Monday, 28 March 2016

Meningkatkan Budaya Riset di Indonesia

Meningkatkan Budaya Riset di Indonesia - menarik mmg apa yg dilansir oleh richard horton. chief editor jurnal lancet edisi 27 februari 2016. beliau menulis era pasang-surut dunia riset kesehatan serta kedokteran indonesia.

padahal thn 1960-an saja, fk ui saja dosennya sudah sanggup menembus jurnal internasional sekelas lancet . tentu ini tak saja berlaku pd dunia kesehatan serta kedokteran, berlaku utk seluruh bidang keilmuan yg adanya di indonesia.

salah satu penjelasan beliau yaitu kultur akademisi kami lebih suka berbicara, dibandingkan dgn menulis. komunitas riset kami tak familier dgn bahasa ilmiah yg berlaku umum di dunia publikasi internasional
untuk membuktikannya mmg gampang. periksa saja total publikasi akumulasi dosen indonesia.

indeks publikasi profesor saja pd 2012 tak dapat lebih sejak 0,20. berarti cuma 20% profesor yg mempunyai publikasi internasional. sementara malaysia telah meraih 1 jurnal/dosen/tahun serta dua jurnal/dosen/tahun di jepang atau periksa tempat sosial, layaknya whatsapp (wa), facebook, dan tempat sosial yang lain yg adanya. apabila postingan akademik masuk, beberapa anggota berlarian tak banyaknya yg mengomentari. kisah tak hanya akademik dlm wa dosen malah lebih menarik, daripada kisah bagaimana dunia riset akan dikembangkan
ketika penulis berbicara dgn salah seorang dosen di york, uk akhir semester lalu, beliau segera menyatakan, ”saya telah senang”. lantaran akhir semester ini telah memasukkan dua buah jurnal utk direviu. menjadi jelas sasaran publikasi jadi budaya akademik di negara di mana pt-nya telah maju

akar problem
tiga perihal yg butuh diperbaiki supaya dunia riset kami maju. pertama, proses pendanaan riset yg terikat dgn contoh penerimaan negara bukanlah pajak (pnbp) telah selayaknya dipertimbangkan ulang. dgn skema layaknya ini, pundi-pundi penerimaan negara kelihatannya dengan cara terselubung disuruh kepada perguruan tinggi yg jadi masalah berat perguruan tinggi
selama ini formulanya yaitu besarnya dana riset sebanding dgn besarnya dana pnbp. berakibat perguruan tinggi ”terpaksa” meladeni pemenuhan unsur pemerataan, dgn mendapat mahasiswa banyak, daripada memajukan riset di perguruan tinggi dengan cara berkualitas serta meningkatkan kualitas
dosen-dosen muda dipaksa mengajar banyak. yg semula dua mata ajar, setara dgn 6 sks, lalu ditugaskan mengajar tambahan di diploma 3. padahal dosen muda mesti merampungkan persiapan utk studi lanjutan, persiapan bahasa inggris, serta ikut riset dgn dosen seniornya. ini bikin tawaran mengajar mendapatkan cash money yg menarik, daripada menempuh dunia akademik yg berat di awal. berakibat kultur dosen utk riset tak terbangun
kedua, skema riset dgn proses sekarang lebih mengutamakan capaian administratif daripada substansi hasil riset. skema-skema riset yg digabung dengan cara nasional, masih tetap umum sifatnya tak memecahkan bidang keilmuan di mana sebuah universitas jadi kuat
sebagai pemeriksa proposal dari 2010 serta pemonitor riset, terkesan pemenuhan unsur administratif amat menonjol. seluruh bukti asli diperlihatkan oleh dosen pemenang hibah. tetapi apabila kami periksa publikasi, buku ajar, paten, dan hilirisasinya, banyaknya yg mengelak dgn seharus-nya dijanjikan di awal penetapan pemenang riset
dosen-dosen kami jadi ”favorit” penyelenggara seminar domestik serta internasional. masuk pun beberapa pengelola jurnal yg mencari dosen-dosen kami serta menawarkan publikasi, yg rupanya jurnalnya banyaknya yg bodong. seminarnya lebih kepada pemenuhan entertainment, lantaran sistem reviu sejak pembicara amat longgar
ketiga, yaitu research center di perguruan tinggi kami belum ber-kembang. yg adanya yaitu lembaga penelitian, liason officer-nya perguruan tinggi, yg mengurusi administrasi riset. kontrak riset banyaknya yg dilaksanakan dengan cara individu. padahal, sebuah riset mesti dikerjakan lintas bidang serta jauh lebih bagus hasilnya terinstitusionalisasi
research center tak berkembang, lantaran masing-masing dosen tak membudayakan sistem riset pd sebuah institusi riset. sistem pembimbingan mahasiswa pun tak berjalan dengan cara bagus. besar dugaan aktivitas seminar belum terlaksana dengan cara bagus. ini berdampak jelek pd kondisi akademik yg berlangsung di universitas-universitas. jurnalnya pun tak ber-kembang serta kerap mati pucuk sesudah sejumlah edisi terbit
anehnya prestasi menghasilkan jurnal, publikasi dlm bentuk jurnal, dan buku ajar, tak dijadikan sbg sebuah evaluasi untuk prestasi dosen. berakibat dosen berpotensi eksodus utk memburu jabatan nonakademik, sekelas rektor/dekan dan pembantunya. tidak sering yg mau melanjutkan riset doktoralnya sesudah kembali ke perguruan tinggi setempat
solusi
dengan skema pendanaan desentralisasi sehingga masih tetap banyaknya ruang gerak yg akan diusulkan utk memajukan riset di indonesia
pertama, butuh pengembangan skema dosen peneliti inti di masing-masing jurusan. mereka yg berstatus dosen peneliti inti mendapatkan mandat lebih kuat utk menghasilkan riset akademik yg bermutu. kepada mereka akan diberikan block grant riset dgn sasaran akhir publikasi, buku ajar, dan paten
kedua, sistem penelitian akan didorong lahir dlm research center/research group, laboratorium di masing-masing universitas. kelahiran research center yg khusus amat bikin beberapa dosen berafiliasi di research center. sistem pembimbingan mahasiswa pascasarjana akan berlangsung di sana. ini pun utk menjaga supaya berlangsung sustainability sistem riset yg mumpuni
ketiga, beberapa profesor akan memajukan research center dgn apalagi dulu menyusun payung penelitian yg strategis dlm jangka panjang. satu profesor akan beranggotakan dua dan tiga doktor, dan mahasiswa calon doktor dan mahasiswa program master yg turut dan dengan cara full time di research center
ketika tiga tahapan itu dapat dihasilkan dlm pengembangan pendidikan tinggi, mungkin daya ungkit publikasi, buku ajar, maupun paten bikin daya saing perguruan tinggi kami dapat maju
orientasi pendidikan tinggi sarjana baiknya diarahkan pd kualitas. sementara utk perguruan tinggi yg tak banyaknya risetnya, mandat pengajaran boleh lebih menonjol, dan diarahkan utk calon angkatan bekerja yg terampil.

Pelaku Kejahatan Seksual Harus Dihukum Berat

Pelaku Kejahatan Seksual Harus Dihukum Berat - komisi perlindungan anak indonesia (kpai) merilis buku bertajuk gerakan melawan kekejaman terhadap anak. peluncuran buku ini dimotivasi oleh kenyataan peningkatan kasus-kasus kekerasan terhadap anak sejak saat ke saat di negeri ini. data kekerasan terhadap anak yg dirilis kpai sungguh amat mencemaskan. kpai mencatat, sejak kurun saat 2010-2014 mendapati 21869797. kasus pelanggaran terhadap hak anak yg menyebar di 34 provinsi serta 179 kabupaten/kota di semua indonesia.

menurut data kpai, sejumlah 42-58% sejak kasus pelanggaran hak anak itu kekerasan seksual serta selebihnya adalah kasus kekerasan jasmani serta penelantaran anak. data kekerasan fisik, psikis, serta seksual terhadap anak terus meningkat tiap-tiap thn. pd 2010 tercatat 2046. kasus kekerasan terhadap anak dgn 42% di antaranya kekerasan seksual.

pada 2011 berlangsung 2426. kasus kekerasan terhadap anak (58% di antaranya kejahatan seksual) serta pd 2012 berlangsung 2637. kasus (62% di antaranya kejahatan seksual). pd 2013 berlangsung peningkatan kasus kekerasan terhadap anak dengan cara signifikan adalah sejumlah 3339. kasus kekerasan dgn 62% di antaranya kejahatan seksual. sedangkan pd 2014 (januari - april) berlangsung 600 kasus kekerasan terhadap anak. data ini dapat membengkak jika ditambah data kasus kekerasan terhadap anak hingga maret 2017
khusus terkait kasus kekerasan serta kejahatan seksual terhadap anak, data yg dirilis kpai di atas memperlihatkan bahwasanya kejahatan seksual terhadap anak terus meningkat dengan cara signifikan sejak thn ke thn (2010-2013). beberapa predator seksual terhadap anak menggunakan serta menyalahgunakan kepolosan anak-anak.

kapan saja serta di mana saja di belahan dunia ini, seluruh anak yaitu polos (innocent). polos jiwanya, polos hatinya, polos wajahnya, polos perilaku moralnya, serta polos ujar katanya. beberapa predator seksual amat lihai menggunakan serta menyalahgunakan kepolosan serta ketidakberdayaan anak-anak.

dengan tips mengiming-imingi hadiah dan pemberian yg jadi kesukaannya dan dgn tips lainnya yg menarik hati anak-anak, beberapa penyodom serta predator seksual dapat sukses mengerjakan kejahatannya kepada anak-anak. lantaran sifatnya yg polos, tak awas, serta tak berdaya, anak-anak dgn gampang dirayu serta dijadikan sasaran empuk kejahatan seksual oleh beberapa predator seksual.

seorang predator anak yg diberitakan dengan cara lapang di tempat massa sejumlah saat kemudian yaitu andri sobari atau emon di sukabumi (jawa barat). dlm keterangan persnya, wakil polres sukabumi kota brigjen rycko amelz dahniel membeberkan dengan cara rinci bahwasanya emon sudah menyodomi sejumlah 110 anak. tak tanggung-tanggung angkanya.

bisa menjadi angka itu rekor tertinggi sepanjang ini. total anak yg jadi korban kejahatan seksual emon sejumlah 110 anak. luar biasa! dia pantas disebut predator seksual kelas kakap terhadap anak.

melihat banyaknya total korban sodomi yg meraih angka 110 anak itu, emon tentu sudah mengerjakan perbuatan kejinya terhadap anak-anak dlm kurun saat yg panjang. emon pandai merayu serta mengiming-imingi hadiah serta pemberian kepada anak-anak pra menyodomi mereka.

sebagai manusia yg beragama, beradab, bermoral, serta berperikemanusiaan, kami mengecam serta mengutuk perbuatan keji emon. kami tentu amat berempati terhadap anak-anak yg jadi korban kejahatan seksual emon. apa pula yg berlangsung di magelang?

koran sindo, 12 maret 2016, memberitakan di headline-nya bahwasanya sejumlah 15 orang anak di bawah usia diduga jadi korban sodomi yg di lakukan m sirojul malik, 18, di kecamatan windusari, magelang, jawa tengah. pelaku diduga sudah mengerjakan sodomi tsb sepanjang kurun saat empat thn terhadap beberapa bocah yg jadi korban kejahatannya
sang predator seksual itu sudah ditahan polisi di mapolsek windusari untk kemudian langsung di lakukan pengusutan terhadap perbuatan kejinya. beberapa korban kejahatan seksual itu anak-anak tetangga yg rumahnya berdekatan dgn kediaman tersangka. pra tersangka mengerjakan perbuatan amoralnya, ia bersikap amat ramah, bermanis-manis muka, serta berikan iming-iming seperti mainan kepada calon korban.

polisi setempat meluncurkan pernyataan bahwasanya pihaknya sudah mendapat laporan perihal dugaan sodomi itu sejak salah satu orang tua korban. atas dasar laporan itu, polisi menahan tersangka.

***
masih banyaknya kasus-kasus sodomi serta kejahatan seksual terhadap anak-anak yg mirip kasus emon serta kasus sirojul malik yg belum terungkap ke permukaan di kota-kota serta kawasan di semua indonesia.

kata-kata puitis yg diberikan kepada seorang anak diekspresikan dgn ungkapan: buah kasih sayang, mutiara cinta, anak, belahan hati, dan belahan jiwa. jika sbg anak tunggal, ia disebut anak semata wayang sbg aktualisasi diri kecintaan serta kasih sayang orang tua terhadap anak tunggalnya itu.

semua aktualisasi diri puitis ini memiliki arti bahwasanya kelahiran serta kehadiran seorang anak itu amat didambakan, dirindukan, disayangi, serta amat dicintai. tentu ayah-bunda dapat mengasuhnya dgn penuh rasa asuh, asih, serta asah tanpa mengenal keluh serta kesah. anak-anak yg memiliki sifat polos yg dijuluki sbg tunas harapan bangsa musti terus dilindungi sejak beberapa pelaku kekerasan, penyiksa, penganiaya, penculik, pembunuh, penyodom, serta predator seksual.

tepat serta bijaksana sekali bila kpai merilis buku gerakan melawan kekejaman terhadap anak. telah selayaknya beberapa pelaku kekerasan, penculik, penganiaya, pembunuh, penyodom, serta predator seksual terhadap anak dihukum amat berat. perbuatan mereka itu melanggar hak-hak asasi anak-anak serta adalah kejahatan kemanusiaan yg amat berat.

kita mengecam serta mengutuk perbuatan amoral yg di lakukan beberapa pelaku kejahatan seksual terhadap anak. utk itu, wacana utk memberlakukan hukum kebiri terhadap predator seksual terhadap anak patut disambut bagus.

Oleh : Faisal Ismail
Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Cara Seorang Kyai Mendidik Para Santri

Cara Seorang Kyai Mendidik Para Santri - akhir-akhir ini perdebatan perihal pendidikan sedemikian banyaknya di lakukan di tengah masyarakat. mereka mendiskusikan perihal butuh tidaknya ujian negara, anggaran pendidikan yg belum mencukupi, peminat termasuk perguruan tinggi swasta makin menurun, kualitas pendidikan rendah, sampai persoalan bagaimana mengembalikan ruh pendidikan yg dirasa makin lenyap. diskusi yang lain berbicara, pendidikan telah terseret jauh ke alam kapitalis. pendidikan yg seharus-nya dijalankan atas dasar kesadaran membangun manusia berkualitas di era depan, rupanya dlm praktek pendidikan diwarnai oleh kondisi transaksional, persis sama yg berlangsung di pasar. adalah kondisi jual beli, transaksi berlangsung manakala adanya kesepakatan harga.

berbagai masalah  itu menjadikan pendidikan seolah-olah terjerembab pd beragam persoalan yg tak sempat henti. akibatnya, beberapa pelaku pendidikan tak pernah berpikir perihal peningkatan kualitas hasil pendidikan, mengaitkan antara pendidikan dgn tuntutan kebutuhan nyata ke depan, terlebih berpikir mencari langkah-langkah strategis maupun bentuk-bentuk pendidikan yg lebih berkualitas. malah yg mereka pikirkan yaitu bagaimana mencari tambahan anggaran pendidikan, seleksi masuk, pelaksanaan ujian akhir, wisuda beberapa lulusan serta sejenisnya. dunia pendidikan jadi terasa ruwet, berkualitas rendah serta rumit dicarikan pemecahannya.

sesungguhnya mencari jalan keluar sejak persoalan pendidikan, tidaklah terlampau rumit. bangsa ini telah kaya pengalaman penyelenggaraan pendidikan. pondok pesantren yg dikelola oleh beberapa kyai, yg jumlahnya sedemikian banyaknya serta merata di tanah air ini yaitu adalah pengalaman berharga yg butuh ditengok. beberapa pemuka agama ini dgn anggaran murah, sederhana, terjangkau oleh siapapun dapat melangsungkan pendidikan. hasilnya, banyaknya dilihat, tak segelintir tokoh di beragam bidang serta di beragam level, sudah menduduki posisi-posisi penting kepemimpinan masyarakat. salah satu saja sejak apa yg lakukan kyai yg rupanya hasilnya baik yaitu pendekatan yg di lakukan dlm mendidik beberapa santrinya.

kyai dlm mendidik beberapa santri, selalu memposisikan diri layaknya orang tua santri sendiri. mereka bertempat tinggal di lingkungan pesantren. tak sempat adanya kyai yg membangun pesantren di luar lingkungan wadah tinggalnya. sehingga, disebut pesantren manakala di sana adanya kediaman kyai, masjid serta wadah tinggal beberapa santri. struktur bangunan pesantren layaknya itu menjadikan kyai amat dekat dgn beberapa santrinya. beberapa santri tak saja belajar sejak kitab-kitab yg jadi acuan pendidikan pesantren yg bersangkutan, melainkan pun belajar dengan cara segera sejak kehidupan keluarga kyai. beberapa santri belajar bagaimana kyai memposisikan dirinya di hadapan isteri serta anak-anaknya, bagaimana kyai berteman di tengah masyarakat, deskripsi perihal visi serta cita-cita kyai, pandangan hidup serta hal-hal kehidupan penting lainnya, seluruh itu dengan cara segera dapat dipelajari oleh beberapa santrinya.

kyai dlm mengajar kepada beberapa santri di lakukan dengan cara segera serta utuh, adalah dgn memberi pengertian, pemahaman serta sekalian praktek dlm kehidupan. jika contohnya kyai mengajarkan perihal sholat berjamaah, sehingga tatkala dikumandangkan adzan, kyai langsung menuju ke masjid untk memimpin sholat berjamaah. kyai sambil menyaksikan apakah shof jamaah sudah rapi, sekalian menyaksikan apakah beberapa santri sudah ikut seluruh dlm berjamaah. jika kyai mengajarkan perihal zakat, sehingga pengasuh pesantren tsb pun meluncurkan zakat sejak hasil usahanya serta membagikan kepada yg berhak. dgn praktek layaknya itu, kyai dengan cara segera memberi penjelasan sekalian ketauladanan. begitu juga, apabila kyai mengajarkan perihal hikmah sholat malam, sehingga kyai selalu membangunkan beberapa santrinya mengerjakan ibadah itu bersama-sama. pendidikan di pesantren yg di lakukan oleh beberapa kyai tak sebatas melewati penjelasan lisan, melatih berdiskusi, berdebat melainkan pun menjalankan apa yg diajarkannya. kyai berpandangan jika santri sebatas di beri penjelasan serta disarankan untk berdiskusi, sehingga beberapa santri cuma dapat pandai berbicara serta berdiskusi. dlm kehidupan ini, menurut pandangan kyai, pandai berbicara serta berdiskusi itu penting, dapat tapi pembicaraan itu musti ditindak-lanjuti dgn amal dan perbuatan. agama islam yaitu agama yg menganjurkan serta menuntun umatnya supaya beramal sholeh, serta bukanlah sebatas berbicara.

sekalipun dlm tingkat sederhana, dulu beberapa santri di pesantren pun dijari bertani di kebun kyai. di pesantren pun dibangun koperasi, kemudian disebut koperasi pesantren adanya di mana-mana. lembaga ekonomi ini pengelolaannya diserahkan kepada beberapa santri, sampai santri mengenal bagaimana mengelola lembaga ekonomi. jika diundang memberi pengajian di tengah masyarakat, kyai selalu mengikut-sertakan beberapa santri senior, mendampinginya. lantaran itu, jika kami mengundang kyai, sehingga musti bersiap-siap memperoleh beberapa tamu tambahan yakni beberapa sopir serta sekalian santri yg menyertainya. seluruh yg di lakukan kyai itu tak lepas sejak pendidikan yg dikembangkannya. kedekatan kyai dgn beberapa santri menjadikan kyai amat mengenali beberapa santrinya. sekalipun tak di lakukan ujian umum -di lingkungan pemerintah populer ujian negara, beberapa kyai mengetahui mana santri yg cerdas serta maju, begitu pun sebaliknya, santri yg lambat serta selalu tertinggal. yg lebih menarik lagi, kyai dlm mendidik santri tak merasakan mencukupi sebatas aktivitas dhahir, mengajar kitab serta mempraktekkan, melainkan selalu melengkapinya dgn doa, memohon kepada allah. melewati sholat malam, kyai bermunajad, memohon supaya santrinya dikaruniai ilmu serta hidayah.

masih terkait dgn pendidikan pesantren, saya sempat diundang menghadiri upacara haflah akhirus sanah di sebuah pesantren desa. pd acara serimonial itu, hadir semua wali santri serta mengundang kyai sejak sejumlah pesantren dan tokoh masyarakat lainnya. dlm acara itu, tak hanya berisi dgn sambutan serta pengajian umum, pun diadakan semacam pameran unjuk kebolehan santri. beberapa santri yg sudah dinyatakan lulus dipersilahkan naik ke panggung dengan cara bersama-sama. perihal yg amat menarik serta berani, beberapa kyai undangan dipersilahkan mengajukan pertanyaan kepada beberapa santri yg sudah dinyatakan lulus, terkait dgn isi kitab yg sudah dipelajari. sejumlah kyai mengajukan pertanyaan, serta rupanya dijawab dengan cara mantap oleh santri. tentu ketangkasan serta ketepatan jawaban mengundang simpatik serta kekaguman semua undangan. saat serta type pertanyaan ternyata tak dibatasi. contoh ujian terbuka, bebas serta berani ini cuma sempat saya temukan di pesantren, serta belum sempat di wadah lain, masuk di perguruan tinggi.

pendidikan yg diselenggarakan oleh beberapa kyai mmg sederhana. kyai tak sempat mengait-ngaitkan antara penyelenggaraan pendidikannya dgn besarnya biaya. kapan serta dgn anggaran berapapun pendidikan, menurut kyai dapat dijalankan. adanya dana mencukupi pendidikan dapat dijalankan, sebaliknya tak adanya dana juga pendidikan tak boleh stagnan. pendidikan yg dijalankan oleh beberapa kyai layaknya ini telah terjadi lama. hasilnya, tak segelintir tamatan pesantren berani hidup di tengah masyarakat serta bahkan juga sukses mengerjakan peran-peran kepemimpinan strategis di beragam level. tak segelintir tokoh nasional yg berlatar belakang pendidikan pesantren. mereka yaitu hasil didikan beberapa kyai. oleh lantaran itu, berbicara perihal pendidikan di indonesia ini, rasanya tak lengkap jika masih tetap mengabaikan pendidikan yg dijalankan oleh beberapa kyai. bahkan juga tatkala bangsa ini sedang berpikir untk mengembangkan pendidikan, sehingga harta benda seperti konsep pendidikan pesantren, patut ditengok. cuma sayangnya, lantaran arus modernisasi yg begitu keras, tak segelintir kyai yg terpengaruh terhadap pendidikan modern serta meninggalkan pendekatan lama. memang, tak adanya salahnya mengikuti transformasi serta kemajuan zaman, tapi semestinya tak musti yg lama yg masih tetap lebih bagus ditinggalkan. uin malang sepanjang ini ikhtiar menggali beragam pendekatan sejak manapun asalnya, bagus sejak yg lama maupun yg baru sbg upaya untk mencapai yg terbaik serta sempurna.

Oleh : Imam Suprayogo
(dengan perubahan seperlunya)

Sunday, 27 March 2016

Hilangnya Rasa Keadilan, Kemanusiaan dan Adab

Hilangnya Rasa Keadilan, Kemanusiaan dan Adab - Pancasila ialah ideologi dasar bagi negara Indonesia. Nama ini terdiri dari dua kata dari Sanskerta: panca berarti lima serta sila berarti prinsip alias asas. Pancasila ialah rumusan serta pedoman kehidupan berbangsa serta bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia. Akan tetapi, hingga kini belum terkesan terperinci adanya upaya untuk mewujudkan sila-sila pancasila dengan cara sunguh-sungguh.

Tidak ada yang dengan sepenuh hati melaksanakan kelima sila ini dengan cara konkret. Jangankan melaksanakan dengan sungguh-sungguh, asa untuk membicarakannya saja terkesan telah tidak ada lagi. Hanya mentok dari bangku sekolah, kampus, serta arena diskusi mahasiswa yang akhirnya hanya menguap semacam asap kopi serta rokok mereka. Para mahasiswa yang dari jaman Orla-hingga jaman medio tahun 2000an sangat aktif turun jalan serta menyuarakan bunyi hati masyarakat kecil mulai terbungkam lisan mereka, padahal mereka memiliki label yang sangat mulia “Agent of Change”, mulai terdiam serta hanya menikmati label mereka sebagai mahasiswa.

Nasib si jelata pun mulai terlantar lantaran kelakuan mahasiswa kini serta para anak buah dewan terhormat yang mulai tidak peduli lagi. Usaha pelemahannya terjadi masif di beberapa daerah serta dilakukan oleh beberapa kelompok masyarakat, serta parahnya lagi tidak sedikit dilakukan oleh para pejabat pemerintahan yang mulia. Jangankan pelemahannya, perjuangan pengkhianatan sila-sila pancasila telah terjadi serta celakanya dilakukan oleh komplotan penguasa negara ini.

Sejarah telah menyatatnnya, tidak sedikit peristiwa-peristiwa pengkhianatan ideologi dasar negara Indonesia terjadi dilakukan oleh para pejabat pemerintahan. Kemanusiaan yang adil serta beradab yang tertera pada sila kedua pancasila telah terkikis makna serta tujuannya. Dalam sejarah bangsa Indonesia, rakyat Indonesia sempat dibantai oleh penguasa negeri ini sendiri, apabila meminjam perkataannya Pram, “Orde baru dibuat atas luka genosida yang memakan ratusan ribu bahkan hingga satu setengah juta penduduknya.”

Ini terperinci tidak sesuai dengan isi sila kedua pancasila, kualitas kemanusiaan, keadilan, serta keberadaban telah terkikis musnah. Bangsa Indonesia serta pancasila telah terkhianati, serta pengkhianatan ini tidak terjadi pada masa itu. Pengkianatan ini terjadi seiring tumbuhnya negara ini hingga berusia 71 tahun. Dari momen yang terjadi di masa orba yang dikenal dengan istilah Gestapu, kematian Mursinah, terbunuhnya aktivis HAM Munir, dibantainya petani di Mesuji, nenek nyolong coklat yang dipenjara, hingga momen driver Lamborghini yang nabrak penjual susu beserta pembelinya hanya dipenjara 5 bulan. Itulah sedikit momen yang melukai hati pancasila terutama sila kedua serta pastinya tetap tidak sedikit momen yang belum tertulis disini.

Oleh : Akhmad Yusuf A.

Thursday, 24 March 2016

Gadget Memberi Kemudahan atau Malah Menyusahkan?

Gadget Memberi Kemudahan atau Malah Menyusahkan? - Di zaman digital hari ini yang semua keperluan serta kebutuhan hanya dilakukan dari genggaman tangan saja rasanya semakin mengkhawatirkan. Semuanya serba online, beli baju dengan online, beli tiket pesawat dengan online, pesan taksi atau pesan ojek , bahkan beli bumbu dapur makanan serta semuanya serba online. Lama lama pasar serta segala interaksinya akan hilang ? aduh bagaimana ya… sebetulnya setiap orang yang belanja serta pergi kepasar merupakan hakekatnya ingin berinteraksi sesama.

Mempererat persaudaraan nah kata persauadaraan inilah yang penting pertanyaan apakah dengan sistim serba digital serta on line persaudaraan bisa terjalin ..? hmmm Sampai-sampai ojek online serta taksi konvensional berdemo yang ujung-ujungnya saling hantam serta babak belur, lah yang salah itu siapa teknologi nya apa orangnya. Kalau teknologinya yang disalahkan tentu kita tidak bisa menolak karena  dari mulai bocah sampai kakek serta nenek sudah pintar mainkan tut di Handphone maupun smartphone.

Oke,  jadi siapa orang nya kah, iya kalau orangnya saya setuju sebab teknologi kan cipataan manusia jadi gimana manusianyasaja yang menggunakan nya. mau dibawa sebagai sarana utnuk kemudahan monggo untuk saran kesusahan juga monggo. Karena memang semenjak asertaya smartphone serta handphone angka perselingkuhan serta kriminal meningkat angka nya saya nggak tau persis. Tapi di balik itu pun kemudahan dalam melakukan sesuatu semakin sangat mudah semudah menyentuh tutnya.

Lalu jika demikian bagaimana kita memanfaatkan benda kecil dan  canggih tersebut. Tentu yang perlu dicermati merupakan untuk apa dulu kegunaannya, jika hanya untuk menelpon serta sms mungkin cukup saja kita pakai serta beli yang biasa-biasa aja. Tapi jika mengingin kan model aplikasi yang berbagai macam ya beli saja yang modl smartphone. Jadi jika sebaliknya pasti lah kita akan kedodoran jika yang dipakai hanya telpon serta sms tapi yang kita pakai merupakan yang smartpon waaah mubadzir. Bisa-bisa apa yang kita pakai lbih banyak mudharadnya dari pada manfaat nya. Kalau  sudah begini tentu malapetaka jadinya hal-hal yang tidak terpikirkan karena benda itu ada didepan mata kita menjadi bisa terlaksana. Pantaslah jika perselingkuhan serta kriminalisasi serta penipuan merajalela serta meningkat tajam. Karena dengan mudahnya bisa di link dari satu tangan serta itu bisa dilakukan siapa aja.

Jadi memang masyarakat kita belum siap menghadapi lonjakan teknologi digital yang serba canggih itu, kalau orang korea serta jepang yang membuat benda itu siang malam berpikir lalu pusing karena tidak ada waktu untuk istirahat serta menikmati jerih payah kemudian pelariannya ke kafe-kape sambil minum minuman keras untuk menghilangkan stres karena ditekan produksi. tapi masyarakat kita kan tinggal memakai saja.

Lalu dibuat jadi susah menyalahi orang seperti demo ojek online dengan taksi konvensional. Karena peristiwa  seperti itu baiknya kita manfaatkan benda yang nama smartphone, Handphone serta yang lain-lain namanya kita pakai untuk yang baik serta bermanfaat banyak. Untuk silahturahmi menanyakan kabar teman saudara mengorder ojek serta lain sebagainya yang belum bisa agar belajar membuat benda itu menghasilkan apakah buat diri pribadi atau buat orang banyak. Berguna ya tentu berguna, contoh nya ojek online itu taksi online itu biayanya murah serta kita tidak perlu repot-repot tawar menawar di jalanan, mereka langsung menjemput kita di depan pintu rumah.

Beli kebutuhan sehari-hari juga mudah sambil tiduran tidak pakai mandi dulu juga bisa. Perosalannya kemudian interaksi sesama manusia yang sebenarnya merupakan kebutuhan kita bermasyarakat menjadi hilang. Kehidupan menjadi sendiri – sendiri,  masing-masing asik dengan dunia nya dengan gadget nya itu. tidak kenal teman di sebelahnya bahkan mungkin yang jauh menjadi dekat yang dekat menjadi jauh. Sebagai makhluk sosial keperluan untuk saling tolong menolong serta berkomunikasi merupakan hal yang sangat mutlak karena dengan berinteraksi serta berkomunikasi maka kita bisa hidup. Komunikasi itu sendiri bisa berbagai macam cara disesuaikan dengan perkembangan kehidupan masyarakat itu sendiri. teknologi merupakan hanya sarana serta prasarana saja.

Oleh : Hayatdin

Wednesday, 23 March 2016

Kekuatan dari Rasa Kasih dan Sayang

Kekuatan dari Rasa Kasih dan Sayang - Jika seseorang telah mempunyai rasa kasih sayang terhadap sesuatu jadi ia akan melakukan apa saja yang dapat diperbuat untuk menunjukkan rasa kecintaannya itu. Rasa kasih sayang alias cinta rutin melahirkan kesediaan untuk berkorban. Karena itulah jadi timbul sebutan bahwa cinta merupakan pengorbanan. Atas dasar pemahaman ini, para ceo di beberapa organisasi mengusulkan supaya semua yang dipimpinnya, rutin berusaha menumbuhkan kecintaan terhadap posisi serta tipe tugasnya di mana saja mereka ditempatkan.

Rasa kasih sayang dikatakan rutin mempunyai kekuatan dahsyad, jadi sanggup melahirkan pengorbanan serta bahkan pengorbanan kiranya susah dibantah oleh siapapun. Sebab bukti-bukti yang mendukungnya tak susah dicari. Seorang pria yang lagi jatuh cinta pada seorang wanita, serta juga sebaliknya, akan melakukan apa saja yang dapat diperbuat untuk mendekatinya. Pengorbanan apapun akan ia lakukan, untuk memperoleh apa yang dicintai itu. Seorang ayah alias bunda bersedia melakukan apa saja untuk memenuhi kebutuhan putra-putrinya, oleh karena rasa cintannya yang mendalam. Seorang guru, sekalipun tak memperoleh imbalan ekonomi yang cukup, bersedia bekerja dengan mencurahkan seluruh tenaganya, karena kecintaannya terhadap profesi sebagai guru. Cinta serta kasih sayang nyatanya mempunyai kekuatan penggerak yang menarik hebatnya.

Persoalannya merupakan bagaimana menumbuhkan rasa kasih sayang serta cinta dari setiap orang. Pekerjaan itu nyatanya tak mudah. Dan bahkan belum diketahui tutorial yang paling cocok untuk itu. Rasa kasih sayang tak dapat ditumbuhkan hanya dengan persuasi, ceramah, apalagi dipaksa. Pertumbuhan rasa kasih sayang alias cinta tak rutin mengikuti akal karena dampak yang pasti. Kadang kita temui seorang ganteng namun mempunyai pasangan yang tak lebih cantik, jadi antara keduanya kelihatan tak seimbang. Namun di antara mereka rupanya telah terjalin rasa kasih sayang serta cinta yang mendalam. Mungkin menurut si ganteng itu, wanita itulah yang disebut indah olehnya serta bukan yang indah menurut ukuran kita.

Untuk menumbuhkan rasa kasih sayang alias cinta ini ada pepatan jawa berkata "witing trisno jalaran songko kulino", kecintaan itu akan lahir dari kebiasaan. Jika kita menghendaki seseorang mencintai sesuatu jadi jalan yang paling cocok merupakan melewati pembiasaan. Seorang pria yang biasa berjumpa dengan seorang wanita, jadi interaksi itu akan menumbuhkan rasa cinta. Seorang yang dibiasakan bermain sebuah tipe olah raga, jadi akan mencitai tipe olah raga itu. Seorang yang rutin dekat dengan kendaraan beroda empat tertentu, ia akan mencitai kendaraan beroda empat itu. Mungkin pameo itu ada betulnya, namun apa rutin demikian. Ternyata dalam kehidupan sehari-hari fakta tak rutin membuktikannya. Betapa tak sedikit pria serta wanita yang telah berlama-lama berteman, saling bertempat tinggal di rumah bersebelahan, namun tokh juga tak saling mencintai. Seorang yang dilahirkan dari keluarga guru, nyatanya justru tak mencintai profesi guru. Rasa kasih sayang alias cinta tampaknya tak rutin dapat ditumbuhkan, melainkan diperoleh alias didapatkan alias diberikan oleh Sang Pemilik Nya.

Sifat Arrahman serta Arrahiem merupakan milik Allah. Kedua sifat Nya yang mulia ini dinyatakan dalam al Qur'an di kawasan yang sedemikian banyaknya, bertebaran dalam setiap surat pada al Qur'an. Rupanya Allah memperlihatkan sifat yang mulia ini terhadap makhluk yang dikehendaki Nya, tergolong terhadap insan serta juga binatang. Jika seseorang telah dikaruniai kasih sayang alias cinta terhadap sesuatu, jadi halangan dalam bentuk apapun akan ditaklukkan demi meraih cintanya itu. Karena sifat kasih sayang alias cinta hanyalah milik Allah swt., jadi yang dapat diusahakan merupakan memohon terhadap Nya, supaya kita dikarunia sifat yang mulia itu. Atas dasar keyakinan semacam ini, jadi Rasulullah saw mengajarkan pada umatnya rutin berdoa, supaya rutin dikaruniai rakhmat Nya, dekat pada Nya, serta sifat-sifat mulia yang dimiliki Nya.


Kasih sayang alias cinta atas karunia Allah yang melahirkan semangat pengorbanan itu tak sebatas dalam lingkup sederhana, semacam kasih antara laki-laki serta perempuan, dua tipe makhluk yang berbeda, namun kasih sayang alias cinta juga mempunyai arti yang luas serta berskala besar. Cinta terhadap tanah air, menjadikan seseorang warga negara bersedia mengorbankan apa saja yang ada padanya, untuk membelanya. Apalagi tatkala negara telah dalam kondisi terancam alias bahaya. Karena cintanya terhadap faham, kepercayaan alias agama yang dianut, seseorang berani mati membela faham yang direndahkan alias diremehkan oleh orang lain. Sehingga, tak jarang terjadi konflik serta bahkan peperangan yang dahsyat yang wajib mengorbankan harta benda serta bahkan nyawa untuk membela apa yang dicintainya. Karena itu kasih sayang serta cinta sanggup melahirkan kekuatan yang dahsyat. Terkait dengan pengembangan kampus, UIN Malang, jadi apabila semua warganya yakni para pimpinan, dosen, karyawan serta mahasiswanya memperoleh karunia berupa kecintaan terhadap institusi ini, jadi sekedar bercita-cita membesarkan kampus, tidaklah terlalu sulit. Persoalannya adalah, adakah kesediaan memohon terhadap Nya, supaya sifat-sifat mulia itu dikaruniakan terhadap seluruh warga kampus ini.

Oleh : Imam Suprayogo

Cara Hidup Sehat untuk Mencegah Sakit

Cara Hidup Sehat untuk Mencegah Sakit - Jika Anda tidak ingin sakit, cegahlah dengan nasib sehat. Jika tidak ingin sakau, jadi jangan sentuh narkoba. Jika tidak ingin jatuh, jadi jangan bermain di kawasan tinggi. Semua contoh diatas merupakan bentuk pencegahan. Artinya, segala sesuatu yang sifatnya kurang baik itu sebetulnya mampu dicegah. Jika badan telah merasa meriang, tidak segera diantisipasi dengan istirahat yang cukup, membenahi pola makan, serta menjaga kebugaran, jadi penyakit tentu akan menghampiri.

Ya. apabila tidak ingin, jadi cegahlah. Contoh lain yang patut dicegah adalah, perilaku kekerasan. Saat ini tidak sedikit sekali motif yang melandasi perilaku kekerasan. Ada yang bermotif ekonomi. Hanya ingin memperoleh uang, alias memperoleh barang yang diinginkan, seseorang mampu sesuka hatinya memukul orang lain.

Bahkan merampok alias membunuh. Ada juga dilandasi sebab dendam alias cemburu. Karena pacarnya jalan barang dengan orang lain, si pasar mampu dipukuli alias bahkan dibunuh. Ada juga sebab hal keyakinan. Hanya kerena tidak sama keyakinan, ormas keagamaan mampu melakukan kekerasan. Nah..praktek yang satu ini, tetap tidak jarang kita jumpai. Bahkan, tidak susah untuk menemui perilaku seperti ini di Jakarta. Atas nama ibadah, mereka mampu menutup jalan semaunya. Akibatnya kemacetan parah tidak terbendung. Kalau yang ini tetap mampu ditoleransi.

Ada juga sebab tidak sama agama, pribadi di cap sebagai kafir. Dan kalau telah kafir, jadi wajib diperangi, dipukul, dihakimi alias tindakan tidak terpuji lainnya. Hal-hal seperti ini lah yang harusnya dicegah. Jangan sampai, hanya sebab masalah sepele, diantara kita saling mencaci. Al Quran mengajarkan supaya saling mengganggu antar sesama. Al Quran juga melarang tindakan keji.

Anjuran ini mampu dilihat dalam QS An Nahl ayat 90 disebutkan, “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku 'adil serta berbuat kebajikan, memberi bantuan terhadap kerabat, serta Dia melarang (melakukan) tindakan keji, kemungkaran serta permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu supaya kamu mampu mengambil pelajaran.” Nah...semoga yang mengaku muslim, serta tetap melakukan tindakan tidak terpuji, mampu pribadi sadar seusai menyimak ayat diatas. Ingat, agama justru mengusulkan kita saling mengetahui antar sesama? Dengan saling mengenal, kita tidak mementingkan perbedaan. Yang dipentingkan adalah, dengan mengetahui akan menjalin tali silaturahmi.

Dan menjalin tali silaturahmi itu juga dianjurkan oleh Rasulullah. Kembalilah ke Al Quran untuk melakukan pencegahan. Pahamilah Al Quran dengan cara utuh, jangan sepotong-potong. Jika tidak dengan cara utuh, berpotensi memunculkan kesalahpahaman. Jika telah salah memahami, yang ada merupakan merasa dia paling benar sendiri. Tidak mau mendengar masukan orang lain. Lihat saja kelompok ormas keagamaan. Di segi lain memakai atribut keagamaan, gemar melakukan takbir, tapi gemar juga memukul. Lihat saja para pelaku teror, suka mengaji tapi juga rajin merakit bom. Mari kita cegah perilaku tidak baik itu masuk ke pikiran kita. Berlakulah adil semenjak dalam pikiran.

Dengan memiliki pikiran yang adil, jadi perilakunya pun diinginkan juga akan adil. Kalau keadilan yang muncul, jadi kesejahteraan mampu dirasakan oleh semua orang. Seperti yang tertuang dalam nilai-nilai Pancasila. Jika kita sepakat ingin mencicipi keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, jadi cegahlah segala tindakan yang tidak adil. Cegahlah tindakan kekerasan atas nama apapun di kurang lebih kita. Jika tidak ingin, jadi cegahlah.

Oleh : Ratih Puspa