Monday, 28 March 2016

Meningkatkan Budaya Riset di Indonesia

Meningkatkan Budaya Riset di Indonesia - menarik mmg apa yg dilansir oleh richard horton. chief editor jurnal lancet edisi 27 februari 2016. beliau menulis era pasang-surut dunia riset kesehatan serta kedokteran indonesia.

padahal thn 1960-an saja, fk ui saja dosennya sudah sanggup menembus jurnal internasional sekelas lancet . tentu ini tak saja berlaku pd dunia kesehatan serta kedokteran, berlaku utk seluruh bidang keilmuan yg adanya di indonesia.

salah satu penjelasan beliau yaitu kultur akademisi kami lebih suka berbicara, dibandingkan dgn menulis. komunitas riset kami tak familier dgn bahasa ilmiah yg berlaku umum di dunia publikasi internasional
untuk membuktikannya mmg gampang. periksa saja total publikasi akumulasi dosen indonesia.

indeks publikasi profesor saja pd 2012 tak dapat lebih sejak 0,20. berarti cuma 20% profesor yg mempunyai publikasi internasional. sementara malaysia telah meraih 1 jurnal/dosen/tahun serta dua jurnal/dosen/tahun di jepang atau periksa tempat sosial, layaknya whatsapp (wa), facebook, dan tempat sosial yang lain yg adanya. apabila postingan akademik masuk, beberapa anggota berlarian tak banyaknya yg mengomentari. kisah tak hanya akademik dlm wa dosen malah lebih menarik, daripada kisah bagaimana dunia riset akan dikembangkan
ketika penulis berbicara dgn salah seorang dosen di york, uk akhir semester lalu, beliau segera menyatakan, ”saya telah senang”. lantaran akhir semester ini telah memasukkan dua buah jurnal utk direviu. menjadi jelas sasaran publikasi jadi budaya akademik di negara di mana pt-nya telah maju

akar problem
tiga perihal yg butuh diperbaiki supaya dunia riset kami maju. pertama, proses pendanaan riset yg terikat dgn contoh penerimaan negara bukanlah pajak (pnbp) telah selayaknya dipertimbangkan ulang. dgn skema layaknya ini, pundi-pundi penerimaan negara kelihatannya dengan cara terselubung disuruh kepada perguruan tinggi yg jadi masalah berat perguruan tinggi
selama ini formulanya yaitu besarnya dana riset sebanding dgn besarnya dana pnbp. berakibat perguruan tinggi ”terpaksa” meladeni pemenuhan unsur pemerataan, dgn mendapat mahasiswa banyak, daripada memajukan riset di perguruan tinggi dengan cara berkualitas serta meningkatkan kualitas
dosen-dosen muda dipaksa mengajar banyak. yg semula dua mata ajar, setara dgn 6 sks, lalu ditugaskan mengajar tambahan di diploma 3. padahal dosen muda mesti merampungkan persiapan utk studi lanjutan, persiapan bahasa inggris, serta ikut riset dgn dosen seniornya. ini bikin tawaran mengajar mendapatkan cash money yg menarik, daripada menempuh dunia akademik yg berat di awal. berakibat kultur dosen utk riset tak terbangun
kedua, skema riset dgn proses sekarang lebih mengutamakan capaian administratif daripada substansi hasil riset. skema-skema riset yg digabung dengan cara nasional, masih tetap umum sifatnya tak memecahkan bidang keilmuan di mana sebuah universitas jadi kuat
sebagai pemeriksa proposal dari 2010 serta pemonitor riset, terkesan pemenuhan unsur administratif amat menonjol. seluruh bukti asli diperlihatkan oleh dosen pemenang hibah. tetapi apabila kami periksa publikasi, buku ajar, paten, dan hilirisasinya, banyaknya yg mengelak dgn seharus-nya dijanjikan di awal penetapan pemenang riset
dosen-dosen kami jadi ”favorit” penyelenggara seminar domestik serta internasional. masuk pun beberapa pengelola jurnal yg mencari dosen-dosen kami serta menawarkan publikasi, yg rupanya jurnalnya banyaknya yg bodong. seminarnya lebih kepada pemenuhan entertainment, lantaran sistem reviu sejak pembicara amat longgar
ketiga, yaitu research center di perguruan tinggi kami belum ber-kembang. yg adanya yaitu lembaga penelitian, liason officer-nya perguruan tinggi, yg mengurusi administrasi riset. kontrak riset banyaknya yg dilaksanakan dengan cara individu. padahal, sebuah riset mesti dikerjakan lintas bidang serta jauh lebih bagus hasilnya terinstitusionalisasi
research center tak berkembang, lantaran masing-masing dosen tak membudayakan sistem riset pd sebuah institusi riset. sistem pembimbingan mahasiswa pun tak berjalan dengan cara bagus. besar dugaan aktivitas seminar belum terlaksana dengan cara bagus. ini berdampak jelek pd kondisi akademik yg berlangsung di universitas-universitas. jurnalnya pun tak ber-kembang serta kerap mati pucuk sesudah sejumlah edisi terbit
anehnya prestasi menghasilkan jurnal, publikasi dlm bentuk jurnal, dan buku ajar, tak dijadikan sbg sebuah evaluasi untuk prestasi dosen. berakibat dosen berpotensi eksodus utk memburu jabatan nonakademik, sekelas rektor/dekan dan pembantunya. tidak sering yg mau melanjutkan riset doktoralnya sesudah kembali ke perguruan tinggi setempat
solusi
dengan skema pendanaan desentralisasi sehingga masih tetap banyaknya ruang gerak yg akan diusulkan utk memajukan riset di indonesia
pertama, butuh pengembangan skema dosen peneliti inti di masing-masing jurusan. mereka yg berstatus dosen peneliti inti mendapatkan mandat lebih kuat utk menghasilkan riset akademik yg bermutu. kepada mereka akan diberikan block grant riset dgn sasaran akhir publikasi, buku ajar, dan paten
kedua, sistem penelitian akan didorong lahir dlm research center/research group, laboratorium di masing-masing universitas. kelahiran research center yg khusus amat bikin beberapa dosen berafiliasi di research center. sistem pembimbingan mahasiswa pascasarjana akan berlangsung di sana. ini pun utk menjaga supaya berlangsung sustainability sistem riset yg mumpuni
ketiga, beberapa profesor akan memajukan research center dgn apalagi dulu menyusun payung penelitian yg strategis dlm jangka panjang. satu profesor akan beranggotakan dua dan tiga doktor, dan mahasiswa calon doktor dan mahasiswa program master yg turut dan dengan cara full time di research center
ketika tiga tahapan itu dapat dihasilkan dlm pengembangan pendidikan tinggi, mungkin daya ungkit publikasi, buku ajar, maupun paten bikin daya saing perguruan tinggi kami dapat maju
orientasi pendidikan tinggi sarjana baiknya diarahkan pd kualitas. sementara utk perguruan tinggi yg tak banyaknya risetnya, mandat pengajaran boleh lebih menonjol, dan diarahkan utk calon angkatan bekerja yg terampil.

Pelaku Kejahatan Seksual Harus Dihukum Berat

Pelaku Kejahatan Seksual Harus Dihukum Berat - komisi perlindungan anak indonesia (kpai) merilis buku bertajuk gerakan melawan kekejaman terhadap anak. peluncuran buku ini dimotivasi oleh kenyataan peningkatan kasus-kasus kekerasan terhadap anak sejak saat ke saat di negeri ini. data kekerasan terhadap anak yg dirilis kpai sungguh amat mencemaskan. kpai mencatat, sejak kurun saat 2010-2014 mendapati 21869797. kasus pelanggaran terhadap hak anak yg menyebar di 34 provinsi serta 179 kabupaten/kota di semua indonesia.

menurut data kpai, sejumlah 42-58% sejak kasus pelanggaran hak anak itu kekerasan seksual serta selebihnya adalah kasus kekerasan jasmani serta penelantaran anak. data kekerasan fisik, psikis, serta seksual terhadap anak terus meningkat tiap-tiap thn. pd 2010 tercatat 2046. kasus kekerasan terhadap anak dgn 42% di antaranya kekerasan seksual.

pada 2011 berlangsung 2426. kasus kekerasan terhadap anak (58% di antaranya kejahatan seksual) serta pd 2012 berlangsung 2637. kasus (62% di antaranya kejahatan seksual). pd 2013 berlangsung peningkatan kasus kekerasan terhadap anak dengan cara signifikan adalah sejumlah 3339. kasus kekerasan dgn 62% di antaranya kejahatan seksual. sedangkan pd 2014 (januari - april) berlangsung 600 kasus kekerasan terhadap anak. data ini dapat membengkak jika ditambah data kasus kekerasan terhadap anak hingga maret 2017
khusus terkait kasus kekerasan serta kejahatan seksual terhadap anak, data yg dirilis kpai di atas memperlihatkan bahwasanya kejahatan seksual terhadap anak terus meningkat dengan cara signifikan sejak thn ke thn (2010-2013). beberapa predator seksual terhadap anak menggunakan serta menyalahgunakan kepolosan anak-anak.

kapan saja serta di mana saja di belahan dunia ini, seluruh anak yaitu polos (innocent). polos jiwanya, polos hatinya, polos wajahnya, polos perilaku moralnya, serta polos ujar katanya. beberapa predator seksual amat lihai menggunakan serta menyalahgunakan kepolosan serta ketidakberdayaan anak-anak.

dengan tips mengiming-imingi hadiah dan pemberian yg jadi kesukaannya dan dgn tips lainnya yg menarik hati anak-anak, beberapa penyodom serta predator seksual dapat sukses mengerjakan kejahatannya kepada anak-anak. lantaran sifatnya yg polos, tak awas, serta tak berdaya, anak-anak dgn gampang dirayu serta dijadikan sasaran empuk kejahatan seksual oleh beberapa predator seksual.

seorang predator anak yg diberitakan dengan cara lapang di tempat massa sejumlah saat kemudian yaitu andri sobari atau emon di sukabumi (jawa barat). dlm keterangan persnya, wakil polres sukabumi kota brigjen rycko amelz dahniel membeberkan dengan cara rinci bahwasanya emon sudah menyodomi sejumlah 110 anak. tak tanggung-tanggung angkanya.

bisa menjadi angka itu rekor tertinggi sepanjang ini. total anak yg jadi korban kejahatan seksual emon sejumlah 110 anak. luar biasa! dia pantas disebut predator seksual kelas kakap terhadap anak.

melihat banyaknya total korban sodomi yg meraih angka 110 anak itu, emon tentu sudah mengerjakan perbuatan kejinya terhadap anak-anak dlm kurun saat yg panjang. emon pandai merayu serta mengiming-imingi hadiah serta pemberian kepada anak-anak pra menyodomi mereka.

sebagai manusia yg beragama, beradab, bermoral, serta berperikemanusiaan, kami mengecam serta mengutuk perbuatan keji emon. kami tentu amat berempati terhadap anak-anak yg jadi korban kejahatan seksual emon. apa pula yg berlangsung di magelang?

koran sindo, 12 maret 2016, memberitakan di headline-nya bahwasanya sejumlah 15 orang anak di bawah usia diduga jadi korban sodomi yg di lakukan m sirojul malik, 18, di kecamatan windusari, magelang, jawa tengah. pelaku diduga sudah mengerjakan sodomi tsb sepanjang kurun saat empat thn terhadap beberapa bocah yg jadi korban kejahatannya
sang predator seksual itu sudah ditahan polisi di mapolsek windusari untk kemudian langsung di lakukan pengusutan terhadap perbuatan kejinya. beberapa korban kejahatan seksual itu anak-anak tetangga yg rumahnya berdekatan dgn kediaman tersangka. pra tersangka mengerjakan perbuatan amoralnya, ia bersikap amat ramah, bermanis-manis muka, serta berikan iming-iming seperti mainan kepada calon korban.

polisi setempat meluncurkan pernyataan bahwasanya pihaknya sudah mendapat laporan perihal dugaan sodomi itu sejak salah satu orang tua korban. atas dasar laporan itu, polisi menahan tersangka.

***
masih banyaknya kasus-kasus sodomi serta kejahatan seksual terhadap anak-anak yg mirip kasus emon serta kasus sirojul malik yg belum terungkap ke permukaan di kota-kota serta kawasan di semua indonesia.

kata-kata puitis yg diberikan kepada seorang anak diekspresikan dgn ungkapan: buah kasih sayang, mutiara cinta, anak, belahan hati, dan belahan jiwa. jika sbg anak tunggal, ia disebut anak semata wayang sbg aktualisasi diri kecintaan serta kasih sayang orang tua terhadap anak tunggalnya itu.

semua aktualisasi diri puitis ini memiliki arti bahwasanya kelahiran serta kehadiran seorang anak itu amat didambakan, dirindukan, disayangi, serta amat dicintai. tentu ayah-bunda dapat mengasuhnya dgn penuh rasa asuh, asih, serta asah tanpa mengenal keluh serta kesah. anak-anak yg memiliki sifat polos yg dijuluki sbg tunas harapan bangsa musti terus dilindungi sejak beberapa pelaku kekerasan, penyiksa, penganiaya, penculik, pembunuh, penyodom, serta predator seksual.

tepat serta bijaksana sekali bila kpai merilis buku gerakan melawan kekejaman terhadap anak. telah selayaknya beberapa pelaku kekerasan, penculik, penganiaya, pembunuh, penyodom, serta predator seksual terhadap anak dihukum amat berat. perbuatan mereka itu melanggar hak-hak asasi anak-anak serta adalah kejahatan kemanusiaan yg amat berat.

kita mengecam serta mengutuk perbuatan amoral yg di lakukan beberapa pelaku kejahatan seksual terhadap anak. utk itu, wacana utk memberlakukan hukum kebiri terhadap predator seksual terhadap anak patut disambut bagus.

Oleh : Faisal Ismail
Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Cara Seorang Kyai Mendidik Para Santri

Cara Seorang Kyai Mendidik Para Santri - akhir-akhir ini perdebatan perihal pendidikan sedemikian banyaknya di lakukan di tengah masyarakat. mereka mendiskusikan perihal butuh tidaknya ujian negara, anggaran pendidikan yg belum mencukupi, peminat termasuk perguruan tinggi swasta makin menurun, kualitas pendidikan rendah, sampai persoalan bagaimana mengembalikan ruh pendidikan yg dirasa makin lenyap. diskusi yang lain berbicara, pendidikan telah terseret jauh ke alam kapitalis. pendidikan yg seharus-nya dijalankan atas dasar kesadaran membangun manusia berkualitas di era depan, rupanya dlm praktek pendidikan diwarnai oleh kondisi transaksional, persis sama yg berlangsung di pasar. adalah kondisi jual beli, transaksi berlangsung manakala adanya kesepakatan harga.

berbagai masalah  itu menjadikan pendidikan seolah-olah terjerembab pd beragam persoalan yg tak sempat henti. akibatnya, beberapa pelaku pendidikan tak pernah berpikir perihal peningkatan kualitas hasil pendidikan, mengaitkan antara pendidikan dgn tuntutan kebutuhan nyata ke depan, terlebih berpikir mencari langkah-langkah strategis maupun bentuk-bentuk pendidikan yg lebih berkualitas. malah yg mereka pikirkan yaitu bagaimana mencari tambahan anggaran pendidikan, seleksi masuk, pelaksanaan ujian akhir, wisuda beberapa lulusan serta sejenisnya. dunia pendidikan jadi terasa ruwet, berkualitas rendah serta rumit dicarikan pemecahannya.

sesungguhnya mencari jalan keluar sejak persoalan pendidikan, tidaklah terlampau rumit. bangsa ini telah kaya pengalaman penyelenggaraan pendidikan. pondok pesantren yg dikelola oleh beberapa kyai, yg jumlahnya sedemikian banyaknya serta merata di tanah air ini yaitu adalah pengalaman berharga yg butuh ditengok. beberapa pemuka agama ini dgn anggaran murah, sederhana, terjangkau oleh siapapun dapat melangsungkan pendidikan. hasilnya, banyaknya dilihat, tak segelintir tokoh di beragam bidang serta di beragam level, sudah menduduki posisi-posisi penting kepemimpinan masyarakat. salah satu saja sejak apa yg lakukan kyai yg rupanya hasilnya baik yaitu pendekatan yg di lakukan dlm mendidik beberapa santrinya.

kyai dlm mendidik beberapa santri, selalu memposisikan diri layaknya orang tua santri sendiri. mereka bertempat tinggal di lingkungan pesantren. tak sempat adanya kyai yg membangun pesantren di luar lingkungan wadah tinggalnya. sehingga, disebut pesantren manakala di sana adanya kediaman kyai, masjid serta wadah tinggal beberapa santri. struktur bangunan pesantren layaknya itu menjadikan kyai amat dekat dgn beberapa santrinya. beberapa santri tak saja belajar sejak kitab-kitab yg jadi acuan pendidikan pesantren yg bersangkutan, melainkan pun belajar dengan cara segera sejak kehidupan keluarga kyai. beberapa santri belajar bagaimana kyai memposisikan dirinya di hadapan isteri serta anak-anaknya, bagaimana kyai berteman di tengah masyarakat, deskripsi perihal visi serta cita-cita kyai, pandangan hidup serta hal-hal kehidupan penting lainnya, seluruh itu dengan cara segera dapat dipelajari oleh beberapa santrinya.

kyai dlm mengajar kepada beberapa santri di lakukan dengan cara segera serta utuh, adalah dgn memberi pengertian, pemahaman serta sekalian praktek dlm kehidupan. jika contohnya kyai mengajarkan perihal sholat berjamaah, sehingga tatkala dikumandangkan adzan, kyai langsung menuju ke masjid untk memimpin sholat berjamaah. kyai sambil menyaksikan apakah shof jamaah sudah rapi, sekalian menyaksikan apakah beberapa santri sudah ikut seluruh dlm berjamaah. jika kyai mengajarkan perihal zakat, sehingga pengasuh pesantren tsb pun meluncurkan zakat sejak hasil usahanya serta membagikan kepada yg berhak. dgn praktek layaknya itu, kyai dengan cara segera memberi penjelasan sekalian ketauladanan. begitu juga, apabila kyai mengajarkan perihal hikmah sholat malam, sehingga kyai selalu membangunkan beberapa santrinya mengerjakan ibadah itu bersama-sama. pendidikan di pesantren yg di lakukan oleh beberapa kyai tak sebatas melewati penjelasan lisan, melatih berdiskusi, berdebat melainkan pun menjalankan apa yg diajarkannya. kyai berpandangan jika santri sebatas di beri penjelasan serta disarankan untk berdiskusi, sehingga beberapa santri cuma dapat pandai berbicara serta berdiskusi. dlm kehidupan ini, menurut pandangan kyai, pandai berbicara serta berdiskusi itu penting, dapat tapi pembicaraan itu musti ditindak-lanjuti dgn amal dan perbuatan. agama islam yaitu agama yg menganjurkan serta menuntun umatnya supaya beramal sholeh, serta bukanlah sebatas berbicara.

sekalipun dlm tingkat sederhana, dulu beberapa santri di pesantren pun dijari bertani di kebun kyai. di pesantren pun dibangun koperasi, kemudian disebut koperasi pesantren adanya di mana-mana. lembaga ekonomi ini pengelolaannya diserahkan kepada beberapa santri, sampai santri mengenal bagaimana mengelola lembaga ekonomi. jika diundang memberi pengajian di tengah masyarakat, kyai selalu mengikut-sertakan beberapa santri senior, mendampinginya. lantaran itu, jika kami mengundang kyai, sehingga musti bersiap-siap memperoleh beberapa tamu tambahan yakni beberapa sopir serta sekalian santri yg menyertainya. seluruh yg di lakukan kyai itu tak lepas sejak pendidikan yg dikembangkannya. kedekatan kyai dgn beberapa santri menjadikan kyai amat mengenali beberapa santrinya. sekalipun tak di lakukan ujian umum -di lingkungan pemerintah populer ujian negara, beberapa kyai mengetahui mana santri yg cerdas serta maju, begitu pun sebaliknya, santri yg lambat serta selalu tertinggal. yg lebih menarik lagi, kyai dlm mendidik santri tak merasakan mencukupi sebatas aktivitas dhahir, mengajar kitab serta mempraktekkan, melainkan selalu melengkapinya dgn doa, memohon kepada allah. melewati sholat malam, kyai bermunajad, memohon supaya santrinya dikaruniai ilmu serta hidayah.

masih terkait dgn pendidikan pesantren, saya sempat diundang menghadiri upacara haflah akhirus sanah di sebuah pesantren desa. pd acara serimonial itu, hadir semua wali santri serta mengundang kyai sejak sejumlah pesantren dan tokoh masyarakat lainnya. dlm acara itu, tak hanya berisi dgn sambutan serta pengajian umum, pun diadakan semacam pameran unjuk kebolehan santri. beberapa santri yg sudah dinyatakan lulus dipersilahkan naik ke panggung dengan cara bersama-sama. perihal yg amat menarik serta berani, beberapa kyai undangan dipersilahkan mengajukan pertanyaan kepada beberapa santri yg sudah dinyatakan lulus, terkait dgn isi kitab yg sudah dipelajari. sejumlah kyai mengajukan pertanyaan, serta rupanya dijawab dengan cara mantap oleh santri. tentu ketangkasan serta ketepatan jawaban mengundang simpatik serta kekaguman semua undangan. saat serta type pertanyaan ternyata tak dibatasi. contoh ujian terbuka, bebas serta berani ini cuma sempat saya temukan di pesantren, serta belum sempat di wadah lain, masuk di perguruan tinggi.

pendidikan yg diselenggarakan oleh beberapa kyai mmg sederhana. kyai tak sempat mengait-ngaitkan antara penyelenggaraan pendidikannya dgn besarnya biaya. kapan serta dgn anggaran berapapun pendidikan, menurut kyai dapat dijalankan. adanya dana mencukupi pendidikan dapat dijalankan, sebaliknya tak adanya dana juga pendidikan tak boleh stagnan. pendidikan yg dijalankan oleh beberapa kyai layaknya ini telah terjadi lama. hasilnya, tak segelintir tamatan pesantren berani hidup di tengah masyarakat serta bahkan juga sukses mengerjakan peran-peran kepemimpinan strategis di beragam level. tak segelintir tokoh nasional yg berlatar belakang pendidikan pesantren. mereka yaitu hasil didikan beberapa kyai. oleh lantaran itu, berbicara perihal pendidikan di indonesia ini, rasanya tak lengkap jika masih tetap mengabaikan pendidikan yg dijalankan oleh beberapa kyai. bahkan juga tatkala bangsa ini sedang berpikir untk mengembangkan pendidikan, sehingga harta benda seperti konsep pendidikan pesantren, patut ditengok. cuma sayangnya, lantaran arus modernisasi yg begitu keras, tak segelintir kyai yg terpengaruh terhadap pendidikan modern serta meninggalkan pendekatan lama. memang, tak adanya salahnya mengikuti transformasi serta kemajuan zaman, tapi semestinya tak musti yg lama yg masih tetap lebih bagus ditinggalkan. uin malang sepanjang ini ikhtiar menggali beragam pendekatan sejak manapun asalnya, bagus sejak yg lama maupun yg baru sbg upaya untk mencapai yg terbaik serta sempurna.

Oleh : Imam Suprayogo
(dengan perubahan seperlunya)

Sunday, 27 March 2016

Hilangnya Rasa Keadilan, Kemanusiaan dan Adab

Hilangnya Rasa Keadilan, Kemanusiaan dan Adab - Pancasila ialah ideologi dasar bagi negara Indonesia. Nama ini terdiri dari dua kata dari Sanskerta: panca berarti lima serta sila berarti prinsip alias asas. Pancasila ialah rumusan serta pedoman kehidupan berbangsa serta bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia. Akan tetapi, hingga kini belum terkesan terperinci adanya upaya untuk mewujudkan sila-sila pancasila dengan cara sunguh-sungguh.

Tidak ada yang dengan sepenuh hati melaksanakan kelima sila ini dengan cara konkret. Jangankan melaksanakan dengan sungguh-sungguh, asa untuk membicarakannya saja terkesan telah tidak ada lagi. Hanya mentok dari bangku sekolah, kampus, serta arena diskusi mahasiswa yang akhirnya hanya menguap semacam asap kopi serta rokok mereka. Para mahasiswa yang dari jaman Orla-hingga jaman medio tahun 2000an sangat aktif turun jalan serta menyuarakan bunyi hati masyarakat kecil mulai terbungkam lisan mereka, padahal mereka memiliki label yang sangat mulia “Agent of Change”, mulai terdiam serta hanya menikmati label mereka sebagai mahasiswa.

Nasib si jelata pun mulai terlantar lantaran kelakuan mahasiswa kini serta para anak buah dewan terhormat yang mulai tidak peduli lagi. Usaha pelemahannya terjadi masif di beberapa daerah serta dilakukan oleh beberapa kelompok masyarakat, serta parahnya lagi tidak sedikit dilakukan oleh para pejabat pemerintahan yang mulia. Jangankan pelemahannya, perjuangan pengkhianatan sila-sila pancasila telah terjadi serta celakanya dilakukan oleh komplotan penguasa negara ini.

Sejarah telah menyatatnnya, tidak sedikit peristiwa-peristiwa pengkhianatan ideologi dasar negara Indonesia terjadi dilakukan oleh para pejabat pemerintahan. Kemanusiaan yang adil serta beradab yang tertera pada sila kedua pancasila telah terkikis makna serta tujuannya. Dalam sejarah bangsa Indonesia, rakyat Indonesia sempat dibantai oleh penguasa negeri ini sendiri, apabila meminjam perkataannya Pram, “Orde baru dibuat atas luka genosida yang memakan ratusan ribu bahkan hingga satu setengah juta penduduknya.”

Ini terperinci tidak sesuai dengan isi sila kedua pancasila, kualitas kemanusiaan, keadilan, serta keberadaban telah terkikis musnah. Bangsa Indonesia serta pancasila telah terkhianati, serta pengkhianatan ini tidak terjadi pada masa itu. Pengkianatan ini terjadi seiring tumbuhnya negara ini hingga berusia 71 tahun. Dari momen yang terjadi di masa orba yang dikenal dengan istilah Gestapu, kematian Mursinah, terbunuhnya aktivis HAM Munir, dibantainya petani di Mesuji, nenek nyolong coklat yang dipenjara, hingga momen driver Lamborghini yang nabrak penjual susu beserta pembelinya hanya dipenjara 5 bulan. Itulah sedikit momen yang melukai hati pancasila terutama sila kedua serta pastinya tetap tidak sedikit momen yang belum tertulis disini.

Oleh : Akhmad Yusuf A.

Thursday, 24 March 2016

Gadget Memberi Kemudahan atau Malah Menyusahkan?

Gadget Memberi Kemudahan atau Malah Menyusahkan? - Di zaman digital hari ini yang semua keperluan serta kebutuhan hanya dilakukan dari genggaman tangan saja rasanya semakin mengkhawatirkan. Semuanya serba online, beli baju dengan online, beli tiket pesawat dengan online, pesan taksi atau pesan ojek , bahkan beli bumbu dapur makanan serta semuanya serba online. Lama lama pasar serta segala interaksinya akan hilang ? aduh bagaimana ya… sebetulnya setiap orang yang belanja serta pergi kepasar merupakan hakekatnya ingin berinteraksi sesama.

Mempererat persaudaraan nah kata persauadaraan inilah yang penting pertanyaan apakah dengan sistim serba digital serta on line persaudaraan bisa terjalin ..? hmmm Sampai-sampai ojek online serta taksi konvensional berdemo yang ujung-ujungnya saling hantam serta babak belur, lah yang salah itu siapa teknologi nya apa orangnya. Kalau teknologinya yang disalahkan tentu kita tidak bisa menolak karena  dari mulai bocah sampai kakek serta nenek sudah pintar mainkan tut di Handphone maupun smartphone.

Oke,  jadi siapa orang nya kah, iya kalau orangnya saya setuju sebab teknologi kan cipataan manusia jadi gimana manusianyasaja yang menggunakan nya. mau dibawa sebagai sarana utnuk kemudahan monggo untuk saran kesusahan juga monggo. Karena memang semenjak asertaya smartphone serta handphone angka perselingkuhan serta kriminal meningkat angka nya saya nggak tau persis. Tapi di balik itu pun kemudahan dalam melakukan sesuatu semakin sangat mudah semudah menyentuh tutnya.

Lalu jika demikian bagaimana kita memanfaatkan benda kecil dan  canggih tersebut. Tentu yang perlu dicermati merupakan untuk apa dulu kegunaannya, jika hanya untuk menelpon serta sms mungkin cukup saja kita pakai serta beli yang biasa-biasa aja. Tapi jika mengingin kan model aplikasi yang berbagai macam ya beli saja yang modl smartphone. Jadi jika sebaliknya pasti lah kita akan kedodoran jika yang dipakai hanya telpon serta sms tapi yang kita pakai merupakan yang smartpon waaah mubadzir. Bisa-bisa apa yang kita pakai lbih banyak mudharadnya dari pada manfaat nya. Kalau  sudah begini tentu malapetaka jadinya hal-hal yang tidak terpikirkan karena benda itu ada didepan mata kita menjadi bisa terlaksana. Pantaslah jika perselingkuhan serta kriminalisasi serta penipuan merajalela serta meningkat tajam. Karena dengan mudahnya bisa di link dari satu tangan serta itu bisa dilakukan siapa aja.

Jadi memang masyarakat kita belum siap menghadapi lonjakan teknologi digital yang serba canggih itu, kalau orang korea serta jepang yang membuat benda itu siang malam berpikir lalu pusing karena tidak ada waktu untuk istirahat serta menikmati jerih payah kemudian pelariannya ke kafe-kape sambil minum minuman keras untuk menghilangkan stres karena ditekan produksi. tapi masyarakat kita kan tinggal memakai saja.

Lalu dibuat jadi susah menyalahi orang seperti demo ojek online dengan taksi konvensional. Karena peristiwa  seperti itu baiknya kita manfaatkan benda yang nama smartphone, Handphone serta yang lain-lain namanya kita pakai untuk yang baik serta bermanfaat banyak. Untuk silahturahmi menanyakan kabar teman saudara mengorder ojek serta lain sebagainya yang belum bisa agar belajar membuat benda itu menghasilkan apakah buat diri pribadi atau buat orang banyak. Berguna ya tentu berguna, contoh nya ojek online itu taksi online itu biayanya murah serta kita tidak perlu repot-repot tawar menawar di jalanan, mereka langsung menjemput kita di depan pintu rumah.

Beli kebutuhan sehari-hari juga mudah sambil tiduran tidak pakai mandi dulu juga bisa. Perosalannya kemudian interaksi sesama manusia yang sebenarnya merupakan kebutuhan kita bermasyarakat menjadi hilang. Kehidupan menjadi sendiri – sendiri,  masing-masing asik dengan dunia nya dengan gadget nya itu. tidak kenal teman di sebelahnya bahkan mungkin yang jauh menjadi dekat yang dekat menjadi jauh. Sebagai makhluk sosial keperluan untuk saling tolong menolong serta berkomunikasi merupakan hal yang sangat mutlak karena dengan berinteraksi serta berkomunikasi maka kita bisa hidup. Komunikasi itu sendiri bisa berbagai macam cara disesuaikan dengan perkembangan kehidupan masyarakat itu sendiri. teknologi merupakan hanya sarana serta prasarana saja.

Oleh : Hayatdin

Wednesday, 23 March 2016

Kekuatan dari Rasa Kasih dan Sayang

Kekuatan dari Rasa Kasih dan Sayang - Jika seseorang telah mempunyai rasa kasih sayang terhadap sesuatu jadi ia akan melakukan apa saja yang dapat diperbuat untuk menunjukkan rasa kecintaannya itu. Rasa kasih sayang alias cinta rutin melahirkan kesediaan untuk berkorban. Karena itulah jadi timbul sebutan bahwa cinta merupakan pengorbanan. Atas dasar pemahaman ini, para ceo di beberapa organisasi mengusulkan supaya semua yang dipimpinnya, rutin berusaha menumbuhkan kecintaan terhadap posisi serta tipe tugasnya di mana saja mereka ditempatkan.

Rasa kasih sayang dikatakan rutin mempunyai kekuatan dahsyad, jadi sanggup melahirkan pengorbanan serta bahkan pengorbanan kiranya susah dibantah oleh siapapun. Sebab bukti-bukti yang mendukungnya tak susah dicari. Seorang pria yang lagi jatuh cinta pada seorang wanita, serta juga sebaliknya, akan melakukan apa saja yang dapat diperbuat untuk mendekatinya. Pengorbanan apapun akan ia lakukan, untuk memperoleh apa yang dicintai itu. Seorang ayah alias bunda bersedia melakukan apa saja untuk memenuhi kebutuhan putra-putrinya, oleh karena rasa cintannya yang mendalam. Seorang guru, sekalipun tak memperoleh imbalan ekonomi yang cukup, bersedia bekerja dengan mencurahkan seluruh tenaganya, karena kecintaannya terhadap profesi sebagai guru. Cinta serta kasih sayang nyatanya mempunyai kekuatan penggerak yang menarik hebatnya.

Persoalannya merupakan bagaimana menumbuhkan rasa kasih sayang serta cinta dari setiap orang. Pekerjaan itu nyatanya tak mudah. Dan bahkan belum diketahui tutorial yang paling cocok untuk itu. Rasa kasih sayang tak dapat ditumbuhkan hanya dengan persuasi, ceramah, apalagi dipaksa. Pertumbuhan rasa kasih sayang alias cinta tak rutin mengikuti akal karena dampak yang pasti. Kadang kita temui seorang ganteng namun mempunyai pasangan yang tak lebih cantik, jadi antara keduanya kelihatan tak seimbang. Namun di antara mereka rupanya telah terjalin rasa kasih sayang serta cinta yang mendalam. Mungkin menurut si ganteng itu, wanita itulah yang disebut indah olehnya serta bukan yang indah menurut ukuran kita.

Untuk menumbuhkan rasa kasih sayang alias cinta ini ada pepatan jawa berkata "witing trisno jalaran songko kulino", kecintaan itu akan lahir dari kebiasaan. Jika kita menghendaki seseorang mencintai sesuatu jadi jalan yang paling cocok merupakan melewati pembiasaan. Seorang pria yang biasa berjumpa dengan seorang wanita, jadi interaksi itu akan menumbuhkan rasa cinta. Seorang yang dibiasakan bermain sebuah tipe olah raga, jadi akan mencitai tipe olah raga itu. Seorang yang rutin dekat dengan kendaraan beroda empat tertentu, ia akan mencitai kendaraan beroda empat itu. Mungkin pameo itu ada betulnya, namun apa rutin demikian. Ternyata dalam kehidupan sehari-hari fakta tak rutin membuktikannya. Betapa tak sedikit pria serta wanita yang telah berlama-lama berteman, saling bertempat tinggal di rumah bersebelahan, namun tokh juga tak saling mencintai. Seorang yang dilahirkan dari keluarga guru, nyatanya justru tak mencintai profesi guru. Rasa kasih sayang alias cinta tampaknya tak rutin dapat ditumbuhkan, melainkan diperoleh alias didapatkan alias diberikan oleh Sang Pemilik Nya.

Sifat Arrahman serta Arrahiem merupakan milik Allah. Kedua sifat Nya yang mulia ini dinyatakan dalam al Qur'an di kawasan yang sedemikian banyaknya, bertebaran dalam setiap surat pada al Qur'an. Rupanya Allah memperlihatkan sifat yang mulia ini terhadap makhluk yang dikehendaki Nya, tergolong terhadap insan serta juga binatang. Jika seseorang telah dikaruniai kasih sayang alias cinta terhadap sesuatu, jadi halangan dalam bentuk apapun akan ditaklukkan demi meraih cintanya itu. Karena sifat kasih sayang alias cinta hanyalah milik Allah swt., jadi yang dapat diusahakan merupakan memohon terhadap Nya, supaya kita dikarunia sifat yang mulia itu. Atas dasar keyakinan semacam ini, jadi Rasulullah saw mengajarkan pada umatnya rutin berdoa, supaya rutin dikaruniai rakhmat Nya, dekat pada Nya, serta sifat-sifat mulia yang dimiliki Nya.


Kasih sayang alias cinta atas karunia Allah yang melahirkan semangat pengorbanan itu tak sebatas dalam lingkup sederhana, semacam kasih antara laki-laki serta perempuan, dua tipe makhluk yang berbeda, namun kasih sayang alias cinta juga mempunyai arti yang luas serta berskala besar. Cinta terhadap tanah air, menjadikan seseorang warga negara bersedia mengorbankan apa saja yang ada padanya, untuk membelanya. Apalagi tatkala negara telah dalam kondisi terancam alias bahaya. Karena cintanya terhadap faham, kepercayaan alias agama yang dianut, seseorang berani mati membela faham yang direndahkan alias diremehkan oleh orang lain. Sehingga, tak jarang terjadi konflik serta bahkan peperangan yang dahsyat yang wajib mengorbankan harta benda serta bahkan nyawa untuk membela apa yang dicintainya. Karena itu kasih sayang serta cinta sanggup melahirkan kekuatan yang dahsyat. Terkait dengan pengembangan kampus, UIN Malang, jadi apabila semua warganya yakni para pimpinan, dosen, karyawan serta mahasiswanya memperoleh karunia berupa kecintaan terhadap institusi ini, jadi sekedar bercita-cita membesarkan kampus, tidaklah terlalu sulit. Persoalannya adalah, adakah kesediaan memohon terhadap Nya, supaya sifat-sifat mulia itu dikaruniakan terhadap seluruh warga kampus ini.

Oleh : Imam Suprayogo

Cara Hidup Sehat untuk Mencegah Sakit

Cara Hidup Sehat untuk Mencegah Sakit - Jika Anda tidak ingin sakit, cegahlah dengan nasib sehat. Jika tidak ingin sakau, jadi jangan sentuh narkoba. Jika tidak ingin jatuh, jadi jangan bermain di kawasan tinggi. Semua contoh diatas merupakan bentuk pencegahan. Artinya, segala sesuatu yang sifatnya kurang baik itu sebetulnya mampu dicegah. Jika badan telah merasa meriang, tidak segera diantisipasi dengan istirahat yang cukup, membenahi pola makan, serta menjaga kebugaran, jadi penyakit tentu akan menghampiri.

Ya. apabila tidak ingin, jadi cegahlah. Contoh lain yang patut dicegah adalah, perilaku kekerasan. Saat ini tidak sedikit sekali motif yang melandasi perilaku kekerasan. Ada yang bermotif ekonomi. Hanya ingin memperoleh uang, alias memperoleh barang yang diinginkan, seseorang mampu sesuka hatinya memukul orang lain.

Bahkan merampok alias membunuh. Ada juga dilandasi sebab dendam alias cemburu. Karena pacarnya jalan barang dengan orang lain, si pasar mampu dipukuli alias bahkan dibunuh. Ada juga sebab hal keyakinan. Hanya kerena tidak sama keyakinan, ormas keagamaan mampu melakukan kekerasan. Nah..praktek yang satu ini, tetap tidak jarang kita jumpai. Bahkan, tidak susah untuk menemui perilaku seperti ini di Jakarta. Atas nama ibadah, mereka mampu menutup jalan semaunya. Akibatnya kemacetan parah tidak terbendung. Kalau yang ini tetap mampu ditoleransi.

Ada juga sebab tidak sama agama, pribadi di cap sebagai kafir. Dan kalau telah kafir, jadi wajib diperangi, dipukul, dihakimi alias tindakan tidak terpuji lainnya. Hal-hal seperti ini lah yang harusnya dicegah. Jangan sampai, hanya sebab masalah sepele, diantara kita saling mencaci. Al Quran mengajarkan supaya saling mengganggu antar sesama. Al Quran juga melarang tindakan keji.

Anjuran ini mampu dilihat dalam QS An Nahl ayat 90 disebutkan, “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku 'adil serta berbuat kebajikan, memberi bantuan terhadap kerabat, serta Dia melarang (melakukan) tindakan keji, kemungkaran serta permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu supaya kamu mampu mengambil pelajaran.” Nah...semoga yang mengaku muslim, serta tetap melakukan tindakan tidak terpuji, mampu pribadi sadar seusai menyimak ayat diatas. Ingat, agama justru mengusulkan kita saling mengetahui antar sesama? Dengan saling mengenal, kita tidak mementingkan perbedaan. Yang dipentingkan adalah, dengan mengetahui akan menjalin tali silaturahmi.

Dan menjalin tali silaturahmi itu juga dianjurkan oleh Rasulullah. Kembalilah ke Al Quran untuk melakukan pencegahan. Pahamilah Al Quran dengan cara utuh, jangan sepotong-potong. Jika tidak dengan cara utuh, berpotensi memunculkan kesalahpahaman. Jika telah salah memahami, yang ada merupakan merasa dia paling benar sendiri. Tidak mau mendengar masukan orang lain. Lihat saja kelompok ormas keagamaan. Di segi lain memakai atribut keagamaan, gemar melakukan takbir, tapi gemar juga memukul. Lihat saja para pelaku teror, suka mengaji tapi juga rajin merakit bom. Mari kita cegah perilaku tidak baik itu masuk ke pikiran kita. Berlakulah adil semenjak dalam pikiran.

Dengan memiliki pikiran yang adil, jadi perilakunya pun diinginkan juga akan adil. Kalau keadilan yang muncul, jadi kesejahteraan mampu dirasakan oleh semua orang. Seperti yang tertuang dalam nilai-nilai Pancasila. Jika kita sepakat ingin mencicipi keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, jadi cegahlah segala tindakan yang tidak adil. Cegahlah tindakan kekerasan atas nama apapun di kurang lebih kita. Jika tidak ingin, jadi cegahlah.

Oleh : Ratih Puspa

Akibat Sering Membentak Anak

Akibat Sering Membentak Anak - Akhir - akhir ini tak jarang kita mendengar maupun menonton anak sebagai korban kekerasan yang akan terjadi kemarahan orang tuanya tetapi sebagai orang tua tak sempat menyadari yang akan terjadi yang akan ditimbulkan seusai memarahi anak faktor ini sebabkan karena factor Ekonomi, Ketidak harmonisan keluarga jadi berujung terhadap anak sebagai kawasan pelampiasan amarah,padahal anak perlu kasih sayang orangtua untuk mendidik serta memberi contoh yang baik karena keluarga suatu pondasi mutlak bagaimana perkembangan anak akan mengarah kebaikan alias keburukan pendidikan keluargalah kunci mutlak bagiamana keberhasilan anak

Dibalik kemarahan orang tua terhadap anak ada fakta yang terbukti jarang disadari oleh orang tua bahkan ada yang mengenal tetapi acuh karena memikirkan Egois nya saja yang akan terjadi ini sangat mensugesti anak dengan membentak anak akan mensugesti psikologis anak, anak akan merasa tertekan serta lebih pendiam tidak hanya itu dampa membentak anak akan mensugesti antara lain Anak ketika dewasa menjadi minder & takut mencoba faktor baru. Jiwanya rutin merasa bersalah jadi hidupnya penuh keraguan serta tak percaya diri, Anak akan mempunyai sifat pemarah, egois, judes karena dirinya dibentuk dengan kemarahan oleh orang tuanya.

Jika ada faktor yang tak berkenan dihatinya karena sikap kawannya, dirinya cenderung proaktif serta memarahi rekannya padahal hanya kasus sepele, Anak akan memilki sifat menantang, bandel serta suka membantah nasehat alias perintah orang tuanya, Anak akan mempunyai langsung yang tertutup serta suka menyimpan unek-unek nya, kemudian anak akan bersifat afatis tak peduli dengan sekitarnya.

Dalam penelitian Lise Gliot bahwa, satu bentakan merusak jutaan sel-sel otak anak hasil penelitian Lise Gliot, berkesimpulan pada anak yang tetap dalam pertumbuhan otaknya yakni pada masa golden age (2-3 tahun pertama kehidupan, red), bunyi keras serta membentak yang keluar dari orang tua mampu menggugurkan sel otak yang sedang tumbuh. Sedangkan pada ketika bunda sedang memperlihatkan belaian lembut sambil menyusui, rangkaian otak terbentuk indah.

Penelitian Lise Gliot ini sendiri dilakukan sendiri pada anaknya dengan memasang kabel perekam otak yang dihubungkan dengan suatu monitor komputer jadi mampu menonton setiap perubahan yang terjadi dalam perkembangan otak anaknya. “Hasilnya luar biasa, ketika menyusui terbentuk rangkaian indah, tetapi ketika ia terkejut serta sedikit bersuara keras pada anaknya, rangkaian mengagumkan menggelembung semacam balon, lalu pecah acak-acakan serta terjadi perubahan warna.

Oleh karena nya dari hasil penelitian Lise Gliot kita mampu luar biasa kesimpulan alangkah berpengaruhnya bentakan yang dilakukan terhadap anak mampu merusak sel otak anak bahkan mampu membikin anak cenderung pediam maupun cenderung pemarah serta hilangnya kepercayaan diri anak oleh karena itu kekerabatan terhadap anak serta orang tua kunci mutlak mendidik anak baik dari kepribadiannya,moralnya bahkan hingga perkembangan anak wajib diperhatikan oleh orang tua.

Oleh : Soleha

Tugas Utama Seorang Guru Bukan Meneliti



Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/idrisapandi/meneliti-bukan-tugas-utama-guru_56f25d3f43afbd511d8a2bd4


Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/idrisapandi/meneliti-bukan-tugas-utama-guru_56f25d3f43afbd511d8a2bd4
Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Guru dan Dosen menyatakan bahwa “Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.”

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/idrisapandi/meneliti-bukan-tugas-utama-guru_56f25d3f43afbd511d8a2bd4
Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Guru dan Dosen menyatakan bahwa “Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.”

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/idrisapandi/meneliti-bukan-tugas-utama-guru_56f25d3f43afbd511d8a2bd4
Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Guru dan Dosen menyatakan bahwa “Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.”

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/idrisapandi/meneliti-bukan-tugas-utama-guru_56f25d3f43afbd511d8a2bd4
Tugas Utama Seorang Guru Bukan Meneliti - Undang-undang Guru dan Dosen dalam Pasal 1 ayat (1)  menyebutkan bahwasannya “Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.”

Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Guru dan Dosen menyatakan bahwa “Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.”

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/idrisapandi/meneliti-bukan-tugas-utama-guru_56f25d3f43afbd511d8a2bd4
Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Guru dan Dosen menyatakan bahwa “Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.”

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/idrisapandi/meneliti-bukan-tugas-utama-guru_56f25d3f43afbd511d8a2bd4
Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Guru dan Dosen menyatakan bahwa “Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.”

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/idrisapandi/meneliti-bukan-tugas-utama-guru_56f25d3f43afbd511d8a2bd4
Berkaitan dengan adanya kewajiban guru untuk menulis Karya Tulis Ilmiah (KTI) terutama Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sebagai syarat kenaikan pangkat, pasal tersebut di atas menjadi dasar bagi organisasi profesi guru semacam Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) untuk menolak kebijakan tersebut, dengan argumen bahwa meneliti merupakan tugasnya dosen/peneliti, bukan tugasnya guru. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa adanya kewajiban guru menulis KTI/PTK merupakan suatu “horor” dan membebani bagi guru.

Hal ini dikarenakan sebab guru belum terbiasa menulis dan meneliti. Karya tulis terbaru yang dibuatnya mungkin merupakan skripsi sebagai syarat menyelesaikan pendidikan sarjana. Pasca diangkat menjadi guru, para guru terbukti tak sedikit yang “terjebak” terhadap aktivitas rutinnya membimbing peserta didik, dan relatif tak lebih berminat untuk menulis KTI dengan beberapa alasan, ditambah pemerintah dan organisasi profesi guru pun sangat jarang melaksanakan pelatihan menulis terhadap semua guru. Adanya kewajiban menulis KTI/PTK sebagai syarat kenaikan pangkat membikin tak sedikit guru mengambil jalan pintas, yaitu dengan mengcopy-paste laporan PTK milik orang lain, mengunduh di google dan memodifikasinya, atau“membeli” dari oknum penyedia jasa penulisan KTI/PTK.

Hal tersebut disamping suatu pelanggaran hukum, juga menodai citra guru yang seharusnya menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dan profesionalisme. Pelatihan menulis KTI baru booming seusai adanya kewajiban guru gol. IV/a menulis KTI dan tak sedikit yang tersendat naik pangkat sebab tak sanggup menulis KTI. Apalagi dikala ini, guru mulai gol. III/b apabila mau naik pangkat ke golongan yang lebih tinggi, harus mulai menulis KTI. Jika faktor ini tak diantisipasi, jadi ke depan guru gol. III/b akan tak sedikit yang tersendat naik pangkat. Saya sempat bertanya terhadap guru gol. IV yang mengajukan arsip kenaikan pangkat, mengapa menulis KTI/PTK? Guru tersebut menjawab dengan nada berat.

Dia mengaku “terpaksa” menulis KTI/PTK sebab untuk bisa naik pangkat disyaratkan harus menulis KTI/PTK. Jawaban yang sama pun disampaikan disampaikan guru-guru lainnya. Intinya, mereka menulis KTI/PTK bukan sebagai bentuk pengembangan profesi, namun sebagai bentuk keterpaksaan sebab ingin naik pangkat. Dalam Undang-undang Guru dan Dosen terbukti tak dengan cara eksplisit mencantumkan adanya pasal atau ayat menyebutkan bahwa guru harus melakukan penelitian. Huruf (a) Pasal 20 UUGD menyebutkan bahwa dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berkewajiban merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, dan menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran. Selanjutnya huruf (b) menambah dan berbagi kualifikasi akademik dan kompetensi dengan cara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

Pada kedua diktum tersebut tak ada kewajiban guru meneliti. Selanjutnya, pasal 8 Permenpan Nomor 16 Tahun 2009 mengenai Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya menyebutkan “Guru berwenang memilih dan menentukan materi, strategi, metode, media pembelajaran/bimbingan dan alat penilaian/evaluasi dalam melaksanakan proses pembelajaran/bimbingan untuk mencapai hasil pendidikan yang bermutu sesuai dengan kode etik profesi Guru. Juga tak tercantum adanya kewajiban guru melakukan penelitian, jadi wajar tak sedikit guru yang berkeberatan, sebab dalam pandangan mereka meneliti bukan menjadi tugas mutlak mereka.

Oleh sebab itu, organisasi profesi semacam PGRI menuntut supaya syarat menulis KTI/PTK sebagai syarat kenaikan pangkat guru dihilangkan. Adalah benar bahwa kewajiban meneliti bagi guru dengan cara eksplisit tak tercantum sebagai tugas mutlak guru, namun mari kita telaah kewajiban guru sebagai mana tercantum pada UUGD pasal 20 huruf (a) dan (b) dan pasal 8 Permenpan-RB nomor 19 tahun 2009. Pada kedua aturan tersebut guru harus melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu. Pada kenyataannya, guru tak sedikit yang belum mewujudkannya. Pembelajaran berjalan dengan cara datar, asal selesai, asal habis materi pelajaran, jadi pembelajaran berjalan membosankan. Hal ini berdampak terhadap rendahnya minat, aktivitas, dan hasil belajar peserta didik.

Belum lagi, ada siswa yang mempunyai kesulitan memahami materi yang disampaikan oleh guru. Kondisi ini terjadi sebagai dampak guru yang belum menerapkan pendekatan, model, strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik bahan ajar dan kebutuhan peserta didik, belum memakai media pembelajaran atau alat peraga yang sesuai untuk menunjang penyampaian materi pelajaran. Masalah tersebut pastinya harus segera di atasi oleh guru. Guru dituntut untuk mencari jalan keluar dari persoalan yang dihadapi. Selain itu, juga untuk menambah nilai proses dan hasil belajar. Tentunya faktor tersebut tak bisa sim salabim atau butuh proses. Dan proses itu bernama Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Oleh sebab itu, meski bukan tugas mutlak guru, penelitian yang dilakukan oleh guru merupakan sebagai upayanya dalam mewujudkan pembelajaran yang bermutu sebagaimana yang diamanatkan UUGD. Adanya kewajiban guru menulis KTI/PTK pada pada dasarnya disamping sebagai bentuk pengembangan profesinya, juga untuk mendorong guru supaya mempunyai adat menyimak dan menulis, sebab dengan melakukan penelitian, pastinya guru otomatis dipaksa untuk menyimak dan menulis, lalu menyusunnya menjadi suatu laporan PTK. Saya yakin, pada dasarnya guru telah menemukan dan menyadari adanya persoalan dalam pembelajaran, dan bercita-cita untuk menyelesaikannya, namun tak dipungkiri bahwa tak sedikit guru mengalami kendala dalam menentukan pilihan penyelesaiannya, menyusun tahapan-tahapan penyelesaiannya, dan menuliskannya menjadi suatu laporan hasil penelitian yang memenuhi kaidah atau kriteria suatu Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang bisa diakui angka kreditnya.

Ada guru yang telah mencoba melakukan PTK, menyusun laporannya, dan mengajukannya terhadap tim penilai, namun kadang putus asa sebab laporan PTK yang diajukannya ditolak oleh Tim Penilai tanpa argumen yang jelas, meski sebetulnya aturannya mewajibkan Tim Penilai membikin jawaban atau tanggapan perihal penolakan KTI/PTK tersebut supaya guru mengenal dan bisa menindaklanjutinya, baik butuh diperbaiki atau menyusun KTI baru. Tidak bisa dipungkiri juga, meski ada pedoman penilaian, juga suka terjadi perbedaan pendapat atau persepsi antar tim penilai menyebabkan KTI yang diajukan guru jadi tak sedikit KTI yang ditolak.

Hal tersebut pastinya menjadi beban bagi guru yang notabene dengan susah payah menulis KTI/PTK. Oleh sebab itu, para guru disamping butuh menulis KTI/PTK sesuai dengan sistematika yang telah ditentukan, para penilai pun harus mempunyai persepsi yang sama dalam menilai suatu KTI/PTK supaya guru tak rugikan. Menurut Saya, apabila ada ketidaksesuaian pada KTI/PTK dengan pedoman yang telah ditentukan, sepanjang ketidaksesuaian tersebut tetap bisa ditolerir, tak terlalu parah, dan tak menghapus substansinya sebagai suatu KTI/PTK, jadi penilai harus bersikap bijaksana dalam menawarkan penilaian, jangan terlalu kaku.

Mengingat bahwa menulis KTI/PTK menjadi syarat kenaikan pangkat guru, para guru harus mempunyai inisiatif untuk belajar dan mulai menulis KTI/PTK. Para guru juga bisa memanfaatkan organisasi profesi guru semacam KKG/MGMP/MGBK sebagai sarana untuk berlatih menulis PTK. Mereka bisa meminta bantuan rekan sejawat yang telah mahir menulis KTI/PTK untuk membimbing mereka. Jika tak ada yang sanggup, mereka juga bisa mengajak Widyaiswara atau dosen yang mempunyai kompetensi dalam menulis KTI/PTK untuk membimbing mereka. Selain itu, pemerintah pun butuh memfasilitasi pelatihan menulis KTI/PTK bagi guru-guru supaya sanggup menulis KTI/PTK.

Dan pelatihan yang diselenggarakan bukan pelatihan yang asal dilaksanakan, namun harus dilakukan dengan cara berkelanjutan, yaitu dari awal hingga dengan guru sanggup membikin suatu produk KTI/PTK. Pengalaman menunjukkan bahwa tak sedikit seminar atau pelatihan menulis PTK/KTI yang diselenggarakan baik oleh sekolah, organisasi profesi guru, LSM, atau pemerintah berjalan singkat, hanya beberapa jam saja dan itu pun bersifat teoritis. Padahal yang diharapkan guru merupakan pengetahuan dan keterampilan teknis menulis KTI/PTK. Belum lagi dengan jumlah peserta yang tak sedikit dan sarana atau kawasan yang tak lebih memadai, jadi pelatihan tersebut berjalan tak lebih efektif. Sehabis seminar atau pelatihan, guru-guru tetap saja bimbang ketika mau mau mulai menulis.

Disamping pelatihan yang teroganisir dengan baik, guru pun harus mempunyai komitmen yang kuat untuk mau menulis KTI/PTK, sebab sebagus apapun suatu pelatihan, sehebat sehebat apapun narasumber yang didatangkan, apabila gurunya tak mempunyai komitmen yang kuat untuk mulai menulis, jadi andalan untuk mewujudkan guru yang kompeten dalam menulis PTK./KTI susah terwujud.

Oleh : Idris Apandi
Penulis, Widyaiswara Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Barat.

Monday, 21 March 2016

Pendidkan Gratis : Gratis Murahnya atau Gratis Kualitasnya?

Pendidkan Gratis : Gratis Murahnya atau Gratis Kualitasnya? - Disadari alias tidak, pendidikan merupakan salah satu acara yang bernilai tinggi (High cost). Dari dulu sampai kini pendidikan merupakan sebuah yang dicanangkan untuk membangun generasi berdaya saing. Tak khayal pendidikan dijadikan sebagai modal untuk pembangunan sebuah bangsa. Esensi pendidikan yaitu untuk membangun generasi yang berkualitas?? Jelas ini menjadi sebuah pertanyaan besar, ensensi yang seharusnya berlangsung dijalurnya jauh terpental dari yang seharusnya.

Saya tidak akan berkata jauh mengenai pendidikan dengan cara umum, tapi lumayan berminat dengan implementasi pendidikan gratis yang digadang-gadang menjadi salah satu alternative pembangunan generasi berkualitas.

Mari berkata sedikit mengenai PENDIDIKAN GRATIS??

Berbicara persoalan ini ada segi positif serta negartif yang didapat. Positifnya yaitu social kemasyarakatan contohnya yaitu dengan memperlihatkan peluang terhadap setiap orang untuk mengenyam pendidikan yang terjangkau serta terjangkau. Oke saya rasa faktor ini mampu diterima !!

“Hanya menjual populeritas instiusi, mutunya diabaikan serta hanya mencetak lulusan yang tidak siap pakai, jadi seusai lulus tidak mampu mengaplikasikan kepandaian sesuai dengan ilmu pendidikannya”, ungkap ajinatha.

Saya pikir ini terbukti persoalan krusial dalam konsep pendidikan gratis yang dicanangkan kali ini sebab tidak di dukung dengan penyempurnaan konsep yang strategis. Di beberapa kawasan , terutama di desa-desa kecil pendidikan gratis tidak henti di jadikan sebagai konsep yang sangat strategis yang di angkat oleh calon- calon pemimpin untuk mendapatkan tidak sedikit dukungan dari masyarakat.

Implementasi pendidikan gratis juga tidak kalah miris dimana sekolah-sekolah di desa semacam bodoh serta jauh tertinggal dari sekolah-sekolah di kota. Baik berkata sarana serta prasarana terlebih lagi berkata persoalan mutu pendidikan yang dibangun. Mungkin kita tidak mampu membandingkan antara nilai yang akan di dapatkan pendidikan di desa serta di kota sebab terang anak-anak di kota mengeluarkan dana lebih sedangkan di desa jikalau pun ada tidak sebesar anak-anak dikota.

Sehingga faktor ini butuh di pertanyakan lagi mengenai konsep pendidikan Gratis yang ada, jikalau terbukti dari pendidikan gratis tidak memperlihatkan konstribusi dalam peningkatan nilai pendidikan. Mengapa faktor ini tidak coba di tinjau kembali? Karena bila di biarkan keadaan riil yang saya lihat di lapangan, anak-anak yang bersumber dari sekolah di desa, mereka cendrung minder serta merasa sangat jauh tertinggal.

Oleh sebab itu,kondisi di atas tidak boleh dibiarkan begitu saja sebab mampu membunuh semangat belajar serta partisipasi anak-anak untuk menjadi tahap dari peningkatan nilai serta daya saing semacam yang di inginkan. Kalau mampu memilih setiap orang tentunya pendidikan yang berkualitas !!

Terlepas dari faktor di atas,saya rasa konsep pendidikan gratis rupanya butuh mendapat perhatian lebih lanjut dari pemerintah supaya esensi pendidikan gratis mampu memperlihatkan konstribusi untuk peningkatan nilai generasi berikutnya.

Oleh : Rahmi Wati

Membuat Tulisan Ilmiah

Membuat Tulisan Ilmiah - Suatu faktor yang sangat mengasyikan serta bahkan membanggakan, belakangan ini terjadi di UIN Malang, fenomena munculnya penerbitan buku-buku yang ditulis oleh para dosen. Dalam waktu setengah tahun saja, dari Januari hingga Juni 2008 tak tidak lebih dari 50 judul buku telah terbit. Buku itu diterbitkan sendiri oleh UIN Malang Press, serta bahkan lebih mengasyikan lagi, lembaga penerbitan ini juga telah masuk sebagai anak buah IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia).

Kegiatan menulis buku bagi dosen sebetulnya merupakan sebagai sebuah keniscayaan. Sebab, kegiatan mereka sehari-hari tak sempat lepas dari kehadiran buku. Mereka tak akan mungkin memberi kuliah tanpa ada buku pegangan. Bisa saja seorang dosen tatkala memberi kuliah, tidak hanya berpegang pada tulisannya sendiri juga mengacu pada buku-buku literatur goresan pena orang lain. Memang itu seharusnya, supaya isi kuliahnya mempunyai cakupan serta perspektif yang luas. Akan tetapi, setidak-tidaknya supaya dosen yang bersangkutan dikenal mempunyai otoritas ilmu yang memadai, seharusnya ia memakai lebih tak sedikit buku yang ditulisnya sendiri. Jika seorang dosen belum mempunyai buku yang ditulisnya sendiri, jadi tatkala memberi kuliah di depan kelas, ia baru sebatas dapat berkata terhadap mahasiswanya : "menurut kata orang", serta belum berani berkata "menurut pendapat alias temuan saya". Sementara, bolehlah sebagai seorang dosen baru, yang sebab belum mempunyai pengalaman, tetap memakai buku-buku yang ditulis oleh seniornya, melainkan tak demikian seharusnya bagi dosen yang telah senior. Mereka wajib mempunyai buku karangan sendiri, baik berupa buku teks alias yang akan terjadi penelitian.

Pekerjaan tulis menulis sesungguhnya bukanlah faktor yang sulit, apalagi bagi seorang dosen. Tugas dosen sehari-hari rutin saja terkait dengan tulis menulis. Sebelum memberi kuliah, mestinya mereka wajib menulis bahan-bahan yang akan diberikan terhadap mahasiswanya. Demikian pula kegiatan penelitian yang wajib dilakukan, wajib diakhiri dengan membikin laporan, yang wajib dirupakan dalam bentuk tulisan. Selain itu, tak terkecuali tugas pokok lainnya yaitu kegiatan pengorbanan pada masyarakat, juga laporannya wajib ditulis. Oleh sebab itu memperhatikan tipe tugas-tugas dosen semacam ini, rasanya tak mungkin apabila dosen tak mempunyai karya tulis. Belum lagi, kenaikan jabatan akademik bagi setiap dosen, rutin dipersyaratkan adanya buku-buku karya ilmiah, yang akan terjadi penelitian serta pengorbanan masyarakat yang telah ditunaikan. Maka, terasa ganjil apabila tersedia seorang dosen yang telah mempunyai jabatan akademik tinggi, melainkan belum mempunyai karya ilmiah. Hal yang layak dipertanyakan serta wajib dijawab oleh yang bersangkutan ialah darimana ia memperoleh jabatan akademik itu sementara ia tak mempunyai karya-karya ilmiah yang cukup.

Jika kita perhatikan besarnya jumlah perguruan tinggi di tanah air ini, dikaitkan dengan jumlah buku-buku yang terbit serta beredar di pasaran, nyatanya tetap tergambar semacam langit serta bumi. Artinya tetap terjadi kesenjangan yang sedemikian jauh. Besarnya jumlah perguruan tinggi belum diikuti oleh sbesarnya jumlah buku-buku yang terbit yang akan terjadi karya para dosen perguruan tinggi yang bersangkutan. Saya sempat memperoleh info dari seorang yang mempunyai jabatan di sebuah departemen yang bertanggung jawab soal penerbitan, bahwa ada sebuah perguruan tinggi besar serta ternama, mempunyai tak tidak lebih dari 1500 dosen tetap, melainkan nyatanya pada setiap tahunnya hanya sukses menerbitkan buku rata-rata antara 4 hingga 5 judul. Informasi itu terasa aneh, jadi mengajak impian untuk membuktikannya. Caranya mudah, yaitu berangkat ke beberapa toko buku. Kita perhatikan berapa buku yang ditulis oleh orang-orang yang sehari-hari bekerja di perguruan tinggi sebagai dosen. Saya yakin, akan terbukti bahwa terbukti produktivitas buku dari kalangan dosen tetap sangat terbatas, kecuali beberapa perguruan tinggi tertentu saja yang telah mempunyai tradisi menulis di kalangan para dosennya.

Memperhatikan kenyataan, tetap rendahnya produktivitas karya tulis di lingkungan perguruan tinggi, saya sempat berseloroh dalam sebuah peluang berdiskusi dengan kawan terkait dengan fenomena itu, dengan berkata bahwa di Indonesia ini, apabila membandingkan antara besarnya jumlah perguruan tinggi dengan banyaknya buku yang terbit pada setiap tahunnya, bagai terlalu tak sedikit pohon melainkan minus buah. Perguruan tinggi semestinya semacam pohon yang tumbuh subur serta rindang jadi setiap ekspresi dominan menghasilkan buah yang banyak. Perumpamaan itu nyatanya tak tepat. Sebab, sedemikian tak sedikit perguruan tinggi sebagai pohonnya, akan melainkan buahnya, yakni berupa karya-karya ilmia alias yang akan terjadi penelitian tetap minim. Ini berarti, pohon yang sedemikian tak sedikit itu, tetap butuh dipertanyakan tipe serta kualitasnya. Yaitu, kenapa pohon yang tak sedikit itu tak menghasilkan buah. Gambaran perguruan tinggi semacam ini, pasti mempunyai sesuatu yang salah. Misalnya, jangan-jangan belum disadari bahwa tugas perguruan tinggi bukan saja mendampingi mahasiswa menjadi sarjana, melainkan dalam prose situ wajib ada giatan pengembangan pemikiran, kajian mendalam serta penelitian. Hasilnya kemudian dirupakan dalam bentuk karya ilmiah yang diterbitkan dalam bentuk buku. Oleh sebab itu apabila perguruan tinggi tak menerbitkan buku-buku yang akan terjadi karya dosennya dapat disebut sebagai perguruan tinggi yang belum dengan cara maksimal melakukan tugas pokoknya yang strategis, jadi perumpamaan menjadi bagai pohon tak lebih buah sebagai faktor yang tepat.

Memahami faktor ini, jadi munculnya beberapa goresan pena dalam bentuk buku di  kampus UIN Malang, wajib diapresiasi serta disambut gembira oleh semua pihak, supaya lembaga pendidikan tinggi Islam ini menjadi bagai pohon yang kaya buah. Pohon itu tumbuh subur serta rindang, cantik dipandang serta menyenangkan tak sedikit orang sebab buahnya sukses dirasakan oleh kalangan luas. Buah yang dimaksudkan itu merupakan buku-buku serta yang akan terjadi penelitian tersebut. Jika kampus ini tak sukses berbagi karya ilmiah, berupa buku serta yang akan terjadi penelitian, jadi sama halnya dengan pohon rindang yang tak berbuah. Sehingga keberadaannya hanya sebatas sebagai kawasan teduh bagi orang-orang yang terkena panas matahari. Oleh sebab itu, kita bersyukur serta gembira atas preatsi itu. Para penulis buku, baik buku teks maupun yang akan terjadi penelitian inilah sesungguhnya yang telah menawarkan sumbangan nyata bagi keindahan wajah kampus Islam, UIN Malang ini.

Oleh : Imam Suprayogo

Wednesday, 16 March 2016

Damai Yang Tersayat

Damai Yang Tersayat - Papua mempunyai kekhasan yang jarang dijumpai di wilayah lain. Persaudaraan merupakan salah satu yang mewarnai kebersamaan segenap insan yang nasib di atas tanah terbekati ini. Kehadiran insan yang bersumber dari luar Papua, disambut dengan hangat oleh orang orisinil Papua.

Demikian halnya, kaum pendatang membaur bersama orang Papua. Ada kekuatan yang mengikat, yakni toleransi dan solidaritas yang tinggi. Alhasil suasana persaudaraan menghiasai wajah Papua yang multikultural dan multireligius ini. Keragaman diterima dengan tulus-ikhlas. Ironisnya, di tengah nasib persaudaraan yang telah terjalin puluhan tahun ini, keragaman dan nuansa persaudaraan itu hampir terkoyak oleh momen yang menggemparkan rakyat Papua. Peristiwa itu merupakan pembunuhan di kompleks Organda, Padang Bulan, kota Jayapura, pada 8 Juni 2015.

Berawal dari persoalan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kantibmas), memunculkan korban jiwa. Kita turut prihatin karena seyogianya, siapa pun tak boleh menjadi korban kebrutalan sesamanya. Pembunuhan merupakan perbuatan tak berperikemanusiaan dan wajib ditolak. Duka mewarnai keluarga korban di Organda. Duka itu menyebar hingga ke relung jiwa setiap insan yang peduli pada kualitas nasib dan martabat manusia. Berbagai aksi dilakukan untuk mengutuk momen tersebut. Demonstrasi ke kantor Gubernur Provinsi Papua tanggal 9 Juni 2015 dan pertemuan para tokoh budaya dan agama di Polsek Abepura, 10 Juni 2015 menawarkan angin segar akan adanya jaminan keamanan bagi segenap warga masyarakat.

Suasana khawatir pernah melanda kota Jayapura dan sekitarnya. Hembusan info terkait info suku dan ras memunculkan sikap waspada di tengah masyarakat. Tampak bahwa keragaman bisa menjadi ancaman bagi kerukunan dan kesejahteraan nasib bersama. Keragaman bisa dipakai untuk memecah-belah persaudaraan yang telah terjalin selagi ini. Belajar dari momen Organda, kita diundang untuk senantiasa mengupayakan nasib rukun dan tenang dengan sesama manusia. Apa pun latar belakang budaya, suku, adat-istiadat dan agama, kita semua sama.

Kita sama-sama manusia. Karena itu, kita butuh saling menerima, saling menghormati dan saling menolong satu sama lain. Saat ini, Papua sedang dilanda beberapa macam penderitaan. Pelanggaran hak asasi manusia, maraknya minuman keras, HIV/AIDS, korupsi, perusakan lingkungan dan lain sejenisnya. Penderitaan ini seharusnya menyatukan kita untuk berjuang bersama-sama membebaskan Papua. Bukan sebaliknya, membikin kita tercerai-berai. Hanya dengan persatuan dan persaudaraan yang kokoh kita bisa menanggulangi beberapa kasus yang terjadi di tanah Papua dikala ini. Selama ini, Papua telah populer dengan sikap ramah dan toleransi.

 Papua menjadi daerah yang aman bagi segenap umat manusia. Kondisi ini butuh dipelihara dan ditingkatkan supaya Papua menjadi daerah yang aman dan tenang bagi segenap makhluk. Apa pun kasus yang dihadapi di tanah ini butuh dicarikan pilihan penyelesaian yang manusiawi, tanpa mengorbankan sesama manusia. Untuk maksud ini, butuh ada upaya konkret dalam menawarkan edukasi bagi segenap warga mengenai pentingnya merawat keragaman. Bahwa nasib bersama dalam bingkai keragaman butuh mengedepankan sikap persaudaraan, tanpa ada curiga dan prasangka. Dengan demikian, setiap insan bisa mengalami tenang dan sejahtera. Tidak bisa dimungkiri, Papua mempunyai kekayaan keragaman, namun ada potensi keretakan dampak intoleransi. Saat ini, rutin ada upaya memecah-belah persatuan di Papua dengan diskriminasi Gunung-Pantai, Papua-Pendatang dan lain sejenisnya. Diskriminasi hanya mendatangkan penderitaan karena merendahkan kualitas nasib dan martabat manusia.

Seharusnya, insan saling mendapatkan dan menghormati keragamannya. Apa pun asal-usulnya, insan sama. Berasal dari Pencipta yang Esa dan mempunyai akal-budi dan hati nurani. Di dalam keragaman, kita menemukan keunikan dan kemahakuasaan sang Pencipta yang diimani. Upaya untuk merawat persatuan dan persaudaraan di antara sesama umat insan butuh dilakukan semenjak dini. Keluarga menjadi fondasi mutlak meletakkan benih-benih toleransi. Di dalam keluarga anak-anak diperkenalkan budaya, suku, adat-istiadat dan agama. Semua ini butuh dilakukan supaya anak-anak tumbuh dan berkembang sebagai eksklusif yang menghormati sesamanya yang tak sama dengannya. Anak-anak merupakan penerus masa depan. Mereka butuh dilengkapi dengan pendidikan keragaman supaya bisa mendapatkan dan nasib bersama dengan sesamanya yang tak sama dengannya. Bahwa keragaman merupakan kekayaan yang dianugerahkan sang Pencipta.

Manusia butuh mendapatkan dan mengelolanya dengan baik kelangsungan hidupnya. Pendidikan keragaman semenjak dini dalam keluarga menjadi pilihan ampuh dalam mengantisipasi upaya adudomba oleh pihak-pihak yang hendak mengacaukan perdamaian di tanah Papua. Melaluinya, anak-anak belajar mendapatkan dan menghormati sesamanya tanpa kecuali. Selain itu, melewati pengenalan keragaman semenjak dini terhadap anak-anak sanggup memutus mata rantai diskriminasi terhadap keragaman budaya, suku, adat-istiadat dan agama.

Kita semua menyadari bahwa awal mula nasib insan dimulai dari dalam keluarga. Keluarga yang harmonis dan mempunyai jiwa toleransi akan menghasilkan generasi yang menghormati sesamanya. Keluarga menjadi ladang persemaian generasi yang menghormati keragaman dan menempatkan persaudaraan universal dengan semua makhluk tanpa syarat. Harapannya, melewati generasi Papua yang mempunyai sikap toleransi dan semangat persaudaraan universal, terbuka jalan menuju Papua yang sejahtera. Papua yang menghormati dan menempatkan kualitas nasib dan martabat insan berada di atas segala-galanya.

Oleh : Petrus Pit Supardi

Membangun Kebersamaan Untuk Papua

Membangun Kebersamaan Untuk Papua - Saat ini, Papua menjadi sorotan beberapa pihak. Minimnya kesejahteraan orang orisinil Papua, buruknya pelayanan publik di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, perumahan, listrik dan air bersih, menjadikan Papua sebagai wilayah termiskin di Indonesia. Papua juga tetap dililit persoalan politik, pelanggaran hak asasi insan dan eksploitasi sumber daya alam yang tak terkendali. Dalam situasi semacam ini, orang orisinil Papua dan penduduk Papua tetap diperhadapkan pula dengan keanekaragaman agama, budaya, adat-istiadat dan suku yang tak jarang menjadi jurang pemisah.

Pulau Papua dihuni oleh penduduk dari beberapa agama dan budaya. Keanekaragaman agama dan budaya, seyogianya adalah hidayah sang Pencipta yang patut dipelihara dan dilestarikan. Suasana keakraban lintas agama dan adat di Papua tampak berlangsung harmonis. Di level pemerintah ada wadah, Forum Kerukunan Umat Beragama dan Forum Komunikasi Para Pemimpin Agama. Komunitas suku mempunyai paguyubun. Bahkan di dalam keluarga-keluarga mempunyai keanekaragaman agama dan adat dampak perkawinan campur.

Agama dan adat menjadi sumber wangsit untuk merajut keberagaman manusia. Keduanya mempunyai caranya sendiri merangkul insan untuk saling mendapatkan dan menghormati satu terhadap yang lain. Agama sebagai wadah persekutuan kaum beriman terhadap sang Pencipta mengajarkan umat insan untuk saling menghormati. Misalnya, agama Islam mempunyai peredaran yang indah: “rahmatan lil alamin”.

Demikian halnya, kekristenan mengajarkan umat insan untuk saling mengasihi tanpa syarat. Kesempurnaan kasih itu telah ditunjukkan oleh Yesus dalam momen wafat-Nya di Kalvari. Budha dan Hindu dan peredaran kepercayaan pun mengajarkan faktor serupa terhadap para penganutnya. Budaya-budaya di melanesia, terutama di Papua mengajarkan bahwa insan wajib menjalin suasana harmonis dengan sesama, leluhur, alam dan Pencipta agar kelimpahan dan kepenuhan nasib dapat tercapai. Nilai nasib baik yang tak dapat diabaikan yakni sikap saling membagi dengan sesama. Orang Papua tak dapat nasib untuk dia sendiri. Mereka nasib bersama dalam komunitasnya dan saling berbagi.

Demikian halnya, setiap pendatang yang berdiam di tanah Papua pun mempunyai adat yang mengajarkan nilai-nilai nasib baik, menghormati sesama dan bersedia menolong sesama, tanpa memandang latar belakang agama dan budaya. Budaya yang dimiliki menawarkan bahwa martabat dan kualitas nasib insan berada di atas segala-galanya dan patut dihormati, tanpa syarat. Ironinya, dewasa ini Papua dilanda krisis penghormatan terhadap martabat manusia. Papua juga mengalami krisis nilai-nilai nasib baik. Akibatnya orang orisinil Papua dan segenap penduduk

Papua mengalami penderitaan tak berkesudahan. Papua dilanda penyakit HIV/AIDS. Ribuan insan terjangkit virus mematikan ini. Berbagai upaya pencegahan dilakukan, melainkan virus ini tetap merebak dan mengancam jiwa manusia. Minuman keras tetap beredar luas. Miras telah menyebabkan kematian beruntun dan memunculkan kekacauan. Pudarnya nilai-nilai agama dan adat juga ditunjukkan dengan minimnya para guru dan tenaga medis untuk tinggal di kampung-kampung dan melayani masyarakat. Akibatnya, masyarakat di kampung tetap mengalami keterbelakangan. Anak-anak tak dapat bersekolah dan segenap warga tak dapat berobat tatkala sakit. Situasi ini menawarkan bahwa dikala nilai-nilai nasib baik, yang diajarkan oleh agama dan adat diabaikan, jadi insan menuai penderitaan.

Kebodohan dan kematian tak dapat dihilangkan, justru makin bertambah subur Kurangnya penghayatan terhadap nilai-nilai nasib baik, yang termaktub dalam agama dan budaya, mengakibatkan proses pembangunan dan pelayanan publik di Papua berlangsung tak lebih maksimal. Korupsi tetap tumbuh subur di Papua. Ada kesenjangan mendalam antara para pejabat publik yang nasib mewah dengan orang Papua yang nasib miskin dan menderita. Paradoksal tampak jelas, tatkala agama dan adat disandingkan dengan perilaku nasib para pejabat, yang memakai jabatan publik untuk kepentingan diri sendiri.

Untuk menata kembali Papua, yang telah tercabik,  diperlukan kerjasa sama segenap komponen masyarakat. Kerja sama lintas agama dan adat  diperlukan untuk menanggulangi situasi nasib orang Papua yang tetap menderita sebab minimnya pelayanan pendidikan, kesehatan, ekonomi dan lain sebagainya. `Keanekaragaman agama dan adat menjadi wangsit untuk mengawali gerakan bersama menata Papua menuju masyarakat multireligius dan multikultural yang mengedepan nilai-nilai nasib baik untuk kesejahteraan bersama.

Papua akan menjadi lebih baik, apabila segenap komponen masyarakat bertekad nasib sesuai peredaran agama dan budayanya. Agama dan adat telah mengajarkan setiap insan untuk saling mengasihi tanpa pamrih dan syarat. Ketika insan mengamalkannya, jadi kepenuhan nasib akan diraih. Sebaliknya, apabila insan lebih mementingkan dia dan kelompok agama dan sukunya, jadi penderitaan tak akan berakhir. Keanekaragaman agama dan adat adalah hidayah sang Pencipta. Manusia butuh memanfaatkan keanekaragaman itu untuk kesejahteraan nasib bersama. Papua dapat menjadi laboratorium keberagaman apabila dapat memanfaatkan segala potensi yang ada untuk mendukung upaya penghormatan terhadap martabat insan yang beranekaragaman. Semua ini, wajib dimulai dari komunitas-komunitas masyarakat adat, komunitas-komunitas agama dan segenap lingkungan masyarakat.

Oleh : Petrus Pit Supardi