Tuesday, 15 March 2016

Catatan Seorang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Catatan Seorang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa - Ketika saya hendak memasuki sekolah tiba-tiba langkah saya terhenti dikala menonton salah satu murid saya yang sedang menangis. Ibunya pun lantas meminta tolong saya untuk membujuk anak itu supaya masuk sekolah dan mengikuti kegiatan belajar mengajar. Kebetulan saya ialah guru pendamping kelas di kelas anak itu. memperlukan waktu agak lama untuk membujuk anak tersebut, maklum saja dirinya baru seminggu menginjak kelas satu yang notabene tetap memperlukan dampingan dari orangtua dan anak itu tetap merasa tidak lebih percaya diri. Sekitar 20 menitan saya membujuk anak tersebut dan akhirnya ia mau masuk sekolah meskipun dalam kondisi berair mata. Setibanya di depan kelas ia kembali menangis dengan argumen takut masuk kelas. Saya pun penasaran. Saya ajak duduk anak itu dan saya alihkan perhatian dengan mengajaknya bermain game yang ada di dalam hand phone saya. Sekitar 5 menit dirinya menikmati sekali permainan itu. seusai dirasa lumayan stabil emosinya saya ajak dirinya berbicara.

Saya ajukan pertanyaaan, “ kenapa kamu tidak mau masuk kelas?”. Anak itu pun menjawab hanya dengan satu kata, yaitu takut. Maklum saja, faktor ini lazim terjadi pada anak yang baru masuk sekolah dasar. Ia tetap memperlukan waktu untuk menyesuaikan diri dalam masa peralihan dari tingkat TK yang dipenuhi dengan "bermain" menuju sekolah dasar yang mulai dikenalkan belajar "serius". Saya pun berusaha menyakinkan anak itu bahwa pembelajaran kali ini tidak akan membuatnya kesulitan, kali ini kita akan belajar sambil bermain. Saya mencoba membujuknya supaya dirinya merasa enjoy ketika berada di dalam kelas. Dari potongan cerita di atas kita butuh merenung, memahami, dan menghayati bagaimana kita sebagai seorang pendidik wajib memahami pengertian sebuah pendidikan. Pendidik di sini selain terbatas pada guru saja melainkan juga pada orangtua sebagai pendidik di keluarga. Sebisa mungkin menciptakan suasana pembelajaran yang enjoy terhadap anak. Ketika di sekolah, jadi yang berkewajiban menciptakan suasana tersebut ialah guru.

Tetapi, ketika anak berada di rumah peran dan orangtua dan keluargalah yang bisa membikin suasana rumah menjadi hangat, penuh kasih sayang dan perhatian jadi anak merasa dilindungi, diperhatikan dengan maksimal. Ibnu Khaldun memaparkan dalam mukadimahnya bahwa barang siapa yang tidak terdidik oleh orang tuanya, jadi akan dididik oleh zaman. Maksud dari uraian di atas ialah orangtua (baik orangtua kandung alias guru sebagai orangtua di sekolah) memunyai andil yang besar terhadap terbentuknya karakter anak. Anak berpendapat bahwa orangtuanyalah yang akan menjadi ilham baginya kelak. Sehingga orangtua dituntut untuk menunjukkan suri teladan yang baik terhadap anaknya apabila ingin anaknya nanti menjadi langsung yang tangguh, memunyai daya juang yang tinggi, dan kesalehan yang imani. Pendidikan selain ialah proses belajar membimbing yang dibatasi oleh empat dinding, melainkan pendidikan ialah sebuah proses, di mana insan dengan cara sadar menangkap, menyerap, dan menghayati peristiwa-peristiwa alam sepanjang zaman.

Pembelajaran bisa kita perbuat di mana saja. Tidak wajib terbelit dengan kelas. Seorang pendidik patutlah merencanakan pembelajaran inovatif, kreatif, manjur untuk menimbulkan pemikiran-pemikiran yang menarik pada anak didiknya. Guru wajib bisa melejitkan potensi yang dimiliki oleh anak. Sekiranya anak yang ditangani tidak lebih berprestasi dalam faktor akademik, jadi guru wajib jelih menonton potensi lain yang miliki anak jadi bisa melejitkannya menjadi potensi yang luar biasa. Kelas hanyalah sebuah fasilitas penunjang pembelajaran, melainkan bukan berarti proses belajar hanya terkungkung pada ruangan kelas saja. Guru bisa memanfaatkan ruang lain untuk proses belajar mirip halnya lapangan sekolah, halaman sekolah, koridor, atapun kamar mandi bisa kita jadikan daerah pembelajaran bagi guru yang memunyai kreatifitas. Semisal ketika guru menerangkan lingkungan sehat. Guru bisa mengangkat murid ke kamar mandi dan menunjukkan bagaimana lingkungan yang sehat. Sehingga anak bisa belajar dengan cara kontekstual. Guru memberi stimulus terhadap siswa bagaimana perbuatan kita apabila menonton lingkungan kurang lebih kita tidak sehat?.

Bagaimana tutorial penanganan yang wajib dilakukan? Dari situlah akan timbul tanggapan dari anak didik kita jadi melatih jiwa kritis dan peduli terhadap lingkungan sekitar. Pembelajaran di kelas terbukti butuh akan melainkan jangan mematikan ide kreatifitas Anda sebagai pendidik untuk menunjukkan pengalaman belajar yang inovatif pada murid Anda. Sebagai pemimpin di kelasnya, guru seyogyanya berani keluar dari sekat-sekat yang selagi ini belum tidak sedikit dilakukan oleh guru-guru kita. Kebanyakan dari para guru memusatkan pembelajarannya di kelas jadi anak tidak lebih memunyai pengalaman belajar yang bermakna.

Guru wajib memunyai rencana-rencana yang inovatif untuk menimbulkan sinergi yang kuat pada muridnya. Ketika guru terbatas oleh waktu dan kendala yang tidak memungkinkan untuk melaksanakan pembelajaran di luar, jadi guru bisa memberi tau info yang ada di luar ke dalam kelas dengan tutorial yang penuh makna. Setelah itu, guru mendesain kegiatan yang tidak terbatas jadi di rumah maupun lingkungan kurang lebih rumah murid sanggup mentransformasikan ilmu ke dalam kehidupannya. Di sinilah kualitas pendidikan yang sebetulnya yaitu merubah perilaku insan yang semula tidak tahu menjadi tahu. Pendidikan pun selain terbatas pada nilai-nilai akademik saja yang belum pasti bisa diandalkan ketika anak terjun ke dalam masyarakat.


Maka, pentinglah perjuangan pembelajaran yang penuh pengalaman yang bermakna terhadap anak supaya sanggup mengaktualisasikan dirinya. Di sinilah perlunya guru supaya segera berhijrah, dalam artian berhijrah dari pola belajar dengan cara sentral (di kelas) menjadi pola belajar tidak terbatas (tidak hanya di kelas saja). Gaya belajar yang monoton membikin anak cepat bosan dan tidak lebih bergairah ketika menonton kita memasuki kelasnya. Anak akan merasa apatis jadi tujuan pembelajaran tidak tercapai. Guru wajib keluar dari kotak yang menghambat muridnya untuk mengeluarkan semua kemampuannya. Perencanaan pembelajaran wajib didesain dengan baik, memperhatikan kondisi siswa dan materi ajar. Apabila dalam prosesnya guru bisa melebihi apa yang telah direncanakan kenapa tidak dilakukan saja.

Perencanaan pembelajaran hanyalah salah satu administrasi kependidikan saja, manakala kita bisa berbuat lebih dari itu, jadi yang akan terjadi yang kita inginkan pun akan mudah terealisasi. Guru yang mengerti pengertian dari hijrah, akan rutin menyiapkan agenda yang menarik untuk anak didiknya. Ia akan rutin memperbarui ilmunya maupun taktik pembelajaran sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan zaman jadi murid siap dalam menghadapi lingkungan global yang sangat cepat sekali perubahannya. Kecintaan pada profesi sebagai guru akan membawanya pada sikap evaluasi diri yang tiada henti jadi mendorong terjadinya sebuah proses belajar yang terbarukan.

Profesinya akan dijadikannya sebagai ladang kebaikan yang semakin mengalir sebab karyanya (proses pembelajaran) membuahkan yang akan terjadi yang bermakna terhadap muridnya. ia sebagai motivator ulung untuk anak didiknya di sekolah jadi kedatangannya akan rutin dirindukan dan apabila ia tidak hadir akan menimbulkan penyesalan yang mendalam pada diri anak didiknya. Alangkah hebatnya negeri apabila mempunyai sosok guru mirip ini. Ia sanggup mengorkestrasikan kelasnya menjadi kelas yang penuh ilham dengan daya juang tinggi. Kelas hanyalah batasan geografis sekolah, jadi jangan menjadikan guru mati ide dalam menerapkan proses pembelajaran yang inovatif, kreatif, dan efektif.
  
Oleh : M. Arif

No comments:

Post a Comment