Tuesday, 8 March 2016

Jalan Meraih Cita - Cita Agung Kemerdekaan Bangsa

Jalan Meraih Cita - Cita Agung Kemerdekaan Bangsa - Sudah sekian lama Bangsa Indonesia merdeka, nyatanya impian yang diharapkan itu hasilnya tetap belum dirasakan oleh seluruh warganya. Apakah impian itu gagal, sempurna juga tidak. Sebagian telah mencicipi yang akan terjadi kemerdekaan itu. Sekarang ini, hampir semua orang telah tak buta huruf lagi. Anak-anak bangsa ini telah mengenyam pendidikan, baik sebatas SD, SMP, serta SMU. Bahkan telah kebanyakan yang sukses menyelesaikan pendidikan hingga tingkat perguruan tinggi. Telah tak sedikit warga bangsa Indonesia ini lulus sarjana S1, S2 serta bangkan S3. Tidak itu saja, institusi pendidikan telah tersedia, mulai dari TK hingga perguruan tinggi. Bayangkan, negeri yang merdeka 63 tahun lalu, mempunyai tak tidak lebih dari 3000 perguruan tinggi, baik yang berstatus negeri (PTN) maupun yang berstatus swasta (PTS).

Keberhasilan tak sebatas membangun pendidikan, ----sekalipun baru bersifat kuantitas, namun juga dalam sektor lainnya. Lihat saja, di kota-kita di hampir semua sudut berdiri Mall, pertokoan serta juga perumahan mewah. Di bidang transportasi, apa yang belum dimiliki oleh bangsa ini. Sepeda motor, kendaraan beroda empat serta angutan modern lainnya telah terdapat hingga ke desa-desa. Bahkan ketika ini, mobilitas bangsa ini telah amat tinggi. Mereka kemana-mana, bagi yang berkecukupan, bisa naik pesawat terbang. Dua puluh tahun yang lalu, fenomena ini belum terbayangkan akan ada. Tidak sempat Kang Ngatimin yang tinggal di desa kelakon naik pesawan terbang. Tetapi kenyataannya, faktor yang dahulu diimpikan saja tidak, sukses dialami oleh Kang Ngatimin. Bahkan, petani desa itu telah menunaikan ibadah haji tahun lalu.

Dahulu, ketika tetap zaman penjajahan, tak tidak sedikit orang pakai alas kaki, sandal alias bahkan sepatu. Orang pergi kemana-mana, khususnya orang desa, lazim tak pakai alas kaki. Mereka pakai sarung, alias celana pendek, serta pakai kaos telah dipandang pantas. Sepatu hanya dimonopoli para pejabat serta priyayi. Hal yang tak sama sekarang, orang desa telah pakai celana, baju hem necis, songkok jadi kelihatan tak ada bedanya dengan orang kota. Bahkan, orang desa pun sebagai akibat demokrasi yang berkembang berkah kemerdekaan itu, kebanyakan yang sukses duduk di kursi terhormat menjadi anak buah DPRD, serta bahkan DPR Pusat, sebab beruntung partai politik memerlukan kader perempuan alias mereka yang berasal dari orang desa.

Apakah tetap tak lebih angan-angan mengenai keberhasilan bangsa ini?. Jika tak keberatan kita tambah lagi satu lagi contoh menarik. Dahulu, di desa tak sempat ada orang yang mengerti tilpun, alat untuk bicara jarak jauh. Kalau ada, paling banter ada di kantor kecamatan. Itupun memakai pesawat tua, peninggalan penjajah Jepang alias Belanda. Coba kita lihat bagaimana keadaannya ketika ini. Hampir di setiap rumah ada pesawat tilpun. Anak-anaknya memegang HP. Sekarang ini, sering setiap anak buah keluarga, yaitu bapak, bunda serta anak-anaknya, mempunyai alat komunikasi modern itu. Selain itu, sebab telah terdapat listrik lewat acara listrik masuk desa, jadi rumah-rumah di desa pun juga tak beda dengan rumah di kota. Rumah-rumah di desa juga telah dibekali dengan radio, televisi, vidio, kulkas, serta bahkan komputer.

Selanjutnya, apabila di sana-sini tetap ada problem, umpama adanya gizi kurang baik menimpa penduduk di beberapa wilayah, kekurangan sembako, ada orang tak sanggup membayar uang sumbangan pendidikan (SPP), tak sanggup membayar anggaran obat-obatan serta seterusnya itu, bagaimana faktor bisa dijelaskan ?.Problem itu sesungguhnya tetap terjadi di mana-mana, baik di kota maupun di desa. Bahkan bisa jadi terdapat di depan pintu kantor pejabat pemerintah sekalipun. Tetapi, sebaliknya ada yang di desa bahkan di pelosok, pulau-pulau terpencil. Mereka yang nasib serba kekurangan serta tertinggal, tak terkonsentrasi di satu wilayah. Mereka itu tak saja, yang ada di Jawa, melainkan juga ada yang bertempat tinggal di luar Jawa, di Sumatera, di Kalimantan, Sulawesi, Papua serta juga di pulau-pulau kecil yang susah dijangkau.

Kondisi obyektif rakyat kini dilihat dari sisi kekuatan ekonominya, terbukti beraneka ragam. Setelah sekian lama merdeka, telah terdapat rakyat yang sukses menikmati kemerdekaan itu, sukses mengembangkan ekonomi. Mereka menjadi orang berkecukupan serta bahkan menjadi konglomerat. Rakyat Indonesia telah ada di antaranya yang masuk kategori orang kaya tingkat dunia. Tetapi juga sebaliknya, dalam jumlah yang sangat besar tetap miskin. Bahkan ada juga di antara rakyat ini sebatas memenuhi kebutuhan nasib sehari-hari, tak menentu dari mana wajib didapat. Gambaran kongkritnya, kondisi itu bisa kita lihat baik di kota maupun di desa. Di kota, bahkan Jakarta sekalipun, kita bisa menonton pemandangan yang sangat kontras. Di beberapa sudut kota terdapat bangunan menjulang tinggi dengan beberapa kemewahan nya. Akan namun sebaliknya, ketika kita melalui sepanjang jalan tol yang memotong kota, di kanan kiri jalan dengan mudah kita saksikan rumah-rumah kumuh di pinggir kali serta bahkan juga di bawah-bawah jembatan. Rumah-rumah liar di kanan kiri jalan besar tersebut menjadi pemandangan serta sekaligus menghiasi bunda kota Jakarta. Di sanalah kiranya para orang miskin nasib bertetangga dengan orang kaya yang sangat berlebihan.

Keadaan serupa juga terjadi di desa-desa, baik di pedalaman maupun di pinggir-pinggir laut, mereka yang nasib dari nelayan. Di antara mereka yang kebetulan mempunyai tanah luas, serta begitu pula mempunyai modal besar, telah beruntung nasib berkecukupan. Mereka oleh masyarakatnya disebut sebagai orang-orang kaya yang serba berkelebihan. Sementara yang lain, yang tak mempunyai tanah, modal serta ketrampilan, mereka bekerja sebagai buruh. Pada umumnya upah yang mereka terima amat kecil. Mereka tak ada opsi lain kecuali buruh itu. Menggantungkan diri pada majikan merupakan satu-satunya pilihan yang wajib dipilih. Rendahnya pendapatan yang diterima menjadikan mereka tak sanggup mencukupi kebutuhan hidup. Jika terdapat kebutuhan yang mendesak, jadi dipenuhi dengan hutang terhadap majikannya. Hutang piutang antara majikan serta buruh, baik di kalangan petani ataupun nelayan melahirkan, penjajahan baru antar individu. Proklamasi kemerdekaan menutup sejarah penjajahan antar bangsa. Akan tetapi, kondisi belum berubah bagi mereka yang lemah, sebab tetap menghadapi penjajahan tingkat langsung alias kelompok. Maka, di sinilah terdapat kantong-kantong kemiskinan, yaitu mereka yang mengalami gizi buruk, kesehatan yang tak terawat, pengangguran, tak menjangkau pendidikan serta seterusnya.

Kalau begitu angan-angan konkritnya, masalah bangsa ini sesungguhnya bukan sederhana, yaitu semata-mata menyangkut kekurangan lapangan kerja, masalah kekurangan sembako, masalah banjir, masalah hutang luar negeri, masalah kesehatan serta sejenisnya. Yang lebih mendasar dari itu semua merupakan masalah yang terkait dengan kemanusiaan dengan cara lebih mendasar serta luas. Bangsa ini sedang mengalami krisis kemanusiaan yang mendalam. Karena krisis tipe itu, mereka yang kaya tak peduli terhadap yang miskin, yang kuat tak mempedulikan terhadap yang lemah, yang berlebih tak mau menonton serta menolong yang serba berkekurangan. Yang terjadi merupakan kesenjangan, yaitu ada yang telah sanggup menikmati belanja di Mall, namun juga tetap ada yang wajib belanja di pasar kumuh. Sudah ada di antara bangsa ini yang kemana saja naik pesawat terbang, namun juga tetap ada yang wajib jalan kaki, untung-untungnya naik ojek. Ada di antara rakyat ini yang tetap wajib nasib di kampung-kampung kumuh, di bawah jalan Tol yang sangat berbahaya, namun juga kebanyakan di antara mereka yang telah mempunyai rumah mewah, jumlahnya pun tak satu, namun telah beberapa yang susah diingat oleh pimiliknya sendiri.

Persoalan kesenjangan itu sesungguhnya berasal dari diri insan sendiri. Yaitu, dimulai dari tak adanya kepedulian, kasih sayang dengan cara tepat di antara sesama, rasa kedermawanan, keikhlasamn, keharusan untuk memperjuangkan di antara sesama. Persoalan itu terasa sepele, namun itulah sesungguhnya awal dari semua masalah itu. Cobalah kita renungkan, apabila yang berlebih, lewat lembaga yang telah tersedia, mau share serta bekerjasama, gotong royong, sebagaimana tatkala berjuang mengusir penjajah, jadi kesenjangan itu akan teratasi. Misalnya yang beragama Islam, gerakkan mereka kewajiban membayar zakat, infaq serta shodaqoh. Maka, akan terjadi pengumpulan dana yang luar biasa. Yang beragama lain, Kristen, hindu, Budha serta lainnya, mereka sempurna mempunyai kelembagaan untuk berkorban, yakni aliran peduli sesama. Namun pertanyaannya, bagaimana menggerakkannya. Pemerintah sesungguhnya punya kesempatan yang sangat lebar serta luas. Bangsa ini mempunyai falsafah nasib yang mengagumkan yaitu Pancasila, menghormati serta memposisikan agama pada daerah yang mulia. Gerakan itu akan menjadi dahsyat manakala dimulai dari pimpinan, tokoh alias pemuka agama. Tokoh alias pemimpin itu bisa sinergis baik yang formal maupun pemimpin informalnya. Saya sempat lihat gerakan seperti itu di Iran. Ketika Ayatullah Ruhullah Khumaini memegang kekuasaan sebagai Kepala Negara, beliau ditawari seorang pengusaha besar, dibangunkan istana. Sementara itu, dirinya menempati rumah langsung miliknya. Atas tawaran itu, dirinya tak menolak. Hanya saja, Ayatullah meminta supaya dana besar yang semestinya dipakai untuk membangun istana itu, dipakai untuk membangun rumah-rumah orang miskin di beberapa wilayah Iran. Dia tetap lebih suka bertempat tinggal di rumah pribadi, yang terletak masuk di gang kecil yang tatkala pergi alias pulang kantor, ia wajib jalan kaki tak tidak lebih dari 200 m jaraknya dari jalan raya yang bisa dilalui oleh mobil.

Dari angan-angan pendek di muka, jadi sesungguhnya masalah bangsa ini tak sebatas amenyangkut masalah ekonomi serta bersifat materialistik. Tetapi, apabila kita lihat dengan cara saksama, merupakan menyangkut masalah moral alias karakter bangsa. Oleh sebab itu jadi pendekatan yang dipilih tak akan lumayan sebatas menyentuh sudut pengembangan ekonomi, namun lebih dari itu merupakan seharusnya membangun karakter berbangsa untuk melahirkan jiwa pengorbanan, kebersamaan, kepedulian terhadap sesama, kepekaan untuk saling membantu. Kebersamaan semestinya tak saja terjadi tatkala bangsa ini sedang berjuang mengusir penjajah, melainkan seharusnya juga ketika bangsa ini membangun kehidupan bersama, yaitu tatkala bangsa ini sedang mengisi kemerdekaan. Secara kongkrit yang butuh ditumbuh-kembangkan merupakan bagaimana seluruh bangsa ini tersadar kesadarannya untuk berkorban, menolong terhadap mereka yang butuh ditolong, diajak peduli sesama, dijauhkan dari sifat mementingkan diri sendiri, bersedia membagi-bagi cinta kasih terhadap sesama. Gerakan itu semestinya dimulai oleh ceo dari beberapa kelompok serta lapisannya. Siapapun yang merasa dirinya sebagai anutan alias pemimpin rakyat, wajib menampakkan kepedulian serta empatik, rutin mengulurkan tangannya untuk membangun Indonesia ketika ini. Sehingga modal kita merupakan moral, karakter alias adab berbangsa. Sebaliknya, bukan justru unjuk pujian semu, umpama membeli bunga hias harga ratusan juta rupiah, serta celakanya disaksikan oleh rakyat miskin yang serba kekurangan itu. Akhirnya, terbukti pintu meraih impian itu merupakan kekayaan serta keagungan jiwa untuk melahirkan semangat berorban yang tinggi dari semua pihak, Tidak ada sesuatu kemuliaan yang diraih tanpa perjuangan. Dan usaha tak sempat ada kecuali dibarengi dengan pengorbanan.

No comments:

Post a Comment