Tuesday, 17 May 2016

Menjadi Da'i Harus Bijaksana

Menjadi Da'i Harus Bijaksana - Saya sempat berdakwah kecil-kecilan di kalangan orang kampung yg seumur hidup belum sempat sholat dengan cara tertib, sekalipun jika ditanya mereka mengaku beragama islam. kampung yg saya ceritakan ini, dulu yaitu basis aktivitas wanita tuna susila dan wts. kegiatan perzinaan ini telah sekian lama berjalan di kampung itu. maksiat layaknya ini, di manapun tak sempat berjalan sendiri, selalu beiring kelindan dgn aktivitas dosa yang lain.
maksud saya, tak hanya aktifitas perzinaan di kampung itu, pun disempurnakan aktivitas tidak sehat lainnya layaknya kebiasaan judi, minum khomar, serta sebangsanya. berbekal semangat dakwah yg saya peroleh sejak lingkungan keluarga dahulu sewaktu kecil, serta latar belakang pendidikan yg saya dapatkan, saya tak tahan jika membiarkan aktivitas yg saya anggap menyimpang jauh sejak nilai-nilai agama langkah yg saya lakukan untk aktivitas dakwah yaitu merintis pendirikan masjid. kebetulan, apabila mulai mengembangkan aktivitas dakwah ini, adanya kebijakan pemerintah memindahkan wts liar ke lokalisasi khas yg jauh sejak kampung ini. tapi layaknya dikemukakan di muka, sekalipun wts telah tak ada, aktivitas yg menyertainya, layaknya kebiasaan judi, minum minuman keras, serta pun kondisi buta agama, masih tetap berlanjut.
tekat saya, saya musti mengubah kondisi masyarakat jadi lebih baik, dlm arti sekalipun pelan serta bertahap, adanya perbedaan makna kehidupan agama di kampung ini ada gejala menarik dlm kehidupan masyarakat ini. ternyata, sekalipun seseorang itu mempunyai kegemaran berbuat tercela, tokh dia pun tahu bahwasanya apa yg ia lakukan yaitu dosa. menariknya, mereka tak ingin anak-anaknya mengerjakan perihal yg sama. mereka ingin supaya apa yg ia lakukan tak ditiru oleh anak-anak mereka. mereka ingin supaya anaknya kelak jadi buah hati bagus. lantaran itu, tawaran saya mendirikan masjid serta mengajak ngaji anak-anak mereka direspon dgn positif. mereka sadar bahwasanya apa yg mereka lakukan sesunguhnya tak selayaknya di lakukan oleh siapapun masuk dirinya serta pun oleh anak-anak mereka. mereka pun tak membenci aktivitas dakwah, asalkan tak menyinggung perasaan serta pun tak menganggu aktivitas mereka. mereka pun mengerti bahwasanya dakwah agama sebenarnya bagus.
hanya, mereka pun menuntut supaya dai pun konsisten, berarti seiring sejalan apa yg ia ucapkan dgn yg dilakukan panitia pembangunan masjid , yg pun orang-orang muallaf tersebut, tiap-tiap minggu saya ajak berkumpul untk rapat, dgn ambil wadah dengan cara gantian sejak kediaman ke kediaman panitia. aktivitas itu tak hanya untk mempererat silaturrahiem, pun dimaksudkan untk mengevaluasi kegiatan, bagus menyangkut pengumpulan dana maupun pelaksanaan pembangunan. sengaja pelaksanaan pembangunan ditangani sendiri oleh orang kampung. untuk mereka yg kerja penuh digaji sebagaiamana tukang batu pd umumnya, dapat tapi untuk yg kerja akhir minggu dianggap bekerja bakti, tak dibayar. semangat bekerja mereka luar biasa. masjid ini dianggap punya serta sekalian kebanggaan mereka. kampung ini, baru kali kesatu ini dapat mempunyai masjid. pada akhirnya tak hingga setengah thn masjid tsb selesai dibangun.

mmg apabila itu, untk menghimpun dana tak terlampau rumit. banyaknya orang yg langsung membantu, khususnya orang luar kampung ini, tatkala dimintai sumbangan. mungkin, kampung ini populer sbg aneh, karena semula populer sbg kawasan hitam, tiba-tiba membangun masjid setelah masjid selesai, sehingga langsung diresmikan penggunaannya bersama-sama. apabila itu, supaya kegembiraannya lebih sempurna, masyarakat dicarikan sumbangan kain sarung, kopyah serta baju taqwa untk dibagikan ke semua aktifis pembangunan masjid. seragam ini penting untk membangun bukti diri baru sbg kampung santri. saya ingat, disepakati peresmian di lakukan lepas 1 muharam.
peresmian tak hanya diadakan syukuran seperti makan bersama, ceramah serta memulai sholat maghrib berjamaah. seluruh acara ini disepakati melewati rapat warga se kampung. hampir semua, kecuali satu dua, masih tetap belajaran sholat. malah masih tetap banyaknya yg belum hafal bacaan sholat, bahkan juga membaca al fatekhah sekalipun. tapi saya pastikan bahwasanya sekalipun bacaan sholat belum sempurna tak mengapa, hafal surat al fatekhah telah baik.

serta bila juga belum hafal, separo pun tak mengapa, bahkan juga jika separo belum hafal membaca bismillah tak mengapa. tawaran saya ini disambut bagus serta ternyata menggembirakan, paling tak mereka tak merasakan terbebani hal aneh, dua hari pra diresmikan,seorang anggota jamaah pembangunan masjid datang ke rumah, dgn bahasa halus, sopan serta hati-hati, minta ijin supaya diperkenankan, sehari pra peresmian masjid, layaknya biasa memasak daging babi. dia menyebutkan bahwasanya permintaan ini yaitu untk memenuhi kemauan anaknya. dia berdalih, tokh sholatnya masih tetap hari kamis sore. dia minta ijin makan daging babi untk kali  terakhir, yakni hari rabu, sehari pra peresmian masjid. menghadapi permintaan itu, saya dengan cara spontan menjawab, boleh, serta silahkan.
asalkan hari kamis pagi musti mandi kramas---mandi besar, sore mengikuti sholat berjamaah di masjid serta mulai hari itu pun aktivitas memakan daging babi musti stagnan. dia sepakat, serta rupanya dari itu sekeluarga mulai belajar sholat serta doa-doa lainnya, sampai pada akhirnya keluarga itu jadi santri, aktif berjamaah di masjid baru ketika berikan respon permintaan ijin orang mau masak daging babi itu, saya tak memanfaatkan panduan fiqh. untuk saya, mereka itu janganlah hingga tersinggung perasaannya.
mereka musti mempunyai kepercayaan serta menyenangi saya sbg orang yg dengan cara tulus mengajak ke jalan islam. saya yakin jika permintaan itu ditolak, terlebih saya tunjukkan kemarahan saya, dia dapat langsung meninggalkan serta bahkan juga dapat memusuhi aktivitas ibadah yg baru saja saya rintis. inilah saya katakan bijak rupanya musti ditempuh, melebihi sejak sebatas memegangi fiqh serta bahkan juga prinsip-prinsip yg lainnya. telah barang tentu, toleransi layaknya ini tak dapat saya memberi misalnya, jika yg meminta yaitu orang yg bukanlah muallaf, terlebih mahasiswa perguruan tinggi islam.

Oleh : Imam Suprayogo.

No comments:

Post a Comment