Pendidikan Masyarakat terhadap Pornografi - Akhir-akhir ini terus tak sedikit orang tua gelisah kepada maraknya pornografi, khususnya tatkala mereka mengaitkannya dengan pendidikan anak. Rupanya mulai timbul kesadaran dari sebagian besar masyarakat, alangkah luas serta besarnya hasil negatif yang diakibatkan oleh pornografi serta pornoaksi dalam kehidupan masyarakat. Tidak susah ditemukan permasalahan mengenai anak-anak usia sekolah, pemuda serta bahkan juga orang tua berpesta nonton bareng film forno yang juga kemudian mendorong nafsu untuk melakukan perbuatan yang kontradiktif dari norma budaya maupun agama. Melalui pendidikan serta pembinaan generasi muda, pendidikan agama diinginkan sanggup mendampingi mereka menjadi anak yang sholeh serta bertaqwa yang diyakini sebagai ciri insan yang dipandang mulia oleh bangsa ini. Akan tetapi, sebab pengaruh negatif itu, harapan itu menjadi susah diwujudkan.
Fornografi serta pornoaksi merupakan sesuatu produk serta aktifitas yang dipandang menjauhkan masyarakat dari nilai-nilai agama serta bahkan juga budaya yang seharusnya dijunjung tinggi. Agama (Islam) pada inti ajarannya merupakan menyelamatkan insan dari jurang kenistaan, baik di dunia maupun di akherat. Islam melewati sumber ajarannya, yakni al Qur'an serta hadits, memperlihatkan tuntunan supaya dalam nasib ini rutin menjaga serta merawat : (1) agamanya, (2) akal, (3) jiwa, (4) keturunan, (5) kehormatan serta (6) harta. Pornografi serta pornoaksi, tanpa penjelasan panjang lebar, kiranya telah bisa dimaklumi, serta selagi ini telah terbukti, lewat beberapa permasalahan yang begitu mudah didapat, berdampak pada keselamatan aspek-aspek yang wajib dipelihara itu.
Dalam kehidupan masyarakat, apalagi masyarakat Indonesia, tak saja nilai agama yang dijunjung tinggi, melainkan juga budaya istiadat, sopan santun, tatakrama untuk menjaga harkat serta martabatnya. Di tengah-tengah masyarakat, apapun agamanya ada sesuatu yang boleh serta sebaliknya tak boleh dilakukan, yang dianggap sopan serta yang tak sopan, yang dipandang pantas serta alias sebaliknya, tak pantas dilakukan. Pornografi serta pornoaksi sesungguhnya dalam alam batin kesadaran masyarakat telah dipandang sebagai sesuatu yang tak patut ditampakkan, sekalipun mungkin disukai baik oleh yang menampakkan maupun juga oleh yang melihatnya. Akan tetapi, betapapun bangsa Indonesia, sebagai bangsa timur, mengetahui apa yang disebut dengan "saru" alias sebagai pantangan untuk dilakukan.
Atas dasar uraian tersebut di muka, sesungguhnya pencegahan pornografi serta pornoaksi telah mempunyai dasar pijakan yang kuat, baik yang bersumber dari sumber aliran agama maupun dari nilai-nilai budaya yang telah lama berkembang, yang siapa tahu inilah yang disebut sebagai kearifan lokal. Pornografi serta pornoaksi yang belakangan ini sedemikian berkembang, serta kemudian sangat menggelisahkan beberapa kalangan, tak lain merupakan sebagai hasil pengaruh global serta hasil negatif dari teknologi info yang sedemikian cepat. Akar persoalan, mengapa pengaruh tersebut terjadi sedemikian cepat serta kuat, tak lain merupakan oleh karena, diakui alias tidak, pemahaman serta penghayatan agama bangsa ini sebagian besar, baru hingga pada fase awal yang sesungguhnya tetap butuh upaya-upaya pendalaman dengan cara terus menerus.
Kebijakan pemerintah untuk menjaga bangsa ini supaya tak terlalu jauh terperosok dari kehancuran merupakan merupakan utama dilakukan. Akan tetapi, yang tak tidak lebih pentingnya lagi merupakan upaya penyadaran serta pendalaman nilai-nilai agama di tengah-tengah masyarakat, melewati beberapa bentuk pendidikan. Agama wajib diupayakan dengan cara terus menerus menjadi sumber nilai, moral serta seluruh gerak perilaku kehidupan, baik bagi seorang, keluarga serta bahkan masyarakat luas. Peran ini, tak saja dilakukan oleh pemerintah, melainkan oleh siapa saja, baik ulama' , guru, tokoh masyarakat serta semua saja, jadi menjadi gerakan bersama. Fornografi serta pornoaksi, rupanya tampak lebih subur terjadi di lingkungan masyarakat yang tak lebih memperdulikan kehidupan beragama. Oleh sebab itu, apabila kita mau cermat serta jujur, jadi terkesan bahwa dahulu para penentang lahirnya UU pornografi serta pornoaksi bukanlah bersumber dari kalangan tokoh alias pemuka serta bahkan penganut agama yang kuat (apapun agamanya) melainkan dari kalangan tidak hanya itu.
Untuk menunjukkan alangkah agama yang dipahami, dihayati serta diamalkan dengan cara lebih mendalam sanggup mengeliminasi ---bukan sukses menghapus sama sekali, pornografi serta pornoaksi tersedia beberapa contoh yang bisa dilihat. Saya sempat menyaksikan di beberapa negeri yang nilai keberagamanya termasuk kuat. Ternyata pornografi serta pornoaksi sangat susah diketemukan, alias bahkan terbukti tak ada. Kaum wanita dihargai serta dijunjung tinggi harkat serta martabatnya dengan caranya sendiri berdasarkan tuntunan dari aliran agamanya. Kaum wanita, sama dengan yang berlaku di negeri lain, mereka diberi keleluasaan untuk menuntut ilmu pengetahuan, menjalankan kehidupan agamanya serta bahkan juga melakukan peran-peran publik, akan melainkan mereka tak diijinkan dieksploitasi hanya untuk kepentingan ekonomi kapitalis. Kaum wanita menjadi terhormat, dijadikan sebagai bunda rumah tangga. Mereka memegangi suatu aliran Rasulullah yang berkata bahwa : "Kaum wanita merupakan bagai madrasah, apabila mereka baik jadi masyarakatnya akan menjadi baik serta begitu pula sebaliknya".
Upaya mencegah pornografi serta pornoaksi bukanlah pekerjaan mudah yang bisa diselesaikan dalam waktu pendek serta apalagi oleh sebagian kelompok masyarakat. Pornografi serta pornoaksi, dalam sebagian masyarakat tetap dilihat dengan cara mendua, satu segi disenangi serta dinikmati, melainkan pada segi lain wajib dibenci serta ditinggalkan sebab bertentangan dengan tuntutnan agama serta juga tatakrama masyarakat. Secara jujur seorang yang belum sukses mengendalikan nafsu, justru menikmatinya, sekalipun seharusnya menjauhi. Memang sesungguhnya mengeliminir pornografi serta pornoaksi merupakan sangat sulit. Oleh sebab itu tidak hanya ditempuh melewati undang-undang, juga seharusnya dibarengi upaya lain, umpama melewati nasehat serta keteladanan 'uswah hasanah' dari para pemimpinnya. Masyarakat di mana saja serta kapan saja, sesungguhnya tergantung pada dua kekuatan, yaitu para pemimpin serta para ulama'nya. Jika kedua pilar itu baik, jadi masyarakat itu akan baik, serta begitu pula sebaliknya. Kalau kita cermati, belakangan ini, sekalipun baru hingga pada fase awal, telah terjadi proses terus dekatnya masyarakat pada kehidupan agama. Tidak sedikit data menunjukkan alangkah posisi strategis para pemimpin menghipnotis ummat. Oleh sebab itu, terbukti agama mempunyai peran dalam memperkecil gejala pornografi serta pornoaksi. Akan tetapi, agama akan lebih terasa pengaruhnya, manakala dimotori oleh dua pilar kekuatan yaitu pejabat serta ulama.

No comments:
Post a Comment