Tuesday, 12 April 2016

Menjadikan Pesantren Sebagai Wadah Pendidikan Kritis

Menjadikan Pesantren Sebagai Wadah Pendidikan Kritis - pesantren adalah sebuah institusi pendidikan (wahid, 1978), seperti lembaga pendidikan nasional pd umumnya. hanya, pesantren tak berpusat pd pemerintah. eksistensinya bergantung kepada pengelola yg berdiri dengan cara independen, dan beberapa kiai (ustaz) yg dibantu sejumlah keluarga yg lain, tapi adakalanya pun dibantu murid (santri) senior karena adalah institusi pendidikan, unsur-unsur penting layaknya belajar mengajar, tanya jawab, penilaian belajar (ujian), serta lainnya sebagainya, berlangsung pula di pesantren. sepanjang ini, kritik yg menghunjam oleh beberapa pakar serta praktisi pendidikan cuma dialamatkan pd contoh pendidikan nasional.

padahal, menurut saya, amat penting pun mengkritik pola pelajaran di pesantren—-sebagaimana sekolah umum—-untuk melahirkan generasi bangsa yg diimpikan masyarakat apalagi, terakhir ini, pesantren dituding sbg ‘sarang teroris’ oleh mereka yg berang atas tindakan teror yg mengatasnamakan agama. lihatlah beberapa pelaku teror bom yg berlangsung di sejumlah wadah di tanah air sebagian memperlihatkan ada keterlibatan beberapa santri, dan setidaktidaknya mereka yg sempat belajar di pesantren para pelaku selalu berdalih atas doktrin agama islam yg diajarkan guru-guru mereka. lantaran itu, terlepas diakui dan tidaknya validitas tersebut, sejatinya seluruh pihak, khususnya kaum agamawan mesti mengintrospeksi diri pd pola pelajaran yg diampu di pesantren dalam merespons gosip tersebut, banyaknya pihak lantas mengkritik pengelola pesantren supaya membenahi serta mengevaluasi kurikulum yg dijadikan panduan. jika juga mmg adanya indikasi bahwasanya beberapa pelaku teror itu melakukan tindakan atas nama doktrin agama, yg sempat mereka pelajari di pesantren, hemat saya, kesalahan tak cuma pd persoalan kurikulum, tapi metode pembelajarannyalah yg tak tepat.

metode pembelajaran
hasil penelitian zamakhsyari dhofir (1982) perihal proses pelajaran di pesantren menarik untk diketengahkan di sini. menurutnya, proses pelajaran pesantren pd kebanyakan memanfaatkan tips tradisional, yg biasa disebut bandongan dan sorogan. bandonganatau sorogan yaitu metode pelajaran keagamaan yg di lakukan kiai dan/atau santri senior dgn membaca dan menyimak kitab tertentu yg diikuti beberapa santri dlm total yg sangat banyak sepintas tidak adanya persoalan dgn metode ini. sbg sebuah metode pelajaran supaya santri dapat membaca `kitab gundul’ (teks arab yg tidak berharakat), tips ini amat efisien. namun, pd tingkat pengetahuan perihal isi kitab, santri tidak gampang memahaminya. ini berlangsung lantaran sistem pelajaran yg terjadi cenderung berjalan monoton, indoktrinasi, teacher-centred, text-book, serta top-down santri tak di beri berpeluang bertanya oleh kiai. terkadang, santri cuma diminta membaca teks saja tanpa dibarengi dgn mengerti makna yg terkandung di dlm teks tsb. praktik pendidikan di pesantren dgn demikian, disadari dan tidak, meminjam istilah paolu freire, nyata-nyata sudah menerapkan `model bank’.

ini pun berlaku pd seluruh pelajaran lainnya yg lazimnya membahas tema-tema tertentu di dlm pesantren pendidikan sejatinya diisi acts of cognition (freire, 1991). contoh pendidikan ini mengandaikan ada sikap dialogis antara seorang santri serta kiai. santri tak lagi diperlakukan sbg objek seperti gelas kosong yg mesti berisi air sejumlah mungkin. santri milik hak untk `memprotes’, membantah jika ia tidak sependapat dgn apa yg diutarakan kiai serta berkata `cukup’ kalau air yg berisi rupanya meluap singkatnya, iklim pelajaran sejatinya menganut sebuah jargon: `kiai menerangkan, santri tidak sungkan mengacungkan jari’—jika mmg adanya yg butuh dipertanyakan–sebagai tanda jalinan dialogis jalan dialog—dalam pen didikan berbasis agama (islam)—dapat membebaskan manusia sejak kepasifan serta pun membebaskan sejak penguasaan terhadap manusia lainnya. obrolan yaitu keniscayaan dlm pro ses humanisasi, karena dgn begitu manusia jadi lebih bermakna, dihargai, serta sederajat (shofan, 2004)

meleburkan subjek-objek
karena itu, kelak, sistem penyadaran ini telah semestinya di lakukan dengan cara masif kepada seluruh elemen terkait di pesantren. saya mengasumsikan santri yg dari awal belajar agama—dalam teori fenomenologi—sebagai seorang `pemula’. lantaran sikapnya yg pemula itu, dlm benaknya tentu banyaknya memendam kegelisahan seperti pertanyaanpertanyaan kritis. namun, lantaran kerap x terbentur doktrin agama ataupun doktrin yg bersumber segera sejak kiai, santri juga dgn amat terpaksa `bertekuk lutut’ serta `bungkam’ menuruti apa kata doktrin jadi, pd batas-batas tertentu—tanpa mengurangi rasa hormat serta takzim kepada kiai—hubungan santri serta kiai dlm sistem pelajaran dengan cara ideal sejatinya sama-sama melakukan tindakan sbg subjek, bukanlah subjek-objek. dgn posisi ini, kiai tak lagi menggurui, tetapi larut dlm kondisi saling belajar serta melengkapi satu ama lain dengan kata lain, tidak adanya lagi objek da lam hubung an belajar mengajar antara santri serta kiai. objek yg semula ditimpakan keda santri kini berubah haluan pd realitas serta teks itu sendiri. dgn demikian terciptalah kondisi dialogis yg memiliki sifat intersubjek di dlm mengerti suatu objek bersama (freire, 1984) dengan mendekonstruski jalinan santri serta kiai dlm sistem pelajaran itu, dengan cara nyata dapat mengantarkan nilai-nilai kemanusiaan yg bertitik tolak pd fitrah manusia sbg ciptaan tuhan yg tidak sempat dibeda-bedakan, kecuali lantaran ketakwaannya semata—-sebagaimana dilansir alquran surah al-hujarat ayat 13. bukankah kiai pun manusia biasa, yg boleh jadi, santri akan melampaui tingkat ibadahnya, meski dlm wilayahwilayah tertentu?

karena itu, seluruh treatmentyang adanya dlm praktik pendidikan seharusnya selalu memperhatikan hakikat manusia sbg makhluk tuhan dgn fitrah yg dimiliki sbg makhluk individu yg khusus serta sbg makhluk sosial yg hidup dlm realitas sosial yg beragam. artinya, pemahaman yg utuh perihal sifat manusia wajib di lakukan pra sistem pendidikan dilaksanakan. sebab, pendidikan pd hakikatnya adalah sistem memanusiakan manusia (humanizing human being). ‘pendidikan yaitu sistem pembebasan serta sistem membangkitkan kesadaran kritis untuk tiap-tiap insan,’kata freire jadi, nantinya, perbaikan proses pesantren dlm koridor al-muhafadhah ‘ala al-qadim alshalih, wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah (menjaga tradisi lama, serta mendapat tradisi baru) adalah keniscayaan yg butuh di lakukan tepat perkembangan zaman. modernitas serta globalisasi dgn semua aspek positif serta negatifnya tak untk dihindari, tapi sebaliknya malah butuh disikapi dengan cara bijaksana serta arif kita butuh mengapresiasi banyaknya pesantren yg kini telah makin maju lantaran sudah mengadopsi pendidikan modern. beberapa santri akan menikmati akses informasi lebih lapang serta leluasa. sebuah anekdot mengatakan: ‘jika dulu santri cuma dengan cara terus-menerus membaca kitab kuning serta alquran, kini pun dapat membaca koran’. 

penggunaan komputer, fasilitas internet, serta penyediaan laboratorium misalnya, waktu ini sudah jadi tren baru di pesantrenpesantren terkemuka para santri diajari bagaimana menggunakan serta mengakses informasi supaya selalu ‘siap’ menghadapi tantangan zaman yg kian modern dengan demikian, pola pelajaran yg bagus di pesantren tsb dapat memengaruhi kualitas beberapa alumnusnya di lalu hari. sebab, di indonesia, banyaknya tokoh penting yg hingga waktu ini populer lapang masyarakat sempat mengenyam pendidikan pesantren. di pesantren, santri pun telah dari awal dibekali dgn kearifan serta nilai-nilai kehidupan, layaknya keberanian mengemukakan pendapat, toleransi, moderatisme, serta lainlain itu sebabnya, apabila di kalangan pemuka agama berlangsung perbedaan pandangan dan pendapat tentang suatu persoalan, misalnya, yg paling aktual perihal penentuan awal mula ramadan antara yg memanfaatkan metode hisab serta rukyat, kaum santri serta diikuti masyarakat umum menganggapnya perihal lumrah. perbedaan dlm perihal apa juga adalah kewajaran dan dlm bahasa agama disebut sunatullah nabi muhammad saw bahkan juga beranggapan perbedaan di kalangan umatnya sbg rahmat. lantaran itu, tidaklah bagus jika mendapati sikap seorang pemuka agama dan siapa juga itu yg mempermasalahkan perbedaan pendapat di kalangan masyarakat, masuk urusan agama

Oleh : Ali Usman

No comments:

Post a Comment