Tuesday, 12 April 2016

Perjuangan Terhadap Hak Hak Perempuan

Perjuangan Terhadap Hak  Hak Perempuan - hak konstitusional warga negara maupun hak asasi manusia (ham) yg dijamin dlm uud 1945 berlaku untuk semua warga negara indonesia. perihal ini akan dipandang sejak perumusannya yg memanfaatkan frasa ‘setiap orang’, ‘segala warga negara’, dan ‘setiap warga negara’, yg memperlihatkan bahwasanya hak konstitusional dimiliki oleh tiap-tiap individu warga negara tanpa ada perbedaan suku, ras, agama, keyakinan politik, maupun type kelamin  bahkan, uud 1945 menegaskan bahwasanya ‘setiap orang berhak bebas sejak perlakuan yg memiliki sifat diskriminatif atas dasar apa juga serta berhak memperoleh perlindungan terhadap perlakuan yg memiliki sifat diskriminatif’.

dgn demikian, jika mendapati ketentuan dan tindakan yg mendiskriminasikan warga negara tertentu, perihal itu artinya bertentangan dgn uud 1945 oleh lantaran itu tiap-tiap warga negara perempuan mempunyai hak konstitusional yg sama dgn warga negara laki-laki. perempuan pun mempunyai hak untk tak diperlakukan dengan cara diskriminatif, bagus berdasarkan statusnya sbg perempuan ataupun berdasarkan perbedaan yang lain. seluruh hak konstitusional yg sudah diuraikan sebelum itu adalah hak konstitusional tiap-tiap warga negara berjenis kelamin perempuan

namun faktanya, perempuan selalu jadi ladang dlm perlakuan diskriminatif. apabila adanya problem yg menyangkut hak perempuan serta laki-laki, dapat dipastikan perempuan-lah yg memperoleh perlakuan diskriminatif. semisal, subordinat terhadap buruh perempuan dlm pengupahan, hak upah yg didapatkan perempuan tidak sebanding dgn yg didapatkan kaum laki-laki, walau pun buruh perempuan tak kalah rajin dgn laki-laki dlm menjalankan tugasnya .

agar perempuan indonesia dapat selalu memperjuangkan hak-haknya serta tak selalu menerima perlakuan diskriminatif, diperlukan ada perlakuan khas untuk kaum perempuan. perihal ini penting mengingat perlindungan serta pemenuhan hak konstitusional tanpa ada perlakuan khusus, malah cenderung dapat mempertahankan subordinat terhadap kaum perempuan, serta tak sanggup meraih keadilan

pentingnya perlakuan khas untuk perempuan untk menghapus perlakuan diskriminatif pun sudah diakui dengan cara internasional. bahkan, perihal itu diwujudkan dlm konvensi tersendiri, adalah convention on the elimination of all forms of discrimination againts women (cedaw) pada tingkat nasional, upaya menghapuskan subordinat terhadap perempuan menuju kesetaraan jender sudah di lakukan walau pun pd tingkat pelaksanaan masih tetap memerlukan pusat perhatian serius. perihal ini setidaknya akan kami melihat melewati sejumlah peraturan perundang-undangan, yakni seperti prinsip-prinsip umum. bahkan, untk memberi perlindungan terhadap kaum perempuan sejak aksi kekerasan, sudah dibentuk undang-undang nomor 23 thn 2004 perihal penghapusan kekerasan dlm kediaman tangga (kdrt)
di sebelah ketentuan-ketentuan hukum yg sudah memberi perlakuan khas terhadap perempuan, dan paling tak sudah disusun untk meraih kesetaraan jender, tentu masih tetap mendapati peraturan perundang-undangan yg dirasakan memiliki sifat diskriminatif terhadap perempuan, dan paling tak belum sensitif jender. apalagi, sampai waktu ini masih tetap banyaknya berlaku ketentuan peraturan perundang-undangan yg dibuat pd era pemerintahan kolonial belanda.

untuk itulah, upaya identifikasi musti di lakukan yg diikuti dgn penataan serta penyesuaian berdasarkan uud 1945 sesudah transformasi. perihal itu akan di lakukan melewati mekanisme judicial review
selain sejak bagian substansi aturan hukum, tantangan yg dialami yaitu sejak struktur penegakan konstitusi. untk meraih perimbangan keanggotaan dpr serta dprd, misalnya, tak mencukupi dgn memastikan kuota calon perempuan sejumlah 30% yg diajukan oleh tiap-tiap partai politik.

ketentuan perihal kuota itu tentu musti menjamin bahwasanya tingkat keterwakilan perempuan di parlemen dapat makin besar. padahal, waktu ini total anggota dpr perempuan baru 11 persen, serta di dpd 21 %. bahkan juga total pegawai negeri sipil (pbn) eselon i yg perempuan cuma 12,8 %. untk itu, butuh dirumuskan mekanisme yg akan menjamin keterwakilan perempuan di sektor publik supaya makin meningkat di masa-masa mendatang
tantangan di bidang struktur penegak hukum pun diperlukan, misalnya, terkait dgn sistem hukum dlm kasus kekerasan terhadap perempuan. sbg korban dan saksi, perempuan membutuhkan keadaan tertentu untk akan memberi keterangan dgn bebas tanpa tekanan. untk itu, sistem perkara, mulai sejak penyelidikan sampai persidangan butuh memperhatikan keadaan tertentu yg dihadapi perempuan. demikian pula terkait dgn persidangan yg memerlukan jaminan keamanan, bagus jasmani maupun psikis butuh diberikan kepada perempuan

yang tak kalah pentingnya dlm upaya menegakkan hak konstitusional perempuan yaitu menumbuhkan budaya sadar berkonstitusi khususnya yg terkait dgn hak konstitusional perempuan. perihal ini penting untk menyadarkan masyarakat bahwasanya kaum perempuan juga mempunyai hak konstitusional yg sama dgn laki-laki.
perihal ini penting mengingat kesadaran tsb belum tertanam di jiwa masyarakat, sampai tak segelintir seorang perempuan yg layak dipilih dan diangkat untk jabatan tertentu, tetapi tak dipilih dan diangkat lantaran perempuan dinilai memiliki kelemahan tertentu di banding laki-laki
dengan ada perbaikan melewati struktur penegakan hukum, substansi hukum, serta sekalian membudayakan konstitusi yg lebih menjunjung tinggi value kesetaraan jender, diharapkan hak-hak perempuan layaknya yg dikehendaki oleh ibu kartini dapat tercapai. tentunya, dgn menjadikan hak-hak tsb sbg sisi sejak konstitusi yg benar (the right constitunional).

Perjuangan Perempuan dalam Ranah Politik

Perjuangan Perempuan dalam Ranah Politik - partisipasi sejajar antara laki-laki serta perempuan dlm kehidupan publik terus mengemuka. perihal tsb sejalan dgn salah satu prinsip mendasar yg dia manatkan di dlm kon vensi penghapusan semua bentuk subordinat terhadap perempuan (convention on the elimination of all forms of discrimination against women dan cedaw). cedaw diadopsi oleh sidang umum pbb pd 1979 serta disahkan mulai 1981.

cedaw sudah mengilhami perempuan semua dunia untk bangkit. mereka memiliki peluang yg sama dgn laki-laki dlm kehidupan publik. bahkan, dgn semangat itu, kini, di belahan bumi sedang menyongsong kebangkitan perempuan dlm bidang politik, masuk di indonesia .

jauh pra cedaw lahir, alquran juga sudah mengamanatkan partisi pasi sejajar itu. alquran mengangkat derajat perempuan kepada maqam yg sa ngat tinggi. seraya mengamini amanat alquran tersebut, kini makin banyaknya perempuan tertarik berkiprah di bidang politik. pd periode 1997-1999 perempuan yg jadi anggota dpr ri berjumlah 54 orang sejak 500 anggota (10,8%). pd 1999-2004 jumlahnya 45 orang sejak 500 anggota (9%).

dengan semangat mendorong kuota 30% di parlemen, berlangsung peningkatan total anggota dpr pd periode 2004-2009, adalah jadi 61 orang (11,6%), serta pd periode 2009-2014 meningkat lagi jadi 93 orang. total itu masih tetap jauh sejak ideal, yakni 30% perempuan di dpr dan sejumlah 168 anggota
namun, di tengah kurang idealnya total perempuan di parlemen, sinyal kurang bagus munculah sejak daftar calon tetap (dct) anggota dewan perwakilan kawasan (dpd). komisi pemilihan umum (kpu) menyatakan dct anggota dpd di 33 provinsi sejumlah 945 orang, terdiri sejak 826 orang laki-laki serta 119 orang perempuan. artinya, cuma 13% perempuan sejak total jumlah dct dpd yg ada

feminisasi politik
perjuangan politik perempuan untk menduduki kursi legislatif sepertinya ingin membuktikan tesis bahwasanya meningkatnya total wakil perempuan di dunia politik dapat mengubah wajah politik. benarkah demikian? apakah feminisasi politik dapat sungguh-sungguh terjadi? apakah benar kaum perempuan dapat bikin perbedaan dlm kehidupan politik, serta jika demikian, dlm keadaan layaknya apa?

joni lavenduski (2008) menyebut feminisasi politik adalah suatu unsur penting sejak peran-peran yg dimainkan oleh kaum perempuan serta kaum laki-laki dlm politik. tak cuma pd satu sama lain, tapi pun pd hakikat lembaga-lembaga perwakilan politik. lembaga-lembaga perwakilan memastikan proses-proses feminisasi politik

lebih sejak itu, feminisasi politik diartikan sbg tips kaum perempuan memikirkan perwakilan politik sekurang-kurangnya sama pentingnya dgn bagaimana prosesprosesnya sangat-sangat berjalan
teori feminislah yg mencerahkan karakter gender sejak perwakilan politik. dgn demikian, caleg perempuan diharapkan mengerti dgn bagus lembaga-lembaga politik. pasalnya, di situlah seseorang dapat bergelut dgn persoalan yg butuh dijawab dgn cermat serta bijak.

pemahaman yg benar tentang lembaga-lembaga politik dapat mengantarkan legislator perempuan menuju peran politik yg tidak sama. kehadiran perempuan memberi dasar teori perbedaan gender serta perwakilan politik, sementara pengertian massa yg kritis sudah di gunakan sbg indikator deskriptif sejak pembagian perempuan yg dituntut untk menghasilkan perbedaan yg artinya untuk politik. artinya, keha diran perempuan dlm politik setidaknya sanggup memberi transformasi dlm sikap, institusional, tingkah laku, serta kebijakan.

oleh lantaran itu, apabila caleg perempuan belum sanggup mengerti institusi politik nusantara, ia dapat gampang terperosok dlm politik transaksional. sebagaimana dihadapi oleh angelina sondakh. keterkaitan angie dgn kubangan korupsi, menurut saya lantaran ia tak mengerti dengan cara bagus `permainan senayan’. ia lalu jadi salah satu korban keganasan itu.

guna mengetahui perihal tersebut, caleg perempuan selayaknya telah membaca buku-buku babon ilmu politik. membaca buku itu penting sbg bekal teori menghadapi realitas sebenarnya di jagat penuh tipu-tipu itu. jadi, jika caleg perempuan sekadar ingin belajar di senayan, ia dapat jadi mangsa empuk pemain lama. ia dapat dijadikan bulan-bulanan sekalian benteng hidup guna menutupi kebusukan pihak berkepentingan.

oleh lantaran itu, perjuangan politik perempuan tak cuma dlm memenuhi kuota 30%. adanya yg lebih esensial sejak itu, yakni bagaimana perempuan sanggup berikan warna dlm politik.

ciri khusus perempuan sbg seorang ibu selayaknya sanggup hadir di tengah ke gersangan politik. sosok ibu yaitu individu yg menekankan arti keteraturan hidup kepada anaknya. ia juga kerap x memanfaatkan otoritasnya untk mendisiplinkan anakanaknya.

dalam kerangka politik, sosok inilah yg ditunggu, yakni perempuan yg sanggup bersikap tegas terhadap peraturan. legislator perempuan selayaknya sanggup jadi teladan untuk yg lainnya. mereka yaitu ibu yg mengajarkan kebijaksanaan, kebajikan, serta keteraturan hidup.

politik memerlukan kebijaksanaan. pasalnya, tanpa kebijaksanaan politik cuma dapat jadi ruang menghakimi orang lainnya. politik juga jadi sarana angker lantaran di sana cuma dipenuhi oleh hasutan serta hardikan. kebajikan dlm berpolitik juga demikian. waktu politik tak sanggup mewujud dlm laku itu, korupsi jadi sebuah keniscayaan.

adapun keteraturan hidup yaitu apabila politik itu berproses. politik bukanlah laku instan. ia investasi kehidupan yg beradab. dlm falsafah jawa disebut ojo duwe watak nggege mangsa. kuasa iku ora dapat digege, kuasa itu tak dapat di-age-age, dimiliki dgn cepat serta tergesa-gesa (sindhunata, kompas, 18 maret 2014).

pada akhirnya, perjuangan politik perempuan bukanlah sekadar memenuhi kuota 30%. namun, bagaimana perempuan sanggup mewarnai jagat politik yg sampai kini cenderung diselimuti awan pekat.

Menjadikan Pesantren Sebagai Wadah Pendidikan Kritis

Menjadikan Pesantren Sebagai Wadah Pendidikan Kritis - pesantren adalah sebuah institusi pendidikan (wahid, 1978), seperti lembaga pendidikan nasional pd umumnya. hanya, pesantren tak berpusat pd pemerintah. eksistensinya bergantung kepada pengelola yg berdiri dengan cara independen, dan beberapa kiai (ustaz) yg dibantu sejumlah keluarga yg lain, tapi adakalanya pun dibantu murid (santri) senior karena adalah institusi pendidikan, unsur-unsur penting layaknya belajar mengajar, tanya jawab, penilaian belajar (ujian), serta lainnya sebagainya, berlangsung pula di pesantren. sepanjang ini, kritik yg menghunjam oleh beberapa pakar serta praktisi pendidikan cuma dialamatkan pd contoh pendidikan nasional.

padahal, menurut saya, amat penting pun mengkritik pola pelajaran di pesantren—-sebagaimana sekolah umum—-untuk melahirkan generasi bangsa yg diimpikan masyarakat apalagi, terakhir ini, pesantren dituding sbg ‘sarang teroris’ oleh mereka yg berang atas tindakan teror yg mengatasnamakan agama. lihatlah beberapa pelaku teror bom yg berlangsung di sejumlah wadah di tanah air sebagian memperlihatkan ada keterlibatan beberapa santri, dan setidaktidaknya mereka yg sempat belajar di pesantren para pelaku selalu berdalih atas doktrin agama islam yg diajarkan guru-guru mereka. lantaran itu, terlepas diakui dan tidaknya validitas tersebut, sejatinya seluruh pihak, khususnya kaum agamawan mesti mengintrospeksi diri pd pola pelajaran yg diampu di pesantren dalam merespons gosip tersebut, banyaknya pihak lantas mengkritik pengelola pesantren supaya membenahi serta mengevaluasi kurikulum yg dijadikan panduan. jika juga mmg adanya indikasi bahwasanya beberapa pelaku teror itu melakukan tindakan atas nama doktrin agama, yg sempat mereka pelajari di pesantren, hemat saya, kesalahan tak cuma pd persoalan kurikulum, tapi metode pembelajarannyalah yg tak tepat.

metode pembelajaran
hasil penelitian zamakhsyari dhofir (1982) perihal proses pelajaran di pesantren menarik untk diketengahkan di sini. menurutnya, proses pelajaran pesantren pd kebanyakan memanfaatkan tips tradisional, yg biasa disebut bandongan dan sorogan. bandonganatau sorogan yaitu metode pelajaran keagamaan yg di lakukan kiai dan/atau santri senior dgn membaca dan menyimak kitab tertentu yg diikuti beberapa santri dlm total yg sangat banyak sepintas tidak adanya persoalan dgn metode ini. sbg sebuah metode pelajaran supaya santri dapat membaca `kitab gundul’ (teks arab yg tidak berharakat), tips ini amat efisien. namun, pd tingkat pengetahuan perihal isi kitab, santri tidak gampang memahaminya. ini berlangsung lantaran sistem pelajaran yg terjadi cenderung berjalan monoton, indoktrinasi, teacher-centred, text-book, serta top-down santri tak di beri berpeluang bertanya oleh kiai. terkadang, santri cuma diminta membaca teks saja tanpa dibarengi dgn mengerti makna yg terkandung di dlm teks tsb. praktik pendidikan di pesantren dgn demikian, disadari dan tidak, meminjam istilah paolu freire, nyata-nyata sudah menerapkan `model bank’.

ini pun berlaku pd seluruh pelajaran lainnya yg lazimnya membahas tema-tema tertentu di dlm pesantren pendidikan sejatinya diisi acts of cognition (freire, 1991). contoh pendidikan ini mengandaikan ada sikap dialogis antara seorang santri serta kiai. santri tak lagi diperlakukan sbg objek seperti gelas kosong yg mesti berisi air sejumlah mungkin. santri milik hak untk `memprotes’, membantah jika ia tidak sependapat dgn apa yg diutarakan kiai serta berkata `cukup’ kalau air yg berisi rupanya meluap singkatnya, iklim pelajaran sejatinya menganut sebuah jargon: `kiai menerangkan, santri tidak sungkan mengacungkan jari’—jika mmg adanya yg butuh dipertanyakan–sebagai tanda jalinan dialogis jalan dialog—dalam pen didikan berbasis agama (islam)—dapat membebaskan manusia sejak kepasifan serta pun membebaskan sejak penguasaan terhadap manusia lainnya. obrolan yaitu keniscayaan dlm pro ses humanisasi, karena dgn begitu manusia jadi lebih bermakna, dihargai, serta sederajat (shofan, 2004)

meleburkan subjek-objek
karena itu, kelak, sistem penyadaran ini telah semestinya di lakukan dengan cara masif kepada seluruh elemen terkait di pesantren. saya mengasumsikan santri yg dari awal belajar agama—dalam teori fenomenologi—sebagai seorang `pemula’. lantaran sikapnya yg pemula itu, dlm benaknya tentu banyaknya memendam kegelisahan seperti pertanyaanpertanyaan kritis. namun, lantaran kerap x terbentur doktrin agama ataupun doktrin yg bersumber segera sejak kiai, santri juga dgn amat terpaksa `bertekuk lutut’ serta `bungkam’ menuruti apa kata doktrin jadi, pd batas-batas tertentu—tanpa mengurangi rasa hormat serta takzim kepada kiai—hubungan santri serta kiai dlm sistem pelajaran dengan cara ideal sejatinya sama-sama melakukan tindakan sbg subjek, bukanlah subjek-objek. dgn posisi ini, kiai tak lagi menggurui, tetapi larut dlm kondisi saling belajar serta melengkapi satu ama lain dengan kata lain, tidak adanya lagi objek da lam hubung an belajar mengajar antara santri serta kiai. objek yg semula ditimpakan keda santri kini berubah haluan pd realitas serta teks itu sendiri. dgn demikian terciptalah kondisi dialogis yg memiliki sifat intersubjek di dlm mengerti suatu objek bersama (freire, 1984) dengan mendekonstruski jalinan santri serta kiai dlm sistem pelajaran itu, dengan cara nyata dapat mengantarkan nilai-nilai kemanusiaan yg bertitik tolak pd fitrah manusia sbg ciptaan tuhan yg tidak sempat dibeda-bedakan, kecuali lantaran ketakwaannya semata—-sebagaimana dilansir alquran surah al-hujarat ayat 13. bukankah kiai pun manusia biasa, yg boleh jadi, santri akan melampaui tingkat ibadahnya, meski dlm wilayahwilayah tertentu?

karena itu, seluruh treatmentyang adanya dlm praktik pendidikan seharusnya selalu memperhatikan hakikat manusia sbg makhluk tuhan dgn fitrah yg dimiliki sbg makhluk individu yg khusus serta sbg makhluk sosial yg hidup dlm realitas sosial yg beragam. artinya, pemahaman yg utuh perihal sifat manusia wajib di lakukan pra sistem pendidikan dilaksanakan. sebab, pendidikan pd hakikatnya adalah sistem memanusiakan manusia (humanizing human being). ‘pendidikan yaitu sistem pembebasan serta sistem membangkitkan kesadaran kritis untuk tiap-tiap insan,’kata freire jadi, nantinya, perbaikan proses pesantren dlm koridor al-muhafadhah ‘ala al-qadim alshalih, wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah (menjaga tradisi lama, serta mendapat tradisi baru) adalah keniscayaan yg butuh di lakukan tepat perkembangan zaman. modernitas serta globalisasi dgn semua aspek positif serta negatifnya tak untk dihindari, tapi sebaliknya malah butuh disikapi dengan cara bijaksana serta arif kita butuh mengapresiasi banyaknya pesantren yg kini telah makin maju lantaran sudah mengadopsi pendidikan modern. beberapa santri akan menikmati akses informasi lebih lapang serta leluasa. sebuah anekdot mengatakan: ‘jika dulu santri cuma dengan cara terus-menerus membaca kitab kuning serta alquran, kini pun dapat membaca koran’. 

penggunaan komputer, fasilitas internet, serta penyediaan laboratorium misalnya, waktu ini sudah jadi tren baru di pesantrenpesantren terkemuka para santri diajari bagaimana menggunakan serta mengakses informasi supaya selalu ‘siap’ menghadapi tantangan zaman yg kian modern dengan demikian, pola pelajaran yg bagus di pesantren tsb dapat memengaruhi kualitas beberapa alumnusnya di lalu hari. sebab, di indonesia, banyaknya tokoh penting yg hingga waktu ini populer lapang masyarakat sempat mengenyam pendidikan pesantren. di pesantren, santri pun telah dari awal dibekali dgn kearifan serta nilai-nilai kehidupan, layaknya keberanian mengemukakan pendapat, toleransi, moderatisme, serta lainlain itu sebabnya, apabila di kalangan pemuka agama berlangsung perbedaan pandangan dan pendapat tentang suatu persoalan, misalnya, yg paling aktual perihal penentuan awal mula ramadan antara yg memanfaatkan metode hisab serta rukyat, kaum santri serta diikuti masyarakat umum menganggapnya perihal lumrah. perbedaan dlm perihal apa juga adalah kewajaran dan dlm bahasa agama disebut sunatullah nabi muhammad saw bahkan juga beranggapan perbedaan di kalangan umatnya sbg rahmat. lantaran itu, tidaklah bagus jika mendapati sikap seorang pemuka agama dan siapa juga itu yg mempermasalahkan perbedaan pendapat di kalangan masyarakat, masuk urusan agama

Oleh : Ali Usman

Dinamika Pendidikan di Indonesia

Dinamika Pendidikan di Indonesia - menurut saya perihal pendidikan di indonesia yaitu, masih tetap kurang bagus. sebagaimana pendidikan itu sendiri memiliki makna sbg bekal untk menuju hal-hal yg lebih bagus untuk tiap-tiap orang. pendidikan yang mencakup seluruh aspek penting dlm diri tiap individu terutama aspek kepribadian. aspek-aspek pendidikan yg punya pengaruh dlm kehidupan tiap individu yakni, kecerdasan, keagamaan, akhlak, bermasyarakat, keterampilan, pengembangan potensi serta pun berbangsa serta bernegara mengapa saya mengatakan bahwasanya pendidikan di indonesia masih tetap kurang baik? karna tak seluruh sekolah memenuhi baku pendidikan. serta masih tetap banyaknya anak-anak di indonesia yg belum merasa pendidikan yg layak serta bahkan juga putus sekolah. serta di indonesiapun adanya istilah “suap-menyuap”, “beli nilai” serta bahkan juga ijasah juga dapat dibeli di indonesia atap sekolah bocor = tak sekolah bila hujan ?

di indonesia, amat banyaknya sekolah yg tak layak untk dipakai sbg wadah belajar dan untk melaksanakan sistem belajar mengajar. lantaran tak ada bantuan sejak pemerintah setempat. pemerintahan di indonesia pun kurang memperhatikan sekolah-sekolah dipelosok-pelosok negri yg kami cintai ini. kondisi sekolah ini amat memprihatinkan. di mana banyaknya anak-anak di indonesia yg kurang mampu, tetapi memiliki semangat belajar yg tinggi. lagi-lagi karna problem ekonomi, yg bikin pendidikan mereka terhambat, sampai mereka kerap terganggu dlm sistem belajar mengajarnya lantaran wadah yg tak layak serta amat mengancam. layaknya contohnya atap yg bocor waktu hujan, dan bahkan juga banjir. bagaimana dapat pemerintah kami tak menyadari kondisi pendidikan di indonesia yg amat memprihatinkan ini, sedangkan amat kerap siaran televisi menyiarkan berita perihal pendidikan semua karna uang. tanpa uang, pemerintahan tidak dapat jalan. tanpa uang, pemerintahan tidak dapat bergerak. tanpa untung timbal balik pun pemerintah dapat “buta”. itulah, kurangnya pendidikan akhlak, banyaknya berlangsung korupsi. bahkan juga mungkin pun korupsi uang dana bantuan sekolah. seluruh pihak dan kalangan bawah merasakan dirugikan lantaran ada korupsi. korupsi amat mencoreng moral aspek pendidikan kita sbg manusia, pastilah mempunyai cita-cita.

serta sejak sekolahlah kami memulai untk belajar supaya dapat menggapai cita-cita kami. kami mulai belajar serta menerima ilmu serta pun ijasah, surat yg paling dibutuhkan di era depan kita, terutama dlm berkarir. serta lagi-lagi karna uang, orang yg tak memenuhi pendidikanpun dapat menerima ijasah cuma dgn “membeli”. sangan memalukan bukan? bukanlah cuma ijasah, nilai-nya juga bias dibeli. serta yg amat tak adil untuk masyarakat bawah yaitu orang yg dgn gampang serta hidup lebih sejak mencukupi yg dapat beli ijasah beerta nilai-nilainya, dapat menerima jabatan yg tinggi dgn upah gaji yg memuaskan pula. tetapi bagaimana dgn masyarakat kalangan bawah, yg cuma bermodalkan niat serta pendirian yg kokoh untk meraih pendidikan yg tinggi, yg belum terjamin era depannya, kehidupan karirnya untk memperoleh kedudukan selayak usaha serta keahlian yg mereka milik. seluruh amat tak adil. masih tetap adakah berpeluang untk masyarakat kalangan bawah? satu banding sejuta. sekarang di indonesia, umumnya bukanlah problem yg paling utama, adalah skill, tetapi seberapa besar uang “sogokan” nya andai saja pemerintahan kami jauh lebih tegas pastilah tak aka nada yg merasakan dirugikan. mencoba bayangkan resiko yg musti ditanggung pemerintahan itu sendiri kedepannya. ya, seluruh lantaran telah terlena dgn uang. kurangnya aspek pendidikan keagamaan, akhlak serta berkehidupan bermasyarakat kembali ke masyarakat kalangan bawah, banyaknya anak-anak di indonesia yg tak bersekolah karna tak mempunyai biaya. mereka menghabiskan hari-hari mereka untk mencari uang, yg seharus-nya di lakukan orangtua mereka.

mereka umumnya mencari uang dijalanan, serta bahkan juga adanya pun yg kerja sbg tukang angkut, yg umumnya bebannya amat berat, pekerjaan yg seharus-nya di lakukan oleh orang dewasa. amat menyedihkan mengetahui mereka masih tetap anak-anak di bawah umur, yg seharus-nya mereka mendapat pembelajaran disekolah dan main-main dgn teman-temannya. siapakah yg musti bertanggung jawab atas ini semua? butakah beberapa pemerintah yg “sudah pasti” sempat menyaksikan kejadian layaknya ini. bagaimana dgn era depan anak-anak itu? era depan bangsa kita? pandangan negara lainnya perihal kejadian ini? bisakah pemerintah mendirikan pos untk ana-anak ini mengetahui betapa penting serta berharganya arti pendidikan. tak butuh mewah serta megah, tapi dapat bikin mereka paham. saya yakin adanya banyaknya sekali volunter ataupun pahlawan pendidikan yg senantiasa membantu mereka. ini seluruh pun demi era depan bangsa kita essay saya ini mmg cuma memaparkan kelemahan pendidikan di indonesia, tetapi bukanlah artinya tak adanya kelebihannya. banyaknya pun buah hati dan pelajar indonesia yg mengharumkan nama pendidikan indonesia melewati pendidikan, apapun itu bentuknya. dlm pendidikan umum, ataupun olahraga. banyaknya pelajar di indonesia yg sukses mengharumkan nama pendidikan di indonesia, hingga keluar negri sayangnya, meski banyaknya sekali sekolah dan universitas di indonesia, pelajar di negri yg kami cintai ini lebih banyaknya pilih melanjutkan pelajaran diluar negri.

kenapa? apa lantaran diluar negri lebih bagus, dan lebih memadai, dan karna gengsi? amat disayangkan pelajar di indonesia lebih pilih sekolah diluar negri. harapan kami semoga pelajar di indonesia dapat membawa akibat positif, bukannya tertular akibat negative. semoga pelajar di indonesia dapat membawa nama bagus serta menjaganya diluar sana bagaimana tips memperbaiki system pendidikan di indonesia? di harapkan kepada pemerintah, terutama dinas pendidikan untk dapat lebih membuka matanya, untk menyadari bahwasanya masih tetap amat banyaknya diluar sana anak-anak indonesia yg memerlukan uluran tangan serta hati nurani kami untk muwujudkan kemauan mereka untk merasa pendidikan yg layak, untk melangkah meraih impian serta cita-cita yg mereka miliki, serta untk memajukan generasi kami kedepannya bayangkan bagaimana kedepannya, kondisi negara kami tanpa ada pelajar-pelajar yg terdidik, yg memiliki skill, yg dapat membawa transformasi di indonesia. bisakah pemerintah serta kami sbg warga negara indonesia membantu mengurangi total anak-anak jalanan yg kurang pendidikan?

indonesia memerlukan beberapa pahlawan tanpa tanda jasa, beberapa relawan-relawan yg mempunyai hati nurani. indonesia memerlukan perubahan! berilah berpeluang kepada masyarakat kecil. buatlah mereka merasakan merdeka tanpa ada penindasan sejak masyarakat kalangan atas. berilah berpeluang pendidikan kepada anak-anak indonesia yg kurang sanggup. apalah arti uang di mata pemerintahan kita, yg rupiah-rupiahnya amat artinya untk masyarakat yg lebih memerlukan. pendidikan pun mengajari kami untk saling membantu. pendidikan pun mengajari kami perihal kebaikan-kebaikan, perihal keagamaan, perihal pahala serta dosa. seluruh aspek dlm kehidupan kita, bahkan juga perihal yg terkecilpun sudah diajarkan sejak satu kata penuh makna serta penting dlm kehidupan kita, “pendidikan” apakah kami dapat tanpa pendidikan? tidak! tak dapat adanya rasa belas kasihan, kemanusiaan, bahkan juga tak aka nada yg cerdas! sekarang kami hidup di jaman serba modern yg makin mempermudah kami meraih pendidikan yg layak. seharus-nya kami malahan musti makin maju serta berpikir lebih cerdas dlm semua hal, lantaran apapun yg kami butuhkan, amat tersedia pd jaman serba elektronik ini. namun, kurangnya minat kita, lebih banyaknya orang yg terlena ketimbang menggunakan serta mengembangkannya. sejak pendidikan-lah kami belajar memanfaatkan. menjadi diharapkan pendidikan di indonesia lebih diketatkan serta mengikuti perkembangan dunia sampai kami tak ketinggalan sejak negara yang lain.

Tuesday, 5 April 2016

Budaya Memberikan Pelayanan Paling Baik

Budaya Memberikan Pelayanan Paling Baik - saya tak tahu persis, kapan serta siapa yg mengajak beberapa dosen serta karyawan kampus uin malang, jika kedatangan tamu selalu ikhtiar melayaninya semaksimal mungkin. perilaku mulia ini ternyata telah jadi punya serta bahkan juga kharakter mereka. kami lihat, jika adanya tamu, beberapa sopir tanpa menantikan instruksi mereka menjemputnya, apa di bandara, ---jika tamu naik pesawat, dan di stasiun jika mereka datang dgn numpang kereta barah. tampak dgn jelas sekali, mereka dgn semangat ikhtiar memberi pelayanan terhadap tamu-tamu kampus sebaik-baiknya. mereka memperlihatkan kebanggaannya jika beberapa tamu yg datang ke kampus merasakan puas dgn pelayanan mereka.

tidak mau kalah dgn beberapa sopir, beberapa karyawan administrasi serta pun dosen bahkan juga tak ketinggalan beberapa kyai mahad sekalipun, mengerjakan perihal yg sama terhadap beberapa tamunya. beberapa dosen yg kebetulan tahu bahwasanya tamu yg hadir ingin menyaksikan pelaksanaan pengembangan bahasa arab intensif, mereka langsung mengantarkan beberapa tamu menuju ke kantor pkpba serta pun pkpbi, tergantung mana yg diinginkan. beberapa pengelola program khas perkuliahan bahasa, walau pun sedang aktif berikan kuliah, jika adanya tamu sehingga dapat dgn langsung meninggalkan tugasnya serta langsung memberi pelayanan tamu yg hadir.

kelihatan mereka dgn gembira, bersabar serta ikhlas mengantarkan tamu untk menyaksikan kondisi pembelajaran, memaparkan program yg dikembangkan serta bahkan juga hingga memperlihatkan sejak satu kelas ke kelas selanjutnya supaya tamunya puas dapat melihat apa saja yg ingin di ketahui. untuk mereka, melayani tamu lebih dipentingkan sejak menjalankan tugas rutinnya, mengajar
suasana hangat terhadap beberapa tamu pun dikembangkan oleh pimpinan di seluruh tingkatan, bagus pimpinan universitas, fakultas, jurusan, unit serta pun mereka yg terlibat mengelola administrasi. kepada beberapa tamu, mereka kompak selalu menyambutnya dgn bagus. memuliyakan tamu telah jadi pribadi beberapa warga kampus ini. saya tak begitu mengerti, siapa serta apa sebenarnya yg memotivasi serta membentuk perilaku ini. mmg hadis nabi mengajarkan bahwasanya sbg seorang beriman musti menghormati tamu. man kaana yuminu billahi wal yaumil akhir fal yuktrim dhoifahu. barang siapa yg beriman kepada allah serta hari akhir, sehingga muliyakanlah beberapa tamu. anjuran berbuat bagus sbg seorang yg menyandang keimanan, bukanlah saja dlm perihal menghormati tamu. islam menganjurkan selalu memperlihatkan perangani yg terpuji. dapat tapi tatkala mengimplementasikan anjuran menghormat beberapa tamu, terasa lebih diutamakan ketimbang anjuran terhadap lainnya

melihat kenyataan ini, saya sbg pimpinan kampus amat gembira serta bangga. tetapi yg selalu ingin saya ketahui, mengapa perilaku ini munculah dengan cara merata, dimiliki oleh seluruh warga kampus, tanpa kecuali beberapa mahasiswanya. bahkan juga jika kami jujur, beberapa mahasiswa yg menginginkan buka kantor 24 jam, tak lainnya dimotivasi oleh kemauan mereka melayani tamu yg datangnya tak terduga di tiap-tiap saat serta bahkan juga tengah malam. mereka ingin melayani beberapa kolega yg jadi tamu mereka sebaik-baiknya. cuma saja, lantaran argumen keamanan serta ketertiban kampus, kemauan mahasiswa tsb tak dikabulkan, serta jalan keluarnya jika mereka memperoleh tamu, sehingga ditampung di wadah yg dapat di gunakan untk istirahat beberapa tamu

mengamati serta merasa betapa indahnya perilaku tersebut, saya selaku pimpinan universitas membayangkan, adalah alangkah indahnya kampus ini jika semangat menggembirakan serta memuliakan beberapa tamu tsb pun ber-kembang jadi lebih lapang lagi. semangat menyenangkan orang, bukanlah sebatas terhadap tamu melainkan pun kepada warga kampus dengan cara total. alangkah indahnya jika masing-masing warga kampus sehari-hari baru merasakan berhasil serta sukses hidupnya pd hari itu, jika sudah berbuat bagus semaksimal mungkin terhadap siapa saja yg dijumpai di kampus ini. sehingga, tiap-tiap pulang sejak kantor hatinya merasakan gembira serta bahagia, bahwasanya hari itu sudah memperoleh berhasil besar, lantaran sudah sukses menggembirakan teman, sahabat, serta bahkan juga mahasiswa yg dijumpainya. saya membayangkan, sungguh elok kampus ini, jika beberapa penghuninya selalu saling ikhtiar menggembirakan serta bukanlah sebaliknya
sebagai bentuk usaha sekalipun dlm skala kecil, saya selaku pimpinan universitas selalu ikhtiar mengerjakan perihal yg menggembirakan itu. usaha-usaha menggembirakan itu misalnya, sejumlah dosen yg yg semestinya telah naik haji, tapi lantaran beragam argumen terpaksa kewajiban itu belum ditunaikan, sehingga saya usahakan supaya mereka langsung naik haji dgn beragam tips yg dapat saya di lakukan. mereka yg semestinya telah naik pangkat, langsung saya dorong untk naik pangkat. mereka yg masih tetap s1 dicarikan jalan keluar supaya langsung menempuh s2, serta begitu pula yg telah s2 didorong langsung menempuh s3. supaya mereka gampang mengerjakan tugas-tugas akademik, dengan cara bertahap dibelikan computer, laptop. tak hanya itu, sekalipun masih tetap definit serta belum merata, dengan cara bertahap beberapa dosen dikirim ke luar negeri untk studi banding, contohnya ke australia, malaysia, singapura, iran, saudi arabia serta lain-lain. usaha-usaha layaknya ini -----sekalipun berat, maksud saya yaitu supaya mereka gembira jadi sisi warga kampus. serta dgn modalkan kegembiraan itu pula, saya berharap supaya mereka sehari-hari pun ikhtiar setidak-tidaknya ikhtiar menggembirakan orang lain

ajaran islam mmg elok sekali, jika dijalankan dgn ikhlas serta sungguh-sungguh dapat mengantarkan pemeluknya jadi sehat, bagus fisik maupun rokhani. sbg pertanda sehat rokhani jika seseorang selalu bergembira serta bahagia jika menyaksikan orang lainnya bergembira, serta begitu pun sebaliknya. seseorang sedang alami gangguan kesehatan, jika ia sulit tatkala menyaksikan orang lainnya gembira. islam mengajarkan kami supaya banyaknya beramal kebajikan terhadap orang lain, ikhtiar memahami, menghargai, menyayangi serta bahkan juga pun saling menolong antar sesama. jika kondisi elok layaknya ini sukses diwujudkan dengan cara bersama-sama di kampus ini, sehingga perguruan tinggi islam ini sangat-sangat dapat jadi taman kehidupan yg sedemikian elok. tentu ini seluruh dapat terwujud, jika adanya kesediaan sejak seluruh pihak bertekat mewujudkannya dengan cara bersama-sama.

Kehidupan Layaknya Perahu Yang Berlayar

Kehidupan Layaknya Perahu Yang Berlayar - Pernahkah kami menaiki sebuah perahu dan kapal? dapat perahu nelayan, perahu motor, kapal ferry, bahkan juga kapal pesiar. bayangkan apabila kami terletak di sebuah kapal dan perahu yg sesuai di tengah laut, jauh sejak daratan serta hiruk pikuk kota yg bising. seringkali air laut mengalir dgn tenang, sunyi, semilir angin laut bertiup dgn lembut layaknya bisikan halus yg melalui sejak telinga kita
namun seringkali air laut pun bertingkah sebaliknya adalah mengalir dgn suara gemuruh ombak yg mengombang-ambingkan sebuah perahu sambil memanggil angin badai serta gemuruh suara kilatan petir yg saling sahut-menyahut. begitulah kondisi sebuah kapal/perahu apabila berlayar di tengah lautan.

Bagaimana si perahu itu akan menahan sejak ombak lautan yg menerpa dgn kuatnya? apakah perahu itu gampang terombang-ambingkan oleh angin badai serta ombak laut kemudian tenggelam begitu saja tanpa perlawanan? kehidupan itu pun akan diibaratkan dgn sebuah perahu dan kapal
perahu mulai berlayar tanpa mengetahui apa-apa saja yg dapat berlangsung di tengah lautan, perahu cuma dapat tetap berlayar sampai ia meraih tujuan akhir dan tujuan perberhentiannya. begitupun hidup manusia, sepanjang manusia masih tetap bernafas serta jantung masih tetap berdetak, sepanjang itu pun ia menjalani kehidupannya yg penuh lika-liku serta tidak tahu problem apa saja yg menantinya di tengah jalan dan ke depannya.

Bagaikan perahu yg terombang-ambingkan oleh ombak dahsyat serta angin badai tetap masih tetap bertahan serta tidak tenggelam, begitu pun dgn kehidupan yg dimiliki tiap-tiap manusia selalu digoyahkan dgn beragam cobaaan hidup yg silih berganti serta bertubi-tubi tapi masih tetap dapat sabar serta kuat hati dan mentalnya. tiap-tiap manusia pastinya tidak luput sejak cobaan hidup. tak adanya yg namanya manusia hidup dgn damai, mulus serta tanpa cobaan hidup bagaikan sayur tanpa garam dan sayur tanpa bumbu yg hambar, mengakibatkan tidak adanya gairah hidup sama sekali
apapun yg berlangsung manusia musti terus maju untk meraih goalnya dan tujuannya kenapa ia hidup. karena sistem kehidupan itulah yg bermakna, ketimbang hasil yg didapatkan diakhir, lantaran dgn sistem inilah kami sbg manusia akan memetik sebuah hikmah kehidupan yg amat mendalam serta berfaedah.