Saturday, 12 March 2016

Menghilangkan Perilaku Korup

Korupsi merupakan tindakan ilegal yang memperdagangkan kekuasaan, kepercayaan, dan jabatan untuk keuntungan diri sendiri dan kelompoknya. Biasanya, korupsi terjadi sebab ada peluang untuk memecahkan problem bersama dengan cara rahasia, dan mereka percaya bahwa tak seorang pun yang menonton dan mengenal tindakan mereka.

Di samping itu, perilaku koruptif sangat meyakini bahwa sistem dan pengamatan yang ada bisa mereka mengakali, jadi tak sanggup mendeteksi korupsi yang mereka perbuat dengan cara rahasia. Siapa pun bisa jujur dan jauh dari perilaku koruptif, ketika tak ada godaan, tak ada peluang untuk korupsi, dan tak ada adat untuk korupsi di sana. Persoalannya, ketika keimanan dan integritas seseorang rendah, melainkan dirinya mempunyai kekuasaan dan peluang untuk memperkaya diri, jadi dirinya akan termakan untuk melakukan korupsi dengan beberapa cara.

Perilaku koruptif sangat berani pasang badan dan tak takut malu, mereka hanya takut kehilangan uang dan kekayaannya. Jadi, apapun hukumannya, selagi uang dan kekayaannya utuh, perilaku koruptif akan senang dan damai-damai saja hidupnya. Hal ini terjadi, sebab korupsi dilakukan bukan sekedar untuk memperkaya diri sendiri, melainkan untuk menjamin terpenuhinya kehidupan ekonomi dan keuangan keluarganya dengan cara turun-temurun. Ingat, korupsi itu tujuannya hanya satu yaitu uang, bukan yang lain. Jadi, mesikipun dirinya dihukum mati, melainkan selagi uang dan hartanya utuh, jadi itu tak akan menjadi problem baginya. Oleh sebab itu, selagi tak ada hukuman tegas untuk kekayaan yang dimiliki, perilaku koruptif akan semakin tumbuh dan susah diberantas ataupun dicegah dengan tutorial apapun. Miskinkan perilaku koruptif, jadi dirinya akan takut, dan korupsi pun bisa turun drastis.

Bagi perilaku koruptif tindakan mereka merupakan benar dan tak merasa bersalah, jadi mesikipun sempat dihukum bukan berarti mereka akan berhenti untuk melakukan korupsi. Mereka tetap akan melakukannya jikalau ada peluang untuk dilakukan dengan cara rahasia. Di samping itu, mereka juga mempunyai seribu satu nalar untuk mengelabui sistem dan pengamatan yang ada. Jadi, selagi sistem, tata kelola, dan pengamatan tak ditingkatkan kualitasnya dengan cara terus-menerus, jadi perilaku koruptif akan rutin sanggup melampaui performa yang dimiliki oleh sistem dan pengamatan tersebut. Siapapun boleh dipercaya dan kepercayaan merupakan sesuatu yang paling penting.

Persoalannya, bila kepercayaan yang diberikan tak dibekali dengan sistem, tata kelola yang terbaik, kepemimpinan yang tegas dan berani, dan pengamatan yang jujur dan bertanggung jawab. Maka, kepercayaan itu mudah termakan untuk mempunyai perilaku koruptif. Rasa cinta yang berlebihan terhadap sesuatu, apakah itu barang ataupun orang, bisa menjadi jalan untuk terciptanya perilaku koruptif. Sebagai contoh: si A sangat mencintai suatu merek mobil, telah lama dirinya terobsesi untuk mempunyai kendaraan beroda empat tersebut, dan kini dirinya mempunyai kekuasaan untuk memperoleh uang sebanyak mungkin dengan cara ilegal. Karena cinta telah mengalahkan integritas dan keimanannya, jadi dirinya akan mencari tutorial paling rahasia, untuk memperoleh uang ilegal sebanyak mungkin supaya bisa mempunyai semua yang dirinya cintai.

Cinta yang berlebihan berpotensi menciptakan perilaku koruptif. Ketika integritas tak menyentuh hati nurani; ketika tak percaya bahwa jiwa yang kaya integritas di dalam rasa syukur sanggup mendatangkan keberlimpahan; ketika tak sadar alias tak yakin bahwa Tuhan menonton segalanya; ketika tak percaya adanya hukum sebab-akibat, hukum konsekuensi; ketika tak percaya pada hukum karma. Maka, hati nurani akan kehilangan performa untuk menemukan kebenaran sejati. Dan dikala itu, perilaku koruptif akan hadir dan menghancurkan integritas diri. Bagi perilaku koruptif, tertangkap dan dihukum hanyalah suatu musibah.

Walaupun telah tertangkap dan dihukum berkali-kali, selagi dirinya tak mempunyai integritas, perilaku koruptifnya tak akan sempat sembuh, jadi manipulasi dan kebohongan tetap menjadi perilaku sejatinya. Integritas merupakan suatu nilai yang menerangkan mengenai sifat dan perilaku seseorang yang jujur dan sangat kompeten dibidangnya. Artinya, dirinya berkualitas dan bisa diandalkan untuk menjalankan suatu pekerjaan dengan jujur, bertanggung jawab, etis, berkualitas, berkinerja tinggi, dan susah untuk menggantikannya. Seseorang yang mempunyai integritas yang tinggi lahir dari kekuatan moralitas dan spiritualitas yang sangat tinggi. Seseorang yang mempunyai integritas takut terhadap hukum Tuhan, jadi dirinya menjadi pribadi yang bersungguh-sungguh menjalankan mandat dengan kompetensi dan nilai terbaik, tanpa mengambil apapun untuk keuntungan pribadi, apalagi untuk memperkaya diri sendiri ataupun keluarga. Perilaku koruptif merupakan akar untuk terciptanya adat korupsi. Kalau telah menjadi budaya, jadi tak bisa lagi dipakai konsep pencegahan ataupun pemberantasan, wajib dipakai konsep transformasi ataupun revolusi mental.

Revolusi mental wajib diikuti dengan sistem baru yang mengarahkan semua perilaku terhadap disiplin untuk taat terhadap sistem anti perilaku koruptif. Bila sistem sanggup memaksa mental dan perilaku untuk menghindari perilaku koruptif, jadi dengan cara perlahan-lahan, perilaku koruptif akan bermetamorfosis perilaku yang jujur dan penuh tanggung jawab. Dan, disinilah akan lahir adat tanpa korupsi, dimana semua orang akan nasib dari kerja kerasnya yang halal. Sistem yang baik dan kuat sanggup mengelola wilayah resiko yang berpotensi dikendalikan oleh perilaku koruptif. Jadi, wajib dengan tegas memetakan wilayah potensi korupsi, lalu wilayah yang dianggap sangat beresiko tersebut diperkuat pengawasannya, dan ditingkatkan revolusi mentalnya dengan intensitas yang lebih tinggi, dengan cara terus-menerus, berulang-ulang, hingga perubahan itu terjadi. Perilaku koruptif semacam penyakit menular yang sangat mudah ditularkan dari satu orang ke orang lain. Dia semacam kisah vampire yang bila menggigit pribadi menjadikan orang sebagai vampire, lalu bisa nasib kekal di dalam kegelapan dengan kekuatan dahasyatnya, dan hanya terperinci alias sinar matahari yang ditakuti. Sebab, sinar terperinci bisa membakar dan memusnahkan vampire.

Demikian juga dengan perilaku koruptif, sekali seseorang menikmati alias mempunyai kekuatan lebih dari yang akan terjadi korupsinya, jadi dirinya akan menjadi contoh dan teladan yang mengajak ketertarikan orang lain untuk melakukan faktor yang sama semacam yang dirinya lakukan. Ketika perilaku koruptif telah sangat kuat dengan kekuatan uangnya yang sanggup membeli dan membayar apapun untuk membuatnya menang, jadi realitas ini akan menjadi contoh bagi siapapun untuk mempunyai perilaku koruptif. Persepsi orang akan berkata daripada jujur nasib miskin, lebih baik korupsi, meski tertangkap, anak-isteri tetap bisa nasib kaya raya. Jadi, dengan cara normatif bisa saja orang berkata tak pada korupsi, melainkan dengan cara perilaku dirinya sangat koruptif.

No comments:

Post a Comment