Meningkatkan Budaya Riset di Indonesia - menarik mmg apa yg dilansir oleh richard horton. chief editor jurnal lancet edisi 27 februari 2016. beliau menulis era pasang-surut dunia riset kesehatan serta kedokteran indonesia.
padahal thn 1960-an saja, fk ui saja dosennya sudah sanggup menembus jurnal internasional sekelas lancet . tentu ini tak saja berlaku pd dunia kesehatan serta kedokteran, berlaku utk seluruh bidang keilmuan yg adanya di indonesia.
salah satu penjelasan beliau yaitu kultur akademisi kami lebih suka berbicara, dibandingkan dgn menulis. komunitas riset kami tak familier dgn bahasa ilmiah yg berlaku umum di dunia publikasi internasional
untuk membuktikannya mmg gampang. periksa saja total publikasi akumulasi dosen indonesia.
indeks publikasi profesor saja pd 2012 tak dapat lebih sejak 0,20. berarti cuma 20% profesor yg mempunyai publikasi internasional. sementara malaysia telah meraih 1 jurnal/dosen/tahun serta dua jurnal/dosen/tahun di jepang atau periksa tempat sosial, layaknya whatsapp (wa), facebook, dan tempat sosial yang lain yg adanya. apabila postingan akademik masuk, beberapa anggota berlarian tak banyaknya yg mengomentari. kisah tak hanya akademik dlm wa dosen malah lebih menarik, daripada kisah bagaimana dunia riset akan dikembangkan
ketika penulis berbicara dgn salah seorang dosen di york, uk akhir semester lalu, beliau segera menyatakan, ”saya telah senang”. lantaran akhir semester ini telah memasukkan dua buah jurnal utk direviu. menjadi jelas sasaran publikasi jadi budaya akademik di negara di mana pt-nya telah maju
akar problem
tiga perihal yg butuh diperbaiki supaya dunia riset kami maju. pertama, proses pendanaan riset yg terikat dgn contoh penerimaan negara bukanlah pajak (pnbp) telah selayaknya dipertimbangkan ulang. dgn skema layaknya ini, pundi-pundi penerimaan negara kelihatannya dengan cara terselubung disuruh kepada perguruan tinggi yg jadi masalah berat perguruan tinggi
selama ini formulanya yaitu besarnya dana riset sebanding dgn besarnya dana pnbp. berakibat perguruan tinggi ”terpaksa” meladeni pemenuhan unsur pemerataan, dgn mendapat mahasiswa banyak, daripada memajukan riset di perguruan tinggi dengan cara berkualitas serta meningkatkan kualitas
dosen-dosen muda dipaksa mengajar banyak. yg semula dua mata ajar, setara dgn 6 sks, lalu ditugaskan mengajar tambahan di diploma 3. padahal dosen muda mesti merampungkan persiapan utk studi lanjutan, persiapan bahasa inggris, serta ikut riset dgn dosen seniornya. ini bikin tawaran mengajar mendapatkan cash money yg menarik, daripada menempuh dunia akademik yg berat di awal. berakibat kultur dosen utk riset tak terbangun
kedua, skema riset dgn proses sekarang lebih mengutamakan capaian administratif daripada substansi hasil riset. skema-skema riset yg digabung dengan cara nasional, masih tetap umum sifatnya tak memecahkan bidang keilmuan di mana sebuah universitas jadi kuat
sebagai pemeriksa proposal dari 2010 serta pemonitor riset, terkesan pemenuhan unsur administratif amat menonjol. seluruh bukti asli diperlihatkan oleh dosen pemenang hibah. tetapi apabila kami periksa publikasi, buku ajar, paten, dan hilirisasinya, banyaknya yg mengelak dgn seharus-nya dijanjikan di awal penetapan pemenang riset
dosen-dosen kami jadi ”favorit” penyelenggara seminar domestik serta internasional. masuk pun beberapa pengelola jurnal yg mencari dosen-dosen kami serta menawarkan publikasi, yg rupanya jurnalnya banyaknya yg bodong. seminarnya lebih kepada pemenuhan entertainment, lantaran sistem reviu sejak pembicara amat longgar
ketiga, yaitu research center di perguruan tinggi kami belum ber-kembang. yg adanya yaitu lembaga penelitian, liason officer-nya perguruan tinggi, yg mengurusi administrasi riset. kontrak riset banyaknya yg dilaksanakan dengan cara individu. padahal, sebuah riset mesti dikerjakan lintas bidang serta jauh lebih bagus hasilnya terinstitusionalisasi
research center tak berkembang, lantaran masing-masing dosen tak membudayakan sistem riset pd sebuah institusi riset. sistem pembimbingan mahasiswa pun tak berjalan dengan cara bagus. besar dugaan aktivitas seminar belum terlaksana dengan cara bagus. ini berdampak jelek pd kondisi akademik yg berlangsung di universitas-universitas. jurnalnya pun tak ber-kembang serta kerap mati pucuk sesudah sejumlah edisi terbit
anehnya prestasi menghasilkan jurnal, publikasi dlm bentuk jurnal, dan buku ajar, tak dijadikan sbg sebuah evaluasi untuk prestasi dosen. berakibat dosen berpotensi eksodus utk memburu jabatan nonakademik, sekelas rektor/dekan dan pembantunya. tidak sering yg mau melanjutkan riset doktoralnya sesudah kembali ke perguruan tinggi setempat
solusi
dengan skema pendanaan desentralisasi sehingga masih tetap banyaknya ruang gerak yg akan diusulkan utk memajukan riset di indonesia
pertama, butuh pengembangan skema dosen peneliti inti di masing-masing jurusan. mereka yg berstatus dosen peneliti inti mendapatkan mandat lebih kuat utk menghasilkan riset akademik yg bermutu. kepada mereka akan diberikan block grant riset dgn sasaran akhir publikasi, buku ajar, dan paten
kedua, sistem penelitian akan didorong lahir dlm research center/research group, laboratorium di masing-masing universitas. kelahiran research center yg khusus amat bikin beberapa dosen berafiliasi di research center. sistem pembimbingan mahasiswa pascasarjana akan berlangsung di sana. ini pun utk menjaga supaya berlangsung sustainability sistem riset yg mumpuni
ketiga, beberapa profesor akan memajukan research center dgn apalagi dulu menyusun payung penelitian yg strategis dlm jangka panjang. satu profesor akan beranggotakan dua dan tiga doktor, dan mahasiswa calon doktor dan mahasiswa program master yg turut dan dengan cara full time di research center
ketika tiga tahapan itu dapat dihasilkan dlm pengembangan pendidikan tinggi, mungkin daya ungkit publikasi, buku ajar, maupun paten bikin daya saing perguruan tinggi kami dapat maju
orientasi pendidikan tinggi sarjana baiknya diarahkan pd kualitas. sementara utk perguruan tinggi yg tak banyaknya risetnya, mandat pengajaran boleh lebih menonjol, dan diarahkan utk calon angkatan bekerja yg terampil.

No comments:
Post a Comment