Menghindari Perilaku Korupsi dengan Puasa - Saya yakin bahwa pelaku korupsi sesungguhnya telah mengenal bahwa apa yang dilakukannya itu merupakan salah. Mereka juga telah tahu bahwa korupsi itu merupakan akan berakibat menyengsarakan rakyat banyak. Lebih dari itu mereka juga mengenal bahwa resiko korupsi, apabila ketahuan, akan mengantarkannya ke pengadilan dan akhirnya akan dimasukkan ke penjara. Tidak sebatas itu, mereka juga tahu apabila mereka masuk penjara, jadi seluruh keluarga, yaitu isteri, anak, orang tua, saudara-saudaranya dan bahkan seluruh anak buah instansi di mana mereka bekerja, akan merasa malu dibuatnya. Sebab nama baik keluarga, institusi di mana mereka bekerja, nama baiknya akan jatuh, dan akibatnya kehilangan kepercayaan masyarakat.
Bukti mengenai itu semua tak susah dicari. Tidak sedikit instansi pemerintah, disorot dan menjadi bahan percakapan masyarakat luas, sebab berbagai oknum warganya terlibat permasalahan korupsi. Sekalipun yang ketangkap melakukan korupsi itu hanya berbagai orang saja, tetapi masyarakat akan berpendapat bahwa kebobrokan itu bukan sebatas orang-perorang pelaku korupsi, melainkan instansi itu telah dianggap tak terlalu dipercaya lagi. Akibatnya, kewibawaan institusi yang begitu susah membangunnya jatuh dengan cara mendadak, dan sangat susah membenahi kembali citra baiknya.
Beberapa ahli berkata bahwa korupsi dapat dilakukan oleh siapa saja. Siapapun yang mempunyai peluang dan kemauan, dapat melakukan tindakan tercela itu. Ada orang yang mau korupsi, sebab didorong oleh kebutuhan, akan tetapi apabila tak mempunyai kesempatan, tak akan dapat melakukannya. Demikian pula, seseorang mempunyai kesempatan, tetapi tak mau melakukannya, sebab yang bersangkutan mempunyai ketahanan langsung yang kokoh, jadi tak akan menjalankan, sekalipun peluang terbuka luas. Oleh sebab itu, jadi yang penting merupakan bagaimana menjadikan orang-orang yang berkesempatan korupsi sekalipun, mempunyai kepribadian yang kokoh itu.
Pelaku korupsi tak rutin orang yang berkekurangan. Bahkan sebaliknya, mereka itu merupakan orang-orang yang berkecukupan. Beberapa permasalahan korupsi yang terungkap, misalnya, berbagai anak buah DPR, DPRD, Jangsa, Wali Kota, Bupati, Gubernur, Pimpinan Bank dan seterusnya merupakan bukan tergolong orang miskin alias berkekurangan. Mereka itu justru tergolong orang-orang yang berkelehihan uang dan harta. Mereka melakukan kesalahan itu, sebab mungkin berpendapat bahwa apa yang dilakukan tak akan ketahuan. Mungkin dalam benak mereka bahwa tindakan yang tak senonoh itu dianggap sebagai sesuatu yang umum dilakukan oleh tak sedikit orang. Mereka mungkin berpendapat bahwa di mana-mana, orang melakukan faktor yang sama. Sekalipun mereka tahu bahwa tindakan itu merupakan salah, dosa, dan menyengsarakan, oleh sebab dilakukan oleh tak sedikit orang, jadi mereka tak ada beban melakukannya.
Terkait dengan judul dalam goresan pena ini, yakni puasa dan korupsi, apa relevan alias keterkaitan di antara keduanya. Puasa merupakan ibadah dalam rangka menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim, yang berfungsi memperoleh derajat taqwa. Semua orang juga tahu tujuan daripada ibadah puasa ini. Tetapi apakah semua orang yang berpuasa akan memperoleh derajad taqwa, pasti tidak. Dalam hadits nabi, Rasulullah sempat berkata bahwa sedemikian tak sedikit orang berpuasa, tetapi tak memperoleh apa-apa, kecuali lapar dan dahaga. Orang yang menjalankan puasa dalam kategori ini, sebatas hanya akan diketahui oleh keluarga, saudara dan tetangga dan teman-temannya, bahwasanya mereka berpuasa. Mereka tak makan dan minum dan tak melakukan semua faktor yang mengabolisi puasa, tetapi puasanya tak sukses membenahi pribadinya sampai menjadi kokoh. Di bulan puasa, umpama seseorang berpuasa tetapi tetap saja tetap berani menyelewengkan uang kantor milik negara, jadi puasanya tak akan memberi apa-apa pada dia kecuali lapar dan dahaga itu. Mereka puasa, tetapi puasanya tak sukses memperkukuh ketahanan pribadinya.
Ibadah puasa tak sebagaimana ibadah lainnya, semacam sholat, zakat, apalagi haji, pelaksanaannya diketahui orang. Ibadah puasa tak seluruhnya semacam itu. Pelaku ibadah ini yang mengenal sebenarnya, merupakan dia sendiri. Ibadah ini, masuk kategori ibadah yang sangat pribadi. Jika yang menjalankan bukan orang-orang yang beriman, jadi dapat jadi puasanya hanya sebatas seolah-olah, kepura-puraan, yakni pura-pura puasa. Karena itulah maka, puasa diserukan hanya terhadap orang-orang yang beriman. Bukan terhadap yang lain.
Puasa yang dilakukan oleh orang yang beriman dan diniatkan untuk meraih derajat taqwa, jadi orang yang menjalankan puasanya tak sebatas menghindar dari hal-hal yang mengabolisi puasa, lebih dari itu membarenginya dengan niat dan perjuangan sungguh-sungguh supaya mempunyai ketahanan langsung yang kuat. Selama menjalankan puasanya ia akan rutin merenungkan falsafah puasa, yaitu mencegah makan, minum, bekerjasama suami isteri di siang hari. Sekalipun peluang itu ada, ia tetap tak akan melakukan itu semua, sebab ia dalam kondisi berpusasa . Makanan dan minuman tersedia, halal dimakan dan sangat mungkin dinikmati, tetapi tak akan disentuh, sebab ia berniat dan bertekat berpuasa. Puasa artinya merupakan kemauan dan performa memimpin dia sendiri, untuk tak melakukan sesuatu apapun yang mengabolisi puasa. Dengan begitu puasa merupakan berlatih memimpin dia sendiri, untuk tak melakukan sesuatu dan sebaliknya, melakukan faktor yang terpuji dan diperintah oleh Allah.
Ternyata terbukti memimpin diri sendiri lebih susah daripada memimpin orang lain. Pimpinan eksekutif, legislatif maupun yudikatif, sebab kekuasaan dan kewenangannya, sukses dapat memimpin para bawahan, anak buah alias stafnya. Akan tetapi, nyatanya sekuat apapun seseorang belum pasti sukses memimpin dia sendiri. Para pelaku korupsi yang dapat jadi merupakan para pejabat tinggi, berpendidikan dan berpengalaman memimpin staf bertahun-tahun dan berhasil, melainkan nyatanya belum sukses memimpin dia sendiri. Mereka sebagaimana dikemukakan di muka, tahu dan bahkan faham bahwasanya kurupsi merupakan tindakan terlarang, hina, dan bahkan melaggar sumpah jabatan, melainkan tetap mereka lakukan. Tatkala melakukan tindakan tercela dan kurang baik itu, sesungguhnya mereka sedang tak sanggup mengendalikan dan memimpin dia sendiri. Seseorang sukses memimpin keluarga, organisasi dan bahkan juga instansi di mana mereka bekerja, tetapi nyatanya belum pasti sukses mempunyai ketahan langsung yang kokoh. Puasa merupakan Ibadah yang wajib dijalankan oleh orang-orang yang beriman, supaya mempunyai kekuatan dan ketahanan langsung yang tangguh ini, jadi tak saja sukses memimpin orang lain, tetapi juga memimpin dia sendiri, ----- yang ternyata, lebih berat. Orang yang sukses memimpin diri sendiri, jadi sanggup mengendalikan hawa nafsu, menjauhkan diri dari tindak tercela, tergolong korupsi, dan sebaliknya hatinya bersih, rutin cenderung pada hal-hal yang baik dan terpuji, jadi itulah sesungguhnya, yang disebut sebagai orang yang meraih derajad taqwa. Ialah derajad yang ingin diraih melewati Ibadan puasa ini.

No comments:
Post a Comment