Konsep Agama Islam dalam Mengatasi Masalah Sosial - Mendengar tawaran ini, bisa jadi, orang akan segera bersikap curiga serta skeptis. Pandangan ini akan melahirkan pertanyaan, bagaimana Islam memperlihatkan tawaran strategis konsep Islam menyelesaikan problem sosial, sementara umat Islam sendiri selagi ini menjadi tahap dari masalah bangsa. Mereka yang tertinggal, miskin serta lemah merupakan justru tidak sedikit umat Islam. Bukankah apabila benar Islam mempunyai konsep solusi terbaik, umat Islam tidak tertinggal selagi ini. Logika atas dasar kenyataan itu, terasa benar. Akan tetapi apabila akal tersebut dijernihkan dengan berkata bahwa jumlah penduduk Indonesia berjumlah 220 juta jiwa, sedangkan yang miskin menurut info tidak tidak lebih dari 40 juta. Padahal mayoritas, alias kira-kira lebih dari 90 % beragama Islam, jadi pantas mereka yang termasuk tertinggal, berpendidikan rendah serta miskin itu merupakan beragama Islam.
Sesuatu faktor yang aneh terjadi di Indonesia, dalam alam demokrasi sepantasnya, penduduk lebih banyak didominasi mendominasi pengambilan keputusan saat ingin mensejahterakan masyarakatnya. Akan tetapi sementara ini kenyataan tidak berkata semacam itu. Indonesia yang lebih banyak didominasi beragama Islam, tetapi sebatas memperjuangkan perundang-undangan yang nyata-nyata dibutuhkan bagi umat Islam tetap bukan main sulitnya. Memperjuangkan hal-hal yang bernuansa Islam, semacam umpama pemberian mata pelajaran agama Islam di sekolah dengan cara cukup, pengelolaan zakat, bank yang bernuansa Islam, keharusan berpakaian Islami serta sejenisnya tetap wajib lewat perdebatan keras, serta acapkali cita-cita itu kandas. Sebaliknya, apabila umat Islam menghendaki supaya dibangun perundang-undangan melarang faktor yang bertentangan dengan aliran Islam, semacam pornografi pornoaksi, perjudian, larangan sirkulasi minuman keras, perzinaan serta sejenisnya mengalami kesulitan yang luar biasa. Aneh serta ajaib, dalam pergurumulan penyusunan undang-undang itu, umat Islam rutin terbelah, menjadi antara yang pro serta mereka yang kontra. Mereka yang pro terhadap rumusan undang-undang yang sesuai dengan nilai-nilai Islam wajib berhadapan dengan wakil-wakil yang juga beragama Islam yang menentangnya. Mereka berdalih bahwa bangsa Indonesia bukan negara agama, jadi tidak selayaknya dalam menyusun undang-undang memberi nuansa keagamaan.
Penolakan terhadap masuknya nilai-nilai Islam oleh wakil-wakil rakyat yang beragama Islam gampang dipahami apabila diketahui kadar pengetahuan agama para tokoh tersebut tetap rendah. Akan tetapi menjadi susah dipahami sebab ternyata, wakil rakyat yang menolak konsep yang bernuansa Islam justru mereka berasal dari partai politik yang berlabelkan Islam. Dengan berdalih bahwa Indonesia merupakan Negara Pancasila, plural, demokratis maka, sekali lagi, mereka berpandangan tidak selayaknya memperhatikan nilai-nilai yang berasal dari aliran agama. Islam sekalipun lebih banyak didominasi di Indonesia ini sesungguhnya tetap belum berdaya. Para tokoh Islam yang berada di beberapa partai politik, belum mempunyai jiwa untuk memperjuangkan Islam. Berpolitik serta beragama tersedia kesenjangan yang sedemikian jauh. Padahal, tidak sedikit orang Islam mencita-citakan supaya para tokoh Islam yang bergerak di dunia politik memperjuangkan nilai-nilai yang mereka percayai serta ikuti, yaitu Islam. Berpolitik bagi sebagian tokoh yang sekalipun berlabel Islam tampaknya dipandang sebatas sebagai posisi untuk memperoleh kursi elite, berprestise serta sekaligus dijadikan sumber rizki.
Memang ada beberapa partai politik yang berlabel Islam. Mereka semula ingin memperjuangkan nilai-nilai Islam. Jumlahnya banyak, tetapi masing-masing berkapasitas kecil. Sekalipun Islam yang dianut mengajarkan mengenai pentingnya bersatu, tetapi aliran itu tidak sempat dipegangi. Mereka lebih menyukai terpecah belah sampai tidak melahirkan kekuatan sama sekali. Lebih parah lagi, partai politik yang berlabel Islam juga rentan konflik serta sangat kaya masalah. Sehingga, jangankan memperjuangkan kualitas Islam yang mengagumkan di tengah negeri yang plural semacam ini, sebatas menyelesaikan masalah internal organisasi mereka saja tidak kunjung usai. Mereka tidak malu berebut posisi, konflik terbuka, berebut kepemimpinan serta seterusnya. Lalu, hampir tidak ada bedanya partai politik yang berlabel Islam alias bukan berlabel agama. Persoalan yang mereka hadapi sama, kaya masalah, konflik serta bahkan penyimpangan moral semacam korupsi, penyimpangan sex, terjadi di mana-mana.
Belajar dari fenomena semacam itu, politik Islam sesungguhnya mundur jauh dari era awal masa kemerdekaan dulu. Tokoh-tokoh Islam dahulu menarik memperjuangkan Islam. Beberapa di antara tokoh itu misalnya, M. Natsir, KH Wahid Hasyim, KH. Agus Salim, Kasman, Natsir serta lain-lain. Mereka sangat terang serta gigih memperjuangkan nilai-nilai Islam supaya dianut oleh bangsa ini dalams membangun masyrakat yang adil, jujur serta sejahtera.
Sebagaimana disebutkan di muka, suasana kecurigaan serta skiptis tersebut sesungguhnya tidak terlalu bisa disalahkan. Memang begitulah keadaannya. Namun, apabila kita mau mengkaji dengan cara kritis serta membandingkan antara konsep Islam yang dibawa oleh Rasulullah ----Al Qur'an serta hadits, dengan realita keadanaan umat Islam, terbukti terkesan jarak yang sedemikian jauh. Umat Islam tidak sedikit baru meringkus aliran Islam dari aspek-aspek tertentu, terutama sebatas terkait sudut yang berafiliasi dengan spiritual. Lihat saja misalnya, umat Islam menjadi sangat fenomenal tatkala memasuki hari jum'at berangkat ke masjid bersama-sama, bulan ramadhan terasa timbul kesemarakan yang luar biasa, serta begitu juga tatkala datang ekspresi dominan haji. Saat-saat itu jagad rasanya penuh bau ke Islaman. Tetapi seusai itu, kondisi kembali normal ke semula, yakni suasana ke Islaman tidak terlalu mudah dirasakan.
Islam sesungguhnya tidak sebatas memperlihatkan pedoman bagaimana sholat lima waktu dijalankan, bulan puasa disemarakkan, hari-hari besar Islam diperingati serta haji ditunaikan, melainkan Islam yang berasal al Qur'an serta hadits merupakan pedoman nasib dengan cara menyeluruh serta utuh. Islam mengajarkan, bagaimana umatnya membangun niat untuk rutin meningkatkan ilmu pengetahuan, beramal sholeh, memperkukuh keimanan, berakhlaq mulia, bersedekah, bertolong menolong, membangun kedamaian dengan siapa saja. Sebagai seorang muslim mereka diajarkan dalam bekerja apapun wajib dimulai dengan mengucap basmallah serta rutin mengakhirinya dengan hamdallah. Selain itu wajib menghasilkan suasana kegiatan yang khusnul khotimah, alias rutin mengakhiri pekerjaannya dengan baik. Artinya pekerjaan itu wajib memberi fungsi serta tidak seorang pun boleh dirugikan, sebab konsep khusnul khotimah itu.
Selanjutnya, apabila pekerjaan wajib dimulai dengan menyebut sesak napas Allah yang Rahman serta Rahim serta seusai itu wajib diakhiri dengan mengembalikan semua apa yang dilakukan terhadap Allah, melewati ucapan hamdallah serta wajib meraih khusnul khotimah, jadi dalam melaksanakan amal alias pekerjaan itu wajib diwarnai oleh suasana terpuji semacam amanah, ikhlas, fathonah, sabar, istiqomah serta tawakkal. Orang Islam dalam menunaikan tugas hidupnya sehari-hari, menurut tuntutnan Islam wajib diwarnai oleh nilai-nilai mulia itu.
Coba dengan cara pendek kita perhatikan alangkah agungnya nilai-nilai itu apabila dijalankan dalam kehidupan nyata sehari-hari, baik pribadi, keluarga ataupun bermasyarakat. Seorang yang memegang konsep amanah, ia tidak akan bergeser niatnya serta tindakannya, keluar dari frame yang seharusnya dilakukan. Seorang yang memegang mandat dirinya tidak akan berani bebohong, merugikan orang lain serta semata-mata menguntungkan diri sendiri. Dengan begitu dirinya tidak akan korupsi, berkolosi serta nepotisme, sebab ketakutannya dipandang tidak memegang amanah. Orang ikhlas, pelakunya rutin memperuntukkan apa yang ia perbuat hanyalah untuk Allah semata. Orang tulus yang sesungguhnya tidak akan berbohong serta merugikan orang lain. Ia akan memperlihatkan yang paling baik melewati amalnya, sebab ke ikhlasannya itu. Fathonah artinya cerdas, seseorang disebut bersifat fathonah manakala apa yang ia perbuat didasarkan pada ilmu serta profesinya. Rasulullah mempunyai sifat ini, yang pasti wajib dimiliki oleh seluruh umatnya. Sabar, istiqomah serta tawakal, semuanya merupakan suasana batin yang menggambarkan adanya kesehatan jiwa bagi pemiliknya. Sabar artinya tahan uji dalam menunaikan pekerjaannya, istiqomah, artinya tidak segera putus asa, ia rutin berketetapan hati untuk menyelesaikan tugasnya dengan cara tepat serta tawakkal, artinya rutin menyandarkan diri pada kekuasaan Allah swt.
Umat Islam dalam melakukan kegiatan apa saja, baik yang terkait dengan ibadah, menjalankan komunikasi dengan Allah, maupun komunikasi dengan makhluk Allah dijiwai oleh sifat-sifat itu, jadi tidak akan mungkin terjadi penyelewengan yang hanya akan merugikan orang lain. Akan tetapi, terbukti butuh diakui, nilai-nilai mulia ini belum sepenuhnya dijadikan pegangan oleh umat Islam. Masih terasakan sekali, aliran Islam yang sedemikian mengagumkan belum dijalankan dengan cara utuh oleh tidak sedikit umat Islam, tidak terkecuali di sana-sini oleh pemimpinnya sekalipun. Inilah problem besar bagi umat Islam, serta karenanya kelezatan Islam sesungguhnya belum tidak sedikit dirasakan oleh umatnya. Yang terjadi sebaliknya, tidak sedikit justru timbul perasaan terbebani dengan ke Islamannya itu.
Jika suasana batin pada setiap muslim bisa sukses diwarnai oleh nilai-nilai Islam sebagaimana dikemukakan di muka, yaitu rutin menyebarkan kasih sayang, rasa syukur yang mendalam, amanah, ikhlas, sabar, istiqomah serta tawakkal, jadi hasilnya akan terjadi suasana kedamaian, saling menghargai, selamat serta saling menyelamatkan terhadap siapapun, tolong menolong, sanggup membagi kasih sayang terhadap siapapun serta akhirnya melahirkan kedamaian yang sejati. Umat Islam akan menjadi khoiro ummah, yaitu insan yang terbaik, yang bertugas mengundang berbuat baik serta menghindar dari segala tindakan merusak serta merugikan bagi siapapun. Semua pekerjaan akan ditunaikan dengan penuh khikmah, ialah aliran Islam yang sangat mulia, tidak akan sedikitpun menyakiti orang, tetapi hasilnya maksimal. Umat Islam seharusnya menjadi muballigh, yaitu penyampai mengenai keimanan, kebenaran, keadilan, kejujuran serta keadilan. Dengan demikian Islam menjadikan kehidupan ini lebih damai, selamat serta bahagia.
Kemenangan Islam, bukan semata-mata bertambahnya orang yang bersedia menyimak dua kalimah syahadah, melainkan lebih dari itu, yaitu sejumlah orang bego sukses berkembang menjadi pintar, orang miskin berkembang menjadi kaya, orang malas menjadi rajin, orang yang sakit ---fisik maupun hati, menjadi sehat, orang kikir berkembang menjadi orang suka berderma, orang yang semula bersifat iri serta hasut menjadi orang yang senang tatkala orang lain memperoleh keuntungan. Islam hadir untuk membangun kehidupan sosial yang lebih sehat dalam beberapa aspeknya.

No comments:
Post a Comment