirasa telah dianggap butuh di sebuah wilayah dibuat sekolah, madrasah alias tempat ibadah, jadi para tokoh mereka menggerakkan masyarakat untuk membangunnya. Gotong royong membangun fasilitas sosial itu dilakukan oleh semua. Yang merasa kaya menyumbang uang alias bahan bangunan, sedangkan yang tak punya, mereka menyumbangkan tenaganya. Di antara mereka rasanya tak ada yang berebut dan juga tak ada yang menghindar. Berebut menjadi tokoh alias pemimpin juga tak sempat saya lihat. Seorang tokoh alias pemimpin di desa itu dengan cara alamiah diangkat dan alias dijadikan.

Yang saya tetap terlihat dan amat susah saya lupakan merupakan percakapan soal kader masa depan untuk membangun dan memimpin desa. Masyarakat dikala itu telah mencicipi alangkah penting dan strategisnya posisi pemimpin. Pemimpin alias tokoh dipandang sebagai sosok yang berharga mahal. Mereka berpendapat bahwa tak semua orang dapat menjadi pemimpin alias tokoh. Orang-orang opsi itu wajib mempunyai kelebihan di antara mereka yang dipimpin. Menurut asumsi masyarakat, yang saya tangkap dari beberapa perbincangan, pemimpin alias tokoh wajib mempunyai kelebihan, baik dari sisi ilmu, ketrampilan, kepribadian dan juga lainnya. Pemimpin wajib mempunyai ide, impian dan pengetahuan dan ketangkasan menyampaikannya lepada masyarakat. Karena itu, pemimpin wajib dapat berpidato, berkhutbah di masjid dan juga faktor lain yang  diperlukan oleh masyarakat, tergolong memimpin doa.

Atas dasar pandangan bahwa alangkah pentingnya kader pemimpin itu, jadi para orang tua, tokoh dan pemimpin desa menyebut nama-nama anak belia tertentu yang diinginkan menjadi kader pemimpin masa depan. Bahkan anak belia yang dimaksudkan itu sering dengan cara terbuka disebut sebagai kader. Anak-anak belia andalan desa kemudian bersemangat untuk berangkat keluar desa, belajar apakah ke pondok pesantren alias meneruskan pendidikan formal ke kota. Sudah barang tentu, semenjak itu anak-anak belia yang keluar desa untuk menuntut ilmu telah tumbuh kesadaran bahwa mereka merupakan kader masa depan, yang akan diserahi tugas mengelola sekolah, madrasah alias juga tempat ibadah yang telah dibuat oleh masyarakat. Saya yakin, anak-anak belia dengan kesadarannya bahwa amereka merupakan kader masa depan, jadi tatkala belajar di tempat mereka masing-masing, mempunyai semangat dan jiwa sebagai seorang kader itu. Mereka pasti saja tak akan tega mengecewakan masyarakatnya nanti tatkala telah kembali ke desanya. Mereka yang telah disebut sebagai kader, merasa wajib memperoleh bekal sebanyak-banyaknya.

Para kader ini, apabila sebuah dikala pulang kampung juga memperoleh penghargaan dari para tokoh alias pemimpin desa. Mereka diberi peluang untuk tampil dalam kegiatan, umpama menjadi khotib Jum'at, pembicara dalam peringatan hari besar Islam dan lain-lain. Masyarakat, sekalipun desain para kader tersebut belum memuaskan, bergembira alasannya merupakan betapapun merupakan kader pemimpin mereka di masa depan. Dan akhirnya dengan para kader inilah jadi lembaga pendidikan semacam sekolah, madrasah, dan tempat ibadah yang dibuat menjadi terus maju, alasannya merupakan ditangani oleh kader-kader yang telah menimba ilmu di tempat-tempat yang dipercaya.

Sayang rupanya percakapan mengenai kader masa depan, terus lama terus tak terdengar lagi. Jika ada anak belia meninggalkan desanya untuk menuntut ilmu ke kota, jadi semangat anak belia tersebut telah tak sebagaimana dahulu, ingin menjadi kader pemimpin masa depan. Mereka berangkat ke kota menempuh pendidikan yang lebih tinggi, sebatas dimotivasi supaya nanti memperoleh ilmu dan ijazah dan seusai itu dapat memperoleh pekerjaan dan mendatangkan penghasilan yang tinggi. Pandangan para tokoh dan pemimpin desa mengenai perlunya kader yang dapat memimpin desa masa depan, terus surut dan bahkan menghilang. Jika demikian halnya, jadi sesungguhnya desa tak saja kehilangan kader, namun yang justru lebih disayangkan lagi merupakan telah kehilangan kesadaran masa depan yang seharusnya dipersiapkan semenjak sekarang. Oleh alasannya merupakan posisi kader dan pemimpin sedemikian strategisnya, jadi tutorial berpikir masa depan orang dulu, butuh dihidupkan kembali.

Oleh : Imam Suprayogo

Saturday, 12 March 2016

Konsep Agama Islam dalam Mengatasi Masalah Sosial

Konsep Agama Islam dalam Mengatasi Masalah Sosial - Mendengar tawaran ini, bisa jadi, orang akan segera bersikap curiga serta skeptis. Pandangan ini akan melahirkan pertanyaan, bagaimana Islam memperlihatkan tawaran strategis konsep Islam menyelesaikan problem sosial, sementara umat Islam sendiri selagi ini menjadi tahap dari masalah bangsa. Mereka yang tertinggal, miskin serta lemah merupakan justru tidak sedikit umat Islam. Bukankah apabila benar Islam mempunyai konsep solusi terbaik, umat Islam tidak tertinggal selagi ini. Logika atas dasar kenyataan itu, terasa benar. Akan tetapi apabila akal tersebut dijernihkan dengan berkata bahwa jumlah penduduk Indonesia berjumlah 220 juta jiwa, sedangkan yang miskin menurut info tidak tidak lebih dari 40 juta. Padahal mayoritas, alias kira-kira lebih dari 90 % beragama Islam, jadi pantas mereka yang termasuk tertinggal, berpendidikan rendah serta miskin itu merupakan beragama Islam.

Sesuatu faktor yang aneh terjadi di Indonesia, dalam alam demokrasi sepantasnya, penduduk lebih banyak didominasi mendominasi pengambilan keputusan saat ingin mensejahterakan masyarakatnya. Akan tetapi sementara ini kenyataan tidak berkata semacam itu. Indonesia yang lebih banyak didominasi beragama Islam, tetapi sebatas memperjuangkan perundang-undangan yang nyata-nyata dibutuhkan bagi umat Islam tetap bukan main sulitnya. Memperjuangkan hal-hal yang bernuansa Islam, semacam umpama pemberian mata pelajaran agama Islam di sekolah dengan cara cukup, pengelolaan zakat, bank yang bernuansa Islam, keharusan berpakaian Islami serta sejenisnya tetap wajib lewat perdebatan keras, serta acapkali cita-cita itu kandas. Sebaliknya, apabila umat Islam menghendaki supaya dibangun perundang-undangan melarang faktor yang bertentangan dengan aliran Islam, semacam pornografi pornoaksi, perjudian, larangan sirkulasi minuman keras, perzinaan serta sejenisnya mengalami kesulitan yang luar biasa. Aneh serta ajaib, dalam pergurumulan penyusunan undang-undang itu, umat Islam rutin terbelah, menjadi antara yang pro serta mereka yang kontra. Mereka yang pro terhadap rumusan undang-undang yang sesuai dengan nilai-nilai Islam wajib berhadapan dengan wakil-wakil yang juga beragama Islam yang menentangnya. Mereka berdalih bahwa bangsa Indonesia bukan negara agama, jadi tidak selayaknya dalam menyusun undang-undang memberi nuansa keagamaan.

Penolakan terhadap masuknya nilai-nilai Islam oleh wakil-wakil rakyat yang beragama Islam gampang dipahami apabila diketahui kadar pengetahuan agama para tokoh tersebut tetap rendah. Akan tetapi menjadi susah dipahami sebab ternyata, wakil rakyat yang menolak konsep yang bernuansa Islam justru mereka berasal dari partai politik yang berlabelkan Islam. Dengan berdalih bahwa Indonesia merupakan Negara Pancasila, plural, demokratis maka, sekali lagi, mereka berpandangan tidak selayaknya memperhatikan nilai-nilai yang berasal dari aliran agama. Islam sekalipun lebih banyak didominasi di Indonesia ini sesungguhnya tetap belum berdaya. Para tokoh Islam yang berada di beberapa partai politik, belum mempunyai jiwa untuk memperjuangkan Islam. Berpolitik serta beragama tersedia kesenjangan yang sedemikian jauh. Padahal, tidak sedikit orang Islam mencita-citakan supaya para tokoh Islam yang bergerak di dunia politik memperjuangkan nilai-nilai yang mereka percayai serta ikuti, yaitu Islam. Berpolitik bagi sebagian tokoh yang sekalipun berlabel Islam tampaknya dipandang sebatas sebagai posisi untuk memperoleh kursi elite, berprestise serta sekaligus dijadikan sumber rizki.

Memang ada beberapa partai politik yang berlabel Islam. Mereka semula ingin memperjuangkan nilai-nilai Islam. Jumlahnya banyak, tetapi masing-masing berkapasitas kecil. Sekalipun Islam yang dianut mengajarkan mengenai pentingnya bersatu, tetapi aliran itu tidak sempat dipegangi. Mereka lebih menyukai terpecah belah sampai tidak melahirkan kekuatan sama sekali. Lebih parah lagi, partai politik yang berlabel Islam juga rentan konflik serta sangat kaya masalah. Sehingga, jangankan memperjuangkan kualitas Islam yang mengagumkan di tengah negeri yang plural semacam ini, sebatas menyelesaikan masalah internal organisasi mereka saja tidak kunjung usai. Mereka tidak malu berebut posisi, konflik terbuka, berebut kepemimpinan serta seterusnya. Lalu, hampir tidak ada bedanya partai politik yang berlabel Islam alias bukan berlabel agama. Persoalan yang mereka hadapi sama, kaya masalah, konflik serta bahkan penyimpangan moral semacam korupsi, penyimpangan sex, terjadi di mana-mana.

Belajar dari fenomena semacam itu, politik Islam sesungguhnya mundur jauh dari era awal masa kemerdekaan dulu. Tokoh-tokoh Islam dahulu menarik memperjuangkan Islam. Beberapa di antara tokoh itu misalnya, M. Natsir, KH Wahid Hasyim, KH. Agus Salim, Kasman, Natsir serta lain-lain. Mereka sangat terang serta gigih memperjuangkan nilai-nilai Islam supaya dianut oleh bangsa ini dalams membangun masyrakat yang adil, jujur serta sejahtera.


Sebagaimana disebutkan di muka, suasana kecurigaan serta skiptis tersebut sesungguhnya tidak terlalu bisa disalahkan. Memang begitulah keadaannya. Namun, apabila kita mau mengkaji dengan cara kritis serta membandingkan antara konsep Islam yang dibawa oleh Rasulullah ----Al Qur'an serta hadits, dengan realita keadanaan umat Islam, terbukti terkesan jarak yang sedemikian jauh. Umat Islam tidak sedikit baru meringkus aliran Islam dari aspek-aspek tertentu, terutama sebatas terkait sudut yang berafiliasi dengan spiritual. Lihat saja misalnya, umat Islam menjadi sangat fenomenal tatkala memasuki hari jum'at berangkat ke masjid bersama-sama, bulan ramadhan terasa timbul kesemarakan yang luar biasa, serta begitu juga tatkala datang ekspresi dominan haji. Saat-saat itu jagad rasanya penuh bau ke Islaman. Tetapi seusai itu, kondisi kembali normal ke semula, yakni suasana ke Islaman tidak terlalu mudah dirasakan.

Islam sesungguhnya tidak sebatas memperlihatkan pedoman bagaimana sholat lima waktu dijalankan, bulan puasa disemarakkan, hari-hari besar Islam diperingati serta haji ditunaikan, melainkan Islam yang berasal al Qur'an serta hadits merupakan pedoman nasib dengan cara menyeluruh serta utuh. Islam mengajarkan, bagaimana umatnya membangun niat untuk rutin meningkatkan ilmu pengetahuan, beramal sholeh, memperkukuh keimanan, berakhlaq mulia, bersedekah, bertolong menolong, membangun kedamaian dengan siapa saja. Sebagai seorang muslim mereka diajarkan dalam bekerja apapun wajib dimulai dengan mengucap basmallah serta rutin mengakhirinya dengan hamdallah. Selain itu wajib menghasilkan suasana kegiatan yang khusnul khotimah, alias rutin mengakhiri pekerjaannya dengan baik. Artinya pekerjaan itu wajib memberi fungsi serta tidak seorang pun boleh dirugikan, sebab konsep khusnul khotimah itu.

Selanjutnya, apabila pekerjaan wajib dimulai dengan menyebut sesak napas Allah yang Rahman serta Rahim serta seusai itu wajib diakhiri dengan mengembalikan semua apa yang dilakukan terhadap Allah, melewati ucapan hamdallah serta wajib meraih khusnul khotimah, jadi dalam melaksanakan amal alias pekerjaan itu wajib diwarnai oleh suasana terpuji semacam amanah, ikhlas, fathonah, sabar, istiqomah serta tawakkal. Orang Islam dalam menunaikan tugas hidupnya sehari-hari, menurut tuntutnan Islam wajib diwarnai oleh nilai-nilai mulia itu.

Coba dengan cara pendek kita perhatikan alangkah agungnya nilai-nilai itu apabila dijalankan dalam kehidupan nyata sehari-hari, baik pribadi, keluarga ataupun bermasyarakat. Seorang yang memegang konsep amanah, ia tidak akan bergeser niatnya serta tindakannya, keluar dari frame yang seharusnya dilakukan. Seorang yang memegang mandat dirinya tidak akan berani bebohong, merugikan orang lain serta semata-mata menguntungkan diri sendiri. Dengan begitu dirinya tidak akan korupsi, berkolosi serta nepotisme, sebab ketakutannya dipandang tidak memegang amanah. Orang ikhlas, pelakunya rutin memperuntukkan apa yang ia perbuat hanyalah untuk Allah semata. Orang tulus yang sesungguhnya tidak akan berbohong serta merugikan orang lain. Ia akan memperlihatkan yang paling baik melewati amalnya, sebab ke ikhlasannya itu. Fathonah artinya cerdas, seseorang disebut bersifat fathonah manakala apa yang ia perbuat didasarkan pada ilmu serta profesinya. Rasulullah mempunyai sifat ini, yang pasti wajib dimiliki oleh seluruh umatnya. Sabar, istiqomah serta tawakal, semuanya merupakan suasana batin yang menggambarkan adanya kesehatan jiwa bagi pemiliknya. Sabar artinya tahan uji dalam menunaikan pekerjaannya, istiqomah, artinya tidak segera putus asa, ia rutin berketetapan hati untuk menyelesaikan tugasnya dengan cara tepat serta tawakkal, artinya rutin menyandarkan diri pada kekuasaan Allah swt.

Umat Islam dalam melakukan kegiatan apa saja, baik yang terkait dengan ibadah, menjalankan komunikasi dengan Allah, maupun komunikasi dengan makhluk Allah dijiwai oleh sifat-sifat itu, jadi tidak akan mungkin terjadi penyelewengan yang hanya akan merugikan orang lain. Akan tetapi, terbukti butuh diakui, nilai-nilai mulia ini belum sepenuhnya dijadikan pegangan oleh umat Islam. Masih terasakan sekali, aliran Islam yang sedemikian mengagumkan belum dijalankan dengan cara utuh oleh tidak sedikit umat Islam, tidak terkecuali di sana-sini oleh pemimpinnya sekalipun. Inilah problem besar bagi umat Islam, serta karenanya kelezatan Islam sesungguhnya belum tidak sedikit dirasakan oleh umatnya. Yang terjadi sebaliknya, tidak sedikit justru timbul perasaan terbebani dengan ke Islamannya itu.

Jika suasana batin pada setiap muslim bisa sukses diwarnai oleh nilai-nilai Islam sebagaimana dikemukakan di muka, yaitu rutin menyebarkan kasih sayang, rasa syukur yang mendalam, amanah, ikhlas, sabar, istiqomah serta tawakkal, jadi hasilnya akan terjadi suasana kedamaian, saling menghargai, selamat serta saling menyelamatkan terhadap siapapun, tolong menolong, sanggup membagi kasih sayang terhadap siapapun serta akhirnya melahirkan kedamaian yang sejati. Umat Islam akan menjadi khoiro ummah, yaitu insan yang terbaik, yang bertugas mengundang berbuat baik serta menghindar dari segala tindakan merusak serta merugikan bagi siapapun. Semua pekerjaan akan ditunaikan dengan penuh khikmah, ialah aliran Islam yang sangat mulia, tidak akan sedikitpun menyakiti orang, tetapi hasilnya maksimal. Umat Islam seharusnya menjadi muballigh, yaitu penyampai mengenai keimanan, kebenaran, keadilan, kejujuran serta keadilan. Dengan demikian Islam menjadikan kehidupan ini lebih damai, selamat serta bahagia.

Kemenangan Islam, bukan semata-mata bertambahnya orang yang bersedia menyimak dua kalimah syahadah, melainkan lebih dari itu, yaitu sejumlah orang bego sukses berkembang menjadi pintar, orang miskin berkembang menjadi kaya, orang malas menjadi rajin, orang yang sakit ---fisik maupun hati, menjadi sehat, orang kikir berkembang menjadi orang suka berderma, orang yang semula bersifat iri serta hasut menjadi orang yang senang tatkala orang lain memperoleh keuntungan. Islam hadir untuk membangun kehidupan sosial yang lebih sehat dalam beberapa aspeknya.

Menghilangkan Perilaku Korup

Korupsi merupakan tindakan ilegal yang memperdagangkan kekuasaan, kepercayaan, dan jabatan untuk keuntungan diri sendiri dan kelompoknya. Biasanya, korupsi terjadi sebab ada peluang untuk memecahkan problem bersama dengan cara rahasia, dan mereka percaya bahwa tak seorang pun yang menonton dan mengenal tindakan mereka.

Di samping itu, perilaku koruptif sangat meyakini bahwa sistem dan pengamatan yang ada bisa mereka mengakali, jadi tak sanggup mendeteksi korupsi yang mereka perbuat dengan cara rahasia. Siapa pun bisa jujur dan jauh dari perilaku koruptif, ketika tak ada godaan, tak ada peluang untuk korupsi, dan tak ada adat untuk korupsi di sana. Persoalannya, ketika keimanan dan integritas seseorang rendah, melainkan dirinya mempunyai kekuasaan dan peluang untuk memperkaya diri, jadi dirinya akan termakan untuk melakukan korupsi dengan beberapa cara.

Perilaku koruptif sangat berani pasang badan dan tak takut malu, mereka hanya takut kehilangan uang dan kekayaannya. Jadi, apapun hukumannya, selagi uang dan kekayaannya utuh, perilaku koruptif akan senang dan damai-damai saja hidupnya. Hal ini terjadi, sebab korupsi dilakukan bukan sekedar untuk memperkaya diri sendiri, melainkan untuk menjamin terpenuhinya kehidupan ekonomi dan keuangan keluarganya dengan cara turun-temurun. Ingat, korupsi itu tujuannya hanya satu yaitu uang, bukan yang lain. Jadi, mesikipun dirinya dihukum mati, melainkan selagi uang dan hartanya utuh, jadi itu tak akan menjadi problem baginya. Oleh sebab itu, selagi tak ada hukuman tegas untuk kekayaan yang dimiliki, perilaku koruptif akan semakin tumbuh dan susah diberantas ataupun dicegah dengan tutorial apapun. Miskinkan perilaku koruptif, jadi dirinya akan takut, dan korupsi pun bisa turun drastis.

Bagi perilaku koruptif tindakan mereka merupakan benar dan tak merasa bersalah, jadi mesikipun sempat dihukum bukan berarti mereka akan berhenti untuk melakukan korupsi. Mereka tetap akan melakukannya jikalau ada peluang untuk dilakukan dengan cara rahasia. Di samping itu, mereka juga mempunyai seribu satu nalar untuk mengelabui sistem dan pengamatan yang ada. Jadi, selagi sistem, tata kelola, dan pengamatan tak ditingkatkan kualitasnya dengan cara terus-menerus, jadi perilaku koruptif akan rutin sanggup melampaui performa yang dimiliki oleh sistem dan pengamatan tersebut. Siapapun boleh dipercaya dan kepercayaan merupakan sesuatu yang paling penting.

Persoalannya, bila kepercayaan yang diberikan tak dibekali dengan sistem, tata kelola yang terbaik, kepemimpinan yang tegas dan berani, dan pengamatan yang jujur dan bertanggung jawab. Maka, kepercayaan itu mudah termakan untuk mempunyai perilaku koruptif. Rasa cinta yang berlebihan terhadap sesuatu, apakah itu barang ataupun orang, bisa menjadi jalan untuk terciptanya perilaku koruptif. Sebagai contoh: si A sangat mencintai suatu merek mobil, telah lama dirinya terobsesi untuk mempunyai kendaraan beroda empat tersebut, dan kini dirinya mempunyai kekuasaan untuk memperoleh uang sebanyak mungkin dengan cara ilegal. Karena cinta telah mengalahkan integritas dan keimanannya, jadi dirinya akan mencari tutorial paling rahasia, untuk memperoleh uang ilegal sebanyak mungkin supaya bisa mempunyai semua yang dirinya cintai.

Cinta yang berlebihan berpotensi menciptakan perilaku koruptif. Ketika integritas tak menyentuh hati nurani; ketika tak percaya bahwa jiwa yang kaya integritas di dalam rasa syukur sanggup mendatangkan keberlimpahan; ketika tak sadar alias tak yakin bahwa Tuhan menonton segalanya; ketika tak percaya adanya hukum sebab-akibat, hukum konsekuensi; ketika tak percaya pada hukum karma. Maka, hati nurani akan kehilangan performa untuk menemukan kebenaran sejati. Dan dikala itu, perilaku koruptif akan hadir dan menghancurkan integritas diri. Bagi perilaku koruptif, tertangkap dan dihukum hanyalah suatu musibah.

Walaupun telah tertangkap dan dihukum berkali-kali, selagi dirinya tak mempunyai integritas, perilaku koruptifnya tak akan sempat sembuh, jadi manipulasi dan kebohongan tetap menjadi perilaku sejatinya. Integritas merupakan suatu nilai yang menerangkan mengenai sifat dan perilaku seseorang yang jujur dan sangat kompeten dibidangnya. Artinya, dirinya berkualitas dan bisa diandalkan untuk menjalankan suatu pekerjaan dengan jujur, bertanggung jawab, etis, berkualitas, berkinerja tinggi, dan susah untuk menggantikannya. Seseorang yang mempunyai integritas yang tinggi lahir dari kekuatan moralitas dan spiritualitas yang sangat tinggi. Seseorang yang mempunyai integritas takut terhadap hukum Tuhan, jadi dirinya menjadi pribadi yang bersungguh-sungguh menjalankan mandat dengan kompetensi dan nilai terbaik, tanpa mengambil apapun untuk keuntungan pribadi, apalagi untuk memperkaya diri sendiri ataupun keluarga. Perilaku koruptif merupakan akar untuk terciptanya adat korupsi. Kalau telah menjadi budaya, jadi tak bisa lagi dipakai konsep pencegahan ataupun pemberantasan, wajib dipakai konsep transformasi ataupun revolusi mental.

Revolusi mental wajib diikuti dengan sistem baru yang mengarahkan semua perilaku terhadap disiplin untuk taat terhadap sistem anti perilaku koruptif. Bila sistem sanggup memaksa mental dan perilaku untuk menghindari perilaku koruptif, jadi dengan cara perlahan-lahan, perilaku koruptif akan bermetamorfosis perilaku yang jujur dan penuh tanggung jawab. Dan, disinilah akan lahir adat tanpa korupsi, dimana semua orang akan nasib dari kerja kerasnya yang halal. Sistem yang baik dan kuat sanggup mengelola wilayah resiko yang berpotensi dikendalikan oleh perilaku koruptif. Jadi, wajib dengan tegas memetakan wilayah potensi korupsi, lalu wilayah yang dianggap sangat beresiko tersebut diperkuat pengawasannya, dan ditingkatkan revolusi mentalnya dengan intensitas yang lebih tinggi, dengan cara terus-menerus, berulang-ulang, hingga perubahan itu terjadi. Perilaku koruptif semacam penyakit menular yang sangat mudah ditularkan dari satu orang ke orang lain. Dia semacam kisah vampire yang bila menggigit pribadi menjadikan orang sebagai vampire, lalu bisa nasib kekal di dalam kegelapan dengan kekuatan dahasyatnya, dan hanya terperinci alias sinar matahari yang ditakuti. Sebab, sinar terperinci bisa membakar dan memusnahkan vampire.

Demikian juga dengan perilaku koruptif, sekali seseorang menikmati alias mempunyai kekuatan lebih dari yang akan terjadi korupsinya, jadi dirinya akan menjadi contoh dan teladan yang mengajak ketertarikan orang lain untuk melakukan faktor yang sama semacam yang dirinya lakukan. Ketika perilaku koruptif telah sangat kuat dengan kekuatan uangnya yang sanggup membeli dan membayar apapun untuk membuatnya menang, jadi realitas ini akan menjadi contoh bagi siapapun untuk mempunyai perilaku koruptif. Persepsi orang akan berkata daripada jujur nasib miskin, lebih baik korupsi, meski tertangkap, anak-isteri tetap bisa nasib kaya raya. Jadi, dengan cara normatif bisa saja orang berkata tak pada korupsi, melainkan dengan cara perilaku dirinya sangat koruptif.