Paradigma Sederhana Dalam Hati Adalah Sebuah Kebenaran - Sebagaimana yang tidak jarang saya tulis, kebenaran itu berlapis-berperingkat-terstruktur-bukan sebuah wujud random yang tanpa bentuk konstruktif,ia mempunyai hulu dan mempunyai muara.ia terstruktur mulai dari wilayah permukaan sampai ke wilayah kedalaman-essensi.
mulai dari faktor teknis yang rumit dan pelik sampai ke rumusan rumusan sederhana ala ‘hati’. pada level tertentu ia mampu berupa problem kebenaran yang bersifat ‘teknis’ yang pembahasannya menyangkut masalah yang rumit dan pelik yang menghasilkan rumusan yang rumit dan pelik pula,tetapi pada level lain ia mampu berupa penjelasan atau rumusan yang sederhana namun bersifat mendasar yang mana orang orang awam sekalipun mudah untuk memahaminya.dan senantiasa ada jalan ilmiah bagaimana problem kebenaran pada level teknis yang nampak rumit itu direduksi kedalam bentuk rumusan rumusan yang sederhana namun bersifat mendasar. dan makna ‘sederhana’ disini-dalam goresan pena ini merupakan sebuah yang mudah ditangkap oleh ‘hati’ semua orang tergolong kalangan awam.misal ada tidak sedikit penjelasan yang nampak rumit seputar LGBT namun rumusan ‘LGBT perilaku abnormal’ itu rumusan sederhana yang ditangkap dan dicerna oleh hati. ada tidak sedikit ilmu alam saintifik yang dikelola oleh otak dan itu melibatkan beragam masalah teknis yang rumit namun merumuskan alam semesta dengan cara sederhana sebagai sesuatu yang bertujuan-memiliki makna itu merupakan rumusan sederhana ala hati yang bersangkutan dengan konsep kebenaran yang paling mendasar-essensial.
Ketika problem kebenaran tetap bersemayam dalam atau tetap dikelola oleh ‘otak’ ia mampu berupa argumentasi atau penjelasan penjelasan teknis yang terlihat rumit dan pelik,tetapi apakah kebenaran mesti rutin berwujud semacam itu (selalu nampak rumit dan pelik dan rutin hanya berputar putar pada wilayah ‘teknis’) ? ‘menyederhanakan permasalahan’ merupakan karakter alamiah tutorial berfikir insan alasannya merupakan pada dasarnya insan rutin mengharapkan supaya faktor yang bersifat ‘teknis’ yang terkadang nampak rumit dan pelik itu lalu mampu difahami dengan cara lebih mudah dan sederhana. dan dalam proses demikianlah tersedia peran ‘hati’ yang mereduksi semua problem yang ada dalam otak. atau dengan kata lain apapun yang ada tersedia dalam otak yang berupa problem yang rumit dan pelik pada akhirnya akan berpindah atau direduksi kedalam arti pengertian ala ‘hati’ atau kedalam bentuk pemahaman yang ditangkap-dicerna dan lalu dikelola oleh hati. Dengan kata lain otak mengurai-menganalisis-menjabarkan kasus terhadap faktor hal yang bersifat ‘teknis’ namun hati meringkus intisari-saripati dari kasus lalu merumuskannya kedalam arti pengertian atau rumusan rumusan sederhana yang lebih mudah difahami. Sebagai contoh,ada begitu tidak sedikit penjelasan yang nampak rumit-pelik seputar LGBT yang berupa penjelasan psikologis,sosiologis,ideologis yang diungkap para intelektual,psikolog maupun psikiater namun jika ada rumusan sederhana yang berupa pernyataan ‘LGBT merupakan sebuah perilaku abnormal’ jadi itu merupakan rumusan sederhana yang akan terjadi keikut sertaan hati dalam meringkus saripati atau intisari kasus seputar itu alasannya merupakan problem LGBT tidak wajib rutin tersaji dalam bentuk penjelasan penjelasan ‘teknis’ yang rumit dan pelik alasannya merupakan karakter tutorial berfikir hati itu rutin mencari cari intisari-saripati persoalannya untuk lalu dirumuskan kedalam konsep konsep sederhana yang mudah difahami leh hati semua orang tergolong kalangan awam.
Contoh analogi : ada penjelasan yang rumit dan pelik seputar teknis pembuatan sebuah gedung besar dan itu termaktub diantaranya dalam ilmu arsitektur-ilmu kelistrikan-ilmu sanitasi dlsb.tetapi hati lah yang menikmati makna kehadiran gedung itu dan hati mengungkapkannya kedalam kalimat kalimat yang sederhana semacam ‘gedung itu nampak indah’.atau ada tidak sedikit penjelasan teknis nan rumit seputar momen tenggelamnya kapal Titanic namun hati lah yang meringkus makna dari momen itu dan mengungkapkannya dalam bentuk kalimat yang sederhana misal ‘peristiwa itu merupakan pelajaran berharga terhadap kesombongan manusia’.ada penjelasan yang rumit dan pelik seputar dilemma pendidikan seks untuk anak namun kita mampu membikin rumusan sederhana perihal masalah itu dengan memakai ‘hati’ misal memakai ungkapan ‘ pada saatnya yang cocok mereka akan memahami dengan sendirinya tidak butuh disetting berlebihan dalam bentuk pendidikan resmi’
Jadi terperinci disini peran hati dalam mereduksi apapun kasus yang serumit apapun yang tersedia dalam otak,sehingga tanpa peran dan keikut sertaan hati dalam proses berfikir jadi semua problem keilmuan-kebenaran tidak akan mampu kita kerucutkan terhadap faktor hal yang lebih sederhana dan lebih mendasar atau dengan kata lain tidak akan mampu kita reduksi kedalam konsep-pengertian yang lebih sederhana dan lebih mendasar.salahkah jika hati ikut bermain atau ikut merumuskan sebuah kasus yang dipikirkan oleh otak atau, salahkah jika hati ikut terjun kedalam kancah masalah keilmuan ? .. justru itulah manfaat hati yaitu meringkus dan menggambarkan intisari atau saripati kasus jadi tanpa hati jadi ilmu pengetahuan hanya akan tersaji sebagai konsep yang serba nampak teknis tanpa mempunyai nuansa kedalaman.
Sebagian orang mungkin tidak lebih suka jika sesuatu direduksi kedalam rumusan-penjelasan sederhana ala ‘hati’ yang mana semua orang tergolong yang awam mudah untuk memahaminya. dengan kata lain prinsip ‘menyederhanakan masalah dengan hati’ oleh sebagian kalangan dianggap bukan tahap dari solusi keilmuan,mereka lebih menyukai ilmu pengetahuan tetap dilihat dan difahami dengan cara ‘formal’ sebagai konsep konsep dengan penjelasan yang detail-rinci meski penuh dengan penjelasan teknis yang nampak rumit dan pelik semisal buku buku yang dengan cara formal dipakai di lembaga lembaga pendidikan,tanpa wajib melibatkan keikut sertaan ‘hati’ Tetapi masalahnya justru seluruh yang teknis-rumit dan pelik itu merupakan jalan menuju pemahaman menuju yang essensial yang merupakan intisari atau saripati dari kasus yang mana yang essensial itu merupakan yang dirumuskan dengan cara sederhana oleh hati itulah.jadi jika ada tidak sedikit penjelasan ‘teknis’ yang rumit seputar LGBT misal apakah itu argumentasi psikologis-biolgois-sosiolgis-idelgis jadi jika kemudian ada rumusan ‘LGBT sebagai sebuah yang abnormal’ jadi itu merupakan ‘kebenaran essensial’ seputar LGBT alasannya merupakan itulah yang mampu ditangkap oleh ‘hati’ manusia.
Dan ini juga sebetulnya kembali terhadap peran hati sebagai pemimpin jiwa dimana seluruh yang ada di otak pada akhirnya akan bermuara atau mengerucut pada rumusan hati.secara struktur keilmuan berarti semua faktor yang bersifat teknis-yang rumit dan pelik itupada akhirnya akan bermuara pada faktor yang bersifat essensial yang ditangkap dan dicerna oleh hati dengan cara lebih sederhana. Kita buat dahulu sebuah analogi,sebuah gedung besar dibangun dan kalian mampu bayangkan sendiri alangkah rumit dan peliknya ilmu seputar teknis pembuatan gedung besar itu, belum lagi melibatkan tidak sedikit profesi dengan beragam keahlian,ada tukang kayu,ahli beton,ahli listrik,ahli sanitasi,tukang kaca,tukang flapn dlsb. namun apakah gedung itu dibangun demi untuk pengorbanan terhadap ilmu pengetahuan arsitektur misal (?) .. gedung itu dibangun demi untuk melayani harapan yang bersumber dari kehendak hati manusia.
sehingga makna terdalam atau maksud tujuan paling atas dari dibuatnya gedung itu ada tersedia dalam hati insan bukan dalam otak,dimana otak hanyalah unsure pelaksana.bisa kalian perbandingkan dengan kehadiran alam semesta yang melahirkan beragam ilmu saintifik,tetapi alam semesta diciptakan bukan hanya untuk lahirnya ilmu ilmu saintifik namun supaya nanti insan mampu menangkap-mendalami-menghayati makna atau maksud tujuan paling atas dan terdalam dari terciptanya alam semesta itu,dan itu merupakan faktor yang paling ditekankan oleh agama,sehingga dalam faktor ini adanya ilmu ilmu saintifik itu merupakan hanya sebagai jalan menuju faktor yang bersifat essensial itu tadi.
Dengan kata lain,sama dengan,betapa banyaknya ragam ilmu pengetahuan ‘teknis’ seputar alam semesta,ada ilmu fisika,ilmu kimia,ilmu astronmi,ilmu biologi dlsb.yang semua itu pasti lumayan rumit untuk dipelajari namun makna terdalam atau maksud tujuan paling atas dari adanya alam semesta tetaplah hati yang meringkus - mendalaminya dan mencerna nya.dan insan tergolong kalangan awam pasti mudah untuk familiar dengan makna-hakikat kehidupan meski misal ia bukan serang scientist yang bersahabat dengan ilmu ilmu kealaman itu tadi.dengan kata lain faktor yang essensial perihal alam semesta mudah ditangkap dan dicerna semua kalangan alasannya merupakan pengetahuan mengenai itu ada tersedia didalam hati.
Jadi jangan sepelekan peran hati dan tutorial hati dalam mereduksi masalah rumit yang ada dalam otak alasannya merupakan yang dicari oleh hati rutin intisari atau saripati dari masalah atau bentuk kebenaran yang paling mendasar jadi tanpa hati jadi dalam faktor ilmu pengetahuan-kebenaran insan hanya akan bergumul dengan faktor hal yang bersifat ‘teknis’.dengan kata lain mesikipun insan mempunyai otak yang cemerlang-briliant namun alangkah tanpa hati insan tidak akan mampu meringkus intisari-saripati atau kebenaran paling mendasar dari tiap kasus keilmuan.sehingga kalau kalian menemukan problem keilmuan maupun masalah kehidupan yang terasa rumit dan pelik jadi usahakan mereduksinya terhadap faktor hal yang lebih sederhana dan mendasar dan itu merupakan dengan tutorial memakai ‘hati’, jadi kalian akan menemukan intisari-saripati dari kasus yang kalian fikirkan alasannya merupakan itulah manfaat hati yang tidak sama dengan otak yaitu untuk mereduksi semua masalah rumit yang insan temukan dalam otaknya. mekanisme jalannya proses berfikir atau alur ilmu pengetahuan mulai dari otak sampai ke hati itu ibarat mekanisme mesin fabrik dimana bahan mentah yang seabreg abreg jumlahnya seusai melewati proses mekanisme mesin fabrik lalu kemudian mengerucut menjadi sedikit bahan jadi namun dengan nilai yang lebih baik.demikian pula dengan problem ilmu pengetahuan yang seabreg abreg banyaknya (sebanyak disiplin keilmuan !) yang masuk dan berproses dalam otak seusai direduksi kedalam hati jadi menghasilkan tetes demi tetes pengertian, dan arti demi arti itu lalu mewujud membentuk rumusan sederhana,membentuk keyakinan,membentuk pemahaman akan makna makna,membentuk pemahaman akan faktor yang bersifat essensial
sehingga bayangkan orang yang otaknya diisi oleh seabreg pengetahuan saintifik-dikenal sebagai ilmuwan kelas dunia namun dalam hatinya tidak ada apa apa atau kosong dari arti pengertian yang bersifat essensial tergolong dari keyakinan (yang bersifat hakiki) Dengan kata lain,otak merupakan daerah insan memikirkan faktor hal teknis yang rumit-pelik namun hati merupakan daerah untuk memikirkan-mencerna-mendalami-mengelola faktor hal yang bersifat essensial-mendasar dari ilmu pengetahuan dan konsep kebenaran.dan rumusan sederhana ala hati itu bukan sebuah penyimpangan proses berfikir-bukan sebuah penyimpangan ilmiah namun itulah MEKANISME ALAMI yang tepat dari perjalanan ilmu pengetahuan,dimana proses itu akan mulai dari wilayah permukaan sampai ke kedalaman,mulai dari faktor teknis yang rumit sampai ke rumusan sederhana dan dengan cara kejiwaan itu berlangsung dari wilayah otak ke hati.
Nah saat ini masalahnya merupakan : semua orang pastinya mempunyai hati kalau arti ‘hati’ itu kita kaitkan atau paralelkan dengan perasaan emosi misal, jadi semua orang pasti mempunyai rasa marah,rasa benci maupun rasa cinta,tetapi apakah tiap hati akan rutin otomatis mampu meringkus essensi atau makna terdalam dari sesuatu misal,ataukah terbatas pada hati yang mempunyai nilai tersendiri (?) atau hati yang bagaimana yang mampu meringkus kebenaran yang bersifat mendasar itu ? .. nah untuk masalah ini rupanya kita wajib membahasnya pada bab tersendiri.
Oleh : Ujang Ti Bandung

No comments:
Post a Comment