Sebab Bangsa Ini Tertinggal - Untuk menelusuri alasan ketertinggalan suatu komunitas, kelompok alias suku, bahkan juga suatu bangsa, sesungguhnya tak terlalu sulit. Sebab, kebanyakan komunitas di beberapa belahan bumi ini mengalami ketertinggalan yang jauh dari komunitas lainnya. Kelompok yang mengalami ketertinggalan itu biasanya justru dari penduduk orisinil alias pribumi. Sedangkan yang lebih maju serta mengambil alih beberapa potensi merupakan para pendatang. Rupanya telah menjadi teori sosial, bahwa pendatang dalam jangka waktu tertentu akan rutin melampaui penduduk asli.
Di Australia penduduk orisinil itu dikenal dengan sebutan bangsa aborigin, begitu pula di Amerika juga ada penduduk asli. Penduduk orisinil yang disebut kelompok aborigin tersebut jauh tertinggal oleh kelompok pendatang. Kelompok aborigin tak mengalami kemajuan. Mereka nasib dengan cara ekonomi, sosial, pendidikan serta ilmu pengetahuan sangat tertinggal. Padahal mereka yang termasuk penduduk asli, sesungguhnya merupakan pemilik alam serta seisi wilayah yang ditempai. Tetapi mengapa mereka terkalahkan serta bahkan terusir dari wilayahnya sendiri.
Penduduk orisinil biasanya nasib mapan. Mereka tak mempunyai gairah untuk keluar dari kemapanan. Mereka telah merasa bahagia serta bahkan nasib tentram dari apa yang ada. Semangat mengejar ketertinggalan tak timbul dari mereka, alasannya mereka tak merasa tertinggal serta tak mempunyai ancaman, termasuk dari para pendatang. Para penduduk orisinil menikmati kehidupan sebagaimana adanya. Gairah untuk maju supaya berubah dari kondisi semula tak sempat timbul dari kelompok orang-orang penduduk asli. Perilaku mereka telah menjadi rutin dari hari ke hari alias dari waktu ke waktu. Itulah yang disebut dengan kemapanan.
Fenomena ketertinggalan yang dialami oleh penduduk orisinil dari para pendatang di Indonesia ini tak sedikit kita lihat. Kota-kota besar di Indonesia ini, kebanyakan para penguasa baik dalam bidang pemerintahan, ekonomi, pendidikan serta lain-lain sesungguhnya dikuasai oleh para pendatang. Itulah sebabnya belakangan ini timbul isu-isu untuk mengutamakan putra daerah. Pandangan semacam itu sesungguhnya sebagai upaya melindungi kepentingan penduduk asli. Akan namun apakah dengan peran-peran strategis dipegang oleh putra kawasan akan menjadikan dinamika masyarakat akan menjadi lebih maju, pasti tetap memerlukan bukti lebih lanjut.
Bangsa Indonesia, sebagai penduduk orisinil tanah kepulauan nusantara belakangan ini menyadari akan ketertinggalannya dari bangsa lain. Ketertinggalan itu telah menyangkut beberapa lapangan kehidupan, baik di bidang ekonomi, politik, ilmu pengetahuan serta lain-lain. Pertanyaannya merupakan apakah ketertinggalan itu merupakan fenomena alamiah dari posisinya sebagai penduduk orisinil tersebut. Bukankah kebanyakan bangsa-bangsa maju di dunia ini, kecuali Amerika serta Australia, berposisi sebagai penduduk orisinil namun mengalami kemajuan. Jika kita lihat dalam perspektif yang agak luas, jangan-jangan penduduk orisinil yang maju itu dengan cara tak eksklusif melakukan mobilitas non fisik melewati pendidikan. Cina serta juga malaysia belakangan ini mengalami kemajuan yang menarik oleh alasannya sebelumnya telah mengirim putra-putrinya untuk belajar ke beberapa belahan dunia. Setelah pulang anak-anak Cina serta Malaysia itu menjadi pendatang. Secara fisik anak-anak yang belajar ke luar negeri itu tetap tetap sebagai penduduk asli, akan teapi dengan cara intelektual maupun mental telah menjadi kaum pendatang. Dan itulah, bisa jadi, yang menjadikan kedua bangsa itu mengalami kemajuan yang sangat signifikan.
Islam merupakan agama yang mengajar umatnya menjadi maju dalam beberapa sisi kehidupan. Karena itu Islam juga mengajarkan untuk melakukan mobilitas. Dalam Islam dikenal konsep hijrah. Rasulullah juga melakukan hijrah dari Makah ke Madinah, serta di tempat baru ini Rasulullah mendirikan pemerintahan yang adil, makmur serta hening yang disebut dengan kota Madinah. Dalam al Qur'an juga umat insan diperintahkan untuk fantasiruu fi al ardi, bertebarlah kamu di muka bumi. Dan bahkan tak sempat ditemukan perintah untuk menetap, melainkan justru bertebaran. Nabi Ibrahim serta juga nabi-nabi lainnya juga mencontohkan melakukan traveling. Kalau demikian, bisa maka bahwa syarat kemajuan merupakan mobilitas, yang faktor itu bisa dilakukan dengan cara fisik alias setidak-tidaknya dengan cara psikis, intelektual alias mental.
Pertanyaan selanjutnya merupakan apakah bangsa Indonesia telah melakukan hijrah alias mobilitas, baik fisik alias intelektual. Akhir-akhir ini, sebagian bangsa Indonesia telah mulai melakukan traveling. Hanya sayangnya, mereka tak lebih mempunyai bekal, kecuali performa seadanya, maka peran-peran yang dimainkan di negeri orang hanya sebatas pekerjaan pesuruh rumah tangga alias tenaga kasar lainnya. Sedangkan pengiriman untuk menuntut ilmu sebagaimana dilakukan oleh Cina serta Malaysia, jumlahnya tetap belum signifikan, serta kalaupun tokh ada, bangsa ini rupanya belum sanggup menghargainya. Mereka tetap dikalahkan oleh proses nepotisme serta juga kolosi disamping juga terhempas oleh adat korupsi yang belum juga bisa disembuhkan. Itulah kiranya yang menjadikan sebagian akar ketertinggalan bangsa ini.

No comments:
Post a Comment