Wednesday, 16 March 2016

Damai Yang Tersayat

Damai Yang Tersayat - Papua mempunyai kekhasan yang jarang dijumpai di wilayah lain. Persaudaraan merupakan salah satu yang mewarnai kebersamaan segenap insan yang nasib di atas tanah terbekati ini. Kehadiran insan yang bersumber dari luar Papua, disambut dengan hangat oleh orang orisinil Papua.

Demikian halnya, kaum pendatang membaur bersama orang Papua. Ada kekuatan yang mengikat, yakni toleransi dan solidaritas yang tinggi. Alhasil suasana persaudaraan menghiasai wajah Papua yang multikultural dan multireligius ini. Keragaman diterima dengan tulus-ikhlas. Ironisnya, di tengah nasib persaudaraan yang telah terjalin puluhan tahun ini, keragaman dan nuansa persaudaraan itu hampir terkoyak oleh momen yang menggemparkan rakyat Papua. Peristiwa itu merupakan pembunuhan di kompleks Organda, Padang Bulan, kota Jayapura, pada 8 Juni 2015.

Berawal dari persoalan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kantibmas), memunculkan korban jiwa. Kita turut prihatin karena seyogianya, siapa pun tak boleh menjadi korban kebrutalan sesamanya. Pembunuhan merupakan perbuatan tak berperikemanusiaan dan wajib ditolak. Duka mewarnai keluarga korban di Organda. Duka itu menyebar hingga ke relung jiwa setiap insan yang peduli pada kualitas nasib dan martabat manusia. Berbagai aksi dilakukan untuk mengutuk momen tersebut. Demonstrasi ke kantor Gubernur Provinsi Papua tanggal 9 Juni 2015 dan pertemuan para tokoh budaya dan agama di Polsek Abepura, 10 Juni 2015 menawarkan angin segar akan adanya jaminan keamanan bagi segenap warga masyarakat.

Suasana khawatir pernah melanda kota Jayapura dan sekitarnya. Hembusan info terkait info suku dan ras memunculkan sikap waspada di tengah masyarakat. Tampak bahwa keragaman bisa menjadi ancaman bagi kerukunan dan kesejahteraan nasib bersama. Keragaman bisa dipakai untuk memecah-belah persaudaraan yang telah terjalin selagi ini. Belajar dari momen Organda, kita diundang untuk senantiasa mengupayakan nasib rukun dan tenang dengan sesama manusia. Apa pun latar belakang budaya, suku, adat-istiadat dan agama, kita semua sama.

Kita sama-sama manusia. Karena itu, kita butuh saling menerima, saling menghormati dan saling menolong satu sama lain. Saat ini, Papua sedang dilanda beberapa macam penderitaan. Pelanggaran hak asasi manusia, maraknya minuman keras, HIV/AIDS, korupsi, perusakan lingkungan dan lain sejenisnya. Penderitaan ini seharusnya menyatukan kita untuk berjuang bersama-sama membebaskan Papua. Bukan sebaliknya, membikin kita tercerai-berai. Hanya dengan persatuan dan persaudaraan yang kokoh kita bisa menanggulangi beberapa kasus yang terjadi di tanah Papua dikala ini. Selama ini, Papua telah populer dengan sikap ramah dan toleransi.

 Papua menjadi daerah yang aman bagi segenap umat manusia. Kondisi ini butuh dipelihara dan ditingkatkan supaya Papua menjadi daerah yang aman dan tenang bagi segenap makhluk. Apa pun kasus yang dihadapi di tanah ini butuh dicarikan pilihan penyelesaian yang manusiawi, tanpa mengorbankan sesama manusia. Untuk maksud ini, butuh ada upaya konkret dalam menawarkan edukasi bagi segenap warga mengenai pentingnya merawat keragaman. Bahwa nasib bersama dalam bingkai keragaman butuh mengedepankan sikap persaudaraan, tanpa ada curiga dan prasangka. Dengan demikian, setiap insan bisa mengalami tenang dan sejahtera. Tidak bisa dimungkiri, Papua mempunyai kekayaan keragaman, namun ada potensi keretakan dampak intoleransi. Saat ini, rutin ada upaya memecah-belah persatuan di Papua dengan diskriminasi Gunung-Pantai, Papua-Pendatang dan lain sejenisnya. Diskriminasi hanya mendatangkan penderitaan karena merendahkan kualitas nasib dan martabat manusia.

Seharusnya, insan saling mendapatkan dan menghormati keragamannya. Apa pun asal-usulnya, insan sama. Berasal dari Pencipta yang Esa dan mempunyai akal-budi dan hati nurani. Di dalam keragaman, kita menemukan keunikan dan kemahakuasaan sang Pencipta yang diimani. Upaya untuk merawat persatuan dan persaudaraan di antara sesama umat insan butuh dilakukan semenjak dini. Keluarga menjadi fondasi mutlak meletakkan benih-benih toleransi. Di dalam keluarga anak-anak diperkenalkan budaya, suku, adat-istiadat dan agama. Semua ini butuh dilakukan supaya anak-anak tumbuh dan berkembang sebagai eksklusif yang menghormati sesamanya yang tak sama dengannya. Anak-anak merupakan penerus masa depan. Mereka butuh dilengkapi dengan pendidikan keragaman supaya bisa mendapatkan dan nasib bersama dengan sesamanya yang tak sama dengannya. Bahwa keragaman merupakan kekayaan yang dianugerahkan sang Pencipta.

Manusia butuh mendapatkan dan mengelolanya dengan baik kelangsungan hidupnya. Pendidikan keragaman semenjak dini dalam keluarga menjadi pilihan ampuh dalam mengantisipasi upaya adudomba oleh pihak-pihak yang hendak mengacaukan perdamaian di tanah Papua. Melaluinya, anak-anak belajar mendapatkan dan menghormati sesamanya tanpa kecuali. Selain itu, melewati pengenalan keragaman semenjak dini terhadap anak-anak sanggup memutus mata rantai diskriminasi terhadap keragaman budaya, suku, adat-istiadat dan agama.

Kita semua menyadari bahwa awal mula nasib insan dimulai dari dalam keluarga. Keluarga yang harmonis dan mempunyai jiwa toleransi akan menghasilkan generasi yang menghormati sesamanya. Keluarga menjadi ladang persemaian generasi yang menghormati keragaman dan menempatkan persaudaraan universal dengan semua makhluk tanpa syarat. Harapannya, melewati generasi Papua yang mempunyai sikap toleransi dan semangat persaudaraan universal, terbuka jalan menuju Papua yang sejahtera. Papua yang menghormati dan menempatkan kualitas nasib dan martabat insan berada di atas segala-galanya.

Oleh : Petrus Pit Supardi

No comments:

Post a Comment