padahal, menurut saya, amat penting pun mengkritik pola pelajaran di
pesantren—-sebagaimana sekolah umum—-untuk melahirkan generasi bangsa yg diimpikan masyarakat apalagi, terakhir
ini, pesantren dituding sbg ‘sarang teroris’ oleh mereka yg berang atas tindakan teror yg
mengatasnamakan agama. lihatlah beberapa pelaku teror bom
yg berlangsung di sejumlah
wadah di tanah air sebagian memperlihatkan
ada keterlibatan beberapa santri, dan setidaktidaknya mereka yg sempat belajar di pesantren para pelaku selalu berdalih
atas doktrin agama islam yg diajarkan guru-guru mereka. lantaran itu, terlepas diakui dan
tidaknya validitas tersebut, sejatinya seluruh
pihak, khususnya kaum agamawan mesti mengintrospeksi diri
pd pola pelajaran yg
diampu di pesantren dalam merespons gosip tersebut, banyaknya pihak lantas mengkritik pengelola pesantren supaya membenahi serta mengevaluasi
kurikulum yg dijadikan panduan.
jika juga mmg adanya
indikasi bahwasanya beberapa pelaku
teror itu melakukan tindakan atas nama doktrin agama, yg sempat mereka pelajari di pesantren,
hemat saya, kesalahan tak cuma pd persoalan kurikulum, tapi metode
pembelajarannyalah yg tak tepat.
metode pembelajaran
hasil penelitian zamakhsyari dhofir (1982) perihal proses pelajaran di pesantren menarik untk diketengahkan di sini. menurutnya, proses pelajaran pesantren pd kebanyakan memanfaatkan tips tradisional, yg biasa disebut bandongan dan sorogan. bandonganatau sorogan yaitu metode pelajaran keagamaan yg di lakukan kiai dan/atau santri senior dgn membaca dan menyimak kitab tertentu yg diikuti beberapa santri dlm total yg sangat banyak sepintas tidak adanya persoalan dgn metode ini. sbg sebuah metode pelajaran supaya santri dapat membaca `kitab gundul’ (teks arab yg tidak berharakat), tips ini amat efisien. namun, pd tingkat pengetahuan perihal isi kitab, santri tidak gampang memahaminya. ini berlangsung lantaran sistem pelajaran yg terjadi cenderung berjalan monoton, indoktrinasi, teacher-centred, text-book, serta top-down santri tak di beri berpeluang bertanya oleh kiai. terkadang, santri cuma diminta membaca teks saja tanpa dibarengi dgn mengerti makna yg terkandung di dlm teks tsb. praktik pendidikan di pesantren dgn demikian, disadari dan tidak, meminjam istilah paolu freire, nyata-nyata sudah menerapkan `model bank’.
ini pun
berlaku pd seluruh pelajaran
lainnya yg lazimnya membahas
tema-tema tertentu di dlm pesantren pendidikan
sejatinya diisi acts of cognition (freire, 1991). contoh pendidikan ini mengandaikan ada
sikap dialogis antara seorang santri serta kiai. santri tak lagi diperlakukan sbg objek seperti gelas kosong yg mesti berisi air sejumlah mungkin. santri milik hak untk `memprotes’, membantah
jika ia tidak sependapat dgn apa yg diutarakan kiai serta
berkata `cukup’ kalau air yg berisi rupanya meluap singkatnya,
iklim pelajaran sejatinya menganut sebuah jargon: `kiai
menerangkan, santri tidak sungkan mengacungkan jari’—jika
mmg adanya yg
butuh dipertanyakan–sebagai tanda jalinan
dialogis jalan dialog—dalam pen didikan berbasis agama (islam)—dapat
membebaskan manusia sejak kepasifan serta
pun membebaskan sejak penguasaan terhadap manusia lainnya. obrolan yaitu keniscayaan dlm
pro ses humanisasi, karena dgn
begitu manusia jadi lebih bermakna, dihargai, serta sederajat (shofan, 2004)
meleburkan subjek-objek
karena itu, kelak, sistem penyadaran ini telah semestinya di lakukan dengan cara masif kepada seluruh elemen terkait di pesantren. saya mengasumsikan santri yg dari awal belajar agama—dalam teori fenomenologi—sebagai seorang `pemula’. lantaran sikapnya yg pemula itu, dlm benaknya tentu banyaknya memendam kegelisahan seperti pertanyaanpertanyaan kritis. namun, lantaran kerap x terbentur doktrin agama ataupun doktrin yg bersumber segera sejak kiai, santri juga dgn amat terpaksa `bertekuk lutut’ serta `bungkam’ menuruti apa kata doktrin jadi, pd batas-batas tertentu—tanpa mengurangi rasa hormat serta takzim kepada kiai—hubungan santri serta kiai dlm sistem pelajaran dengan cara ideal sejatinya sama-sama melakukan tindakan sbg subjek, bukanlah subjek-objek. dgn posisi ini, kiai tak lagi menggurui, tetapi larut dlm kondisi saling belajar serta melengkapi satu ama lain dengan kata lain, tidak adanya lagi objek da lam hubung an belajar mengajar antara santri serta kiai. objek yg semula ditimpakan keda santri kini berubah haluan pd realitas serta teks itu sendiri. dgn demikian terciptalah kondisi dialogis yg memiliki sifat intersubjek di dlm mengerti suatu objek bersama (freire, 1984) dengan mendekonstruski jalinan santri serta kiai dlm sistem pelajaran itu, dengan cara nyata dapat mengantarkan nilai-nilai kemanusiaan yg bertitik tolak pd fitrah manusia sbg ciptaan tuhan yg tidak sempat dibeda-bedakan, kecuali lantaran ketakwaannya semata—-sebagaimana dilansir alquran surah al-hujarat ayat 13. bukankah kiai pun manusia biasa, yg boleh jadi, santri akan melampaui tingkat ibadahnya, meski dlm wilayahwilayah tertentu?
karena itu, seluruh treatmentyang adanya dlm praktik pendidikan seharusnya selalu memperhatikan hakikat manusia sbg makhluk tuhan dgn fitrah yg dimiliki sbg makhluk individu yg khusus serta sbg makhluk sosial yg hidup dlm realitas sosial yg beragam. artinya, pemahaman yg utuh perihal sifat manusia wajib di lakukan pra sistem pendidikan dilaksanakan. sebab, pendidikan pd hakikatnya adalah sistem memanusiakan manusia (humanizing human being). ‘pendidikan yaitu sistem pembebasan serta sistem membangkitkan kesadaran kritis untuk tiap-tiap insan,’kata freire jadi, nantinya, perbaikan proses pesantren dlm koridor al-muhafadhah ‘ala al-qadim alshalih, wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah (menjaga tradisi lama, serta mendapat tradisi baru) adalah keniscayaan yg butuh di lakukan tepat perkembangan zaman. modernitas serta globalisasi dgn semua aspek positif serta negatifnya tak untk dihindari, tapi sebaliknya malah butuh disikapi dengan cara bijaksana serta arif kita butuh mengapresiasi banyaknya pesantren yg kini telah makin maju lantaran sudah mengadopsi pendidikan modern. beberapa santri akan menikmati akses informasi lebih lapang serta leluasa. sebuah anekdot mengatakan: ‘jika dulu santri cuma dengan cara terus-menerus membaca kitab kuning serta alquran, kini pun dapat membaca koran’.
penggunaan komputer, fasilitas internet, serta penyediaan laboratorium misalnya, waktu
ini sudah jadi tren baru di
pesantrenpesantren terkemuka para santri diajari bagaimana menggunakan
serta mengakses informasi supaya
selalu ‘siap’ menghadapi tantangan zaman yg kian modern
dengan demikian, pola pelajaran yg bagus di pesantren tsb dapat
memengaruhi kualitas beberapa alumnusnya di lalu hari. sebab, di indonesia, banyaknya
tokoh penting yg hingga waktu ini populer lapang
masyarakat sempat mengenyam pendidikan pesantren. di
pesantren, santri pun telah dari awal dibekali dgn kearifan serta nilai-nilai kehidupan, layaknya
keberanian mengemukakan pendapat, toleransi, moderatisme, serta
lainlain itu sebabnya, apabila di kalangan pemuka
agama berlangsung perbedaan pandangan dan
pendapat tentang suatu persoalan, misalnya, yg paling aktual perihal penentuan awal
mula ramadan antara yg memanfaatkan
metode hisab serta rukyat, kaum santri serta
diikuti masyarakat umum menganggapnya perihal lumrah.
perbedaan dlm perihal apa juga adalah kewajaran dan
dlm bahasa agama disebut sunatullah nabi muhammad
saw bahkan juga beranggapan
perbedaan di kalangan umatnya sbg rahmat. lantaran
itu, tidaklah bagus jika mendapati
sikap seorang pemuka agama dan siapa juga
itu yg mempermasalahkan perbedaan pendapat di kalangan
masyarakat, masuk urusan agama
Oleh : Ali Usman

No comments:
Post a Comment