Catatan Seorang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa - Ketika saya hendak
memasuki sekolah tiba-tiba langkah saya terhenti dikala menonton salah satu
murid saya yang sedang menangis. Ibunya pun lantas meminta tolong saya untuk
membujuk anak itu supaya masuk sekolah dan mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Kebetulan saya ialah guru pendamping kelas di kelas anak itu. memperlukan waktu
agak lama untuk membujuk anak tersebut, maklum saja dirinya baru seminggu
menginjak kelas satu yang notabene tetap memperlukan dampingan dari orangtua
dan anak itu tetap merasa tidak lebih percaya diri. Sekitar 20 menitan saya
membujuk anak tersebut dan akhirnya ia mau masuk sekolah meskipun dalam kondisi
berair mata. Setibanya di depan kelas ia kembali menangis dengan argumen takut
masuk kelas. Saya pun penasaran. Saya ajak duduk anak itu dan saya alihkan
perhatian dengan mengajaknya bermain game yang ada di dalam hand phone saya.
Sekitar 5 menit dirinya menikmati sekali permainan itu. seusai dirasa lumayan
stabil emosinya saya ajak dirinya berbicara.
Saya ajukan pertanyaaan,
“ kenapa kamu tidak mau masuk kelas?”. Anak itu pun menjawab hanya dengan satu
kata, yaitu takut. Maklum saja, faktor ini lazim terjadi pada anak yang baru
masuk sekolah dasar. Ia tetap memperlukan waktu untuk menyesuaikan diri dalam
masa peralihan dari tingkat TK yang dipenuhi dengan "bermain" menuju
sekolah dasar yang mulai dikenalkan belajar "serius". Saya pun
berusaha menyakinkan anak itu bahwa pembelajaran kali ini tidak akan membuatnya
kesulitan, kali ini kita akan belajar sambil bermain. Saya mencoba membujuknya
supaya dirinya merasa enjoy ketika berada di dalam kelas. Dari potongan cerita
di atas kita butuh merenung, memahami, dan menghayati bagaimana kita sebagai
seorang pendidik wajib memahami pengertian sebuah pendidikan. Pendidik di sini
selain terbatas pada guru saja melainkan juga pada orangtua sebagai pendidik di
keluarga. Sebisa mungkin menciptakan suasana pembelajaran yang enjoy terhadap
anak. Ketika di sekolah, jadi yang berkewajiban menciptakan suasana tersebut
ialah guru.
Tetapi, ketika anak berada
di rumah peran dan orangtua dan keluargalah yang bisa membikin suasana rumah
menjadi hangat, penuh kasih sayang dan perhatian jadi anak merasa dilindungi,
diperhatikan dengan maksimal. Ibnu Khaldun memaparkan dalam mukadimahnya bahwa
barang siapa yang tidak terdidik oleh orang tuanya, jadi akan dididik oleh
zaman. Maksud dari uraian di atas ialah orangtua (baik orangtua kandung alias
guru sebagai orangtua di sekolah) memunyai andil yang besar terhadap
terbentuknya karakter anak. Anak berpendapat bahwa orangtuanyalah yang akan
menjadi ilham baginya kelak. Sehingga orangtua dituntut untuk menunjukkan suri
teladan yang baik terhadap anaknya apabila ingin anaknya nanti menjadi langsung
yang tangguh, memunyai daya juang yang tinggi, dan kesalehan yang imani. Pendidikan
selain ialah proses belajar membimbing yang dibatasi oleh empat dinding,
melainkan pendidikan ialah sebuah proses, di mana insan dengan cara sadar
menangkap, menyerap, dan menghayati peristiwa-peristiwa alam sepanjang zaman.
Pembelajaran bisa kita
perbuat di mana saja. Tidak wajib terbelit dengan kelas. Seorang pendidik
patutlah merencanakan pembelajaran inovatif, kreatif, manjur untuk menimbulkan
pemikiran-pemikiran yang menarik pada anak didiknya. Guru wajib bisa melejitkan
potensi yang dimiliki oleh anak. Sekiranya anak yang ditangani tidak lebih
berprestasi dalam faktor akademik, jadi guru wajib jelih menonton potensi lain
yang miliki anak jadi bisa melejitkannya menjadi potensi yang luar biasa. Kelas
hanyalah sebuah fasilitas penunjang pembelajaran, melainkan bukan berarti
proses belajar hanya terkungkung pada ruangan kelas saja. Guru bisa
memanfaatkan ruang lain untuk proses belajar mirip halnya lapangan sekolah,
halaman sekolah, koridor, atapun kamar mandi bisa kita jadikan daerah pembelajaran
bagi guru yang memunyai kreatifitas. Semisal ketika guru menerangkan lingkungan
sehat. Guru bisa mengangkat murid ke kamar mandi dan menunjukkan bagaimana
lingkungan yang sehat. Sehingga anak bisa belajar dengan cara kontekstual. Guru
memberi stimulus terhadap siswa bagaimana perbuatan kita apabila menonton
lingkungan kurang lebih kita tidak sehat?.
Bagaimana tutorial
penanganan yang wajib dilakukan? Dari situlah akan timbul tanggapan dari anak
didik kita jadi melatih jiwa kritis dan peduli terhadap lingkungan sekitar.
Pembelajaran di kelas terbukti butuh akan melainkan jangan mematikan ide
kreatifitas Anda sebagai pendidik untuk menunjukkan pengalaman belajar yang
inovatif pada murid Anda. Sebagai pemimpin di kelasnya, guru seyogyanya berani
keluar dari sekat-sekat yang selagi ini belum tidak sedikit dilakukan oleh
guru-guru kita. Kebanyakan dari para guru memusatkan pembelajarannya di kelas
jadi anak tidak lebih memunyai pengalaman belajar yang bermakna.
Guru wajib memunyai
rencana-rencana yang inovatif untuk menimbulkan sinergi yang kuat pada
muridnya. Ketika guru terbatas oleh waktu dan kendala yang tidak memungkinkan
untuk melaksanakan pembelajaran di luar, jadi guru bisa memberi tau info yang
ada di luar ke dalam kelas dengan tutorial yang penuh makna. Setelah itu, guru
mendesain kegiatan yang tidak terbatas jadi di rumah maupun lingkungan kurang
lebih rumah murid sanggup mentransformasikan ilmu ke dalam kehidupannya. Di
sinilah kualitas pendidikan yang sebetulnya yaitu merubah perilaku insan yang
semula tidak tahu menjadi tahu. Pendidikan pun selain terbatas pada nilai-nilai
akademik saja yang belum pasti bisa diandalkan ketika anak terjun ke dalam
masyarakat.
Maka, pentinglah
perjuangan pembelajaran yang penuh pengalaman yang bermakna terhadap anak supaya
sanggup mengaktualisasikan dirinya. Di sinilah perlunya guru supaya segera
berhijrah, dalam artian berhijrah dari pola belajar dengan cara sentral (di
kelas) menjadi pola belajar tidak terbatas (tidak hanya di kelas saja). Gaya
belajar yang monoton membikin anak cepat bosan dan tidak lebih bergairah ketika
menonton kita memasuki kelasnya. Anak akan merasa apatis jadi tujuan
pembelajaran tidak tercapai. Guru wajib keluar dari kotak yang menghambat
muridnya untuk mengeluarkan semua kemampuannya. Perencanaan pembelajaran wajib
didesain dengan baik, memperhatikan kondisi siswa dan materi ajar. Apabila
dalam prosesnya guru bisa melebihi apa yang telah direncanakan kenapa tidak
dilakukan saja.
Perencanaan pembelajaran
hanyalah salah satu administrasi kependidikan saja, manakala kita bisa berbuat
lebih dari itu, jadi yang akan terjadi yang kita inginkan pun akan mudah
terealisasi. Guru yang mengerti pengertian dari hijrah, akan rutin menyiapkan
agenda yang menarik untuk anak didiknya. Ia akan rutin memperbarui ilmunya
maupun taktik pembelajaran sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan zaman jadi
murid siap dalam menghadapi lingkungan global yang sangat cepat sekali
perubahannya. Kecintaan pada profesi sebagai guru akan membawanya pada sikap
evaluasi diri yang tiada henti jadi mendorong terjadinya sebuah proses belajar
yang terbarukan.
Profesinya akan
dijadikannya sebagai ladang kebaikan yang semakin mengalir sebab karyanya
(proses pembelajaran) membuahkan yang akan terjadi yang bermakna terhadap
muridnya. ia sebagai motivator ulung untuk anak didiknya di sekolah jadi
kedatangannya akan rutin dirindukan dan apabila ia tidak hadir akan menimbulkan
penyesalan yang mendalam pada diri anak didiknya. Alangkah hebatnya negeri
apabila mempunyai sosok guru mirip ini. Ia sanggup mengorkestrasikan kelasnya
menjadi kelas yang penuh ilham dengan daya juang tinggi. Kelas hanyalah batasan
geografis sekolah, jadi jangan menjadikan guru mati ide dalam menerapkan proses
pembelajaran yang inovatif, kreatif, dan efektif.
Oleh : M. Arif
No comments:
Post a Comment